Sejarah Lengkap Peranan Walisongo di Jawa

Sejarah4 Dilihat

Para tokoh ulama yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di jawa adalah sembilan wali (Walisongo). Para wali ini pula yang membantu Raden Patah dalam mendirikan kerajaan Islam Demak. Demak tercatat sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Kesembila wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Muria.

tokoh Walisongo

1. Sunan Gresik

Nama asli Sunan Gresik adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, dikenal juga dengan sebutan “Maulana Magribi”. Beliau menyebarkan agama Islam di sekitar Gresik, pantai utara Jawa. Beliau dikenal sebagai wali pertama dan guru para wali di Jawa.

2. Sunan Ampel

Sunan Ampel melakukan penyebaran agama Islam di daerah Ampeldhenta, Surabaya, Jawa Timur. Sunan Ampel dikenal sebagai “Bapak Para Wali” karena kedua anaknya yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat termasuk kelompok walisongo. Sunan Ampel ikut serta dalam pembangunan Masjid Agung di Demak. Nama asli dari Sunan Ampel adalah Raden Rahmad.

3. Sunan Giri

Nama asli Sunan Giri adalah Raden Paku, putra ulama besar Syekh Maulana Ishak. Daerah penyebaran dakwahnya disekitar Giri Kedaton Gresik, Ternate dan Tidore.

4. Sunan Bonang

Sunan Bonang melakukan penyebaran Agama Islam di daerah Tuban dan Lasem, Rembang dan daerah sekitar pantai utara Jawa. Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel. Sunan  Bonang adalah guru dari Sunan Kalijaga. Nama asli Sunan Bonang adalah Makdum Ibrahim.

5. Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel. Sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan penyabar. Nama asli dari Sunan Drajat adalah Syarifuddin. Daerah penyebaran Agama Islam di daerah Drajat, sekitar Lamongan.

6. Sunan Kudus

Sunan Kudus melakukan penyebaran Agama Islam di daerah Kudus. Peninggalan Sunan Kudus yang masih sampai sekarang adalah Masjid dan Menara Kudus yang berbentuk seperti bangunan Hindu. Nama asli Sunan Kudus adalah Jafar Sodiq.

7. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Agama Islam di sekitar Demak. Cara penyebaran agama yang dilakukan adalah melalui pertunjukan seni wayang kulit. Dengan melalui pertunjukan seni wayang kulit, pengaruh ajaran Sunan Kalijaga terasa di seluruh masyarakat Jawa. Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Sahid atau Jaka Sahid.

8. Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati melakukan penyebaran Agama Islam di daerah Banten dan Cirebon. Nama asli dari Sunan Gunung Jati adalah Syarief Hidayatullah. Beliau juga dikenal sebagai panglima perang, raja dan wali.

9. Sunan Muria

Sunan Muria melakukan penyebaran Agama Islam di daerah Colo lereng gunung Muria. Nama asli dari Sunan Muria adalah Raden Umar Said.

Peranan Wali (Ulama) di Jawa

Peranan para wali ini selain dalam penyebaran agama, juga dalam bidang sosial budaya dan bidang Politik.

a. Peran Wali (Ulama) dalam bidang Agama

Peran ulama (wali) yang utama adalah usaha penyebaran agama (dakwah Islamiyah), sehingga setiap wali memiliki pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama Islam. Disamping para wali ini mengajar diperguruannya,mereka juga sering memberikan dakwah di tempat umum. Hal ini dilakukan dengan maksud meningkatkan keimanan bagi yang tidak sempat mengikuti pendidikan di pondok pesantrennya. Selain itu, para wali juga memberikan dakwah di lingkungan Kerajaan-kerajaan Islam. Selain melalui dakwah, penyebaran agama Islam juga dilakukan dengan mengasimilasikan agama dengan budaya setempat. Misalnya dengan wayang purwa, sebagaimana yang dilakukan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga juga mengasimilasikan ajaran Islam dalam gending dolanan seperti Cublak-cublak suweng dan Lir-ilir.

b. Peran Wali (Ulama) dalam Bidang Budaya

Para wali berhasil melahirkan corak kebudayaan baru sebagai hasil asimilasi kebudayaan Islam dengan kebudayaan setempat. Dari proses asimilasi kebudayaan ini seperti di daerah Jawa kita kenal dengan sebutan “Grebeg Syawalan” (di Yogyakarta), “Sekaten” (di Surakarta), “Dandangan” (di Kudus), “Besaran” (di Demak), dan “Halal bi halal” di seluruh Indonesia. Masyarakat Jawa juga mengenal adat Sura (1 Muharam), Syawalan (1 Syawal), Besaran (10 Besar), Mauludan dan sebagainya. Dalam proses akulturasi kebudayaan Islam dengan  kebudayaan Pra-Islam telah menghasilkan berbagai bentuk kebudayaan fisik seperti masjid Indramayu dan masjid Demak yang arsitekturnya seperti bangunan pura Hindu, menara Kudus, dan makam Sunan Bayat yang mirip bangunan candi Hindu.

c. Peran Wali (Ulama) dalam Bidang Politik

Peranan para wali dalam bidang politik sebagaimana yang dilakukan walisongo sangat mendukung Raden Patah dalam mendirikan Kerajaan Islam di Demak. Para ulama umumnya menjadi penasihat dan guru para raja Islam di Jawa. Misalnya, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus sebagai penasihat dan guru raja-raja di Demak. Di samping menjadi penasihat para raja Islam, juga ada wali yang menjadi raja yaitu Sunan Gunung Jati. Hal ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam, sebab semasa Nabi Muhammad masih hidup juga menjabat sebagai kepala negara (Khalifah) di Madinah.