Perjalanan sejarah Kerajaan Aceh yang cukup panjang tentu meninggalkan jejak-jejak masa lampau. Kerajaan yang kental dengan budaya Islam ini memang menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah baik peninggalan yang berupa situs sejarah, bangunan bersejarah, maupun peninggalan dari bangsa yang pernah menjajah Kerajaan Aceh. Peninggalan sejarah Kerajaan Aceh antara lain berupa benda, bangunan, dan makam. Berbagai peninggalan sejarah itu tentu harus dijaga kelestariannya. Dengan begitu, generasi penerus dapat belajar dan meneladani jejak-jejak sejarah pada masa ampau.
Peninggalan Berupa Benda Kerajaan Aceh
1. Stempel Cap Sikureung (Stempel Kerajaan)
Peninggalan dari kerajaan Aceh yang pertama adalah Stempel Cap Sikureung. Stempel kerajaan mulai dikenal pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Stempel tersebut merupakan penjiplakan langsung dari Kerajaan Islam Mongol Besar Hindustan (India) pada masa pemerintahan Sultan Akbar. Stempel kesultanan Aceh terbuat dari batu yang diberi nama ”Cap Sikureung” yang merupakan stempel kebanggaan Kesultanan Aceh.
Disebut Cap Sikureung karena pada stempel tersebut tertera sembilan lingkaran yang diberi nama sultan yang pernah memerintah Kerajaan Aceh. Dengan komposisi empat lingkaran untuk dan dari dinasti sendiri, empat lingkaran untuk Sultan Aceh dari dinasti lain yang dipilih menurut keinginan, dan satu lingkaran di tengah untuk sultan yang sedang memerintah. Stempel dibuat dari generasi ke generasi setiap pergantian sultan dengan mode yang sama.
Cap Sikureung bagi kerajaan Aceh melambangkan empat dasar hukum yaitu Al-Quran, Hadist, Ijma’ ulama, dan qias. Selain itu, juga melambangkan empat jenis hukum, yaitu hukum, adat, qanun, dan reusam dalam masyarakat Aceh. Selain Cap Singkureung, juga dikenal stempel-stempel lain, seperti stempel Ulee Balang dan stempel Kejruen. Pada stempel tersebut tertera Ulee Balang/ Kejruen dan tahun jabatannya.

2. Baje Raja (Baju Raja)
Baje raja merupakan baju(busana) peninggalan Raja yang memerintah Kerajaan Aceh pada masanya. Baju raja terbuat dari sutera berwarna hitam. Bagian dalamnya dilapisi kain warna merah bermotif bola-bola kecil. Bagian lehernya dihiasi motif kaligrafi Lailaha illallah Muhammadurrasulullah, dibingkai dengan ragam hias tumpal. Keseluruhan bagian permukaan dan ujung lengan dihiasi dengan sulaman benang emas bermotif bulan sabit, bintang pecah delapan, dan dihiasi bunga-bunga Cap Sikureng bertuliskan cap Sultan Aceh Darussalam Paduka Sri Sultan Alaiddin Mahmudsyah Johan berdaulat Zhillullah fil alam (lingkaran setengah), Sultan Johan Syah, Sri Sultan Ahmadsyah, Sultan Meukuta Alam, Sultan Taj al Alam, Sultan Ahmadsyah, Sultan Mahmudsyah, dan Sultan Muhammad Syah.
Pada bagian bawah cap sembilan tertulis datang berlayar dari negeri membawa matahari dengan bulan, ke Negeri Aceh baladul aman, menjunjung dali yang dipertuan, dengan karunia Malikurrahman, jikalau ada limpah dermawan, hamba yang masa sejahtera, nyaman akan ke sini, bahwa kesiapan sultan, Sultan Johan Syah Dhillah Fil Alam membawakan dan memerintah Aceh Raya kiranya.
3. Deureham (Uang Logam Emas) Kerajaan Pasai
Pada umumnya deureham berdiameter 10 mm dengan berat 0,50 -0,58 gr, dan terbuat dari emas 17 karat. Pada sisi muka deureham terdapat kaligrafi yang bertuliskan nama sultan yang memerintah saat itu, sedangkan sisi belakang tertulis ”As-Sultan Al-Adil”.
Deureham Kerajaan Aceh Darussalam Sri Sultan Iskandar Muda berdiameter 14 mm, berat 0,60 gr, dan terbuat dari emas 17 karat. Deureham ini beredar sekitar tahun 1607-1636. Pada sisi muka terdapat kaligrafi yang berbunyi ”Sri Sultan Iskandar Muda” dan pada sisi belakang ”Johan Berdaulat Bin Ali”.
Deureham Sultanah Yaj al-Alam Safiat ad-Din Syah berdiameter 13 mm, berat 0, 58 gr, dan terbuat dari emas 17 karat. Deureham ini beredar sekitar tahun 1641-1675. Pada sisi muka terdapat kaligrafi yang berbunyi “Paduka Seri Sultanaah Taj al-Alam dan pada belakang ”Safiat ad Din Syah Berdaulat”.

Peninggalan Berupa Bangunan
4. Masjid Raya Baiturrahman
Peninggalan berupa bangunan yang di bangun pada masa Kerajaan Aceh salah satunya adalah masjid Raya Baiturrahman. Bangunan masjid ini tampak begitu megah. Masjid berkubah tunggal ini dibangun pada tanggal 27 Desember 1883 Pada tahun 1935 diperluas menjadi tiga kubah dan pada tahun 1968 diperluas menjadi lima kubah.
5. Benteng Indrapatra
Benteng peninggalan Hindu yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda ini memiliki keunikan pada arsitektur bangunannya. Benteng ini juga menjadi saksi hadirnya kebudayaan selain Islam di Serambi Mekah.
Benteng ini terletak di dekat Pantai Ujong Batee. Menurut riwayatnya, dibangun pada masa Pra-Islam di Aceh pada masa Kerajaan Lamuri. Benteng ini dibuat dari beton kapur. Benteng ini cukup kuat untuk mempertahankan diri dari serangan Portugis di masa lalu.
Pada awalnya ada tiga bagian besar di benteng tersebut. Bagian benteng yang paling luas berukuran 70×70 m dengan tinggi dinding tiga meter lebih. Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, jumlah benteng itu kini tingga dua.
Bagian lain dari benteng adalah tempat pertahanan yang langsung menghadap ke Selat Malaka sehingga terlihat strategis. Sementara itu, di sisi lain ada sebuah ruangan yang kukuh berukuran 35×35 m dan tinggi 4 meter. Bahkan, untuk mencapai ke bagian dalam benteng harus dilakukan dengan memanjat dinding. Kini Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Aceh terus merenovasi benteng tersebut.
7. Pinto-Khop
Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara Istana dam Taman Putroe Phang. Pinto Khop merupakan pintu gerbang berbentuk kubah tempat beristirahat Putri Phang setelah lelah berenang

8. Makam Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda termasuk pahlawan nasional. Beliau adalah raja yang memerintah Kerajaan Aceh pada 1607 M-1636 M. Makamnya terletak di kandang emas di lingkungan Baperis, Jalan Sultan Alaudin Mahmudsyah, bersebelahan dengan museum.

Peninggalan Sejarah lainnya di Provinsi Aceh Selain benda-benda, dan bangunan peninggalan sejarah kerajaan Aceh tersebut, di Provinsi Aceh juga terdapat beberapa situs sejarah yang sampai sekarang masih tersimpan sebagai bukti peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa peninggalan sejarah tersebut antara lain seperti.Pedang Aman Nyerang Dahulu pedang ini direbut oleh pasukan Belanda pimpinan Letnan Jordans di Hulu Sungai Serbajadi, Tanah Gayo. Akan tetapi, Aman Nyerang tidak mau menyerah kepada Belanda. Ia memilih hidup mengembara di hutan belantara selama 20 tahun sampai jenggotnya panjang dan berwarna abu-abu. Namun, ketika persembunyiannya diketahui, pada tanggal 3 Oktober 1922, dia disergap dan dibunuh. Pedangnya dibawa oleh Letnan Jordans ke negeri Belanda. Akan tetapi, menjelang akhir hayatnya Letnan Jordans berpesan kepada putrinya untuk mengembalikan pedang itu ke Aceh dan disimpan di museum. Pada tahun 2000 Letnan Jordans meninggal dan putrinya melaksanakan wasiatnya melalui Pengurus Yayasan Dana Peucut di Negeri Belanda kepada Gubernur Aceh, Abdulah Puteh, pada tanggal 14 Maret 2003.

Al-Qur’anul Karim Al-Qur’anul Karim merupakan tulisan tangan bahasa dan huruf Arab. Al-Qur’anul Karim ini berukuran 33 x 25 cm dengan tebal 502 dan terbuat dari bahan kertas dan kain. Di dalamnya terdapat tiga tempat ukiran khas Aceh yaitu pada surat Al-Fatihah, Al-Kahfi, dan Al-Ikhlas, tulisannya menggunakan Khat Naskhi. Baca juga:
Kerkhof (Perkuburan Belanda) Kerkhof adalah kuburan militer Belanda atau suatu areal tempat penguburan serdadu Belanda yang tewas selama peperangan dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Di tempat ini dimakamkan kira-kira 2. 200 serdadu termasuk Jenderal Kahler yang tewas ditembus peluru mujahidin Aceh di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Nama-nama mereka yang tewas tertera jelas di pintu gerbang Kerkhof. Kompleks kuburan ini terletak di Kota Banda Aceh dan menjadi objek wisata menarik bagi wisatawan mancanegara terutama dari Belanda.

Makam Syiah Kuala Teungku Syiah Kuala adalah salah satu ulama besar yang terkenal di masa lalu. Teungku Syiah Kuala memiliki banyak murid yang tersebar di Sumatra Barat dan Malaysia. Makam ini terletak di dekat muara sungai Krueng Aceh sekitar 3 km dari kota. Makam ini banyak dikunjungi oleh masyarakat provinsi ini dan masyarakat Indonesia serta Malaysia. Makam ini menjadi salah satu objek wisata ziarah di Banda Aceh.

Demikian Artikel tentang “8 Peninggalan Kerajaan Aceh Lengkap Gambar dan Keterangannya” yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel sejarah menarik lainnya di BerkasIlmucom.





