Nenek moyang bangsa Indonesia telah mampu memanfaatkan ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah dan mampu memanfaatkan arah angin untuk melakukan pelayaran dan perdagangan antar pulau di Nusantara. Bahkan mereka telah sampai di negara-negara lain. Hubungan perdagangan antar pulau di Nusantara berlangsung sampai dengan tahun 1500. Mulai abad ke-5 sampai 6 perdagangan sudah mulai berkembang terutama di Sumatera Tengah. Perkembangan perdagangan dilanjutkan pada masa Kerajaan Sriwijaya mulai abad ke-7, selanjutnya Kerajaan Pajajaran abad ke-8 dan abad-abad berikutnya dilanjutkan kerajaan-kerajaan yang pada saat itu berdiri di Indonesia. Hingga sampai pada abad ke-16 pelayaran dan perdagangan masih terus dilakukan oleh kerajaan-kerajaan seperti Demak, Banten, Cirebon, Banjar, dan Ternate.

Sumber dan Bahan Perdagangan
Tanah Indonesia yang subur menghasilkan berbagai jenis bahan perdagangan. Bahan-bahan perdagangan penting yang diperdagangkan antar pulau antara lain rempah-rempah, beras, hasil hutan, emas, dan barang lainnya.
Berikut ini merupakan jenis-jenis bahan perdagangan yang diperdagangkan nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu.
- Repah-rempah banyak dihasilkan di daerah Maluku. Cengkih banyak diperoleh dari Maluku Utara, pala dari Maluku Tengah, sedangkan lada banyak diperoleh dari Jawa Barat dan Sumatra.
- Beras banyak dihasilkan dari Jawa.
- Hasil hutan yang menjadi bahan perdagangan antara lain kayu cendana (Nusa Tenggara Timur), kayu gaharu, kayu besi, dan kayu hitam (Sumatera dan Kalimantan), kayu jati (Jawa), hasil hutan lainnya seperti kemenyan, kapur barus, damar, dan madu.
- Emas banyak diperoleh dari Sumatera dan Sulawesi Utara.
- Bahan perdagangan lainnya adalah ternak dari Nusa Tenggara dan Jawa Barat serta sagu dari Papua dan Maluku.
Sistem Perdagangan
Adapun cara yang digunakan dalam perdagangan antar pulau pada masa itu dilakukan dengan cara berikut.
- Sistem barter, yaitu sistem perdagangan yang dilakukan dengan cara tukar menukar barang. Cara ini biasanya dilakukan oleh para pedagang di daerah pantai dengan para pedagang atau petani di daerah pedalaman.
- Sistem mata uang, sistem ini digunakan dalam perdagangan antar pulau, antara lain ceitis dan calais (Kerajaan Pajajaran dan Pedir), dirham atau drahma dan tumadya yang merupakan mata uang emas di kerajaan Pajajaran, Jawa Timur dan Samudera Pasai. Tanga adalah mata uang perak di kerajaan Pedir. Mata uang yang biasa digunakan dalam perdagangan antarpulau adalah cash atau pitis dan picis yang merupakan mata uang Cina yang berbentuk emas.
Alat Angkut dalam Perdagangan
Untuk memperlancar perdagangan antar pulau digunakan alat angkut. Alat angkut yang digunakan pada saat itu berupa perahu, karena harus menyeberangi sungai dan melewati lautan.
Jenis-jenis perahu yang digunakan dalam perdagangan antar pulau antara lain adalah perahu besar, perahu lesung, dan jenis perahu lainnya.

1. Perahu Besar
Perahu ini biasanya terbuat dari papan dengan bentuk sesuai yang dikehendaki. Oleh karena itu disebut juga perahu papan. Perahu ini dipakai untuk memperlancar perdagangan antar pulau.
2. Perahu Lesung
Disebut perahu lesung karena hanya terbuat dari satu kayu besar yang tengahnya dilubangi sehingga berbentuk seperti lesung. Jenis perahu ini ada yang bercadik dan ada yang tidak bercadik. Tenaga yang digunakan dengan cara mendayung maupun dengan layar (angin). Perahu ini dapat digunakan sebagai alat angkut antar pulau tetapi harus diberi papan kanan dan kiri kapal.
3. Jenis Perahu lainnya
Selain menggunakan kedua jenis perahu tersebut, ada perahu yang memiliki nama khusus seperti; kora-kora, jung, tambangan, phinisi, dan beloto.
Baca juga Artikel Sejarah berikut ini.





