Kerajaan Mataram Kuno : Sejarah Berdirinya, Silsilah Raja, dan Masa Kejayaan Mataram Kuno

Kerajaan23 Dilihat

Pada abad ke-8, sebuah kerajaan Hindu bernama Mataram berkembang di wilayah Jawa Tengah. Pusat pemerintahannya disebut Bhumi Mataram, yang diperkirakan kerajaan Mataram ini terletak di pedalaman Jawa Tengah.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno

Dinasti Sanjaya

Karajaan Mataram Kuno didirikan oleh raja Sanna. Kemungkinan ia adalah seorang Raja Galuh dari Jawa Barat yang terpaksa pindah ke Jawa Tengah karena kerajaannya diserang oleh Raja Purbasora. Pada tahun 717, Sanna digantikan oleh keponakannya, Sanjaya, yang kemudian mendirikan Dinasti Sanjaya.

Sanjaya memerintah Mataram dengan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, Mataram menjadi kerajaan besar dan makmur. Rakyat Mataram hidup dengan aman dan damai.

Raja Sanjaya dikenal pula sebagai raja yang gagah berani dan ahli kitab suci. Agama yang dianutnya adalah Hindu aliran Syiwa. Untuk menghormati Dewa Syiwa, Sanjaya mendirikan sebuah bangunan suci, yang sisa-sisanya masih bisa dilihat di puncak Gunung Wukir. Di samping itu, ia juga mendirikan sejumlah candi Hindu, seperti Candi Dieng dan Candi Gedong Songo di Ungaran, Jawa Tengah.

Sanjaya digantikan oleh putranya yang bernama Rakai Panangkaran. Selanjutnya Rakai Panangkaran digantikan oleh Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung sebagai Raja Mataram. Namun, hanya ada sedikit data tentang masa pemerintahan mereka. Ada dugaan bahwa mereka merupakan penguasa lemah sehingga supremasi kekuasaan di Jawa Tengah pindah ke tangan Dinasti Syailendra.

Bukti sejarah dari Kerajaan Mataram kuno ini dapat diketahui dari sebuah prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta di desa Canggal di Gunung Wukir sebelah barat daya kota Magelang. Prasasti ini berangka tahun 732 M. Dalam prasasti dijelaskan bahwa telah didirikan sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di desa Kunyarakunya oleh raja Sanjaya. Dijelaskan pula keadaan tanah Jawa yang kaya dengan emas dan padi-padian diperintah oleh raja Sanna dengan bijaksana. Setelah Sanna wafat kemudian digantikan oleh Sanjaya, anak saudara perempuan Sanna yang bernama Sannaha.

Selain prasasti di Gunung Wukir, ditemukan juga sisa-sisa bangunan candi yang terdiri dari satu candi induk dan tiga candi pendamping. Pada candi induk ditemukan sebuah yoni (landasan dari lingga) yang lingganya sudah hilang.

Nama Sanjaya juga ditemukan dalam prasasti Mantyasih atau prasasti Kedu yang dibuat oleh Watukara Dyah Balitung. Dalam prasasti itu dijelaskan bahwa Sanjaya adalah pendiri dari silsilah Balitung. Ia bergelar Rake Mataram. Dari prasasti Mantyasih juga diketahui bahwa Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran. Mengenai wafatnya Sanjaya tidak diketahui dengan jelas kapan dan di mana dikuburkan.

Nama Sanjaya juga terdapat dalam cerita Parahiangan, sebuah kitab yang menguraikan sejarah Sunda. Dalam kitab itu diceritakan bahwa Sanna dikalahkan oleh raja Purbosora dari Galuh, kemudian Sanna menyingkir ke kaki lereng gunung Merapi. Tetapi kemudian Sanjaya berhasil menaklukan daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Melayu, dan Keling. Walaupun pada garis besarnya cerita Parahiangan ini sesuai dengan prasasti Canggal, tetapi sebagai sebuah cerita perlu diteliti lebih lanjut.

Pengganti Sanjaya ialah Rakai Panangkaran dari dinasti Syailendra. Tetapi tidak ada keterangan yang pasti kapan Rakai Panangkaran mulai mengganti Sanjaya dan tidak dijelaskan bagaimana keadaan kerajaan yang diperintah oleh Panangkaran dan berapa lama ia memerintah. Dari prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 M dinyatakan bahwa Panangkaran telah membangun sebuah candi sebagai persembahan untuk Dewi Tara, dan membangun sebuah biara untuk para pendeta. Dalam prasasti itu juga dijelaskan bahwa Panangkaran berasal dari keluarga Syailendra. 

Silsilah Raja Kerajaan Mataram Kuno

Silsilah raja yang memerintah pada kerajaan Mataram kuno dapat kita ketahui dari daftar silsilah yang dibuat oleh Balitung dalam prasasti Mantyasih dengan urutan sebagai berikut:

  • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
  • Sri Maharaja Rakai Panangkaran
  • Sri Maharaja Rakai Panunggalan
  • Sri Maharaja Rakai Warak
  • Sri Maharaja Rakai Garung
  • Sri Maharaja Rakai Pikatan
  • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
  • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
  • Sri Maharaja Rakai Watukara Dyah Balitung

Empat orang pengganti raja Sanjaya dari Rakai Panangkaran sampai Rakai Gerung merupakan raja-raja dari dinasti lain yang berasal dari Sriwijaya, yaitu dinasti Syailendra. Dinasti Syailendra di Jawa Tengah berkuasa kuranglebih 1 abad (750-850), kemudian pemerintahan diambil alih oleh keluarga Sanjaya.

Dinasti Syailendra

Selain daftar silsilah di atas, ternyata di kerajaan Mataram juga diperintah oleh raja bernama Indra. Hal ini dapat kita ketahui dari prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam huruf prenagari berbahasa Sanskerta.

Raja Indra berasal dari dinasti Syailendra. Indra bergelar Sri Sanggramadananjaya. Ia membangun sebuah bangunan suci yang tidak dijelaskan bentuk bangunannya dan sebuah area Manjusri. Dinasti Syailendra merupakan keluarga bangsawan yang muncul di Jawa Tengah pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Tidak diketahui apakah mereka adalah penguasa kerajaan tetangga atau kerajaan bawahan Mataram Kuno. Perkembangan kekuasaan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha di bagian selatan Jawa Tengah akhirnya menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu hingga ke bagian tengah Jawa Tengah.

Pengganti raja Indra ialah Samarottungga. Nama ini juga tidak ada dalam daftar silsilah prasasti Balitung. Samarotungga mendirikan bangunan suci Wenuwana tahun 842 M dan membebaskan bangunan dan tanah sekitarnya dari pajak.

gambar-candi-borobudur

Samarotungga mempunyai dua putra yang bernama Balaputra dan Pramodhawardani. Pada masa pemerintahan Samarotungga inilah didirikan candi Borobudur, Mendut, dan Pawon. Pada masa Syailendra ini pula didirikan candi Kalasan, Sari, dan candi Sewu. Setelah Samarotungga wafat, kemudian diganti oleh anaknya yang bernama Pramodhawardani yang kemudian menikah dengan Rakai Pikatan, yang beragama Hindu. Agaknya pada masa ini telah terjadi percampuran keagamaan, karena Pramodhawardani sebagai istri Pikatan beragama Budha.

Perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramodhawardani merupakan akhir kekuasaan dinasti Syailendra di Pulau Jawa, dan terjadilah penggabungan antara dinasti Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah. Penggabungan ini tidak disetujui oleh Balaputra, saudara Pramodhawardani. Balaputra kemudian berusaha merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan, tetapi tidak berhasil. Kemudian ia melarikan diri ke Swamadwipa dan menjadi raja Sriwijaya. Berakhirlah kekuasaan Syailendra di Pulau Jawa.

Selama seratus tahun memerintah, dinasti Syailendra banyak mendirikan berbagai bangunan suci yang megah dan mewah untuk kebesaran para raja. Hal ini mengakibatkan kehidupan rakyat merosot, karena waktu mereka tersita untuk membangun bangunan suci tersebut. Lahan pertanian mereka menjadi terlantar, perekonomian rakyat memburuk. Keadaan seperti inilah yang kemudian harus diatasi oleh Rakai Kayuwangi yang menggantikan Rakai Pikatan pada tahun 886 M.

Rakai Kayuwangi yang menggantikan Rakai Pikatan dinobatkan menjadi raja pada tahun 856 Masehi. Masa pemerintahan Rakai Kayuwangi tidak banyak diketahui. Rakai Kayuwangi kemudian digantikan oleh Rakai Watuhumalang. Nama Watuhumalang dapat kita ketahui dari prasasti Panunggalan tahun 896 Masehi.

Masa Kejayaan Kerajan Mataram Kuno

Puncak kejayaan dinasti Sanjaya terjadi pada waktu Balitung menjadi raja pada tahun 899 Masehi sampai 913 Masehi. Balitung bergelar Sri Maharaja Rake Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu. Kerajaan Mataram meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu peninggalan Balitung yang sangat megah adalah candi Prambanan di Jawa Tengah.

Pengganti Balitung ialah Sri Maharaja Sri Daksotama Babubajra Pratipaksaksaya. Sebelum menjadi raja, Daksa pernah memegang jabatan Rakryan Mahamantri I Hino (kedudukan tertinggi sesudah raja) dalam zaman pemerintahan Balitung. Ia memerintah dari tahun 914 M-919 M. Raja Daksa kemudian digantikan oleh Tulodong, yang bergelar Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmaturaga Tunggadewa. Ia naik tahta pada tahun 919 M, namun pemerintahannya tidak lama. Pada tahun 924 M tiba-tiba muncul Raja Wawa sebagai penguasa Jawa. Ia bergelar Sri Maharaja Rake Pangkaja Dyah Wawa Sri Wajayalokanamotungga.

Mengenai masa pemerintahannya, seperti halnya masa-masa pemerintahan Daksa dan Tulodong tidak banyak yang kita ketahui. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh Empu Sindok yang berkedudukan sebagai mahamantri i hino. Tampaknya pemerintahan Raja Wawa berakhir tiba-tiba, mungkin oleh suatu bencana alam. Bencana tersebut, menurut para ahli yaitu meletusnya gunung berapi yang hebat sehingga memporak porandakan Jawa Tengah. Itulah sebabnya pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Pengganti Wawa, yaitu Empu Sindok dan mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan Medang Kamulan.

Dinasti Isyana

Empu Sindok naik tahta kerajaan pada tahun 929 M. Sebelum menjadi raja, Sindok pernah menduduki jabatan sebagai maha manteri i halu dan maha menteri i hino pada masa pemerintahan raja Tulodong dan masa pemerintahan Raja Wawa. Sindok memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur setelah terjadi bencana yang disebabkan oleh Gunung Merapi. Ia mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isana. Dalam menjalankan pemerintahan, Empu Sindok dibantu oleh isterinya Dyah Kebi putri Wawa. 

Dari masa pemerintahan Sindok ditemukan 20 prasasti. Prasasti-prasasti yang ditemukan menjelaskan bahwa Empu Sindok banyak melakukan usaha-usaha untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat, antara lain dengan memberikan hadiah tanah kepada mereka yang memelihara bangunan suci. 

Setelah Empu Sindok wafat, kemudian digantikan oleh anak perempuannya yang bernama Sri Isanatunggawijaya yang kemudian menikah dengan Lokapala. Dari perkawinan Sri Isanatunggawijaya dengan Lokapala lahirlah Makutawangsawardhana, yang kemudian mengantikan ibunya sebagai raja Medang. Pemerintahan Makutawangsawardhana tidak banyak diketahui, yang pasti Makutawangsawardhana mempunyai seorang putra yang bernama Darmawangsa dan seorang putri bernama Mahendradatta. Mahendradatta menikah dengan raja Udayana dari Bali dan menurunkan anak laki-laki yang bernama Airlangga. 

Darmawangsa naik tahta mengantikan ayahandanya. Ketika ia memerintah bergelar Darmawangsa Teguh Anantawikramattunggadewa. Pada masa pemerintahannya, ia memerintahkan untuk menyadur kitab Wirataparwa, salah satu bagian dari kitab Baratayudha ke dalam bahasa Jawa kuno. Ia juga berusaha untuk meluaskan kekuasaannya dengan melakukan penyerbuan ke kerajaan Sriwijaya pada tahun 990 Masehi. 

Pada tahun 1016, ketika ia sedang mengadakan perayaan pernikahan putrinya dengan Airlangga kemenakannya, salah seorang bawahannya bernama Wurawari mengadakan pemberontakan dan berhasil menewaskan Darmawangsa beserta pembesar istana yang lain. Airlangga berhasil melarikan diri keluar kerajaan didampingi oleh Norattama, abdinya. Peristiwa ini dikenal dengan Pralaya.

Setelah berhasil menyelamatkan diri keluar istana, Airlangga dan Norottama melarikan diri ke hutan-hutan, kemudian hidup bersama para pendeta. Tiga tahun kemudian ia dinobatkan menjadi raja oleh para pendeta Budha. Airlangga bergelar Rakai Halu SriLokaswara Darmawangsa Airlangga Anantawikramo tunggadewa.

Setelah merasa cukup kuat menyusun kekuatan, mulailah Airlangga berusaha merebut kembali daerah-daerah yang dulu dikuasai oleh ayah mertuanya. Secara berturut-turut ia menaklukkan Raja Bhimasprabawa, tahun 1030 berhasil menaklukkan raja Wengker, raja Adamapanuda dan seorang raja perempuan pada tahun 1032. Selama tujuh tahun ia berusaha menyatukan kembali semua daerah yang pernah melepaskan diri dari kekuasaan ayah mertuanya. Ia juga berusaha untuk memakmurkan rakyatnya, antara lain dengan memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh di sungai Brantas. Untuk mengatasi banjir yang setiap tahun melanda daerah Tuban, ia menbuat tanggul di daerah Wringinpitu.

Sebagai raja, Airlangga juga mempunyai perhatian besar kepada dunia sastra. Salah satu peninggalan karya sastra pada masa Airlangga ialah kitab Arjunawinaha yang dikarang oleh Empu Kanwa pada tahun 1035. Kitab Aijunawiwaha sebenarnya menceritakan kisah kehidupan Airlangga sendiri. Dari kitab itu dapat kita ketahui bahwa pada masa itu sudah dikenal seni wayang dan sering dipertunjukkan. Airlangga beragama Hindu beraliran Wisnu, tapi ia juga memperhatikan aliran-aliran lain seperti Budha, Hindu Syiwa, Hindu Waisnana.

Menjelang ia turun tahta, ia membagi dua kerajaan dengan tujuan agar tidak terjadi perebutan kekuasan antar putranya. Kerajaan yang dengan susah payah dibangunnya terpaksa dipecah lagi. Ia meminta Empu Bharada untuk melakukan pembagian kerajaan menjadi dua, yaitu Janggala (Singasari) dengan ibu kota Kahuripan, dan Panjalu (Kediri) dengan ibu kota Daha. Setelah mengundurkan diri, Airlangga menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu, sampai wafatnya pada tahun 1049 yang dimakamkan di kaki gunung Penangungan, terkenal dengan nama candi Belahan. Ia diwujudkan dalam arca sebagai dewa Wisnu sedang menungang garuda. Arca itu disimpan di museum Mojokerto. 

Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Mataram Kuno

Penduduk Mataram Kuno terutama hidup dari pertanian. Kegiatan perdagangan di dalam dan luar negeri juga berlangsung ramai. Banyak pedagang asing bermukim di kerajaan ini. Mereka memiliki status yang berbeda dengan penduduk pribumi dan harus membayar pajak yang berbeda pula.

Kerajaan Mataram Kuno terkenal akan keunggulannya dalam pembangunan candi, baik candi Budha maupun candi Hindu. Satu candi agama Budha yang paling terkenal adalah Candi Borobudur. Candi ini dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Di antara candi-candi Hindu yang dibangun oleh Mataram Kuno terdapat Candi Rara Jonggrang di Prambanan yang dibangun oleh Raja Pikatan. Sayangnya, pembangunan candi-candi ini menjadi salah satu faktor kemunduran Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan dan pemeliharaan bangunan candi menyedot dana dan tenaga kerja yang sangat banyak. Artikel Terkait:

  • Keadaan politik Kerajaan Mataram Kuno,
  • Perkembangan Ekonomi Kerajaan Mataram Kuno, dan
  • Peninggalan budaya Kerajaan Mataram Kuno, silahkan klik Sejarah Kerajaan Mataram Kuno