berkasilmu.com – Pada abad ke-15, kerajaan terpenting di Nusantara adalah Kesultanan Malaka. Kesultanan ini didirikan oleh pangeran Hindu bernama Parameswara dari Palembang.
Parameswara adalah pangeran Palembang yang mengungsi ke Malaka akibat serangan Majapahit. Ia menemukan satu pelabuhan, terletak di Selat Malaka, yang sesuai untuk merapat kapal dagang.
Parameswara membentuk sekutu dengan orang laut, yaitu para perompak pengembara Proto-Melayu di Selat Malaka. Langkah ini dilakukan untuk mengamankan niatnya menjadikan daerah Malaka sebagai pusat perdagangan.
Daftar isi artikel
Bandar Muslim
Usaha Parameswara mulai memperlihatkan hasil setelah ia menikahi seorang putri Muslim dan memeluk agama Islam. Ia kemudian bergelar Sultan Iskandar Syah. Setelah diperintah oleh seorang penguasa Muslim, banyak pedagang Muslim mulai berdagang dengan Malaka.Gambar ilustrasi Kota Malaka zaman kerajaan
Dalam upaya memperkuat kedudukan dan melindungi diri dari ancaman Siam dan Majapahit, Parameswara meminta perlindungan dari Kerajaan Majapahit, Siam, maupun Cina.
Di kala Majapahit jaya, Malaka mengirim upeti ke Trowulan. Sewaktu kekuatan Majapahit menurun, Malaka meminta perlindungan ke Cina.
Permintaan ini diterima oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming pada tahun 1405. Sejak itu, Malaka mengirimkan upeti dan utusan ke Cina. Armada Cina dilaporkan mengunjungi Malaka hingga tahun 1434.
Perlindungan dari Cina membantu Malaka menjadi pelabuhan ramai di Selat Malaka, salah satu jalur penting dalam sistem perdagangan internasional.
Masa Kejayaan Malaka
Malaka mencapai zaman kejayaan pada pertengahan abad ke-15 selama pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1458-1477). Sultan memiliki dua orang pendamping yang tangguh dan pandai, yaitu Bendahara (Perdana Menteri) Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah.Istana Kerajaan Malaka tampak dari atas
Sultan Mansyur Syah adalah seorang terpelajar. Ia mendanai dan mendorong ilmu pengetahuan di bidang kesusastraan, sejarah, dan kebudayaan Melayu. Banyak orang asing membawa pengetahuan mereka ke Malaka.
Di bawah pemerintahan Sultan Mansyur Syah, Malaka berhasil memperluas wilayah dengan menaklukkan Pahang, Kedah, dan Trengganu serta beberapa daerah di Sumatra.
Dengan menguasai kedua sisi Selat Malaka, Kesultanan Malaka menjadi negara terkuat di Nusantara. Kegiatan perdagangan di Malaka mengalami peningkatan pesat.
Untuk meningkatkan arus perdagangan, Malaka menerapkan sistem pajak bersaing. Para pedagang asing hanya perlu membayar pajak 6% dan tambahan 1% dalam bentuk upeti.
Sementara itu, kapal milik penduduk pribumi hanya dikenai pajak 3%. Para syahbandar atau kepala pelabuhan bertanggung jawab atas kegiatan di pelabuhan dan kenyamanan para pedagang.
Berkat perdagangan, Malaka menjadi negeri yang makmur. Para penguasa Malaka tidak hanya mengumpulkan pajak dan upeti dari para pedagang. Mereka juga memiliki kapal dagang dan terlibat aktif dalam kegiatan perdagangan.
Pelajari juga: Sejarah Kerajaan Sunda yang jarang diungkap kalayak umum
Pusat Penyebaran Islam
Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam ke daerah lain di Asia Tenggara. Penaklukan wilayah oleh Malaka mendorong tersebarnya ajaran Islam. Banyak orang berpindah agama melalui pernikahan. Perdagangan juga berperan penting dalam penyebaran agama Islam. Sebagian besar
pedagang yang datang ke Malaka adalah pemeluk Islam. Di saat yang sama, para penyebar agama Islam menggunakan jalur perdagangan Malaka untuk menyebarkan Islam ke Asia Tenggara.
Kemunduran Malaka
Usia Kesultanan Malaka hanya berlangsung sekitar satu abad. Sultan terakhir Malaka, Mahmud Syah, adalah pemimpin yang lemah dan tidak peduli dengan masalah kenegaraan. Selama pemerintahannya, korupsi merajalela di kalangan pejabat.
Kehidupan kosmopolitan Kesultanan Malaka ikut memicu kemerosotan. Malaka dihuni oleh banyak orang asing, dari India, Arab, Cina, dan berbagai wilayah Nusantara.
Keberadaan mereka sering menimbulkan gesekan dengan penduduk pribumi. Lemahnya pemerintahan Malaka pada masa Sultan Mahmud Syah diperparah oleh pertikaian antara dua kelompok penduduk Malaka, yaitu kelompok Melayu dan Muslim India.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Melayu






