Kerajaan Samudra Pasai : Sejarah Berdirinya dan Raja Yang Pernah Memerintah

Sejarah21 Dilihat

Sebelum agama Islam masuk dan menyebar di Indonesia, di pantai Sumatera Utara telah ada kerajaan kecil yang menjadi bandar penampungan barang-barang dagangan dari daerah pedalaman. Kerajaan-kerajaan kecil ada yang menjadi kaya raya dan berpengaruh besar, yaitu Perlak dan Samudra Pasai. Perlak lebih dahulu memeluk agama Islam. Hal ini kita ketahui dari berita Marco Polo yang pernah singgah di daerah itu pada tahun 1292 M. Marco Polo, seorang pedagang dari Venesia dalam perjalan pulang dari Cina singgah di Perlak pada tahun 1292 M, dan menyatakan bahwa di tempat itu masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama Islam. Agama Islam mulai berkembang di bagian utara Sumatra ketika Perlak menjadi kota Islam pada 1292. Tidak lama kemudian, berdiri sebuah kesultanan Islam di bagian barat kota. Nama kesultanan itu adalah Samudra dengan ibukota di Pasai. Oleh karena itu, kesultanan ini juga dikenal dengan nama Samudra Pasai.

Letak Geografis Kerajaan Samudra Pasai

Secara geografis, Kerajaan Samudra Pasai terletak di daerah timur pulau Sumatera bagian utara. Letaknya berdekatan dengan jalur pelayaran dan perdagangan dunia saat itu, yaitu selat Malaka. Dengan posisi yang strategis itu, Kerajaan Samudra Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang cukup kuat pada masanya. Perkembangan itu juga didukung oleh hasil bumi Samudra Pasai seperti lada. Selain itu, bandar-bandar dari kerajaan Samudra Pasai dijadikan bandar perhubungan (bandar transit) antara pedagang islam dari arah barat dengan para pedagang dari arah timur.

Dengan keadaan seperti itu Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan itu meliputi kekuasaan raja-rajanya, kehidupan ekonomi masyarakatnya, kehidupan sosial masyarakatnya, dan kehidupan budaya masyarakatnya.

gambar kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai (Kesultanan Samudra pasaiadalah kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kesultanan di pesisir timur-laut Aceh ini diperkirakan terbentuk sekitar abad ke-13. Menurut legenda, pendiri Samudra Pasai adalah seorang laksamana Mesir bernama Nazimuddin Al-Kamil. Ia dikirim ke Aceh oleh khalifah Mekkah yang ingin memenuhi ramalan Nabi Muhammad. Nabi pernah mengatakan bahwa kelak akan ada sebuah kota besar di Timur bernama Samudra, yang akan menghasilkan banyak orang suci. Untuk melanggengkan kekuasaan Islam di Samudra, Nazimuddin Al-Kamil mengangkat seorang bernama Marah Silu sebagai Raja Samudra Pasai yang pertama. Raja baru ini bergelar Sultan Malik as-Saleh dan memerintah selama tahun 1285-1297. Pada awalnya, Samudra Pasai adalah daerah bawahan Kerajaan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya yang beragama Budha mengalami kemunduran pada abad ke-13, Samudra Pasai mengambil kesempatan untuk muncul sebagai kekuatan ekonomi baru dengan mengembangkan perdagangan. Samudra Pasai cepat berkembang, sesuai dengan kegiatan perdagangan yang makin ramai di tempat itu. Pengaruh Samudra Pasai terhadap daerah-daerah sekitarnya makin meluas. Hal ini kita ketahui dari hikayat raja-raja Pasai yang menyebutkan bahwa daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Samudra Pasai, yaitu Pasai, Balek Bimba, Samerlangga, Beruana, Simpang di Hulu Sungai, Buloh Telang, Benua, Samudra, Perlak, Hambu Aer, Rama Candi, Tukas, dan Pekan. Sultan Malik al-Saleh meninggal pada tahun 1297 M. Samudra Pasai kemudian diperintah oleh putra Sultan Malik al-Saleh, yaitu Sultan Muhammad Malik Al-Thahir yang memerintah hingga tahun 1326. Ia kemudian digantikan oleh putranya,yaitu Sultan Ahmad. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad, seorang utusan dari kesultanan Delhi bernama Ibnu Battuta, pada tahun 1345 M singgah di Samudra Pasai dalam perjalanannya ke Cina. Ketika kembali dari Cina pada tahun 1346 M, Ibnu Battuta mengunjungi lagi Samudra Pasai. Pada tahun 1350 M Samudra Pasai diserang oleh Majapahit. Penyerangan ini terjadi karena Samudra Pasai tidak mau lagi mempertuan Majapahit. Sebagai akibat penyerangan itu, Samudra Pasai merosot dan perdagangannya mengalami kemunduran.

Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Samudra Pasai

Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai tidak dapat diketahui dengan jelas. Namun demikian, para ahli berhasil mengetahui beberapa bukti tentang perkembangan kekuasaan Kerajaan Samudra Pasai. Diantara bukti tersebut, yakni ditemukannya naskah tentang hikayat raja-raja Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah sebagai berikut.

a. Nazimuddin al Kamil

Pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Nazimuddin Al-Kamil, seorang laksamana laut, dari kerajaan mesir. Pada tahun 1128 M, ia mendapat tugas merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat yang dijadikan tempat memasarkan barang dagangan dari daerah timur. Nazimuddin al Kamil akhirnya mendirikan kerajaan di ujung pulau Sumatera bagian utara, yaitu Kerajaan Samudra Pasai. Tujuan utama pendirian kerajaan itu adalah untuk dapat menguasai hasil perdagangan rempah-rempah dan lada.

Nazimuddin al-Kamil meletakkan dasar-dasar pemerintahan kerajaan Samudra Pasai dengan berlandaskan pada hukum-hukum ajaran agama Islam. Di bawah pemerintahannya Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat. Walaupun demikian, secara politis Samudra Pasai dibawah kekuasaan Majapahit.

b. Sultan Malik as Saleh

Dinasti mameluk setelah berhasil menguasai Mesir dengan mengalahkan Dinasti Fatimah, ingin merebut Samudra Pasai. Tujuan menguasai Samudra Pasai ialah menguasai pasaran lada di wilayah timur. Oleh karena itu, dinasti mameluk mengirimkan Syekh Ismail yang bersekutu  dengan Marah Silu (keturunan Marah Pasai). Mereka berhasil merebut Samudra Pasai dan Marah Silu diangkat sebagai raja dengan gelar Sultan Malik as Saleh (Sultan Malikussaleh).

Sulta Malik as Saleh memerintah Samudra Pasai pada tahun 1285-1297 M. Sultan yang semula menganut aliran Syiah, akhirnya berbalik menganut aliran syafii seperti Dinasti Mameluk. Dengan mengawini putri Ganggangsari, Sultan Malik as Saleh dapat memperkuat kedudukannya di daerah pantai timur. Dengan demikian, Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan pada masa itu.

c. Sultan Malik at Thahir

Setelah Sultan Malik as Saleh wafat, tahta kerajaan digantikan putranya yang bergelar Sultan Malik at Thahir. Ia memerintah Samudra Pasai dari tahun 1297-1326. Pada masa kekuasaannya terjadi peristiwa penting. Putra kedua Malik as Saleh yang bernama Abdullah memisahkan diri ke daerah Aru (Barumun) yang kemudian bergelar Sultan Malukul Mansur. Ia kembali ke aliran yang semula dianutnya yaitu aliran Syiah.

Ketika Malaka muncul dan berkembang sebagai pusat perdagangan, kedudukan Samudra Pasai mulai suram. Hal ini terjadi karena bandar-bandar perdagangan dari Samudra Pasai mulai ditinggalkan oleh pedagang Islam. Para pedagang Islam lebih banyak singgah di bandar Malaka.

Samudra Pasai Sebagai Pusat Perdagangan

Setelah Sultan Malik as-Saleh wafat, takhta kesultanan diduduki oleh putranya, Sultan Muhammad. Raja bergelar Malik al-Tahir ini memerintah hingga tahun 1326. Penguasa ketiga Samudra Pasai adalah Sultan Ahmad. Ia juga memakai nama Malik al-Tahir. Pada masa pemerintahannya, Pasai mendapat kunjungan dari seorang utusan Sultan Delhi bernama Ibnu Batuta. Ibnu Batuta adalah pengembara asal Maroko yang sedang mengadakan perjalanan dari India ke Cina (1345 M). Ibnu Batuta menceritakan bahwa istana Sultan Pasai disusun dan diatur menurut tata cara India, dan di antara pejabatnya terdapat beberapa orang Persia. Patihnya bergelar amir. Sebagai sebuah kesultanan Islam, kehidupan pemerintahan dan masyarakat Samudra Pasai diwarnai oleh ajaran agama dan kebudayaan Islam. Dari kerajaan ini agama Islam meluas hingga ke wilayah Malaka. Dari catatan yang ditinggalkan Ibnu Batuta diketahui bahwa pada saat itu Pasai adalah sebuah pelabuhan yang sangat penting. Letak geografis Samudra Pasai sangat menguntungkan kesultanan dalam menghadapi persaingan dagang dengan Malaka dan Siam. Sebagai pusat perdagangan di Sumatra, banyak pedagang dari Tuban, Gresik, Palembang, Malaka, India, Cina, dan wilayah lainnya yang singgah serta melakukan bongkar-muat barang dagangan mereka di pelabuhan Samudra Pasai.

Kehidupan Ekonomi masyarakat Samudra Pasai

Letak geografis Samudra Pasai ialah di tepi selat malaka. Letaknya sangat strategis karena berada di tengah-tengah jalur perhubungan pelayaran dan perdagangan. Selat malaka merupakan urat nadi yang menghubungkan antara dunia barat dan dunia timur. Keadaan itulah yang sangat mendukung kreatifitas masyarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudra Pasai juga menyiapkan bandar-bandar yang dapat digunakan sebagai tempat untuk hal-hal berikut.

  • Menambah perbekalan untuk pelayaran selanjutnya
  • Mengurus masalah-masalah perkapalan
  • Mengumpulkan barang dagangan yang akan dikirimkan ke luar negeri
  • Menyimpan barang dagangan sebelum diantar ke luar negeri atau ke beberapa daerah di Indonesia.

Sekitar tahun 1350 merupakan masa puncak kejayaan kerajaan Majapahit. Pada masa itu pula Samudra Pasai mengalami masa puncak kejayaannya. Adanya bagian dari wilayahnya yang telah menganut agama Islam, rupanya tidak menjadi masalah bagi Majapahit. Disamping itu hubungan langsung antara Samudra Pasai dan Cina merupakan siasat untuk mengamankan diri dari ancaman kerajaan Siam. Saim memiliki wilayah yang daerahnya meliputi jazirah malaka.

Pedagang-pedagang dari Majapahit banyak yang datang ke Samudra Pasai, begitupula sebaliknya. Hal itu terjadi terutama pada bandar-bandar perdagangan yang terletak pada pesisir pantai utara Jawa. Misalnya pelabuhan Gresik, Tuban, Jepara dan Pasuruan.

Perkembangan perekonomian masyarakat Samudra Pasai semakin bertambah pesat, sehingga menjadi pusat perhatian sekaligus incaran dari kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudra Pasai dikuasai oleh kerajaan Malaka, maka pusat perdagangan pindah ke bandar Malaka.

Kehidupan Sosial masyarakat Samudra Pasai

Kehidupan sosial kerajaan Samudra Pasai diatur menurut aturan-aturan dan hukum Islam. Dalam pelaksanaannya, banyak persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat Mesir mapun Arab. Berkembangnya pengaruh Arab maupun Mesir di Samudra Pasai, kemungkinan dipengaruhi oleh pendiri Samudra Pasai yaitu Nazimudin al Kamil. Sistem kehidupan sosial masyarakat Samudra Pasai banyak memiliki kesamaan dengan daerah-daerah Arab. Dengan demikian, daerah Aceh mendapat julukan Daerah Serambi Mekah.

Kehidupan Budaya masyarakat Samudra Pasai

Sebagai Kerajaan yang terjun dalam dunia maritim, tidak banyak ditemukan keberadaan peninggalan budaya Samudra Pasai. Walaupun ada penemuan benda kebudayaan Samudra Pasai, namun kemungkinan tidak sepenuhnya hasil karya sendiri. Penemuan batu nisan atau Jirat dari putri Pasai di datangkan dari Kambayat. Selain penemuan makam dari raja Samudra Pasai, tidak pernah terdengar lagi adanya perkembangan seni budaya lainnya di Masyarakat.

Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai

Setelah pemerintahan Sultan Ahmad, tidak banyak berita yang diketahui tentang Kesultanan Samudra Pasai. Menurut berita dari Cina, menjelang akhir abad ke-14, kesultanan itu dilanda kekacauan akibat terjadi perebutan kekuasaan. Dari berita yang sama diketahui bahwa hingga pertengahan abad ke-15, Pasai masih mengirim utusannya ke Cina. Kedudukan Pasai sebagai kekuatan Islam di kepulauan Nusantara kemudian digantikan oleh kerajaan baru di Semenanjung Malaya, yaitu Malaka.

Baca juga :