Sejarah Kerajaan Sunda yang jarang diungkap kalayak umum

Sejarah8 Dilihat

berkasilmu.com – Kerajaan Sunda adalah kerajaan masa Hindu-Buddha yang diketahui keberadaannya di samping Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini memiliki banyak nama, seperti Galuh dan Pakuan Pajajaran.

Kerajaan Sunda diduga merupakan lanjutan dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam Carita Parahyangan disebutkan bahwa keluarga Raja Sanjaya yang berkuasa di Mataram pernah berkuasa di Kerajaan Sunda.

Menurut cerita ini, paman Sanjaya yang bernama Sena merupakan Raja Sunda-Galuh sebelum ia digulingkan dan melarikan diri ke bukit Merapi yang terletak di Kuningan, Jawa Barat. Sanjaya dikabarkan merupakan menantu dari Raja Sunda bernama Tarusbawa yang berpusat di Galuh.

Masa Awal Kerajaan

Seperti Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda juga menganut agama Hindu. Di kerajaan Sunda, agama Hindu yang dianut berasal dari aliran Syiwa dan Waisnawa.

Pada tahun 1030, pusat pemerintahan Kerajaan Sunda dipindahkan ke Pakuan Pajajaran oleh Maharaja Sri Jayabhupati. Sang raja berseteru dengan Raja Airlangga dari Medang Kamulan.

Pertikaian ini dipicu oleh sikap Kerajaan Sunda yang menolak menjadi bawahan Raja Airlangga. Sekalipun demikian, tidak ada bukti meyakinkan bahwa keduanya pernah terlibat dalam peperangan.

Perang Bubat

Pada tahun 1357, terjadi satu peristiwa penting yang tragis bagi Kerajaan Sunda, yaitu Perang Bubat. Peristiwa ini berawal dari lamaran yang diajukan oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, untuk meminang putri Raja Sunda Sri Baduga Maharaja Sang Ratu Dewata. Namun, ketika iring-iringan mempelai wanita tiba di Desa Bubat, ternyata Mahapatih

Gajah Mada menuntut agar Putri Dyah Pitaloka dijadikan upeti sebagai tanda takluknya Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Raja Sunda pun murka, dan pecah pertempuran yang menewaskan Sri Baduga beserta putri dan para pengiringnya.

Setelah Perang Bubat, Kerajaan Sunda tidak pernah lagi mengadakan hubungan dengan Majapahit hingga keruntuhannya.

Masa Keemasan Kerajaan Sunda

Sri Baduga Maharaja Sang Ratu Dewata digantikan oleh putranya, Niskala Wastu Kancana. Saat berkuasa, ia memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda ke Kawali Ciamis.

Pusat pemerintahan yang baru ini terletak tidak jauh dari Galuh, ibukota lama kerajaan. Istananya dikenal dengan sebutan Surawisesa.

Niskala Wastu Kancana diberitakan memerintah selama 104 tahun (sekitar tahun 1371 – 1471). la merupakan raja saleh dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dan pemerintahan. la juga dikenal bebagai raja yang selalu

memerhatikan kesejahteraan rakyat. Berkat kepemimpinan Niskala Wastu Kancana, Kerajaan Sunda menikmati zaman kemakmuran dan ketenteraman.

Raja Niskala Wastu Kancana kemudian digantikan oleh putranya, Tohaan, yang bergelar Ningrat Kancana. Raja ini hanya memerintah selama tujuh tahun.

40 Raja Sunda

Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta pada tahun Masehi adalah sebagai berikut:

  1. Arusbawa (menantu Linggawarman, 669 – 723)
  2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 – 732)
  3. Tamperan Barmawijaya (732 – 739)
  4. Rakeyan Banga (739 – 766)
  5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)
  6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795)
  7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819)
  8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 – 891)
  9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 – 895)
  10. Windusakti Prabu Déwageng (895 – 913)
  11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)
  12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942)
  13. Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)
  14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964)
  15. Munding Ganawirya (964 – 973)
  16. Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)
  17. Brajawisésa (989 – 1012)
  18. Déwa Sanghyang (1012 – 1019)
  19. Sanghyang Ageng (1019 – 1030)
  20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 – 1042)
  21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065)
  22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155)
  23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 – 1157)
  24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175)
  25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 – 1297)
  26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303)
  27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311)
  28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
  29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
  30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
  31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
  32. Prabu Bunisora (1357-1371)
  33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
  34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
  35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
  36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
  37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
  38. Prabu Sakti (1543-1551)
  39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
  40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)

Pelajari juga: 2 Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia Paling Populer yang Menjadi Awal Peradaban Nusantara

Runtuhnya Kerajaan Sunda

Pengganti Ningrat Kancana adalah putranya yang bernama Sang Ratu Jayadewata. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan kembali dari Kawali ke Pakuan Pajajaran. Saat itu sudah ada penduduk Sunda yang memeluk agama Islam.

Mereka terutama bermukim di Cimanuk, kota pelabuhan yang merangkap sebagai batas Kerajaan Sunda di sebelah timur.

Setelah pemerintahan Sang Ratu Jayadewata, Kerajaan Sunda dipimpin oleh Ratu Samiam atau Prabu Surawisesa. Penyebaran agama Islam melalui dakwah dan kampanye militer di wilayah Kerajaan Sunda semakin mengancam kedudukan penguasa Hindu. Pada tahun 1512 dan 1521, Ratu Samiam mengirim utusan ke

Malaka yang dikuasai Portugis. Ia bermaksud meminta bantuan untuk mempertahankan kerajaan dari serangan Kerajaan Islam Banten yang dipimpin Sultan Hasanuddin.

Namun, bantuan itu tidak pernah datang karena pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda, yaitu Sunda Kalapa, sudah dikuasai oleh pasukan Kerajaan Demak pimpinan Fatahillah. Akibatnya, hubungan Kerajaan Sunda dan dunia luar pun terputus.

Pada masa pemerintahan Prabu Ratu Dewata (1535-1543), Kerajaan Banten semakin gencar menyerang Kerajaan Sunda. Pada tahun 1579, pusat Kerajaan Sunda di Pajajaran jatuh ke tangan putra Sultan Hasanuddin, yaitu Panembahan Yusuf. Dengan demikian, tamatlah riwayat kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa ini.

7 peninggalan sejarah Kerajaan Sunda

Dalam sejarahnya Kerajaan Sunda tercatat memiliki 7 peninggalan, yaitu sebagai berikut:

1. Prasasti Cikapundung

Prasasti Cikapundung

2. Prasasti Pasir Datar

Prasasti Pasir Datar

3. Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh

4. Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

Prasasti Padrao

5. Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu

6. Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi

7. Situs Karangkamulyan

Situs Karangkamulyan

Demikian sekilas Sejarah Kerajaan Sunda, semoga memerikan manfaat.