Kerajaan Sriwijaya : Sumber Sejarah, Raja-raja yang Memerintah Lengkap Peninggalan Budayanya

Sejarah26 Dilihat

Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang telah membawa kejayaan bangsa indonesia pada masa lampau. Sriwijaya bukan hanya di kenal di wilayah Indonesia, melainkan juga dikenal sampai jauh diluar wilayah indonesia. Hal itu disebabkan letak Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan selat malaka. Selat malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan satu-satunya yang dikenal oleh para pedagang.

Letak geografis Kerajaan Sriwijaya

Selat malaka merupakan penghubung antara para pedagang dari cina dan para pedagang dari india maupun romawi. Berdasarkan penemuan prasasti, dapat diselidiki bahwa letak kerajaan Sriwijaya berada di wilayah sumatra bagian selatan. Pusat pemerintahannya diperkirakan berada di tepi sungai musi atau disekitar kota palembang sekarang.

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sumber sejarah yang mendukung tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya diantaranya berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti.

a. Berita Asing

Sriwijaya merupakan kerajaan maritim dengan letak yang sangat strategis. Maka banyak pedagang asing yang datang untuk melakukan kegiatan perdagangannya dipusat kerajaan. Berita-berita asing itu diantaranya berasal dari berita Arab, berita India dan berita Cina.

  1. Dari berita Arab dapat diketahui bahwa telah banyak pedagang arab melakukan kegiatan di Sriwijaya. Bahkan di pusat kerajaan Sriwijaya ditemukan perkampungan orang-orang Arab sebagai tepat tinggal sementara. Disamping itu, orang-orang Arab menyebut Sriwijaya dengan nama Zabaq, Zabay, atau Sribusa.
  2. Dari berita India dapat diketahui bahwa raja Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan di India. Misalnya kerajaan Nalanda dan kerajaan Cholamandala. Hubungan dengan Nalanda disebutkan bahwa Sriwijaya mendirikan prasasti yang dikenal dengan nama prasasti nalanda. Hubungan dengan Cholamandala pada awalnya berjalan dengan baik, tetapi kemudian retak setelah Cholamandala menyerang Sriwijaya.
  3. Dari berita Cina dapat diketahui dari para pedagang Cina yang datang ke Sriwijaya. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanannya ke India dan Romawi. Selain itu terdapat juga berita dari kitab sejarah dinasti Tang di Cina. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa pada abad ke VII Masehi telah ada kerajaan yang bernama To lang poh wang (Tulang Bawang), Mo-lo-yo (Melayu), dan Che li Fo che (Sriwijaya). 

Selain itu diperoleh pula keterangan dari prasasti yang berasal dari luar antara lain:Prasasti Ligor (tanah Genting Kra) di Thailand

Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, berangka tahun 775 M. Prasasti itu menyebutkan tentang pendirian ibukota ligor di semenanjung malaya agar lebih dekat mengawasi pelayaran perdagangan di selat malaka. Prasasti ligor juga berisi pujian kepada Sriwijaya bahwa raja Sriwijaya telah membangun tiga buah candi.

Prasasti Nalanda

Prasasti Nalanda dibuat oleh raja Benggala Dewapaladewa. Isi prasasti Nalanda ialah penjelasan tentang pembangunan asrama untuk orang yang belajar agama Budha di Nalanda yang didirikan oleh raja Sriwijaya Balaputradewa. Dalam prasasti Nalanda juga menyebutkan Balaputra Dewa sebagai raja terakhir dari dinasti Syailendra. Balaputra Dewa terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan mataram dari dinasti sanjaya. Selanjutnya Balaputra Dewa menjadi raja di Sriwijaya.

b. Berita Dalam Negeri

Dari sumber dalam negri, berita Sriwijaya dapat kita ketahui dari enam prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta yang bercampur dengan bahasa Melayu. Prasasti itu tersebar di daerah Sumatra Selatan dan Pulau Bangka. Prasasti-prasasti itu ialah:

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi sungai Talang dekat Palembang. Prasasti kedukan bukit berangka tahun 682 M. Prasasti itu menyebutkan bahwa raja Siwijaya yang bernama Dapunta Hyang melakukan perjalanan ke Minangatamwam dengan menaiki perahu disertai oleh 20.000 balatentara. Selama dalam perjalanan ia berhasil menaklukan daerah-daerah yang dilaluinya, sehingga kemenangan ini membawa kemakmuran bagi kerajaan Sriwijaya. Daerah minangatamwan yang dimaksut itu diduga daerah Binaga di Jambi sekarang.

Prasasti Talang Tuwo

2. Prasasti Talang Tuwo

Prasasti ini ditemukan di kota Talang Tuo, sebelah barat kota Palembang dan berangka tahun 684 Masehi. Isinya berupa penjelasan tentang pembuatan taman yang bernama Sriketra, atas perintah Dapunta Hyang Sri Iayanaga. Prasasti ditulis dalam bentuk syair, bersifat agama Budha Mahayana.

Prasasti Telaga Batu

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di daerah Telaga Batu dekat Palembang. Prasasti berisi kutukan-kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada perintah raja. Selain itu tertulis pula tentang penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya. Prasasti ini tidak berangka tahun.

4. Prasasti Kota Kapur

Prasasti ini ditemukan di sungai Menduk di pulau Bangka. Isi prasasti sama dengan prasasti Telaga Batu ditambah dengan usaha yang dilakukan oleh Sriwijaya untuk menaklukan Pulau Jawa. Prasasti ini berangka tahun 686 M.

5. Prasasti Karang Birahi

Prasasti karang birahi berangka tahun 686 M. Prasasti itu ditemukan di hulu sungai Merangin, cabang sungai Batanghari di pedalaman jambi yang menunjukkan penguasaan daerah tersebut oleh sriwijaya.

6. Prasasti Palas Pasemah Prasasti ini ditemukan di daerah Palas Pasemah di tepi sungai anak Pisang, anak sungai Sekapung di daerah Lampung Selatan. Prasasti ini berisi penjelasan bahwa Lampung diduduki oleh Sriwijaya pada abad ke-7 M. Dari isi prasasti-prasasti yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-7 M, Sriwijaya telah meluaskan daerah kekuasaannya mulai dari Melayu di sekitar Jambi sampai pulau Bangka dan daerah Lampung Selatan. Sriwijaya juga berusaha menaklukkan Pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang perdagangan dan pelayaran dengan luar negeri. Mengenai letak kerajaan Sriwijaya, sampai sekarang masih terjadi silang pendapat di antara sejarawan. Dari berbagai pendapat itu, pendapat G.Coedeslah yang banyak didukung oleh beberapa sejarawan. Coedes menyatakan bahwa Sriwijaya terletak di pantai timur Sumatra Selatan, yaitu di sekitar Palembang sekarang. 

Raja-raja yang pernah Memerintah Kerajaan Sriwijaya

Tidak semua raja-raja yang pernah memerintah Sriwijaya meninggalkan prasasti. Dengan Demikian, tidak semua raja berhasil diketahui. Raja-raja yang berhasil diketahui pernah memerintah Sriwijaya diantaranya sebagai berikut.

1. Dapunta Hyang

Berita tentang Dapuntya Hyang diketahui melalui prasasti kedukan bukit (tahun 683). Pada masa pemerintahannya, Dapunta Hyang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Jambi dengan menduduki wilayah minangatamwan. Daerah minangatamwan memiliki arti yang sangat strategis dalam bidang perekonomian. Daerah itu dekat dengan jalur perhubungan pelayaran perdagangan di Selat Malaka. Sejak awal pemerintahannya, Dapunta Hyang telah mencita-citakan agar Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.

2. Balaputra Dewa

Pada masa pemerintahan Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaannya. Balaputra Dewa masih termasuk keturunan Raja Syailendra. Pada mulanya Balaputra Dewa adalah raja Di Mataram kuno (Dinasti syailendra). Ketika terjadi perang saudara di Mataram antara Balaputra Dewa (dinasti Syailendra) dan Pramodhawardani yang dibantu oleh Rakai Pikatan (dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan dan lari ke Sriwijaya. Pada masa itu di Sriwijaya berkuasa Dharma Setru (kakak dari ibu Balaputra Dewa) yang tidak memiliki keturunan. Itulah sebabnya, kedatangan Balaputra Dewa disambut dengan baik. Kemudian ia diangkat menjadi Raja Sriwijaya.

Pada masa pemerintahan Balaputra Dewa Sriwijaya berkembang dengan sangat pesat. Balaputra Dewa berusaha meningkatkan kehidupan perekonomian rakyatnya melalui pelayaran dan perdagangan. Disamping itu, Balaputra Dewa menjalin hubungan dengan kerajaan di India, seperti kerajaan Benggala (Nalanda) dan Cholamandala. Bahkan dimasa pemerintahannya Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.

3. Sanggrama Wijayatunggawarman

Dalam masa pemerintahannya, Sanggrama Wijayatunggawarman melanjutkan sistem pemerintahan pendahulunya. Pada masa pemerintahannya itu juga Sriwijaya mendapat ancaman dari Cholamandala dibawah pemerintahan Raja Rajendra Chola yang melakukan serangan ke Sriwijaya. Serangan kedua berhasil menduduki Sriwijaya serta menawan Sanggrama Wijayatunggawarman. Setelah Rajendra Cola meninggal dan digantikan oleh Kulotungga I, hubungan antara Sriwijaya dan Chola berjalan dengan baik. Bahkan Kulotungga I mengembalikan raja Sanggrama Wijayatunggawarman ke tahta Sriwijaya.

Sriwijaya Kerajaan Maritim

Sriwijaya Kerajaan Maritim

Daerah Sriwijaya yang diperkirakan di Palembang sekarang, merupakan daerah yang masih tertutup hutan lebat dan rawa-rawa. Tentu saja daerah yang seperti itu tidak cukup layak untuk dijadikan pemukiman, sehingga hal ini mendorong kerajaan Sriwijaya untuk mencari bentuk mata pencaharian lain untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya. Karena Sriwijaya terletak di dekat Selat Malaka, maka dimanfaatkanlah Selat Malaka itu untuk menaikkan tingkat kemakmuran masyarakat. Sriwijaya kemudian memusatkan perhatiannya pada kelautan dengan melakukan perdagangan dan pelayaran. Mereka memanfaatkan kapal-kapal dagang yang melewati Selat Malaka. Dalam pertengahan abad ke-8, Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang kuat. Hal ini disebabkan karena keberhasilan sriwijaya menguasai perdagangan (niaga) dan pelayaran di Asia Tenggara, terutama wilayah Indonesia bagian barat. Penguasaan Sriwijaya atas pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara bertumpu pada Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat karimata. Dengan menguasai daerah perdagangan yang strategis itu Sriwijaya menguasai urat nadi perdagangan dunia di Asia Tenggara. Sriwijaya mengembangkan diri sebagai pusat perdagangan dan pusat pemerintahan. Satu demi satu daerah-daerah sekitarnya jatuh dibawah kekuasaan Sriwijaya, dari Semenanjung Melayu, Selat Malaka, Sumatra Utara, sampai Selat Sunda. Sriwijaya menguasai jalan perdagangan dari barat ke Cina, begitu pula sebaliknya. Sriwijaya memungut pajak dari kapal kapal dagang yang melewati Selat Malaka dan Selat Bangka. Hal ini sangat menguntungkan Sriwijaya, perekonomian Sriwijaya mengalami perkembangan pesat. Kapal-kapal asing seperti Parsi, Cina, datang dari Kedah dan Melayu, mereka membongkar sauh di Sriwijaya sambil menunggu angin baik untuk kembali mengadakan perdagangan dengan Sriwijaya. Dari Sriwijaya mereka memperoleh gading, emas, penyu, perak, kemenyan, kapur barus, damar, lada. Hasil bumi Sriwijaya ini ditukar dengan barang dari luar berupa porselen, kain katun, sutera, dan sebagainya. Keuntungan besar yang diperoleh Sriwijaya digunakan untuk membiayai armada tentaranya. Dengan kekuatan armadanya, Sriwijaya semakin disegani keberadaannya, sehingga arus perdagangan dan pelayaran di daerah Sriwijaya tidak ada yang mengganggu sehingga para pedagang merasa aman melewati Sriwijaya.

Pada tahun 775 Sriwijaya mendirikan ibukota baru di tanah Kataha di semenanjung malaya. Ibukota yang dibangun itu bernama ligor dan dibuktikan melalui prasasti ligor (tahun 775). Pendirian ibukota tersebut bertujuan untuk menguasai secara keseluruhan perdagangan dan pelayaran yang melalui selat malaka. Tujuan secara khusus adalah untuk mencegah melintasnya para pedagang melalui tanah genting Kra. Pada tahun 860, Raja Sriwijaya mendirikan piagam nalanda di daerah Benggala India. Hal ini menandakan bahwa pengaruh dan hubungan Sriwijaya dengan India sangat besar. Demikian pula dengan negeri Cina, Sriwijaya mempunyai kontak hubungan sangat ramai. Bahkan pada abad ke-11 Sriwijaya mendirikan piagam Linggapala di Kanton, disamping itu, kepulauan andaman dan nikobar diperairan teluk benggala telah dikuasai oleh Sriwijaya. Kepulauan itu merupakan mata rantai lalulintas perdagangan dan pelayaran antara Sriwijaya dan India. Peranan dan kedudukan Sriwijaya ialah sebagai kerajaan maritim atau sarwajala yang menguasai samudra di Asia tenggara.

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Agama Buddha

Perkembangan Sriwijaya tidak hanya dalam bidang perdagangan dan pelayaran, tetapi juga dalam bidang kebudayaan dan agama Buddha. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat pertemuan antara jemaah agama Buddha dari Cina ke India dan dari India ke Cina. Pertemuan yang dilakukan oleh para jemaah agama Buddha itu menarik perhatian dari masyarakat Sriwijaya. Pujangga-pujangga dari berbagai negeri berkumpul di Sriwijaya untuk membahan tentang agama Buddha. Melalui pertemuan-pertemuan yang terjadi itu lambat laun masyarakat Sriwijaya tertarik dan akhirnya memeluk agama Buddha. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya beraliran Mahayana.

Disamping agama Buddha dibawa oleh para pujangga dari daerah India maupun Cina, di Sriwijaya juga terdapat pujangga ternama seperti Dharmapala dan Sakyakirti. Dharmapala adalah seorang guru besar agama Buddha dari Sriwijaya yang pernah mengajar agama Buddha di perguruan tinggi Nalanda. Perkembangan agama Buddha di Sriwijaya banyak diberitakan oleh seorang musyafir Cina yang bernama I-Tsing. Ia bertolak ke India pada tahun 672 sampai tahun 685 M, kemudian I-Tsing sempat singgah dan tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya. Ketika berada di Sriwijaya I-Tsing banyak mempelajari dan menerjemahkan ajaran agama Buddha dari bahasa sanskerta ke bahasa Cina.

Perkembangan Sosial Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya tidak begitu banyak yang berhasil diketahui. Sebagai masyarakat maritim biasanya kehidupan sosial masyarakatnya lebih banyak bersifat individualistis. Mereka baru mengadakan hubungan dengan pihak lainnya apabila hubungan itu mendatangkan keuntungan  bagi dirinya. Ketika Balaputra Dewa menjadi raja Sriwijaya ia menjalin hubungan baik dengan raja di sekitarnya, terutama Nalanda. Hubungan itu dilakukan dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan sosial masyarakatnya dengan cara memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu kepada rakyat Sriwijaya di daerah Nalanda. Di Sriwijaya terdapat guru besar agama Buddha seperti Dharmapala dan Sakyakirti. Hal itu juga membuktikan bahwa kehidupan sosial masyarakat Sriwijaya sudah tinggi.

Perkembangan Politik Kerajaan Sriwijaya

Perkembangan politik Sriwijaya sebagai kerajaan besar dalam dunia maritim tidak lepas dari beberapa faktor, yaitu letaknya yang strategis, keruntuhan kerajaan funan, dan kemajuan pelayaran dan perdagangan antara india dengan Cina melalui Asia Tenggara. Dalam kondisi itu Sriwijaya terus berkembang dan berhasil menguasai wilayah Indonesia bagian barat. Maka secara langsung Sriwijaya menguasai sepenuhnya jalur perdagangan di Asia Tenggara. 

Perkembangan Ekonomi Masyarakat Sriwijaya

Secara ekonomis Sriwijaya memiliki letak yang strategis, yaitu di tengah-tengah jalur perhubungan antara Cina dan India. Hal ini menyebabkan Sriwijaya enjadi urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara. Kapal-kapal dagang yang singgah di Sriwijaya untuk menambah air minum, perbekalan makanan, beristirahat bahkan melakukan aktifitas perdagangan.

Bertambah ramainya perdagangan yang melalui selat malaka, secara langsung maupun tidak langsung membuat masyarakat sriwijaya ikut ambil bagian dalam dunia pelayaran dan perdagangan. Oleh karena itu, dalam perkembangan selanjutnya Sriwijaya akhirnya menjadi kerajaan maritim sekaligus menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara.

Hubungan Luar Negeri Kerajaan Sriwijaya

Sebagai kerajaan besar, Sriwijaya tidak hanya memusatkan perhatian pada bidang ekonomi saja, tetapi juga pada bidang lain seperti agama. Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Budha. Kemudian didirikanlah sekolah tinggi agama Budha yang mahasiswanya berasal dari dalam dan luar negeri. Untuk mahasiswanya, Sriwijaya mandirikan asrama. Bukti adanya sekolah tinggi agama Budha ini dapat kita ketahui dari laporan perjalanan I-Tsing. Pada tahun 672 I-Tsing melakukan perjalanan dari Katon ke India dan singgah di Sriwijaya selama 6 bulan untuk belajar bahasa Sanskerta. Dikabarkan pula bahwa Sriwijaya telah mempunyai 1000 pendeta yang mempunyaj pengetahuan agama seperti di India. Salah seorang pendeta Budha yang sangat termashur pada masa itu ialah Syakyakitri. Di bidang politik, raja Sriwijaya yaitu Balaputra mengadakan hubungan persahabatan dengan raja Benggala, Dewapaladewa. Untuk mempererat hubungan itu, Balaputra membangun sebuah biara di Nalanda. Berita ini dapat kita ketahui dari prasasti Nalanda. Sriwijaya juga mengadakan hubungan dengan kerajaan Sung di Cina. Berita mengenai ini dapat kita ketahui dari kitab sejarah dinasti Sung. Sriwijaya mengirim utusan ke Cina pada tahun 971, 972, 974, 975, 980, dan 983 M. Pada permulaan abad ke XI Sriwijaya yang saat itu diperintah oleh Cricudamaniwarman mengadakan hubungan dengan Colamandala dan bekerja sama menghadang ancaman dari Pulau Jawa. Setelah Cricudamaniwarman wafat, kemudian digantikan oleh putranya Sri Marawijayatunggawarman. Hubungan dengan Colamandala tetap dijalankan. Untuk mengukuhkan hubungan itu, didirikan bangunan Budha di Nagipattana. Bangunan itu kemudian diberi nama Cudamanivarmavihara.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Setelah pemerintahan Balaputeradewa, nasib Sriwijaya tidak banyak diketahui hingga awal abad ke-11 M, ketika muncul berita Cina mengenai Raja Sriwijaya bernama Udayadityawarman. Menurut berita ini, sang raja mengirim utusan ke Cina yang tertahan kepulangannya dari Kanton karena negerinya sedang diserang seorang raja Iawa, kemungkinan adalah Dharmawangsa.

Pengganti Udayadityawarman adalah Cudamaniwarmadewa. Ia memiliki hubungan baik dengan penguasa Kerajaan Cola di India bagian selatan. Bahkan, ia diizinkan membangun sebuah wihara di Nagapitana, yaitu daerah yang berada di bawah kekuasaan Cola India. Namun, hubungan Sriwijaya dengan Cola tidak berlangsung lama. Cola diam-diam menyusun kekuatan untuk menaklukkan Sriwijaya. Pada tahun 1017 raja Cola Rajendracoladewa menyerang Sriwijaya. Penyerangan ini membuat Sriwijaya mengalami kerugian dalam perdagangan, dan pada tahun 1025 Cola menyerang Sriwijaya sekali lagi. Raja Sriwijaya yang bernama Sri Sanggramawijaya tunggadewa ditawan pasukan Cola. Tahun 1068 Cola menyerang kembali Sriwijaya. Serangan-serangan ini membuat kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Dalam berita Cina yang ditulis oleh Chau Ju Kua disebutkan bahwa pada akhir abad ke XII Sriwijaya mengalami kemunduran.

Pada paruh terakhir abad ke-11, pusat kekuasaan Sriwijaya pindah dari Palembang ke Jambi untuk menghindari serangan lanjutan dari Cola. Namun, Sriwijaya terus melemah pada abad ke-13, ketika satu per satu raja bawahannya melepaskan diri.

Kondisi Sriwijaya diperburuk oleh Ekspedjsi Pamalayu yang dilakukan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Ekspedisi ini bertujuan untuk membendung serangan Kublai Khan dari Cina. Sriwijaya dianggap bersahabat erat dengan Cina sehingga dikhawatirkan akan menjadi tempat persinggahan armada Kublai Khan. Pada abad ke XIV Sriwijaya benar-benar tenggelam setelah ditaklukkan oleh Majapahit pada tahun 1376 Masehi.

Peninggalan Budaya Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan besar dengan wilayah kekuasaan meliputi sebagian wilayah indonesia bagian barat. Sriwijaya juga menjadi penguasa tunggal jalur aktivitas pelayaran perdagangan yang melalui selat malaka. Kebesaran kerajaan Sriwijaya yang didukung oleh faktor pelayaran perdagangan tersebut menyebabkan rakyat Sriwijaya aktif dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan. Namun, lain halnya dalam bidang kebudayaan. Masalah kebudayaan bukan masalah utama dalam kehidupan masyarakatnya. Bahkan hapir tidak pernah ditemukan peninggalan-peninggalan kebudayaan yang merupakan salah satu ciri khas kebesaran sebuah kerajaan. 

Dalam perkembangan agama Buddha, kerajaan Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha yang terpenting di Asia Tenggara dan Asia Timur. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya adalah Buddha Mahayana. Menurut berita dari Tibet, seorang pendeta bernama Atica datang dan tinggal di Sriwijaya (1011-1023 M) dalam rangka belajar agama Buddha dari seorang guru besar bernama Dharmapala. Menurutnya Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha, Tidak banyak peniggalan seperti Candi-candi, Arca (patung) sebagai tanda kebesaran kerajaan Sriwijaya dalam bidang kebudayaan.

Baca juga :