Kerajaan Kediri : Sumber Sejarah, Masa Kejayaan, dan Perkembangan Politik Kerajaan Kediri

Sejarah18 Dilihat

Kerajaan Kediri (Panjalu) merupakan kelanjutan Kerajaan Medang Kamulan (dinasti isyana). Pada akhir masa pemerintahan Airlangga membagi dua wilayah kekuasaannya di Medang Kamulan untuk menghindari terjadinya konflik antara kedua putranya. Maka muncullah Kerajaan Kediri (Panjalu) dan Kerajaan Jenggala. Kedua wilayah kerajaan baru ini dipisahkan oleh Sungai Brantas dan Gunung Kawi. Kerajaan Kediri beribukota di Daha yang diperintah oleh Jayawarsa. Sedangkan Kerajaan Jenggala diperintah oleh Jayenggana dan beribukota di Kahuripan. Dalam perkembangannya membagi Kerajaan Medang Kamulan ternyata tidak menyelesaikan masalah di antam pewaris takhta Airlangga. Janggala dan Panjalu terus bertikai, dan akhirnya Panjalu keluar sebagai pemenang.

Letak Geografis Kerajaan Kediri

Wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri pada awalnya meliputi Kediri, Madiun dan barat Medang Kamulan. Ibukota Kediri ialah Daha yang terletak di tepi sungai Brantas yang merupakan daerah subur. Melalui pelabuhan Canggu, aktifitas perekonomian Kediri berlangsung sangat lancar. Aktifitas perekonomian dan perdagangan itu mendatangkan kemakmuran bagi kehidupan rakyatnya. Wilayah pengaruh Kerajaan Kediri meliputi wilayah Indonesia bagian timur.

prasasti kerajaan kediri

Sumber-Sumber Sejarah Kediri

Sumber sejarah kediri berasal dari prasasti dan berita asing diantaranya adalah.

  • Prasasti Sirah Keting (tahun 1104), yang memuat tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Jayawarsa.
  • Prasasti yang ditemukan di Tulungagung dan Kertosono (tahun 1117-1130). Prasasti tersebut berisi masalah keagamaan, dan diperkirakan berasal dari raja Bameswara.
  • Prasasti Ngantang (tahun 1135), yang menyebutkan raja Jayabaya memberikan hadiah sebidang tanah yang terbebas dari pajak kepada rakyat desa Ngantang.
  • Prasasti Jaring (tahun 1181 M) dari Raja Gandra. Prasasti itu memuat tentang sejumlah nama hewan yang dijadikan pangkat atau gelar pejabat Kerajaan Kediri. Misalnya Kebo Waruga dan Tikus Jinada.
  • Prasasti Kamulan (tahun 1194), yang menyatakan bahwa pemerintahan Kertajaya telah berhasil mengalahkan musuh yang memusuhi istana di Katangkatang.
  • Berita Asing tentang Kediri sebagian besar diperoleh dari berita Cina. Berita itu berasal dari para pedagang cina yang datang ke Kerajaan Kediri. Berita Cina berasal dari kronik Chu Fan Chi yang dikarang oleh Chu Ju Kua (tahun 1220). Buku itu banyak mengambil cerita-cerita dari buku terdahulu. Misalnya Ling Wai tai ta (tahun 1178), karangan Cu Ik Fei. Kedua buku itu menerangkan kerajaan Kediri dari abad ke-12 dan ke-13.

Raja-Raja yang pernah Memerintah Kerajaan Kediri

Masa pemerintahan dan kekuasaan Kediri dapat dikatakan cukup jelas. Hal itu terbukti dari ditemukannya silsilah raja-raja Kediri. Raja-Raja yang pernah memerintah Kediri diantaranya sebagai berikut.

a. Jayawarsa

Raja pertama Kediri adalah Sri Jayawarsa. Ia menyatakan dirinya sebagai titisan Dewa Wisnu. Sri Jayawarsa kemudian digantikan oleh Raja Bameswara. Masa pemerintahan Jayawarsa (tahun 1104), hanya dapat diketahui dari Prasasti Sirah Keting. Pada masa pemerintahannya, Jayawarsa memberikan hadiah berupa tanah kepada rakyat desa sebagai penghargaan karena rakyat desa telah berjasa kepada Kerajaan. Dari prasasti itu diketahui bahwa Jayawarsa sangat besar perhatian kepada rakyatnya dan berupaya meningkatkan kesejahtraan hidup rakyatnya.

b. Bameswara

Seperti pendahulunya, Bameswara menegaskan dirinya sebagai keturunan Airlangga, sekaligus titisan Dewa Wisnu. Lambang kerajaannya adalah tengkorak bertaring di atas bulan sabit yang disebut Candrakapala. Pada masa pemerintahannya (1116-1135), Bameswara banyak meninggalkan prasasti yang berhasil ditemukan di daerah Tulungagung dan Kertosono. Prasasti itu banyak memuat masalah-masalah keagamaan, sehingga sangat sulit diketahui keadaan pemerintahannya.

c. Jayabaya

Jayabaya (tahun 1135-1157) merupakan raja terkemuka dari kerajaan Kediri. Dibawah pemerintahannya, Kediri mencapai masa kejayaannya. Dibawah pemerintahannya pula kediri berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Hal ini dibuktikan dalam prasasti Ngantang yang berisi tulisan Panjalu Jayanti (berarti Kediri Menang). Kemenangan Kediri dalam perluasan wilayahnya mengilhami pujangga Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menulis kitab Bharatayuda. Perang Bharatayuda adalah perang Pandawa dan Kurawa. Namun pada kitab Bharatayuda yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menceritakan peperangan antara Kerajaan Kediri dan Jenggala.

Disamping sebagai seorang raja terkenal Jayabaya juga Terkenal sebagai ahli nujum atau ahli ramal. Ramalan-ramalannya dikumpulkan dalam sebuah kitab yang bernama jangka Jayabaya atau Keropak Jayabaya. Dalam ramalannya, Jayabaya menyebutkan beberapa hal seperti “seorang ratu adil yang akan muncul pada pemerintahan Indonesia”.

d. Sarweswara dan Aryeswara

Masa pemerintahan kedua Raja itu tidak dapat diketahui dengan jelas. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya prasasti yang ditemukan berkaitan dengan masa pemerintahan dari kedua raja tersebut.

e. Gandra

Masa pemerintahan Gandra (tahun 1181), masa peerintahan Gandra berhasil diketahui dari prasasti Juring. Prasasti Juring berisi tentang penggunaan nama-nama hewan dalam kepangkatan seperti pangkat Gajah, Kebo, Tikus, Lembu dan lain-lain. Nama-nama hewan itu menunjukkan tinggi rendahnya pangkat dan kedudukan seseorang dalam istana.

f. Kameswara

Pada masa pemerintahan Kameswara (tahun 1182-1185), seni sastra mengalami perkembangan yang sangat pesat. Diantaranya Mpu Dharmaja mengarang Kitab Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikenal cerita-cerita panji seperti cerita panji semirang.

g. Kertajaya

Kertajaya (tahun 1190-1222), merupakan raja terakhir dari Kediri. Kertajaya juga lebih dikenal dengan sebutan Dandang Gendis. Selama masa pemerintahannya, keadaan Kediri menjadi tidak aman, kestabilan kerajaan menurun. Hal itu terjadi karena Kertajaya bermaksud mengurangi hak-hak kaum brahmana. Kaum Brahmana menentang tindakan yang dilakukan oleh Kertajaya. Akibat penentangan itu kedudukan kaum Brahmana di Kediri menjadi tidak aman lagi. Akhirnya banyak kaum brahmana yang lari dan meminta bantuan kepada akuwu (bupati) Tumapel. Pada masa itu Akuwu Tumapel diperintah oleh Ken Arok.

Raja Kertajaya mengetahui bahwa kaum Brahmana banyak yang lari dan meminta bantuan ke Tumapel. Maka Kertajaya mempersiapkan pasukan Kediri untuk menyerang Tumapel. Sebaliknya, Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana melakukan serangan ke Kediri. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Ganter (tahun 1222). Dalam pertempuran itu pasukan Kediri berhasil dihancurkan. Kertajaya dapat meloloskan diri dengan luka parah (apakah Kertajaya selamat atau tidak, tidak diketahui pasti).

Dengan demikian berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri dan akhirnya Kediri menjadi daerah bawahan Tumapel yang diperintah oleh Ken Arok. Selanjutnya Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari dan ia menjadi Raja Pertama yang memerintah Singasari.

Masa Kejayaan Kerajaan Kediri

Raja terbesar Kediri adalah Jayabaya, yang memerintah antara tahun 1135-1157. Ia memakai lambang garudamukha untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan sah Airlangga. Pada awal pemerintahannya, Jayabaya mengeluarkan Prasasti Hantang. Prasasti ini memuat tulisan berbunyi ”Panggalu jayati”, atau ”Panjalu menang” yang berarti di bawah pemerintahannya, Panjalu (Kediri) berhasil menaklukkan Janggala. Dengan demikian, Kediri berhasil menyatukan kembali wilayah bekas Kerajaan Medang Kamulan yang terpecah.

Sebagai tanda kemenangannya, nama Jayabaya diabadikan dalam kitab Bhamtayuda. Kitab ini adalah sebuah kakawin yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Bharatayuda adalah kisah perebutan takhta Hastinapura antara keluarga Pandawa dan Kurawa. Sejarah pertikaian antara Janggala dan Panjalu mirip dengan kisah dari India itu, sehingga gubahan kitab tersebut tampaknya merupakan usaha Jayabaya memperkuat klaimnya atas seluruh wilayah bekas Kerajaan Medang.

Jayabaya juga dikenal sebagai peramal dan sastrawan aliran kepercayaan Kejawen. Ramalannya yang terkenal adalah jongko jayabaya yang ditulis oleh Ronggowarsito. lsinya adalah ramalan tentang masa depan Pulau Jawa. Perkembangan kesusastraan mencapai puncaknya pada masa Raja

Kameswara (1182-1185). Pada masa pemerintahannya, banyak bermunculan karya sastra, seperti Kitab Smaradahana karya Mpu Darmaya dan cerita-cerita panji. Berbagai berita dari Cina menyebutkan bahwa masyarakat Kediri pada masa itu sudah cukup sejahtera. Rakyat Kediri umumnya memiliki tempat tinggal dan berpakaian baik. Mereka memiliki mata pencaharian di bidang pertanian dan perdagangan. Pertanian menghasilkan banyak beras, dan menjadikannya barang perdagangan utama selain emas, perak, dan kayu cendana. Pemerintahan Kameswara cukup berwibawa karena melaksanakan hukum dengan tegas.

Runtuhnya Kerajaan Kediri

Pengganti Kameswara adalah Raja Kertajaya, yang memerintah antara tahun 1190 hingga 1222. Pada masa pemerintahan raja yang terkenal dengan nama Dandang Gendis ini, Kediri mulai mengalami masalah. Ia membuat kebijakan tidak populer dengan mengurangi hak-hak kaum brahmana. Kondisi ini diperparah oleh tuntutannya agar ia disembah sebagai dewa. Akibatnya, banyak kaum brahmana mengungsi ke

Tumapel yang dikuasai oleh Ken Arok, seorang perampok yang baru saja merebut kekuasaan dari tangan bupati yang sah. Kertajaya kemudian memutuskan untuk menyerang Tumapel guna memerangi kaum brahmana dan Ken Arok. Dalam peperangan di daerah Ganter, Kertajaya mengalami kekalahan. Riwayat Kediri pun berakhir dan kedudukannya digantikan oleh Singasari.

Perkembangan Sosial Masyarakat Kediri

Pada masa kejayaan Kediri, semakin besar perhatian Raja terhadap kehidupan sosial masyarakatnya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kitan karangan yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Kediri. Misalnya Lubdhaka, kitab ini menceritakan tinggi rendahnya martabat seseorang, tidak ditentukan oleh asal maupun kedudukan seseorang , tetapi berdasarkan tingkah lakunya.

Perkembangan Politik Kerajaan Kediri

Secara politis kerajaan Kediri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang Kamulan. Pada akhir pemerintahan Raja airlangga, wilayah kekuasaannya dibagi dua dengan tujuan untuk menghindari perang saudara. Kerajaan Kediri mengalami perkembangan yang sangat pesat, bahkan pengaruh politik kekuasaannya hampir sama dengan pengaruh kekuasaan dari Raja Dharmawangsa. Kerajaan Kediri mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (tahun 1135-1157).

Perkembangan Ekonomi Masyarakat Kediri

Kehidupan Perekonomin masyarakat Kediri merupakan kelanjutan dari perekonomian Medang Kamulan. Kehidupan perekonomian rakyat Kediri bersumber pada hasil bumi terutama padi, emas, perak, gading, kayu cendana dan pinang. Disamping itu letak Kediri sangat strategis, yaitu ditegah-tengah pelayaran perdagangan antara Indonesia timur dengan Indonesia barat.

peninggalan sejarah kediri

Peninggalan Budaya Kerajaan Kediri

Suatu hal yang aneh terjadi di kerajaan Kediri, yaitu kehidupan dalam bidang kebudayaan lain (diluar seni sastra) seperti seni pahat dan seni bangunan sangat jarang ditemukan. Di dekat kota Kediri, yaitu Goa Selamangleng dan di Desa Mamenang (sebelah timur laut kediri), ditemukan beberapa patung atau candi, namun tidak begitu berarti bagi kemegahan suatu kerajaan yang pernah diperintah oleh seorang raja besar, seperti Raja Jayabaya. Bagi kita, abad ke-12 memiliki arti sangat penting bagi kelanjutan pemerintahan pada masa selanjutnya di Indonesia. Kerajaan Kediri banyak meninggalkan pelajaran yang sangat berarti dalam usaha mengembangkan kerajaan, seperti berikut ini.

  • Suatu negara hanya dapat maju jika keadaan ekonominya stabil.
  • Keadaan politik harus tetap stabil agar tidak mengurangi kekuatan bangsa.
  • Kehidupan budaya harus diperluas untuk menambah kejayaan bangsa.

Pada zaman kekuasaan kerajaan Kediri, kebudayaan mengalami perkembangan yang pesat terutama dalam bidang sastra. Hasil-hasil karya sastra pada zaman kerajaan Kediri diantaranya sebagai berikut.

  • Kresnayana, ditulis oleh Empu Triguna pada zaman Raja Jayaswara. Isina mengenai perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini
  • Bharatayuda, dikarang oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada tahun 1157, pada masa pemerintahan raja Jayabaya. Kitab Baratayudha ditulis untuk memberikan gambaran terjadinya perang saudara antara Kerajaan Kediri melawan Janggala. Perang saudara itu digambarkan dengan perang antara Kurawa dengan Pandawa yang masing-masing merupakan keturunan Barata.
  • Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Mpu Kanwa, cerita ini mengisahkan perkawinan antara Raja Airlangga dengan putri Raja dari kerajaan Sriwijaya. Cerita itu dibuat pada masa pemerintahan Raja Jayabaya.
  • Bhokmakarya, pengarangnya tidak jelas.
  • Smaradhana, dikarang oleh Mpu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara. Isina menceritakan tentang sepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dawa Dyiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rail kena kutuk dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan menjelma sebagai Kameswara dan Permaisurinya.
  • Writasancaya dan Lubdhaka, Kitab Lubdhaka ditulis oleh Empu Tanakung pada zaman Raja Kameswara. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdhaka. Ia sudah banyak membunuh. Pada suatu ketika ia mengadakan pemujaan yang istimewa terhadap Syiwa, sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka, menjadi masuk surga.

Baca juga :Kerajaan Mataram Kuno: Sejarah Berdirinya, Silsilah Raja, dan Masa Kejayaan Mataram KunoKerajaan Hindu-Budha di Indonesia Secara LengkapKerajaan Kalingga: Letak Geografis, Sumber Sejarah, dan Raja-raja yang pernah Memerintah