Cara-cara Penyebaran Agama Islam di Indonesia – Dari uraian di artikel 5 Teori masuknya islam ke Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pembawa agama lslam ke Indonesia ialah para pedagang Gujarat, Persia, dan Arab. Merekalah yang mula-mula menyebarkan agama Islam di tanah air kita melalui hubungan dagang.
Apakah penyebaran agama Islam di Indonesia hanya melalui hubungan dagang ? Tidak. Ada beberapa macam cara lain yang digunakan.
a. Melalui Perdagangan
Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia, dan Arab tinggal selama berbulan-bulan di Malaka dan peIabuhan-pelabuhan di Indonesia. Mereka menunggu angin musim yang baik untuk berlayar. Maka terjadilah interaksi atau pergaulan antara para pedagang tersebut dengan raja-raja, para bangsawan, dan masyarakat setempat. Kesempatan itu digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan agama Islam.
b. Melalui Perkawinan
Di antara para pedagang Islam dari Gujarat, Persia, dan Arab ada yang terus menetap di Indonesia. Hingga sekarang di beberapa kota di Indonesia terdapat kampung Pekojan. Kampung tersebut dahulu merupakan tempat tinggal para pedagang Gujarat. Koja artinya pedagang Gujarat. Sebagian dari para pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia. Terutama putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itulah, maka banyak keluarga raja atau bangsawan masuk Islam. Kemudian diikuti oleh rakyat. Dengan demikian Islam cepat berkembang.
c. Melalui Pendidikan
Para ulama atau mubalig mendirikan pondok-pondok pesantren di beberapa tempat di Indonesia. Di situlah para pemuda dari berbagai daerah dan berbagai kalangan masyarakat menerima pendidikan agama Islam. Setelah tamat mereka pun menjadi mubalig, dan mendirikan pondok pesantren di daerah masing-masing.

d. Melalui Dakwah di Kalangan Masyarakat
Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri terdapat juru-juru dakwah yang menyebarkan agama Islam di lingkungannya, antara lain:
- Dato’ri Bandang menyebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi Selatan).
- Tua Tanggang Parang menyebarkan agama Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur).
- Seorang penghulu dari Demak menyebarkan agama Islam di kalangan para bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan).
Para wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Ada sembiIan orang wali yang terkenal:
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat).
3. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim).
4. Sunan Giri (Raden Paku).
5. Sunan Derajat (Syarifuddin).
6. Sunan Kalijaga (Jaka Sahid).
7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq).
8. Sunan Muria (Raden Umar Said).
9. Sunan Gunung Jati (Faletehan).
Para wali tersebut adalah orang Indonesia asli, kecuali Sunan Gresik. Mereka memegang beberapa peran di kalangan masyarakat :
1. Sebagai penyebar agama Islam.
2. Sebagai pendukung kerajaan-kerajaan Islam.
3. Sebagai penasihat raja-raja Islam.
4. Sebagai pengembang kebudayaan daerah yang telah disesuaikan dengan kebudayaan Islam.
Karena peran mereka itulah, maka para wali sangat terkenal di kalangan rakyat.
Menggunakan Kesenian yang Disesuaikan dengan Keadaan
Ketika agama Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu masih berakar kuat. Para penyebar agama Islam tidak mengubah kesenian tersebut. Bahkan menggunakan seni budaya Hindu sebagai sarana menyebarkan agama Islam.
Seni apa sajakah yang dijadikan sarana penyebaran agama Islam?
Seni wayang. Cerita wayang tetap diambil dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Pembahan diadakan, tetapi sedikit sekali. Misalnya, perubahan nama-nama tokoh dalam cerita wayang diganti dengan nama tokoh-tokoh pahlawan Islam. Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang sangat mahir mempertunjukkan kesenian wayang kulit.
Seni tari dan musik (gamelan)
Pada upacara-upacara keagamaan, dipertunjukkan tari-tarian tradisional. Tarian itu diiringi musik (gamelan Jawa). Misalnya, gamelan Sekaten ditabuh pada waktu upacara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Upacara semacam ini diselenggarakan di ibukota beberapa kerajaan Islam.
Seni Bangunan
Gambar-gambar tersebut ialah gambar bangunan Islam, tetapi dibangun mirip bangunan Hindu. Menara masjid kuno di Kudus mirip candi. Gapura masjid kuno di dekat Tuban mirip Candi Bentar. Candi Bentar ialah gapura khas Hindu. Atap masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu mirip atap pura Hindu.
Memang, para penyebar agama Islam berusaha menyesuaikan bangunan-bangunan Islam dengan bangunan Hindu. Apakah tujuannya ? Agar rakyat tidak mengalami perubahan secara mendadak. Bila seorang beragama Hindu masuk Islam dan bersembahyang di masjid, merasa seolah-olah masuk ke sebuah pura.
Seni hias atau seni ukir
Kecuali bentuknya mirip candi, masjid-masjid kuno pun dihias dengan ukir-ukiran yang mirip ukir-ukiran khas Hindu. Seperti tampak pada gambar di bawah ini.
Seni sastra
Kitab-kitab ajaran Islam diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Dengan demikian, isinya mudah dipahami oleh rakyat.
Uraian di atas menunjukkan bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia berjalan secara damai. Baca juga: Sejarah dan Teori Masuknya Islam ke Indonesia





