Banten berada di pesisir pulau Jawa bagian barat. Semula Banten merupakan sebuah bandar besar yang berada di bawah pengaruh kerajaan Pajajaran. Bandar besar lain yang juga berada di bawah pengaruh kerajaan Pajajaran adalah Sunda Kelapa. Sewaktu Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak pedagang Islam yang tidak mau lagi berhubungan dengan Malaka. Mereka pindah ke bandar-bandar lain di Indonesia, terutama ke Banten, dengan menyusuri pantai barat Sumatra, masuk ke Selat Sunda, dan singgah di Banten. Dengan mengambil rute perjalanan ini, maka para pedagang Islam itu terhindar dari gangguan patroli-patroli Portugis. Berhubung dengan hal-hal tersebut, maka pelayaran dan perdagangan Banten pun berkembang dengan pesat sehingga menjadikan Banten sebagai bandar besar yang banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam, terutama memperdagangkan lada, sedangkan pedagang-pedagang yang datang dari bandar-bandar lain di Indonesia datang ke Banten membawa beras, gula, garam, kayu cendana, dan sebagainya.
Sejarah Berdirinya Kerajaan Banten
Karena banyak pedagang Islam yang datang dan menetap, maka lambat laun Banten menjadi pusat agama Islam di Jawa Barat. Hal ini sangat mencemaskan kerajaan Pajajaran. Untuk itu, maka Pajajaran menjalin hubungan dengan Portugis dengan maksud agar Pajajaran mendapat bantuan jika sewaktu-waktu berhadapan dengan kaum muslim. Pada tahun 1525 diadakanlah perjanjian antara Pajajaran dengan Portugis yang isinya:
1) Bangsa Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
2) Bangsa Portugis mendapat monopoli perdagangan lada.
3) Bangsa Portugis akan mendapat hadiah lada setiap tahun.
Banten yang berada di bagian barat Jawa pada waktu itu pun tidak luput dari usaha perluasan pengaruh Demak. Pada waktu itu Demak di bawah pemerintahan Sultan Trenggono. Dalam rangka memerangi Portugis dan perluasan pengaruh Islam di Jawa, Demak segera mengirim Fatahilah ke Banten sebelum Portugis dapat menanamkan kekuasaanya.
Adapun maksud dikirimkannya Fatahilah ke Banten adalah untuk:
1) menduduki bandar besar itu,
2) melindungi umat Islam di wilayah tersebut,
3) menyelamatkan perdagangan lada dari monopoli Portugis,
4) menggagalkan bersarangnya Portugis di Sunda Kelapa.
Usaha Fatahilah berjalan lancar. Banten dapat diduduki dan dalam tahun 1527 Sunda Kelapa dapat direbut. Sejak peristiwa itu, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Setelah usaha penaklukan itu berakhir, Fatahilah diangkat menjadi raja di Kerajaan Banten dengan sistem pemerintahan yang masih mempertuan Demak. Pada tahun 1552 Fatahilah turun tahta dan seterusnya ia tinggal di Cirebon untuk memperdalam agama Islam dan menyebarluaskannya. Putra Fatahilah, yaitu Hasanuddin (1552-1570) menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Banten. Fatahilah akhirnya wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di Gunung Jati.

Dasar-dasar Kerajaan Banten diletakkan oleh Hasanuddin (putra Fatahillah). Banten mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Perkembangan Kerajaan Banten yang sangat pesat itu tidak lepas dari letaknya yang sangat strategis.
Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Banten
Berikut ini adalah nama-nama Raja yang pernah memerintah di Kerajaan Banten (Kesultanan Banten).
1. Raja Hasanuddin
Pada masa pemerintahan Fatahilhah (Faletehan), Banten masih mempertuan Demak. Namun seiring dengan adanya perselisihan keluarga di Demak yang berakhir dengan dipindahkannya pusat pemerintahan ke Pajang, maka Kerajaan Banten di bawah Hasanuddin melepaskan diri dari Demak pada tahun 1568. Hasanuddin memerintah Kerajaan Banten dari tahun 1552 sampai 1570, dengan meletakkan dasar-dasar pemerintahan Ia mengangkat dirinya sebagai raja yang pertama. Hasanuddin adalah menantu Sultan Trenggono.
Pada masa pemerintahannya, agama Islam berkembang sangat pesat. Raja Hasanuddin juga memperluas wilayah kekuasaanya ke Lampung. Penguasaan terhadap Lampung bertujuan agar Banten dapat sepenuhnya menguasai jalur pelayaran dan perdagangan yang melewati Selat Sunda. Raja Hasanuddin menikah dengan putri Raja Indrapura. Bahkan Raja Indrapura menyerahkan tanah selebar kepada Hasanuddin. Daerah itu merupakan tanah penghasil lada. Di bawah pemerintahannya, Banten dikunjungi saudagar-saudagar dari Gujarat, Persia, Cina, Turki, Pegu (Myanmar selatan), dan Keling. Dalam perniagaan, Banten lebih maju dari Jayakarta. Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan digantikan oleh anaknya yang tertua yaitu Maulana Yusuf.
2. Raja Maulana Yusuf (Panembahan Yusuf)
Dari pernikahan Hasanuddin dengan anak perempuan Pangeran Trenggono, ia memperoleh dua putra, yang pertama bernama Maulana Yusuf dan yang kedua bernama Pangeran Jepara. Anak Hasanuddin yang kedua sejak kecil, diangkat sebagai anak oleh Ratu Kalinyamat. Setelah dewasa, ia memerintah Jepara menggantikan ibu angkatnya. Sepeninggal Hasanuddin pada tahun 1570, Maulana Yusuf menggantikannya meneruskan politik perluasan wilayah, seperti yang dilakukan ayahnya.
Dalam pemerintahannya Maulana Yusuf berusaha untuk memajukan pertanian dan pengairan. Ia juga berusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan. Langkah-langkah yang dilakukannya adalah dengan berusaha merebut Pakuan pada tahun 1579. Dalam pertempuran dengan Pakuan, raja Pakuan yang bernama Prabu Sedah tewas. Kerajaan Pajajaran yang merupakan benteng Hindu terakhir di Jawa Barat akhirnya dapat dikuasai. Setelah sepuluh tahun memerintah Kerajaan Banten, Panembahan Yusuf wafat akibat sakit keras yang dideritanya. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Muhammad yang kemudian bergelar Kanjeng Ratu Banten.
3. Raja Maulana Muhammad
Tahta kerajaan Banten menjadi rebutan setelah Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580. Hal ini disebabkan putranya, yaitu Maulana Muhammad, belum dewasa sehingga Pangeran Jepara merasa berhak menduduki tahta. Dengan angkatan lautnya, diserangnya Banten, akan tetapi mengalami kekalahan dan terpaksa menghentikan campur tangannya dalam urusan tahta Kerajaan Banten.
Maulana Muhammad kemudian diangkat menjadi raja dengan gelar Kanjeng Ratu Banten (1580-1605). Karena waktu dinobatkan Maulana Muhammad baru berusia 9 tahun, maka Mangkubumi Jayanegara menjadi walinya. Sebagai penasehatnya, diangkatlah Pangeran Mas dari Demak, yaitu salah seorang anggota keluarga Aria Panggiri. Setelah besar, maka Maulana Muhammad pun memegang kendali pemerintahan.
Atas anjuran Pangeran Mas, Maulana Muhammad pada tahun 1596 mengadakan usaha penaklukkan terhadap Palembang. Tujuannya adalah untuk menduduki bandar-bandar perdagangan yang terletak dekat Selat Malaka. Daerah itu dapat dijadikan tempat untuk mengumpulkan lada dan hasil bumi lainnya di Sumatra. Palembang hampir berhasil direbutnya, tetapi Kanjeng Ratu Banten tertembak dan akhirnya meninggal dalam pertempuran itu. Dengan wafatnya Kanjeng Ratu Banten pada tahun 1596 maka tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang baru berumur 5 bulan yang bernama Abu Mufakir.
Kemudian pada tahun 1602, Mangkubumi Jayanegara pun wafat. Pada tahun 1596, untuk pertama kalinya tibalah orang-orang Belanda di pelabuhan Banten. Mereka tidak lama berada di Banten, sebab perbuatan mereka dalam perdagangan merugikan Banten.
4. Raja Abdul Maufakir
Gugurnya raja Maulana Muhammad menimbulkan perselisihan tentang siapa yang akan menduduki tahta Kerajaan Banten, karena putra mahkota, yaitu Abdul Mufakhir masih kecil. Untuk itu, maka pangeran Ranamanggala ditunjuk sebagai walinya. Setelah dewasa, Abdul Mufakhir pun menjalankan pemerintahan kerajaan Banten. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yaitu Abu Mali Ahmad Rahmatullah (1640-1651). Abu Maali Ahmad Rahmatullah ini pun kemudian digantikan oleh putranya yaitu Abu Fatah Abdulfattah (1651-1682) yang dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Sultan Ageng Tirtayasa
Setelah Abu Mufakir wafat, tahta kerajaan dipegang oleh Sultan Abu Maali Ahmad Rahmatullah. Namun demikian, pemerintahan sultan itu tidak dapat diketahui dengan jelas. Setelah Sultan Abu Maali wafat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Abu Fatah Abdulfattah atau yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten dari tahun 1651 sampai 1692. Dibawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mencapai masa kejayaannya. Ia berusaha memperluas kerajaannya dan berusaha mengusir Belanda dari Batavia. Ketika Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung menyerang Batavia, Kerajaan Banten juga memberikan dukungannya.
Sultan Agung Tirtayasa memajukan aktivitas perdagangannya agar dapat bersaing dengan Belanda di Batavia. Disamping itu ia memerintahkan pasukan Banten untuk mengadakan perampokan terhadap Belanda di Batavia. Orang-orang Banten mengadakan perusakan tebu milik Belanda di daerah Ciangke atas perintah Sultan Ageng Tirtayasa. Hal itu menyebabkan pasukan Belanda kewalahan mengatasinya.
Sultan Ageng Tirtayasa sangat memusuhi kompeni Belanda yang selalu menghalang-halangi perkembangan perdagangan Banten. Hal ini terlihat dari peperangan-peperangan yang dilakukannya terhadap kompeni. Namun, sikap Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kompeni ini tidak didukung oleh putra mahkotanya, yaitu Sultan Abdulnasar Abdulkahar. Putra mahkota yang pada waktu itu berkedudukan sebagai raja muda bersifat memihak kepada kompeni. Akibatnya, di samping harus melakukan peperangan terhadap kompeni, Sultan Ageng juga harus menghadapi putranya sendiri yang bekerja sama dengan kompeni untuk merongrong kekuasaan ayahnya. Akhir-nya pada tahun 1682-1683, pecahlah perang saudara di Kerajaan Banten.
Dalam perang saudara itu kompeni membantu putra mahkota melawan ayahnya. Meriam Belanda menembaki dan membakar keraton. Kemudian Sultan Ageng bersama syekh Yusuf dan pangeran Purbaya melarikan diri, namun akhirnya tertangkap. Sultan Ageng ditawan di Banten dan kemudian dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1695.
Sewaktu Sultan Ageng ditawan, maka Abdulnasar Abdulkahar naik tahta dengan nama Sultan Haji (1682-1687). Dua tahun setelah naik tahta, yaitu pada tahun 1684, kompeni menuntut balas atas jasa kepada Sultan Haji, yaitu ia harus menandatangani Perjanjian Banten. Dalam Perjanjian Banten ditetapkan:
1) Belanda mengakui Sultan Haji sebagai Sultan Banten.
2) Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon.
3) Banten tidak boleh lagi berdagang di daerah Maluku.
4) Hanya Belanda yang boleh mengekspor lada dan memasukkan kain di wilayah kekuasaan Banten.
5) Cisadane menjadi batas antara Banten dan Belanda.
Dengan penandatanganan perjanjian ini berarti mengakhiri kekuasaan Sultan yang mutlak atas daerahnya. Dengan demikian Sultan Haji hanyalah sebagai lambang belaka (raja boneka) dalam pemerintahan kerajaan Banten karena seluruh kekuasaannya diatur oleh Belanda.
Kehidupan Ekonomi Masyarakat Banten
Kerajaan Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa, yaitu di daerah Banten sekarang. Daerah Banten berhasil direbut dan diIslamkan oleh Fatahillah. Sejak itu Banten berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkembangan Agama Islam di Jawa bagian barat dan sekitarnya. Ada beberapa faktor yang mendukung perkembangan Kerajaan Banten menjadi pusat perdagangan pada masa itu, yaitu sebagai berikut.
- Banten berada di teluk Banten dan pelabuhannya memiliki syarat sebagai pelabuhan yang baik untuk perlayaran dan perdagangan.
- Kedudukan Banten yang sangat strategis, yaitu di tepi Selat Sunda. Aktifitas pelayaran dan perdagangan yang melalui Selat Sunda semakin bertambah ramai setelah Malaka jatuh ketangan Portugis.
- Banten memiliki bahan ekspor penting seperti lada, yang dapat menjadi daya tarik yang cukup kuat bagi para pedagang.
- Jatuhnya Malaka ke tangan portugis menyebabkan para pedagang Islam mencari jalan baru dengan menyusuri pantai barat Sumatra dan masuk ke Selat Sunda.
Kehidupan Sosial Masyarakat Banten
Sejak diIslamkan, secara perlahan kehidupan sosial masyarakat Banten perlahan mulai berlandaskan ajaran-ajaran dan hukum yang berlaku dalam agama Islam. Bahkan pengaruh Islam semakin berkembang setelah Banten mengalahkan Pajajaran.
Kehidupan sosial masyarakat Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa meningkat dengan pesat. Ia sangat memperhatikan rakyat dan berusaha memajukan kesejahteraan rakyatnya. Namun setelah Sultan Ageng Tirtayasa wafat, kehidupan sosial masyarakat banten semakin merosot. Hal ini disebabkan karena campurtangan belanda dalam pemerintahan Banten.
Kehidupan Budaya Masyarakat Banten
Banten merupakan sebuah kerajaan dengan sistem kehidupan masyarakatnya berkecimpung dalam dunia pelayaran dan perdagangan. Dengan demikian, tidak banyak yang dapat diketahui tentang hasil karya budaya masyarakatnya.





