Sejarah Para Wali Islam

Sejarah84 Dilihat

Para Wali adalah penyebar agama Islam terpenting di Nusantara. Melalui khotbah dan tindakannya, agama Islam memperoleh pijakan kuat di banyak tempat di kepulauan Nusantara. Dalam bahasa Arab, wali memiliki arti sangat tinggi dalam agama Islam.

Umumnya kata ini diterjemahkan sebagai orang suci. Dalam bahasa Jawa, wali juga diartikan sebagai rasul, penyebar utama agama Islam di Jawa. Mereka ini umumnya hidup antara abad ke-15 hingga ke-16.

WALI SANGA

Wali Sanga (Sembilan Wali) merupakan sebuah dewan dakwah yang dihormati sebagai penyebar agama Islam di Jawa. Para tokoh yang dianggap sebagai anggota Wali Sanga adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati.

Gambar lengkap wali songo

Babad Cirebon menggolongkan mereka ke dalam empat wali yang lahir di Jawa, empat wali kelahiran luar Jawa, dan wali kesembilan-yaitu Sunan Gunung Jati sebagai tokoh utama, yang merupakan Raja Cirebon.

Para wali dimitoskan memiliki kekuatan gaib karena mereka adalah ”orang terdekat dengan Allah”. Mereka dipercaya dapat melakukan sesuatu yang gaib seperti menghidupkan orang mati, menghilang dalam sekejap, pergi dan pulang dari Mekkah dalam sekejap, dan melakukan penyembuhan secara ajaib.

Tindakan gaib seperti itu berhasil mendorong penduduk setempat yang masih memeluk agama lama untuk mengikuti ajaran Islam. Dapat dikatakan bahwa ketertarikan terhadap Islam pada awalnya lebih tertuju pada hal yang bersifat gaib (tasawuf) dibanding fiqih.

Selain berperan dalam di bidang agama, para wali juga berpengaruh penting dalam pemerintahan. Mereka kebanyakan bertugas sebagai penasihat atau pembantu sultan, terutama pada masa kejayaan Kesultanan Demak. Para wali juga berperan sebagai pemberi legitimasi yang mengesahkan atau menolak seseorang naik takhta. Bahkan, antara mereka juga ada yang menjadi sultan, seperti Sunan Gunung Jati.

SYEKH SITI DJENAR

Syekh Siti Djenar dikenal juga dengan nama Syeh Lemah Abang. Ada sumber yang menyatakan bahwa sebenarnya Syekh Siti Djenar adalah salah seorang anggota Wali Sanga. Namun, ia kemudian berselisih dengan anggota Wali Sanga lainnya.

Lukisan Gambar ilustrasi Syeh Siti Jenar

Sumber perselisihan dengan anggota Wali Sanga adalah karena Syekh Siti Djenar mempakan pengikut al-Halla, yaitu aliran mistik Persia abad ke-10. Syekh Siti Djenar menyampaikan ajaran terlarang tentang “Manunggaling Kawula-Gusti” atau ”Bersatunya hamba dengan Tuhannya” .

Bagi kaum ulama konservatif, ajaran itu dianggap dapat menggoyahkan sendi agama Islam. Islam secara tegas menyatakan adanya Tuhan yang menciptakan hamba-Nya (Al Khalik dan makhluk). Syekh Siti

Djenar dijatuhi hukuman mati oleh anggota Wali Sanga lainnya setelah terlebih dahulu kedudukannya dicabut dalam dewan.

WALI LOKAL

Di samping Wali Sanga yang memilki pengaruh luas, terdapat juga beberapa wali lokal yang hanya terkenal di wilayah tertentu Terkadang para juru dakwah ini dianggap sebagai orang suci dan dikeramatkan oleh penduduk yang menerima ajarannya.

Para wali lokal itu antara lain Sunan Tembayat dari daerah Tembayat, Klaten dan Sunan Panggung, putra Sunan Bonang yang menyebarkan Islam di Tegal. Di Sulawesi Selatan, terdapat Dato’ri Bandang dan Dato Sulaeman yang menyebarkan agama Islam di Gowa dan Tallo. Sementara itu, Tuan Tunggang Parangan menyebarkan Islam ke Kutai di Kalimantan Timur.

Baca juga: Sejarah dan Teori Masuknya Islam ke Indonesia