Peninggalan sejarah dapat berupa benda, tempat, atau bangunan yang dahulu merupakan bagian dari peristiwa masa lampau. Berikut ini beberapa contoh peninggalan sejarah di Provinsi Sumatera Utara.
1. Makam Sisingamangaraja
Peninggalan sejarah yang terdapat di Sumatera Utara yang pertama adalah makan tokoh terkenal dari Sumatera Utara, yaitu Sisingamangaraja. Sisingamangaraja adalah tokoh pahlawan yang berasal dari tanah Batak. Beliau mempunyai popularitas dengan kekuatan gaibnya yang dapat mangeluarkan mata air ketika pasukan yang dipimpinnya sedang kehausan. Untuk mengenang jasanya, ia dimakamkan di sebuah makam yang indah dan dipagari dengan batu. Makam ini terletak di Balige Kabupaten Toba Samosir.

2. Museum Arjuna
Museum Arjuna merupakan rumah budaya Batak. Koleksi yang terdapat di museum ini adalah peninggalan-peninggalan sejarah budaya Batak. Museum ini berlokasi di Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.
3. Museum Negeri Sumatera Utara
Museum ini berlokasi di Jalan H. M. Joni Nomor 51 Medan. Museum ini dibangun tahun 1976 dengan gaya arsitektur rumah tradisional Batak yang dipadukan dengan bangunan modern. Koleksi berupa peninggalan sejarah yang terdapat di museum ini, meliputi etnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika, seni rupa, keramologika, teknologika, geologika, dan biologika.
Di museum ini terdapat Tunggal Panaluan yang merupakan tongkat yang dibuat dari kayu dan terdapat ukiran kisah Siaji Donda. Menurut nenek moyang suku Batak, tongkat ini diyakini sebagai tongkat sakti, penolak bala, dan dapat mendatangkan hujan pada musim kemarau.

4. Istana Maimunah
Istana Maimunah didirikan berdasarkan perintah sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Istana ini dibangun tahun 1888 oleh seorang arsitektur berkebangsaan Italia. Perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa tampak mendominasi bangunan ini. Istana yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan, Kota Medan, ini merupakan istana kebesaran Kesultanan Deli yang didominasi oleh warna kuning (kuning merupakan warna kerajaan Melayu) dan khas arsitektur Melayu di pesisir timur.
Dewasa ini istana tersebut masih didiami oleh keluarga-keluarga sultan dan terbuka bagi masyarakat yang ingin mengunjunginya. Di istana ini pengunjung dapat menyaksikan ruang pertemuan, foto-foto keluarga Kerajaan Deli, perabot rumah tangga Belanda kuno, dan berbagai senjata.
Istana Maimunah yang berdiri di atas tanah seluas 2.772 m2 ini dikelilingi pagar setinggi satu meter dan menghadap ke timur. Di sebelah baratnya mengalir Sungai Deli yang membelah Kota Medan. Bangunannya terdiri atas dua lantai yang terbagi dalam tiga bagian, yaitu bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan. Bangunan ini bertingkat dua dan ditopang oleh 82 tiang batu berbentuk segi delapan (belah ketupat), 43 tiang kayu dengan lengkungan berbentuk lunas perahu terbalik, dan ladam kuda.

Atap bangunan bersejarah ini terdiri atas dua bentuk, yaitu limasan dan kubah yang berbahan sirap dan tembaga. Ada pernik-pernik berwarna kuning emas yang menjadi ciri utama bangunan Melayu pada hampir setiap sisi atap bagian bawah. Pada lantai dasar ruang dalam istana yang lapang, tampak sejumlah barang kuno bernilai seni tinggi, seperti: kursi, meja, lemari, tempat tidur, dan berbagai barang hiasan.
Pada bagian atas yang menjadi tempat tinggal para penghuni, ada sekitar tiga belas kamar. Tujuh kamar di antaranya terdapat dibangunan utama, tiga kamar di sayap kanan dan tiga kamar di sayap kiri. Sekitar 100 meter dari lstana Maimun, ada Masjid Al-Mansun atau yang lebih dikenal dengan Masjid Raya Medan. Masjid yang arsitekturnya sangat mirip dengan Masjid Cut Meutiah di Bilangan Menteng, Jakarta Pusat ini dibangun oleh Sultan Deli pada 1906. Pengunjung yang datang ke Istana Maimun, pasti akan menyempatkan diri ke Masjid Raya tersebut.
Arsitektur istana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa. Konon, sebagian material bangunannya juga didatangkan dari Eropa, seperti ubin, marmer, dan teraso. Arsitektur gaya Belanda tampak pada pintu serta jendela yang lebar dan tinggi, sedangkan pengaruh Islam terlihat pada bentuk lengkungan atau arcade pada sejumlah bagian atap istana. Lengkungan yang berbentuk perahu terbalik itu dikenal dengan Lengkungan Persia dan banyak dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India.
Ketika memasuki ruang tamu (balairung) Istana Maimun, ada singgasana yang didominasi warna kuning. Lampu-lampu kristal yang menerangi singgasana tersebut sebagai bukti bahwa ada pengaruh dari budaya Eropa. Pengaruh itu juga tampak pada perabotan istana, seperti: kursi, meja toilet, dan lemari hingga pintu dorong menuju balairung. Ruangan seluas 412 m2 tersebut digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Balairung juga dipakai sebagai tempat sultan menerima sembah sujud dari sanak familinya pada hari-hari besar Islam. Ada dua puluh kamar di lantai atas dan dua puluh kamar lagi di bagian bawah. Jumlah kamar tersebut belum termasuk empat kamar mandi, gudang, dapur, dan ruang penjara di lantai bawah.
Kini, Istana Maimun dihuni sekitar sepuluh sampai dengan lima belas kepala keluarga atau 100an jiwa ahli waris Sultan Deli. Mereka inilah yang setiap hari menyiapkan waktu untuk menyambut sedikitnya lima puluh tamu, baik tamu lokal maupun mancanegara, yang berkunjung ke sana. Para pengunjung tidak dipungut bayaran. Namun, para turis biasa rela menyisihkan sedikit uang yang diberikan kepada para penjaga istana yang rata-rata tidak mempunyai pekerjaan tetap. Ada sepenggal peninggalan sejarah yang menarik di sebuah rumah di samping istana. Barang kuno itu berupa potongan meriam puntung milik Putri Hijau. Di tempat meriam tersebut berada pengunjung umumnya merogoh koceknya lagi untuk menyumbang keluarga istana. Sebagian uang yang diperoleh dari lokasi meriam digunakan untuk belanja bunga, yang nantinya diletakkan di atas meriam setelah dilengkapi dengan kemenyan. Setiap hari bunga ini harus diganti.
5. Masjid Raya Al Mansun
Masjid Raya Al Mansun dikenal juga dengan nama Masjid Raya Medan. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Sultan Deli setelah Istana Maimun. Lokasinya sekitar 200 meter dari Istana Maimun. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Maimun Al Rasyid. Kubahnya mirip kubah Masjid Raya Banda Aceh. Pengaruh kesenian Islam tampak pada denah, atap kubah, lengkungan (arcade), dan hiasan bulan sabit pada puncaknya. Pengaruh tersebut juga dapat dilihat pada ornamentasinya, baik di dinding, plafon, tiang-tiang, maupun permukaan lengkungan (face Arcade) yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan. Motif seperti itu juga terlihat baik pada bentuk terali besi tingkap-tingkap segi empat maupun lengkungan, seperti ukiran dinding gaya India. Di Indonesia hiasan semacam ini sering disebut hiasan Terawangan atau Kerawangan. Selain sebagai hiasan, ornamen tersebut juga berfungsi sebagai fentilasi atau lubang angin.
Masjid terindah di Provinsi Sumatra Utara ini hingga kini masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk salat setiap hari. Berkat arsitekturnya yang khas dan tentu saja bernilai sejarah, masjid ini kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.
Ada lagi masjid milik peninggalan kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1886 yaitu Masjid Labuhan. Arsitektur Masjid Labuhan yang unik ini bergaya India dengan kubah segi delapan. Masjid Labuhan terletak di Jalan Raya Medan Belawan, sebelah utara dari pusat kota Medan.
6. Kuil Hindu Sri Mariaman
Kuil Hindu Sri Mariaman terletak di Jalan K. H. Zaenul Arifin. Kuil ini memiliki ornamen-ornamen ukiran yang unik dan bernilai seni tinggi. Bangunan bersejarah ini juga memvisualkan bahwa ada kehidupan keturunan bangsa India di Kota Medan sejak lama.
Kuil ini dibangun pada tahun 1884 untuk orang India yang berasal dari Madras, India Selatan. Lokasinya berdekatan dengan perkampungan India yang dikenal dengan nama Kampung Keling atau Kampung Madras. Kuil ini dinamakan Sri Mariaman, merujuk pada dewi bumi. Wisatawan kerap mengunjunginya untuk mengabadikan kekhasan bangunannya.
7. Gedong Tjong A Fie
Gedung tua ini menggambarkan budaya sekaligus keuletan etnis Tionghoa yang Sejak ratusan tahun menetap di Tanah Deli. Gedung tua yang berada di Kesawan (Tapekongstraat) ini milik Tjong A Fie, sahabat dekat Sultan Deli. Dia adalah Mayor Cina di Medan, seorang milioner pertama di Sumatera.
Pada tahun 1870 Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian, meninggalkan Desa Moy Hian, Kanton, di daratan Cina untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di perkebunan tembakau. Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis. Kemudian, mereka membuka perkebunan dan menetap di Labuhan Deli. Mereka juga membuka kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan kuli-kuli Cina dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli, sehingga dalam waktu singkat saja dia kaya raya.

Demikian pembahasan tentang “7 Peninggalan Sejarah di Provinsi Sumatera Utara secara Lengkap” yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel sejarah daerah-daerah di Indonesia menarik lainnya di situs Berkas Ilmu com.





