Kerajaan Bali : Raja Terkenal, Masa Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Bali

Sejarah1 Dilihat

berkasilmu.com – Berita tertua dari bangsa asing yang kita peroleh tentang Kerajaan Bali berasal dari kitab sejarah Tang Kuno yang menyebutkan Poli atau Bali terletak di sebelah timur Ho-ling. Disebutkan pula bahwa Poli mempunyai adat istiadat yang hampir sama dengan Ho-ling. Penduduknya menulis di atas daun lontar, mereka mengenal pembakaran jenazah yang meninggal.

Berita tertua yang berasal dari Bali sendiri berupa cap-cap kecil yang dibuat dari tanah liat, serta stupa-stupa kecil yang juga dibuat dari tanah liat.

Cap-cap ini ditulisi mantera-mantera agama Budha dalam bahasa Sanskerta. Di daerah Bali juga ditemukan sebuah prasasti yang bernama prasasti Pejeng. Saat ditemukan, prasasti itu dalam keadaan rusak sehingga tidak dapat dibaca lagi dengan jelas. 

Nama Warmadewa mulai muncul memerintah di Bali sejak tahun 914 M. Keterangan tentang Warmadewa kita dapati pada prasasti batu yang berbentuk tugu yang dipahat dengan tulisan melingkar. Ada tiga prasasti yaitu: prasasti Belanjong, prasasti Panempahan, dan prasasti Malat gede. Ketiganya berangka tahun 914 M. Dalam prasasti disebutkan nama raja Bali Sri Kesariwarmadewa. 

Pada tahun 983 M, muncul seorang raja perempuan di Bali yang bernama Srimaharaja Sri Wijaya Mahadewi. Raja perempuan ini kemudian digantikan oleh raja Dharma Udyana Warmadewa.

Raja ini kemudian menikah dengan putri Empu Sindok dari Jawa Timur. Raja inilah yang menurunkan Airlangga yang nanti akan berkuasa di Jawa Timur.

Pulau Bali menjadi satu-satunya tempat di Indonesia dengan pengaruh Hindu yang masih kuat tertanam pada kehidupan masyarakat. Pengaruh Hindu di pulau ini berasal dari Jawa. Kerajaan Bali memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Hindu di Pulau Jawa. Bali pernah ditaklukkan oleh Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 730.

Raja Terkenal Kerajaan Bali

Penguasa pertama Bali yang diketahui namanya adalah Sri Kesariwarmadewa, raja pertama dari Dinasti Warmadewa. Ia kemudian digantikan oleh Urgasena, yang memerintah antara tahun 915 hingga 942.

Selama berkuasa, raja yang termashur dari Kerajaan Bali ini membebaskan beberapa desa dari pajak dan menjadikan desa-sesa itu sebagai sumber penghasil kayu kerajaan.

Urgasena juga mendirikan sejumlah tempat suci dan penginapan bagi peziarah dan perantau yang berkunjung ke kerajaannya. Pengganti Urgasena adalah Tabanendra Warmadewa. Ia membangun pemandian suci Tirta Empul di Manukraya, dekat Tampak Siring.

Masa Kejayaan Kerajaan Bali

peta wilayah kerajaan Bali

Selama tahun 989-1022, Kerajaan Bali diperintah oleh Dharma Udayana Warmadewa. Dharma Udayana Warmadewa menikah dengan Gunapriya Dharmapatni, cicit Mpu Sindok dari Dinasti Isyana, Kerajaan Medang Kamulan.

Mereka memiliki anak bernama Airlangga. Putra mahkota Kerajaan Bali ini kemudian menjadi penguasa terakhir Kerajaan Medang Kamulan.

Karena putra mahkota menjadi penguasa di Medang Kamulan, takhta Kerajaan Bali kemudian diduduki oleh adik Airlangga, Marakatapangkaja. Pada saat dipimpin oleh Marakatapangkaja Kerajaan Bali mengalami masa kejayaannya.

Raja baru ini sangat memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi Gianyar, Buleleng, Tampaksiring, dan kawasan Danau Batur.

Marakatapangkaja digantikan oleh adiknya, Anak Wungsu (1049-1077). Selama ia berkuasa, Bali dapat dipersatukan dan menjadi kerajaan yang aman dan tenteram. Pertanian dan perdagangan mengalami kemajuan.

Anak Wungsu sendiri merupakan penguasa terakhir dari Dinasti Warmadewa. Ia wafat pada tahun 1080 tanpa meninggalkan keturunan.

13 Kerajaan Lainnya di Bali

Berdasarkan sumber yang kami telusuri, ternyata ada 13 kerajaan yang pernah berdiri di Bali. Berdasarkan pembagian jamannya diawali dari jaman Bali Mula, Bali Aga dan Bali Majapahit, selengkapnya sebagai berikut:

1. Zaman Bali Kuno (914 – 1342)

  • Kerajaan Bedahulu, Kerajaan Bali dipimpin beberapa Dinasti Warmadewa dan keturunannya, beribukota di Pejeng (Somanegara)
  • Kerajaan Singhamandawa

2. Zaman Bali Pertengahan (1352 – 1686)

  • Kerajaan Bali Samprangan, dipimpin Dinasti Kepakisan dan beribukota di Samprangan (Linggarsapura)
  • Kerajaan Bali Gelgel, dipimpin Dinasti Kepakisan dan beribukota di Gelgel (Swecalinggarsapura)

3. Zaman Bali Klasik/Periode Klungkung (1686 – 1908)

  1. Kerajaan Badung beribukota di Denpasar
  2. Kerajaan Bangli beribukota di Bangli
  3. Kerajaan Buleleng beribukota di Singaraja
  4. Kerajaan Gianyar beribukota di Gianyar
  5. Kerajaan Jembrana beribukota di Negara
  6. Kerajaan Karangasem beribukota di Amlapura
  7. Kerajaan Klungkung beribukota di Semarapura
  8. Kerajaan Mengwi beribukota di Mangupura
  9. Kerajaan Tabanan beribukota di Tabanan

Pembahasan lebih detail mengenai setiap kerajaan tersebut akan kami bahas pada artikel selanjutnya.

Pelajari juga: Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Terlengkap, Siapa saja rajanya?

Keruntuhan Kerajaan Bali

Setelah berakhirnya pemerintahan Dinasti Warmadewa, Bali diperintah oleh raja-raja yang lemah. Salah satu raja yang terkenal adalah Jayasakti.

Ia dijuluki sebagai penjelmaan Wisnu yang penuh kasih. Selama pemerintahannya, rakyat biasa diperkenankan menghadap dan menyampaikan keluhan serta saran mereka kepada raja.

Raja Bali terakhir adalah Paduka Batara Sri Artasura. Raja ini berusaha mempertahankan kemerdekaan Bali dari perluasan wilayah Majapahit yang dicanangkan oleh Gajah Mada. Namun, usahanya mengalami kegagalan. Pada tahun 1343, Bali ditundukkan oleh Majapahit.

Kehidupan Sosial Masyarakat Kerajaan Bali

Dalam keseharian, masyarakat Bali hidup berlandaskan budaya Hindu yang cukup kental. Masyarakatnya dibagi menurut aturan kasta yang disebut Catur Warna. Namun, pembagian ini tidak seketat yang diterapkan di India.

Dalam masyarakat Bali sendiri juga dikenal golongan budak. Mereka yang termasuk golongan budak terutama adalah orang-orang yang kehilangan kemerdekaan karena terjerat utang.

Ketika Kerajaan Majapahit menguasai Bali, muncul satu golongan masyarakat baru yang disebut Wong Majapahit. Golongan ini terdiri atas keturunan penguasa dan penduduk Majapahit yang bermukim di Bali menyusul runtuhnya Kerajaan Majapahit di Jawa.

Mata pencaharian utama orang Bali ialah menjadi petani dan nelayan. Masyarakat Bali memiliki teknologi yang cukup maju dalam sistem pertanian. Mereka telah mengenal subak, yaitu sistem pembagian air dengan cara mengatur saluran irigasi untuk pengairan sawah.

Di Bali juga terdapat golongan masyarakat pedagang. Para pedagang laki-laki dikenal dengan sebutan warigrama dan pedagang perempuan disebut warigrami.

Pelajari juga: Sejarah Kerajaan Melayu Tempat Strategis di pantai timur Sumatra