berkasilmu.com – Setelah Indonesia tampil sebagai daerah jalur lalu lintas perdagangan dunia, maka unsur-unsur kebudayaan asing mempengaruhi kehidupan masyarakatnya.
Pelabuhan-pelabuhan yang berada di pesisir pantai sebagai tempat persinggahan para pedagang dan sekaligus sebagai tempat jual-beli barang dagang dibanjiri para pendatang dan masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar pelabuhan dagang tersebut, mulai dipengaruhi oleh pedagang asing yang datang dari India, Cina, dan Arab.
Sejak abad ke VIII jalur perdagangan dunia mulai dikuasai oleh pedagang-pedagang yang beragama Islam, maka bandar-bandar perdagangan yang ada di Indonesia pada waktu itu juga mulai didatangi oleh para pedagang tersebut.
Para pedagang Islam (muslim) di samping mengadakan jual beli di pelabuhan dagang di Indonesia juga melakukan kegiatan menyebarkan agama Islam.
Dengan cara yang damai, masyarakat Indonesia menerima agama Islam yang disebarkan oleh para pedagang. Pedagang yang membawa Islam ke Indonesia ini ada yang berasal dari Arab langsung dan ada yang berasal dari Gujarat, daerah pantai barat India.
Pada awalnya, agama Islam hanya diterima masyarakat Indonesia yang berada di pesisir pantai saja, seperti di Samudera Pasai (Aceh timur laut) yang masuk lewat Malaka.
Setelah itu, Pasai menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang-pedagang, baik dari negara asing maupun pedagang dari dalam negeri, seperti dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Para pedagang ini juga mempelajari agama Islam yang kemudian dibawa ke daerah mereka masing-masing. Oleh sebab itu, agama Islam yang masuk ke Indonesia tidak bersamaan.
Di Indonesia sekitar abad VIII sampai abad XI telah berdiri kerajaan-kerajaan yang lebih dahulu menganut agama Hindu-Budha, seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatera, Singasari di Jawa, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Keadaan kerajaan-kerajaan di Indonesia pada waktu itu saling bertentangan dan berebut pengaruh atau kekuasaan sehingga terjadi peperangan, seperti ekspedisi Pamalayu (1275) oleh Kertanegara dari Singhasari ke kerajaan Melayu di Sumatera.
Demikian pula terjadi usaha-usaha dari kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Jawa mengadakan pemberontakan-pemberontakan untuk melepaskan diri. Pemberontakan-pemberontakan ini melemahkan kedudukan kerajaan besar.
Dalam keadaan kacau inilah, agama Islam yang dibawa oleh pedagang Islam yang mengajarkan persaudaraan dan perdamaian dapat diterima masyarakat dan berkembang dengan cepat. Daerah-daerah pesisir yang penduduknya sudah menganut Islam ini kemudian memanfaatkan kelemahan kerajaan yang besar seperti Majapahit dan mendirikan suatu kerajaan bercorak Islam dan lepas dari Majapahit.
Agama dan kebudayaan Islam berpengaruh besar terhadap cara hidup, alam pikiran, dan kebudayaan bangsa Indonesia. Karena pengaruh agama Islam itu, maka kota-kota pantai tumbuh menjadi kerajaan-kerajaan Islam. Dengan demikian, berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Daftar isi artikel
Susunan Pemerintahan di Kerajaan-kerajaan Islam
Susunan pemerintahan di kerajaan-kerajaan Islam tidak jauh berbeda dengan susunan pemerintahan kerajaan-kerajaan sebelumnya Pemerintahan dipegang oleh raja dan kaum bangsawan. Sejak zaman sebelum Islam masuk ke Indonesia, rakyat percaya bahwa raja mendapat wahyu dari Tuhan untuk memimpin pemerintahan.
Setelah agama Islam masuk ke Indonesia, kepercayaan semacam itu tidak berubah. Raja tetap dianggap sebagai ”amirul mukminin”. Artinya, yang dipertuan dan bertugas mengatur negara serta pemerintahan. Namun, bila raja kurang adil, kejam, atau tidak bijaksana, kurang mendapat kepercayaan rakyat.
Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh mangkubumi atau wazir. Mangkubumi disebut juga patih atau perdana menteri. Mangkubumi membawahi pejabat-pejabat pusat yaitu para menteri, kadi, senopati, laksamana, dan syahbandar. Pemerintahan daerah diserahkan kepada para adipati atau bupati.
Para bupati membawahi pejabat-pejabat daerah yang lebih kecil, sampai penguasa desa yang disebut lurah atau pesirah. Raja dan para pejabat pusat sering mengadakan pertemuan, bertempat di paseban (pendapa keraton).
Pertemuan semacam itu dihadiri Juga oleh para bupati. Kehadiran para bupati itu sambil mempersembahkan upeti kepada raja. Bupati yang tidak hadir, dianggap tidak setia kepada raja.
Pelajari juga: 2 Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia Paling Populer yang Menjadi Awal Peradaban Nusantara
Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam di Indonesia banyak tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Kerajaan-kerajaan islam yang terdapat di Indonesia dapat dikelompokkan sesuai wilayah keberadaannya.
Seperti di wilayah pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kerajaan-kerajaan Islam baik kerajaan besar maupun kerajaan kecil tersebut seluruhnya diperkirakan terdapat 61 kerajaan yang bercorak Islam. Nama kerajaan Islam tersebut diantaranya adalah sebagai berikut;
1. Kerajaan Islam di Sumatera
a. Kerajaan Perlak
Kerajaan Perlak merupakan salah satu kerajaan Islam di Indonesia yang berada di wilayah Aceh bagian timur. Kerajaan ini berdiri pada tahun 840 M dengan raja pertamanya bernama Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah.
Kerajaan Perlak merupakan negeri penghasil kayu perlak, yaitu kayu yang terkenal memiliki kualitas bagus sebagai bahan untuk membuat kapal. Oleh karena itu banyak pedagang dari Gujarat, Arab, serta India yang tertarik datang ke Perlak.
Kerajaan Perlak pada awal abad ke-8 semakin berkembang menjadi bandar niaga yang amat maju. Hal ini membuat maraknya perkawinan campur antara para saudagar Islam dengan penduduk setempat. Semakin lama perkembangan agama Islam semakin pesat, pada akhirnya lahirlah kerajaan Islam pertama di wilayah Nusantara yang bernama Kerajaan Perlak.
b. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai adalah kerajaan Islam di Indonesia yang terletak di wilayah Aceh Utara. Sekarang termasuk wilayah Kabupaten Lhokseumawe. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13. Raja pertamanya Sultan Malik al Saleh.
Hal ini dapat diketahui dari batu nisan pada makam Sultan Malik al Saleh di Aceh. Makam tersebut bertahun 635 Hijriah atau 1297 Masehi. Sultan Malik al Saleh wafat pada tahun 1297, kemudian digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad.
Ia lebih terkenal dengan gelarnya Sultan Malik al Tahir. Raja-raja Samudra Pasai berikutnya juga banyak yang memakai gelar Malik al Tahir.
Makin lama Samudra Pasai makin berkembang. Terutama dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Hubungan pelayaran dan perdagangan dengan Malaka sangat ramai. Masa kejayaan Samudra Pasai berlangsung sampai abad ke 16. Selengkapnya silahkan klik Kerajaan Samudra Pasai : Sejarah Berdirinya dan Raja Yang Pernah Memerintah
c. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim. Ia juga disebut Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan ini berkembang pesat setelah Malaka dikuasai oleh Portugis. Sebab para pendatang Islam tidak sudi lagi berlabuh ke Malaka. Sebagai gantinya, mereka berlabuh di bandar Kotaraja (Banda Aceh).
Karena perdagangannya maju, maka Aceh menjadi makmur. Sultan Ibrahim meluaskan wilayah Aceh dengan menaklukkan Pedir. Pedir kaya akan lada putih yang sangat mahal harganya. Oleh karena itu, Aceh bertambah kaya.
Dengan kekayaannya yang melimpah, Aceh mampu membangun angkatan bersenjata yang kuat. Prajurit-prajurit Aceh tidak hanya terdiri dari putra-putra Aceh, melainkan ada yang berasal dari Turki, Arab, dan Abesinia.
Setelah menguasai Pedir, Aceh berusaha menguasai pantai barat Sumatera yang kaya akan lada dan emas. Usaha itu dilaksanakan pada jaman pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah. Aceh lebih berkembang lagi.
Wilayah kekuasaannya membentang dari Barus di sebelah utara, hingga Indrapura di sebelah selatan. Penaklukan Aceh ke daerah-daerah lain itu dapat memperluas wilayah Aceh, dan dapat mengembangkan agama Islam. Di samping itu juga mempunyai tujuan ekonomi, ialah untuk menguasai perdagangan lada.
Dengan demikian, Aceh menjadi pusat penyebaran agama Islam dan pusat perdagangan. Selengkapnya silahkan klik Kerajaan Aceh : Masa Kejayaan dan Sejarah Raja Yang Pernah Memerintah
Selain Ke-3 Kerajaan tersebut di wilayah Sumatera masih terdapat beberapa kerajaan kecil lainnya yang tercatat dalam sejarah. Beberapa kerajaan kecil tersebut pada saat itu pernah dikuasai, atau menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan besar seperti kerajaan Aceh Darussalam.
Beberapa kerajaan Islam di Sumatera tersebut yaitu:
- Kesultanan Lamuri (Aceh Besar)
- Kesultanan Deli (Sumatera Utara)
- Kesultanan Serdang (Sumatera Utara)
- Kesultanan Asahan (Sumatera Utara)
- Kerajaan Minangkabau/ Pagaruyung (Sumatera Barat)
- Kesultanan Indrapura (Sumatera Barat)
- Kesultanan Siguntur (Sumatera Barat)
- Kerajaan Bungo Setangkai (Sumatera Barat)
- Kerajaan Siak Sri Indrapura (Riau)
- Kerajaan Indragiri (Riau)
- Kesultanan Jambi
- Kesultanan Palembang Darussalam
2. Kerajaan Islam di Jawa
a. Kerajaan Demak (1475 – 1554)
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berada di pesisir utara Jawa. Demak semula hanya merupakan salah satu bandar di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur di bawah kekuasaan Majapahit.
Ketika di Sumatera lahir kerajaan Islam Samudra Pasai pada abad ke XIII, maka Islam pun mulai berpengaruh ke Pulau Jawa. Pengaruh Islam di pesisir utara Jawa semakin kuat setelah bandar-bandar di Jawa itu menjalin hubungan dagang dengan Malaka.
Bupati-bupati, para penguasa, di pesisir utara Pulau Jawa akhirnya banyak yang masuk Islam. Salah satu bupati yang masuk Islam adalah Bupati Demak bernama Raden Saleh.
Pada awal abad ke XVI Demak memproklamirkan diri sebagai kerajaan pertama di Jawa yang bercorak Islam, dengan raja pertamanya Raden Patah. Dalam waktu singkat, lebih-lebih setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Demak menjadi besar.
Daerah-daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur mengakui kedaulatannya dan berada di bawah pengaruh Demak. Kota-kota pelabuhan penting yang berada di bawah pengaruh Demak adalah Tuban, Jepara, Sedayu dan Kota Kembar, Jaratan, dan Gresik.
Putra Raden Patah, yaitu Pati Unus, turut membantu usaha ayahnya memperluas dan memperkuat kedudukan kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam. Setelah Raden Patah wafat, maka Pati Unus menggantikannya dan memerintah dari tahun 1518 sampai tahun 1521.
Pati Unus juga dikenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor. Sekar Seda Lepen, adik Pati Unus yang tertua wafat dibunuh oleh Sunan Prawoto. Pangeran Trenggono naik tahta. Di bawah pemerintahan Sultan Trenggono, kekuasaan Demak mencapai puncaknya.
Pada pertengahan abad ke XVI seluruh Pulau Jawa telah di-Islamkan dan berada di bawah pengaruh kerajaan Islam Demak, kecuali Pasuruan, Panarukan, Blambangan, dan sebagian daerah Pajajaran. Pada tahun 1546, Pangeran Trenggono gugur dalam usaha menaklukkan Pasuruan yang masih beragama Hindu dan menjadi saingan perniagaan bandar-bandar yang mengakui kekuasaan Demak.
Setelah Pangeran Trenggono wafat, di Demak terjadi perselisihan keluarga perihal penggantian tahta. Perselisihan dan perang terjadi antara keluarga Pangeran Sekar Seda Lepen dengan keluarga Pangeran Trenggono.
Di tengah-tengah perselisihan keluarga yang memperebutkan tahta Demak, tampillah Adiwijaya, yang dengan bantuan Kiai Gede Pamanahan keluar sebagai pemenang. Dialah yang kemudian menduduki kerajaan Demak. Adiwijaya yang terkenal dengan nama Jaka Tingkir adalah menantu Trenggono yang semula adalah bupati Pajang.
Adiwijaya memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang, daerah dipedalaman. Setelah itu, ia mengangkat Aria Panggiri, putra Sunan Prawoto (cucu Trenggono) menjadi bupati di Demak. Selengkapnya silahkan klik Kerajaan Demak : Sejarah Raja yang Memerintah dan Keruntuhan Demak
b. Kerajaan Banten (1524 – 1813)
Setelah direbut oleh Faletehan, Banten, Sundakelapa, dan Cirebon menjadi daerah kekuasaan Demak. Ketika Demak dalam keadaan kacau karena adanya perebutan kekuasaan, Banten melepaskan diri dari kekuasaan Demak.
Sejak itu Banten menjadi kerajaan yang berdiri sendiri. Pemerintahan dipegang oleh Faletehan. Selanjutnya, ia menyerahkan kekuasaan kepada putranya Hasanuddin.
Dengan dikuasainya Malaka oleh orang-orang Portugis, maka Banten berkembang pesat. Kapal-kapal dagang milik para pedagang Islam berlabuh di Banten. Karena kemajuannya itu, maka Banten mampu memperluas wilayahnya ke Lampung dan Silebar (Bengkulu). Kedua daerah itu merupakan daerah perkebuhan lada.
Hasilnya diangkut ke Banten, sehingga Banten menjadi kota pusat perdagangan lada. Sultan Hasanuddin wafat pada tahun 1570, dan digantikan oleh Pangeran Maulana Yusuf. Selengkapnya silahkan klik Kerajaan Banten : Sejarah Berdirinya, Raja yang Memerintah dan Kehidupan Masyarakatnya
c. Kerajaan Cirebon (1430 – 1666)
Pada abad ke XVI, Cirebon masih merupakan suatu daerah kecil di bawah kekuasaan kerajaan Pakuan Pajajaran. Oleh raja Pajajaran, di Cirebon ditempatkan seorang bupati dari Galuh yang bertindak sebagai juru labuhan.
Seorang tokoh yang masih mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran, yaitu Cakrabuana, berhasil memajukan Cirebon. Usaha Cakrabuana untuk memajukan agama Islam dan meningkatkan status sosial pejabat-pejabat Cirebon mendapat dukungan dari kerajaan Islam Demak.
Untuk itu, maka dikirimkanlah ke Cirebon seorang adipati dari Demak yang juga seorang tokoh alim ulama bernama Syarif Hidayatullah atau disebut juga Syekh Nurullah.
Cirebon berhasil di-Islamkan. Kemudian ia mendirikan kerajaan Islam Cirebon dan ia sebagai raja pertama. Syarif Hidayatullah kemudian bergelar Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Songo.
Sunan Gunung Jati tidak hanya sebagai pelopor dan penyebar Islam, tetapi juga menjadi raja pertama dari kerajaan Islam Cirebon dan mendapat julukan Pandita Ratu.
Pada tahun 1570, Sunan Gunung Jati diganti oleh Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu inilah, antara Cirebon dengan Mataram disetujui perjanjian persahabatan pada tahun 1590.
Perjanjian ini oleh Mataram dipakai sebagai kedok untuk menguasai Cirebon sedikit demi sedikit. Hal ini terbukti ketika masa pemerintahan Panembahan Girilaya (1650), kekuasaan Mataram telah tertanam di Cirebon.
Pangeran Girilaya sebagai pemegang tampuk pemerintahan kerajaan Cirebon, kemudian atas perintah Amangkurat I harus pindah ke Mataram. Demikianlah akhirnya Pangeran Girilaya beserta keluarga pindah dan berkedudukan di Mataram.
Pangeran Girilaya memiliki tiga orang putra, yang pertama bernama Merta Wijaya bergelar Panembahan Sepuh, yang kedua bernama Karta Wijaya bergelar Panembahan Anom, dan yang ketiga atau bungsu bernama Wangsa Karta. Dua belas tahun kemudian, Pangeran Girilaya wafat. Ia digantikan oleh putra-putranya.
Tatkala pasukan Trunojoyo pada tahun 1677 berhasil merebut keraton Mataram, maka ditawanlah ketiga pangeran itu dan dibawa ke Kediri. Ketiga pangeran itu berhasil melarikan diri saat terjadi kekacauan antara Trunojoyo dengan sekutunya, orang Makasar. Ketiga pangeran itu melarikan diri ke Banten dengan kapal Baten.
Ketiga pangeran itu kemudian dikembalikan ke Cirebon. Setelah Trunojoyo jatuh, kompeni memaksa Cirebon mengadakan perjanjian dengannya pada tanggal 4 Januari 1681. Sejak saat itu, kompenilah yang menjadi tuan di Cirebon.
Pada tahun 1688, Panembahan Sepuh wafat. Atas persetujuan kompeni, Pangeran Karta Wijaya menjadi Panembahan Sepuh dan Pangeran Wangsa Karta menjadi Panembahan Anom. Dalam perkembangan selanjutnya, sejak tahun 1773 di Cirebon terdapat dua sultan, yaitu Sultan Sepuh dan Sultan Anom.
d. Kesultanan Pajang (1568 – 1618)
Kesultanan Pajang adalah kelanjutan dari Kesultanan Demak. Meski tidak berumur panjang, Kesultanan Pajang membuka jalan bagi terbentuknya Kerajaan Mataram.
Ketika Sultan Trenggono terbunuh, terjadi perebutan kekuasaan di antara keluarga istana Demak. Saat Arya Panangsang, keponakan yang kejam, tampaknya akan menduduki takhta Demak, banyak adipati yang menentang.
Salah satunya adalah adipati Pajang (daerah Boyolali), bernama Joko Tingkir. Beberapa sumber menyatakan, ia adalah anak seorang pejabat Demak bernama Ki Ageng Pengging yang dihukum mati karena dianggap menganut ajaran yang menyimpang dari agama Islam. Sumber lain mengatakan Joko Tingkir masih keturunan Sunan Kalijaga.
Ia mengambil alih takhta Demak dan memindahkan keraton ke Pajang pada tahun 1568. Di Pajang, ia mendirikan kerajaan baru, dikenal sebagai Kesultanan Pajang. Joko Tingkir menjadi penguasa Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Kedudukan ini disahkan oleh Sunan Giri, salah seorang anggota Wali Sanga yang dihormati. Keputusan Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat kesultanan dari daerah pesisir ke pedalaman berpengaruh besar dalam perkembangan sejarah Pulau Jawa. Sejak saat itu, kekuasaan dan sistem politik di Jawa menggunakan dasar agraris.
Di antara para pengikut Sultan Hadiwijaya, yang paling berjasa dalam pendirian Kesultanan Pajang adalah Ki Ageng Pamanahan. Atas jasanya itu, Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah Mataram.
Oleh karena itu, Ki Ageng Pamanahan juga dikenal dengan sebutan Ki Gede Mataram. Dalam waktu singkat, Mataram menjadi daerah Pajang dengan pertumbuhan terpesat, berkat upaya giat putra Ki Ageng Pamanahan, bernama Sutawijaya.
Sebagai tokoh gagah berani dan ahli perang, Sutawijaya pun dikenal dengan sebutan Senapati ing Alaga atau panglima perang.
e. Kerajaan Mataram Islam (1586 – 1755)
Kerajaan Pajang tidak berumur panjang. Sultan Adiwijaya wafat, dan digantikan oleh Sutawijaya. Putra Sultan Adiwijaya yang bernama Pangeran Benawa tidak sanggup memegang tampuk pemerintahan. Siapakah Sutawijaya itu ? Sutawijaya ialah putra Kyai Ageng Pemanahan, yang diambil anak angkat oleh Sultan Adiwijaya.
Setelah naik takhta, Sutawijaya bergelar Panembahan Senopati ing Alaga. Kemudian ia memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram. Pada masa pemerintahannya, di Mataram timbul pemberontakan-pemberontakan.
Mula-mula terjadi perselisihan dengan bupati Surabaya. Dengan parantaraan Sunan Giri, peperangan dengan bupati Surabaya dapat dicegah. Kemudian menyusul pemberontakan bupati Madiun dan Ponorogo.
Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Pemberontakan Galuh, Pati, dan Demak juga dapat dipadamkan. Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601. Jenazahnya dimakamkan di Kota Gede, Yogyakarta.
Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613 1645). Ketika itu wilayah Kerajaan Mataram meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Jawa Barat. Ibu kotanya di Kota Gede (Yogyakarta).
Daerah keraton Yogyakarta dinamakan Kutanagara atau Kutagara. Wilayah di sekitar Kutagara disebut Negara Agung, yang terdiri dari daerah Kedu, Bagelen, dan Pajang.
Daerah di luar Negara Agung dinamakan Mancanegara, sedangkan daerah-daerah pantai utara Jawa disebut Pasisiran. Sultan Agung terkenal sebagai seorang raja yang tegas, bijaksana, adil, dan jujur. Kecuali itu, ia pun terkenal sebagai pahlawan yang berusaha keras mengusir imperialisme Belanda (VOC).
f. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1755-sekarang)
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah dua kerajaan Islam yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan Mataram islam terpecah menjadi dua kerajaan akibat campur tangan VOC.
Perpecahan Kerajaan Mataram Islam terjadi di akhir masa pemerintahan Amangkurat I (1645-1677). Perseteruan itu muncul antara Paku Buwono II yang dibantu Kompeni dengan Pangeran Mangkubumi.
Perseteruan dapat diakhiri dengan Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 yang isinya:
Mataram Barat (KesultananYogakarta) diberikan kepada Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.Mataram Timur (Kasunanan Surakarta) diberikan kepada Paku Buwono III.
Setelah Perjanjian Gianti di Kerajaan Mataram Timur (Kasunanan Surakarta) masih terdapat pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Said.
Untuk memadamkan perlawanan Raden Mas Said diadakan Perjanjian Salatiga, tanggal 17 Maret 1757, yang isinya:
Surakarta Utara diberikan kepada Mas Said dengan gelar Mangkunegoro I, kerajaannya dinamakan Mangkunegaran.Surakarta Selatan diberikan kepada Paku Buwono III kerajaannya dinamakan Kasunanan Surakarta.
3. Kerajaan Islam di Kalimantan
a. Kerajaan Banjar (1526-1905)
Banjarmasin semula merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Nagaradaha. Kerajaan Nagaradaha terletak di pedalaman Kalimantan. Ibu kotanya di Muarabahan atau Marabahan. Dengan bantuan Kerajaan Demak, adipati Banjarmasin bernama Raden Samudra dapat menaklukkan Kerajaan Nagaradaha.
Maka berdirilah Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar, dengan rajanya yang pertama Raden Samudra. Setelah masuk Islam, ia bergelar Sultan Suryanullah.
Makin lama Banjarmasin makin maju, karena kapal-kapal dagang besar dapat berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Perdagangan dapat diperluas melalui sungai hingga jauh ke pedalaman. Perekonomian Kerajaan Banjarmasin bergantung kepada perdagangan.
Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh mangkubumi (patih). Di bawah mangkubumi ada mantri, panganan, mantri pangiwa, mantri bumi, dan mantri sikap.
Mantri panganan dan mantri pangiwa bertugas mengurusi bidang kemiliteran. Sedangkan mantri bumi dan mantri sikap bertugas mengurusi bidang keuangan.
Selain Kerajaan Banjar “Kesultanan Banjar”, di wilayah Kalimantan masih terdapat beberapa kerajaan kecil lainnya yang juga tercatat dalam sejarah.
Beberapa kerajaan Islam yang terdapat di Kalimantan yaitu:
- Kesultanan Berau (1400)
- Kesultanan Pasir (1516)
- Kesultanan Sambas (1675)
- Kesultanan Kotawaringin
- Kesultanan Bulungan(1731)
- Kerajaan Pagatan (1750)
- Kesultanan Pontianak (1771)
- Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
- Kesultanan Sambaliung (1810), dan
- Kerajaan Tidung.
4. Kerajaan Islam di Sulawesi
a. Kerajaan Gowa-Tallo (Makasar)
Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan berdiri beberapa kerajaan, antara lain Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan itu kemudian bergabung menjadi satu dengan nama Gowa-Tallo atau Makasar.
Ibu kotanya Sombaopu. Raja Gowa, Daeng Manrabia menjadi raja Gowa-Tallo dengan gelar Sultan Alaudin. Sedangkan raja Tallo, Karaeng Matoaya menjadi mangkubuminya dengan gelar Sultan Abdullah.
Letak Kerajaan Gowa-Tallo strategis, pada jalur pelayaran Malaka ke Maluku. Oleh karena itu, pelabuhan Sombaopu (Makasar) didatangi kapal-kapal dagang. Antara lain para pelaut Jawa dan Melayu.
Sementara itu pelaut-pelaut Bugis membeli rempah-rempah dari Maluku, dan dijual di Sombaopu. Oleh karena itu, pelaut-pelaut dari Jawa dan Melayu yang akan membeli rempah-rempah tidak perlu pergi ke Maluku. Dengan demikian, Sombaopu merupakan pelabuhan transit yang sangat ramai.
Kecuali berlayar ke Maluku, pelaut-pelaut Bugis dan Makasar pun berlayar ke seluruh Kepulauan Indonesia. Bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Philipina. Agama Islam masuk ke Makasar pada tahun 1605 Sultan Alandin dan Sultan Abdullah sangat giat menyebarkan agama Islam. Jadi, Kerajaan Makasar merupakan kerajaan Islam pertama di Sulawesi.
Pada tahun 1611, Gowa-Tallo meluaskan wilayahnya ke Bon dan Solor. Dengan demikian, Kerajaan Gowa-Tallo lebih berkembang lagi. Kerajaan Gowa-Tallo (Makasar) mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Seperti raja-raja sebelumnya, Sultan Hasanuddin juga giat menyebarkan agama Islam, terutama ke daerah-daerah pedalaman.
Selain Kerajaan Gowa-Tallo di wilayah Sulawesi masih terdapat beberapa kerajaan kecil lainnya yang tercatat dalam sejarah. Beberapa kerajaan Islam di Sulawesi tersebut yaitu;
- Kesultanan Buton
- Kesultanan Banggai
- Kerajaan Bone
- Kerajaan Konawe
5. Kerajaan Islam di Maluku
a. Kerajaan Ternate (1257–1950)
Pada abad ke-13 di Maluku Utara berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kotanya Sampalu. Kerajaan ini berkembang pesat, berkat kekayaan rempah-rempahnya, terutama cengkih. Pada abad ke-14 agama Islam mulai disebarkan di Ternate. Sejak itulah Ternate menjadi kerajaan Islam.
Pada abad ke-15 Ternate menjadi kerajaan terpenting di Maluku Perdagangan dan pelayarannya maju. Pedagang-pedagang Cina, Arab, Jawa, dan Melayu datang ke Ternate Mereka membeli rempah-rempah dan menjual pakaian dan beras.
Agama Islam pun makin berkembang di Ternate. Banyak pemuda Ternate belajar agama Islam ke Gresik. Antara lain raja Ternate, Zainal Abidin. Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan.
Ketika itu Ternate memiliki seratus buah perahu kora-kora yang disediakan untuk keperluan perang. Sultan Baabullah meluaskan wilayahnya sampai ke Philipina.
b. Kerajaan Tidore (1081–1950)
Di samping Ternate, di Maluku juga terdapat Kerajaan Tidore. Kerajaan ini pun merupakan kerajaan Islam. Semula kedua kerajaan itu berdampingan dengan-damai.
Setelah Portugis dan Spanyol datang di Maluku, Ternate dan Tidore diadudombakan. Maka terjadilah persaingan antara Ternate dan Tidore. Untunglah kedua kerajaan itu kemudian berbaik kembali Keduanya bersatu untuk mengusir Portugis.
Raja Tidore yang terkenal ialah Sultan Nuku Pada zaman pemerintahannya, wilayah Tidore meliputi Halmahera, Seram, Kai, dan sampai di Papua.
Selain Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore di wilayah Maluku masih terdapat beberapa kerajaan kecil lainnya yang tercatat dalam sejarah.
Beberapa kerajaan Islam di Maluku tersebut yaitu;
- Kesultanan Loloda-Halmahera Utara (1200-1662)
- Kerajaan Waai-Ambon
- Kerajaan Iha-Saparua Maluku (1400-1651)
- Kerajaan Tanah Hitu-Ambon (1470-1682)
- Kesultanan Bacan-Kep. Maluku (1521-1950)
- Kesultanan Jailolo-Halmahera Barat (1600-akhir Abad 17)
8. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara
Di wilayah Nusa Tenggara baik di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara terdapat beberapa Kerajaan kecil yang pernah berdiri dan tercatat dalam sejarah.
Beberapa kerajaan kecil tersebut antara lain, yaitu;
- Kerajaan Selaparang (Lombok)
- Kerajaan Bima-Kesultanan Bima (Sumbawa)
7. Kerajaan Islam di Papua
Sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa Islam telah lama tersebar di wilayah Papua. Berdasarkan bukti sejarah terdapat beberapa kerajaan-kerajaan kecil yang bercorak Islam yang terdapat di beberapa wilayah Papua.
Kerajaan-kerajaan Islam di Papua tersebut yaitu:
- Kerajaan Waìgeo
- Kerajaan Misool/Lilinta (marga Dekamboe)
- Kerajaan Salawati (marga Arfan)
- Kerajaan Sailolof/Waigama (marga Tafalas)
- Kerajaan Fatagar (marga Uswanas)
- Kerajaan Rumbati (marga Bauw)
- Kerajaan Atiati (marga Kerewaindzai)
- Kerajaan Sekar (marga Rumgesan)
- Kerajaan Patipi
- Kerajaan Arguni
- Kerajaan Wertuar (marga Heremba)
- Kerajaan Kowlai
- Kerajaan Namatota
- Kerajaan Aiduma
- Kerajaan Kaimana.
Demikianlah Artikel tentang “61 Kerajaan Islam di Indonesia (di Sumatera, Jawa, hingga Papua)” yang dapat kami sampaikan kepada anda. Baca juga artikel sejarah kerajaan Islam di Indonesia lainnya hanya di situs BerkasIlmu.com.
Baca juga:
- 20 Peninggalan Sejarah Sumatera Barat Secara Lengkap
- Penyebaran Islam di Indonesia Melalui 5 Cara Ini!
- 8 Peninggalan Kerajaan Aceh Lengkap Gambar dan Keterangannya
- 7 Peninggalan Sejarah di Provinsi Sumatera Utara secara Lengkap





