Sejarah Kerajaan Singasari berawal dari daerah Tumapel, yang dikuasai oleh seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang subur di daerah Malang dengan pelabuhannya yang bernama Pasuruan. Dari daerah itulah Singasari berkembang menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur. Perkembangan yang pesat itu dialami oleh Singasari setelah berhasil mengalahkan Kediri.
Kerajaan Singasari didirikan oleh seorang pembantu bupati yang ambisius. Melalui berbagai intrik, Ken Arok berhasil membangun Kerajaan Singasari. Ken Arok berasal dari sebuah keluarga rakyat jelata di Desa Pangkur, daerah Gunung Kawi. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai penyamun, sehingga menjadi buronan pihak berwajib. Berkat bantuan seorang pendeta bernama Danghyang Lohgawe, ia dapat bekerja di rumah bupati Tumapel, bernama Tunggul Ametung.
Ken Arok tertarik pada istri sang bupati yang cantik bernama Ken Dedes. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris buatan Mpu Gandring. Ia pun menikahi Ken Dedes, yang saat itu sedang mengandung anak yang kemudian diberi nama Anusapati.
Pemberontakan Ken Arok
Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok menobatkan diri menjadi bupati Tumapel. Namun, ia tidak puas sekadar menjadi seorang bupati, karena ia ingin menjadi penguasa Jawa. Kesempatan muncul ketika terjadi perselisihan antara kaum brahmana dengan Raja Kertajaya dari Kediri. Banyaknya brahmana yang meminta perlindungan ke Tumapel menjadi menjadi alasan bagi Kertajaya untuk menyerang Tumapel. Pasukan Kediri berhasil dikalahkan Ken Arok dalam pertempuran di Ganter. Dalam pertempuran ini, Kertajaya terbunuh. Tewasnya Kertajaya memuluskan niat Ken Arok untuk menjadi raja. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Singasari dan menjadi raja pertama. Dinasti yang didirikannya dikenal sebagai Dinasti Rajasa.
Sumber Sejarah Kerajaan Singasari
Sumber sejarah tentang keberadaan kerajaan Singasari berasal dari berita yang datang dari dalam negeri maupun berita dari luar negeri. Sumber sejarah Singasari diantaranya sebagai berikut.
a. Kitab Pararaton, yaitu kitab yang menceritakan tentang keberadaan raja-raja yang pernah memerintah Singasari.
b. Kitab Negarakertagama, yaitu kitab yang berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan dengan raja-raja Singasari.
c. Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248, antara lain prasasti Mulamalurung. Prasasti Mulamalurung dikeluarkan oleh kerabat Raja Singasari pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana. Isinya menggambarkan struktur pemerintahan (politik) Kerajaan Singasari tahun 1255.
d. Berita-berita Asing (berita cina), yang menyatakan bahwa kaisar Khubilai Khan dari cina mengirim pasukannya untuk menyerang Singasari.
e. Peninggalan purbakala berupa candi-candi yang menjadi makam raja-raja Singasari seperti Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari.
f. Arca-arca (patung) seperti patung Amoghapasa dan patung Joko Dolok. Kedua patung itu merupakan perwujudan dari Kertanegara
Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari pernah mengalami kejayaan dalam perkembangan sejarah Hindu di Indonesia. Bahkan singasari menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit. Adapun raja-raja yang pernah memerintah Singasari adalah sebagai berikut.
a. Ken Arok (1222–1227)
Kemenangan Ken Arok dalam pertempuran dengan kerajaan Kediri di dekat Ganter tahun 1222, membawa keharuman namanya. Ken Arok memutuskan untuk membangun dinasti baru dan didirikanlah kerajaan dengan nama Singasari.
Ken Arok sebagai raja Singasari pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Dinastinya bernama dinasti Girindrawangsa (dinasti keturunan dewa siwa). Pendirian dinasti Girindrawangsa bertujuan untuk menghilangkan pandangan tentang siapa sebenarnya Ken Arok dan mengapa ia mendirikan kerajaan. Disamping itu, agar keturunan Ken Arok bila suatu saat menjadi raja besar tidak ternoda oleh perilaku dan tindakan kejahatan yang pernah dilakukan Ken Arok.
Pada masa pemerintahannya yang cukup singkat itu, ia mengembangkan wilayah kekuasaannya yang hampir menguasai seluruh wilayah Jawa Timur. Akan tetapi, kehidupan istana Singasari pada masa pemerintahan Ken Arok diwarnai oleh pembunuhan berantai berlatar dendam di antara anggota keluarga kerajaan. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya, Anusapati. Setelah membalas kematian ayahnya, anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung ini menjadi Raja Singasari.
b. Anusapati (1227–1248)
Setelah ken Arok wafat, tahta kerajaan Singasari dipegang oleh Anusapati. Masa pemerintahan Anusapati sangat lama, yaitu selama 21 tahun dari tahun 1227-1248. Pada masa pemerintahannya itu Anusapati tidak melakukan pembaruan-pembaruan, sebaliknya Anusapati larut dalam kegemarannya sendiri, yaitu menyabung ayam.
Peristiwa kematian Ken Arok pada akhirnya terbongkar oleh putra Ken Arok hasil perkawinan dengan Ken Umang, yang bernama Tohjaya. Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga membalas dendam kematian Ken Arok tidak mengalami kesulitan bagi Tohjaya. Tohjaya mengundang Anusapati untuk mengadakan sabung ayam di Gedong Jiwa (tempat tinggal Tohjaya). Pada saat Anusapati sibuk memperhatikan ayamnya diadu, tiba-tiba Tohjaya menghampirinya. Tohjaya menghunus keris Mpu Gandring lalu menusuk punggung Anusapati. Anusapati meninggal di tempat menyabung ayam itu.
c. Tohjaya (1248)
Setelah meninggalnya Anusapati di tempat penyabungan ayam itu, tahta kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjaya (tahun 1248). Tohjaya memerintah Singasari hanya dalam beberapa bulan. Hal ini diketahui bahwa putra Anusapati yang bernama Ranggawuni mengetahui penyebab kematian Anusapati. Oleh karena itu, Ranggawuni yang dibantu oleh Mahesa Cempaka menuntut hak atas tahta kerajaan Singasari kepada Tohjaya. Tohjaya menolak menyerahkan tahta kerajaan kepada Ranggawuni. Bahkan ia mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Lembu Ampal untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka.
Rencana penangkapan tersebut telah diketahui oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, kemudian keduanya meninggalkan istana dan mencari tempat persembunyian. Pengejaran terhadap Ranggawuni dan Mahes Cempaka terus dilakukan. Namun dalam perjalanan mencari tempat persembunyian itu, Lembu Ampal akhirnya memihak kepada Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ia menyadari bahwa Ranggawuni sebenarnya lebih berhak duduk diatas tahta kerajaan Singasari daripada Tohjaya. Akhirnya Ranggawuni dibantu oleh Mahesa cempaka dan Lembu Ampal berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Tohjaya.
Rangga Wuni naik takhta pada tahun 1248. Mahisa Cempaka, yang telah membantunya merebut takhta, menjadi pejabat kedua terpenting di kerajaan dengan gelar Narasinghamurti. Diceritakan bahwa mereka berdua memerintah bagaikan Wisnu dan Indra. Menurut kitab Negarakertagama, Mahisa Campaka memiliki putra bernama Dyah Lembu Tal, yang menjadi ayah dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
d. Wisnuwardhana (1248–1268)
Ranggawuni naik tahta kerajaan Singasari dengan gelar Wisnuwardhana. Ia dibantu oleh Mahesa Cempaka sebagai ratu Angabaya dengan gelar Narasinghamurti. Diceritakan mereka memerintah bersama bagaikan Wisnu dan Indra dari tahun 1248-1268. Pemerintahan dari kedua raja ini membawa keamanan dan kesejahtraan dalam kehidupan rakyatnya.
Pada tahun 1254, Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuvaraja (raja muda). Pengangkatan itu bertujuan untuk mempersiapkan Kertanegara sebagai raja besar yang akan memerintah Kerajaan Singasari. Setelah Wisnuwardhana wafat, tahta kerajaan dipegang oleh Kertanegara (Wisnuwardhana adalah satu-satunya Raja Singasari yang meninggal tidak terbunuh).
e. Kertanegara (1268–-1292)
Raja Singasari terbesar dan terakhir di Kerajaan Singasari adalah Kertanegara. Di bawah pemerintahannya Singasari mencapai masa kejayaannya. Ia berusaha memperluas Kerajaan Singasari hingga ke luar Jawa, terkenal dengan istilah Cakrawala Mandala. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirim pasukan ke Sumatra (Ekspedisi Pamalayu). Kertanegara ingin menaklukkan Sumatra guna menghadang rencana perluasan kekuasaan Kaisar Kublai Khan dari Cina.
Kertanegara bermusuhan dengan Cina setelah ia menolak untuk tunduk kepada Kaisar Cina. Bahkan, ia memotong telinga utusan Kublai Khan yang bernama Meng Ki. Sebagai akibatnya, Kublai Khan marah dan mengirim pasukan untuk menghukum Singasari.
Sebelum pasukan Cina sampai ke Jawa, keluarga Kerajaan Singasari sudah mengalami kehancuran. Pada tahun 1292, ketika Kertanegara sedang mengadakan pesta dan upacara Tantrayana, tiba-tiba datang serangan dari Kerajaan Kediri, salah satu kerajaan bawahan Singasari. Serangan ini dipimpin oleh Jayakatwang, yang ingin memulihkan kembali kebesaran leluhurnya. Dengan bantuan anaknya yang menjadi menantu Kertanegara, Jayakatwang berhasil merebut istana Singasari dan membunuh Kertanegara dan seisi istana. Kerajaan Singasari pun berakhir.
Politik Dalam Negeri Kerajaan Singasari
Dalam rangka mewujudkan politik dalam negerinya, Kertanegara mengadakan pergeseran terhadap para pejabat istana. Kertanegara mengganti Mahapati Raganata dengan Aragani. Selanjutnya Raganata diangkat sebagai adhyaksa di Tumapel. Banyakwide dari golongan rakyat biasa diangkat menjadi pegawai tinggi, yaitu sebagai bupati sumenep yang bergelar Aryawiraraja. Kertanegara juga berbuat baik dengan lawan-lawan politiknya. Misalnya, mengangkat putra Jayakatwang yang bernama Ardharaja sebagai menantunya, serta mengangkat cucu Mahesa Cempaka yang bernama Raden Wijaya sebagai menantunya. Raja Kertanegara juga memperkuat angkatan perangnya dengan membangun angkatan darat maupun angkatan lautnya. Hal itu dilakukan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di dalam negeri. Kertanegarapun berusaha untuk mewujudkan cita-cita persatuan Nusantara.
Politik Luar Negeri Kerajaan Singasari
Sebagai raja besar, cita-cita Kertanegara adalah mewujudkan persatuan Nusantara dibawah Singasari. Ia berusaha untuk memperkuat pertahanan Singasari dalam menghadapi serangan kerajaan Cina-Mongol (Kaisar Khubilai Khan). Untuk mencapai cita-cita politiknya itu, Kertanegara melakukan Ekspedisi Pamalayu(tahun 1275). Tindakan itu dilakukan untuk menguasai Kerajaan Melayu dan melemahkan posisi kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka. Kemudian Kertanegara menguasai Bali (tahun 1284), menguasai Jawa Barat (tahun 1289), menguasai Pahang (Malaya), dan menguasai Tanjungpura (kalimantan).
Kertanegara memerintahkan untuk membentuk garis Pahang-Tangjungpura dengan memiliki tiga fungsi. Diantaranya:
- Menguasai lalulintas pelayaran dan perdagangan di laut Cina Selatan.
- Pertahanan terdepan untuk menghadapi serangan pasukan Cina-Mongol.
- Mengepung wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
Hubungan Kertanegara dengan luar negeri juga terjalin dengan baik. Hal ini terbukti melalui perkawinan adik Kertanegara yang bernama Putri Tapasi dengan raja Campa.
Kertanegara menempuh segala cara dalam menghadapi kekuatan Cina-Mongol. Namun, Pasukan Cina-Mongol pada akhirnya berhasil menerobos barisan pertahanan Singasari dan mendarat di pantai utara pulau jawa. Akan tetapi, Sebelum pasukan Cina-Mongol berhasil masuk pulau jawa, Kertanegara gugur akibat serangan dari Jayakatwang (raja Kediri) tahun 1292.
Perkembangan Sosial Masyarakat Singasari
Pada masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat terjamin dengan baik. Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat menyebabkan beberapa daerah yang berada di sekitarnya bergabung dengan Singasari. Kehidupan rakyatnya terjamin aman dan sejahtera. Tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan sosial masyarakatnya menjadi suram karena raja tidak pernah memperhatikan kehidupan rakyatnya. Baru pada masa pemerintahan Kertanegara kehidupan rakyat Singasari mendapat perhatian yang lebih baik lagi.
Perkembangan Politik Kerajaan Singasari
Setelah berhasil mengalahkan kerajaan Kediri pada tahun 1222 di dekat Ganter. Ken Arok menyatakan berdirinya Kerajaan Singasari. Perkembangan kerajaan Singasari semakin bertabah kuat dan wilayah kekuasaannya semakin bertambah luas. Di bawah kekuasaan Raja Kertanegara, Singasari mengadakan politik ekspansi dengan sasaran menguasai selat malaka, serta mempersatukan seluruh Nusantara di bawah Singasari. Disamping itu, Singasari juga memperkuat pasukannya untuk menghadapi serangan pasukan Cina-Mongol. Ketika itulah Kertanegara mendapat serangan dari Jayakatwang (Kediri) yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Singasari.
Perkembangan Ekonomi Masyarakat Singasari
Kehidupan ekonomi masyarakat Singasari tidak jauh beda dengan kerajaan terdahulunya di Jawa Timur. Berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung oleh hasil bumi yang melimpah. Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari. Namun, pada masa pemerintahan Kertanegara muncul upaya untuk menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka. Penguasaan jalur pelayaran dan perdagangan di selat malaka itu bertujuan untuk membangun dan mengembangkan aktifitas perekonomian kerajaannya. Dengan kata lain, Kertanegara berusaha menarik para pedagang untuk melakukan aktifitas perdagangan di pusat Kerajaan Singasari.
Peninggalan Budaya Kerajaan Singasari
Gambaran kebudayaan kerajaan Singasari terlihat dari ditemukannya peninggalan candi-candi dan patung-patung yang dibangun pada masa kekuasaan kerajaan Singasari, Diantaranya.
a. Candi Kidal
Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 – 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.

b. Candi Jago
Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
c. Candi Singasari
Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat “pendharmaan” bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat(meninggal) pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.

d. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
Sedangkan patung yang berhasil ditemukan antara lain.
e. Arca Dwarapala
Arca ini berbentuk Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini, arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.

f. Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu

g. Patung Kertanegara dalam wujud Patung Joko Dolok yang ditemukan di dekat Surabaya

h. Patung Amoghapasa juga merupakan perwujudan raja Kertanegara yang dikirim ke Dharmacraya ibukota kerajaan Melayu.

Baca juga :





