Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia Secara Lengkap

Kerajaan15 Dilihat

Tempat Asal Kebudayaan Hindu-Budha

Untuk mengetahui tempat asal kebudayaan Hindu-Budha, terlebih dahulu harus diketahui tentang sejarah India. India terletak di bagian selatan benua Asia. Peninggalan kebudayaan tertua di India terdapat di daerah Harappa dan Mohenjo Daro. Selain peninggalan kebudayaan Harappa dan Mohenjo Daro, sejarah India dapat kita ketahui dari kitab Weda, kitab suci umat Hindu.

Mula-mula negara India didiami oleh bangsa Munda. Kemudian datang bangsa Dravida yang berkulit hitam dan berambut keriting. Setelah itu datang pula bangsa Aria dari daerah utara melalui pegunungan Hindu Kush. Bangsa India yang berkebudayaan Hindu-Budha adalah percampuran antara bangsa Dravida dan Aria.

Kitab suci agama Hindu ialah kitab Weda yang terdiri dari tiga bagian. Yang pertama adalah Weda Samhita, kedua Weda Brahmana, dan yang ketiga Weda Upanisad. Masyarakat India mempercayai adanya dewa-dewa, seperti dewa Indra (dewa perang), dewa Candra (dewa bulan), dewa Agni (dewa api), dewa Bayu (dewa angin). Di antara dewa yang banyak tadi mereka sangat memuja dan menghormati dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Brahma dikenal sebagai dewa pencipta, Wisnu adalah dewa pemelihara, dan Syiwa adalah dewa perusak. Mereka dikenal dengan sebutan Trimurti. Untuk menghormati para dewa, pemeluk agama Hindu mendirikan candi-candi.

Masyarakat dalam agama Hindu terbagi dalam kasta-kasta atau tingkat. Brahmana merupakan kasta tertinggi, terdiri dari kaum pendeta. Di bawah kasta Brahmana adalah kasta Ksatria yang terdiri dari para raja dan bangsawan. Di bawah kasta Ksatria adalah kasta Waisya yang terdiri dari kaum pedagang, dan yang paling bawah adalah kasta Sudra, terdiri dari buruh, petani, nelayan, dan yang tidak termasuk itu disebut parya.

Agama Budha

Pada mulanya agama Budha merupakan sebuah ajaran yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari samsara. Budha sebagai ajaran didirikan oleh Sidharta Gautama dari kerajaan Kapilawastu. Sidharta lahir pada tahun 563 Sebelum Masehi. Ayahnya bernama Cundhodana, raja Kapilawastu. Masa kecil Sidharta hidup dilimpah kemewahan sebagai putra raja. Ia tidak boleh mengenal susah, tidak diperbolehkan keluar istana melihat kesusahan dan penderitaan rakyat di luar istana. Ternyata kehidupan dalam istana yang penuh kemewahan tidak dapat menahan keinginan Sidharta untuk melihat kehidupan di luar istana.

Di luar istana ia melihat kehidupan tidak seperti yang dialaminya di dalam istana. Ia melihat orang tua, orang sakit, dari rakyat yang penuh penderitaan. Di luar istana ia bertemu dengan rakyat dan pendeta. Kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan istana, hidup sebagai pengembara, dan mempelajari ilmu dari berbagai guru. Ia menjalani kehidupan sebagai pertapa selama 6 tahun, kemudian menyebarkan ajarannya, dan mendapat gelar sang Budha.

Sidharta menyebarkan ajarannya selama 45 tahun. Pengikutnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Sidharta wafat di Kusinegara pada tahun 483 SM dalam usia 80 tahun. Menurut para penganut agama Budha, Sidharta saat wafat telah mencapai Nirwana dan mencapai Moksa. Sidharta mengajarkan agar manusia hidup sederhana dalam rangka mencapai nirwana.

Pemeluk agama Budha terbagi dalam dua macam. Pertama, mereka yang hidup dalam biara meninggalkan kehidupan duniawi disebut biksu bagi laki-laki dan biksuni untuk wanita. Kedua, masyarakat yang tetap tinggal dalam kehidupan duniawi disebut Upasaka (laki-laki) dan Upasika (wanita). Para biksu dan biksuni hidup dalam biara. Mereka harus mematuhi sepuluh aturan (dasa sila) yang terdiri dari: 

a. Tidak boleh menyakiti sesama makhluk.

b. Tidak boleh mengambil apa yang sudah diberi.

c. Tidak boleh berzina.

d. Tidak boleh berkata tidak benar.

e. Tidak boleh minum yang memabukkan.

f. Tidak boleh makan tidak pada waktunya.

g. Tidak boleh menonton.

h. Tidak boleh bersolek.

i. Tidak boleh tidur di tempat enak.

j. Tidak boleh menerima hadiah uang.

Kitab agama Budha dinamakan Tripitaka (tiga keranjang besar) berbahasa Pali.

Masa Penyebaran Hindu-Budha

Tidak diketahui dengan pasti kapan dimulai penyebaran ajaran Hindu-Budha di kepulauan Nusantara. Dalam buku Peripluos tes Erythress Thalesos dari tulisan Yunani, tertulis bahwa India dan kepulauan Nusantara (Indonesia) telah mengadakan hubungan kira-kira tahun 70 masehi dalam perdagangan. Menurut para ahli sejarah seperti JC. Van Leur dan OW Walters hubungan kepulauan Nusantara dengan dunia luar untuk pertama kali ialah dengan India. Selain itu, sumber sastra India kitab Jataka menyebutkan adanya Swamabhumi atau negeri emas yang terletak di sebelah timur India. Swamabhumi ini menurut sebagian ahli sejarah adalah Pulau Sumatra sekarang. Dalam kitab Kakawin Ramayana disebutkan pula nama Jawadwipa, pulau Jawa sekarang.

Hubungan dagang pada masa itu menempuh jalan darat dan laut. Jalan darat yang dikenal dengan jalan sutra (the silk road) menempuh rute dari Cina-Asia tengah Asia barat-Romawi, dan sebaliknya. Jalan laut menempuh rute Cina-perairan selat Malaka-Samudra Hindia-Teluk Parsi-Laut tengah-Laut Merah-Romawi, dan sebaliknya.

Bentuk hubungan antarnegara pada masa tersebut ialah hubungan ekonomi perdagangan. Jenis barang yang diperdagangkan adalah wool, permata, gelas dari Romawi, sutera, kulit binatang, atau keramik dari Cina, permadani dari negara-negara teluk seperti Iran, manik-manik dari India, dan rempah-rempah dari kepulauan Nusantara.

Setelah menemukan jalan laut yang memperpendek jarak. maka beramai-ramailah pedagang dari India datang ke kepulauan Nusantara untuk mencari sendiri sumber emas dan logam sebagai barang yang sangat dibutuhkan ketika itu. Pelayaran laut yang melewati Nusantara mulai ramai didatangi para pedagang.

Selain dengan India, kepulauan Nusantara mengadakan hubungan dagang dengan Cina. Hubungan dagang antara Nusantara dan Cina dapat diketahui dari berita-berita Cina yang berasal dari catatan perjalanan Fa Hien dan I Tsing. Fa Hien adalah musafir Cina yang melakukan perjalanan ke India. Dalam perjalanan pulang ke Cina, kapal yang ditumpanginya terserang badai dan terdampar di Ye Fo Ti yang dianggap nama lain Jawadwipa. Fa Hien menjelaskan, bahwa di Ye Fo Ti banyak kaum brahma dan kafir. Penganut agama Budha tidak seberapa. Berita lain dari Cina menyatakan tentang Kantoli. Kerajaan Kantoli pernah mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 563 Masehi. Raja Kantoli bernama Kaundi dan beragama Budha. Kantoli diperkirakan adalah pulau Sumatra sekarang. Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa penyebaran pengaruh Hindu-Budha di Nusantara dimulai kira-kira tahun 70 Masehi.

kerajaan-hindu-budha

Cara Penyebaran Pengaruh Hindu-Budha

Kehadiran para pedagang Cina dan India berpengaruh terhadap kebudayaan asli masyarakat Nusantara. Di sini kita akan melihat kebudayaan India dan Cina yang lebih dahulu berkembang mempengaruhi bangsa yang belum berkembang kebudayaannya. Jadi para pedagang membawa pengaruh dalam perkembangan kebudayaan dan agama. Pedagang India dan Cina sambil berdagang juga menyebarkan kebudayaan dan agama Hindu-Budha. 

Ketika hubungan dengan India dan Cina masih hubungan dagang, mulailah masyarakat Nusantara berkenalan dengan kebudayaan India dan Cina. Para pedagang ini menyebarkan kebudayaan dan agama yang dibawanya di tempat-tempat mereka singgah. 

Dari hubungan dagang kemudian muncul hubungan yang lebih mendalam, yaitu hubungan keluarga. Terjadilah perkawinan antara para pedagang dengan wanita Nusantara. Para pedagang kemudian lebih giat lagi menyebarkan kebudayaan dan agama mereka kepada keluarga-keluarga perempuan yang dikawininya. Terjadilah penyebaran kebudayaan dan agama melalui perkawinan. 

Demikianlah kebudayaan dan agama yang datang dari India makin lama makin berkembang dan bercampur dengan kebudayaan asli Nusantara. Percampuran kebudayaan ini tampak dalam hal-hal seperti: bentuk bangunan, bahasa, susunan pemerintahan, seni, dan sebagainya.

Setelah kita mempelajari Tempat Asal Kebudayaan Hindu-Budha, Masa Penyebaran Hindu-Budha, dan Cara Penyebaran Pengaruh Hindu-Budha selanjutnya lahirlah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di wilayah Nusantara. Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha yang terdapat di Indonesia tersebut antara lain:

  1. Kerajaan Kutai
  2. Kerajaan Tarumanegara
  3. Kerajaan Mataram Kuno
  4. Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Isyana)
  5. Kerajaan Sriwijaya
  6. Kerajaan Singasari
  7. Kerajaan Kediri
  8. Kerajaan Majapahit
  9. Kerajaan Sunda
  10. Kerajaan Bali

Pembahasan sekilas tentang kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha tersebut antara lain sebagai berikut ini.

1. Kerajaan Kutai

Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia, terletak di Kalimantan Timur. Di kerajaan Kutai ditemukan tujuh buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu. Tiang batu yang disebut Yupa berhuruf Pallawa. Yupa berfungsi sebagai tugu peringatan upacara korban yang ditulis dalam bentuk syair. Yupa berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta ditulis sekitar tahun 400 masehi. Semua prasasti ditulis atas perintah seorang raja yang bernama Mulawarman. Dari salah satu Yupa dapat diketahui bahwa yang memerintah di Kutai saat itu adalah raja Mulawarman, anak Acwawarman dan cucu dari Kundungga.

Dilihat dari namanya, Kundungga bukanlah nama Sanskerta, tetapi nama penduduk asli Indonesia yang belum mendapat pengaruh India. Nama Acwawarman menunjukkan telah terjadi pengaruh India di kerajaan Kutai. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa Acwawarman adalah pendiri kerajaan Kutai.

Pada yupa yang lain diperoleh keterangan bahwa raja Mulawarman telah memerintahkan pendirian yupa untuk memperingati bahwa ia telah memberikan korban besar-besaran dan memberikan hadiah-hadiah untuk negaranya yang dipimpin para brahmana.

Dari ketujuh yupa yang ditemukan, sampai saat ini belum kita dapatkan keterangan mengenai bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu.

Contoh isi Prasasti Kutai yang menjelaskan silsilah Mulawarman sebagai berikut.

prasasti-mulawarman-kutai

Tulisan di atas adalah hasil transkripsi oleh Poerbacaraka dalam bukunya Riwayat Indonesia I. Arti isi prasasti itu sebagai berikut:

Sang maharaja Kundungga yang amat mulia,

mempunyai putra yang masyhur,

Sang Aswawarman namanya,

yang seperti Sang Asuman (Dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. 

Aswawarman yang mempunyai putra tiga,

seperti api(yang suci)tiga.

Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman,

raja yang beradab dan baik, kuat, kuasa.

Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak.

Buat peringatan kenduri(selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa terletak di Jawa Barat sekitar tahun 400-500 Masehi. Rajanya bernama Purnawarman. Dari namanya terlihat sudah ada pengaruh Hindu di Jawa Barat saat itu. Bukti-bukti tertulis yang ditemukan untuk mengetahui tentang kerajaan Tarumanegara ada kurang lebih tujuh (7) buah yang tersebar di beberapa tempat, antara lain:

a. Prasasti Pasir Koleangkak (Prasasti jambu), ditemukan di bukit pasir Koleangkak, di daerah perkebunan Jambu kira kira 30 km dari kota Bogor. 

b. Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di Muara Hilir Cibungbulang. Pada prasasti ini terdapat gambar dua tapak kaki gajah. 

c. Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Tugu Jakarta Utara. Prasasti ini merupakan prasasti yang terpanjang di antara prasasti peninggalan Purnawarman. Dalam prasasti itu dijelaskan bahwa raja Purnawarman menggali saluran sungai sepanjang 6612 busur (12 km) dalam waktu 21 hari. Pekerjaan ini ditutup dengan pemberian hadiah 1000 ekor lembu kepada para brahmana. 

d. Prasasti Pasir Awi di Kabupaten Bogor. 

e. Prasasti Muara Cianten di Kabupaten Bogor. 

f. Prasasti Cidanghiang atau Lebak, ditemukan di desa lebak di pinggir sungai cidanghiang, kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang, Banten Jawa Barat.

g. Prasasti Ciaruten, ditemukan di daerah sungai Ciaruten Kabupaten Bogor. Dalam prasasti ini terdapat gambar sepasang telapak kaki, seperti telapak kaki dewa Wisnu.

Selain ketujuh prasasti di atas, ditemukan pula arca Rajarsi yang termasuk arca tua. Sayang sekali tempat temuan arca ini tidak diketahui dengan pasti, tapi diperkirakan di daerah Jakarta. Kemudian ditemukan lagi dua-buah arca Wisnu dari Cibuaya yang memperlihatkan adanya beberapa persamaan dengan area yang ditemukan di Semenanjung Melayu, Siam, Kamboja.

Pembahasan tentang kerajaan Hindu-Budha selanjutnya silahkan baca pada artikel di bawah ini.