Sejarah Lengkap Kerajaan Malaka

Sejarah2 Dilihat

Letak Geografis Malaka

Pada masa kejayaannya Kerajaan Malaka merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Perkembangan Malaka tidak dapa dipisahkan dari letaknya yang strategis dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan. Wilayah Malaka berada di semenanjung Malaya dengan ibukotanya Malaka. Malaka terletak di tepi jalur perhubungan pelayaran dan perdagangan, yaitu selat Malaka. Letaknya yang strategis itu berpengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan pemerintahan, kehidupan ekonomi dan kehidupan sosial, serta budaya masyarakatnya.

kerajaan malaka
Letak Kerajaan Malaka

Raja-Raja yang pernah memerintah Malaka

1. Iskandar Syah

Pada awal abad ke-15 di Majapahit terjadi perang saudara yang disebut perang Paregreg (tahun 1401-1406). Dalam peperangan itu seorang pangeran dari Majapahit yang bernama Paramisora atau Parameswari diiringi oleh para pengikutnya melarikan diri dari daerah Blambangan ke Tumasik (Singapura). Setibanya di Tumasik, Paramisora menganggap Tumasik kurang aman dan kurang sesuai untuk membangun suatu perkampungan, karena daerah itu dijadikan sebagai daerah persembunyian para bajak laut. Oleh karena itu, Paramisora  bersama para pengikutnya melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaya.

Didaerah Semenanjung Malaya, Paramisora bersama para pengikutnya mendirikan sebuah perkampungan. Pendirian perkampungan itu dibantu para petani dan nelayan di sekitarnya. Setelah perkampungan berdiri kemudian diberi nama Malaka. Perkampungan yang baru dibangun itu mengalami perkembangan yang pesat. Letaknya yang sangat strategis, yaitu di tepi jalur pelayaran perdagangan selat Malaka. Perkembangan yang sangat pesat itulah yang kemudian mendorong Paramisora mendirikan Kerajaan yang diberi nama Malaka. Paramisora atau Parameswari langsung menjadi raja pertama.

Aktifitas perdagangan pada masa itu didominasi oleh para pedagang Islam. Mereka hanya mau mengadakan aktifitas perdangangan dengan para bandar-bandar perdaganga Islam.  Oleh karena itu, Paramisora memutuskan untuk memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Iskandar Syah. Kerajaan Malaka juga dijadikan sebagai kerajaan Islam. Dalam rangka menjaga keamanan Malaka, pada tahun 1405 Iskandar Syah meminta bantuan pada Kaisar Cina agar diberikan perlindungan apabila ada serangan dari kerajaan lainnya.

Iskandar Syah berhasil meletakkan dasar-dasar dari kerajaan Malaka. Ia menjadikan Kerajaan Malaka sebagai kerajaan penting di selat Malaka dan menjalankan pemerintahannya dari tahun 1396 sampai tahun 1414.

2. Muhammad Iskandar Syah

Setelah Iskandar Syah wafat, tahta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Iskandar Syah. Ia memerintah Malaka dari tahun 1414 sampai tahun 1424. Dibawah pemerintahanya, wilayah kekuasaan Malaka diperluas hingga mencapai seluruh wilayah semenanjung Malaya. Untuk memajukan perekonomiannya, Muhammad Iskandar Syah berupaya menjadikan Malaka sebagai penguasa tunggal jalur pelayaran perdagangan di Selat Malaka. Untuk mencapai usahanya ia harus dapat menguasai Samudera Pasai. Akan tetapi menyerang Samudera Pasai merupakan hal yang tidak mungkin, mengingat pasukan perang Samudera Pasai lebih kuat dibanding pasukan kerajaan Malaka. Oleh karena itu  Sultan Muhammad Iskandar Syah memilih jalan perkawinan, yaitu mengawini putri dari Samudera Pasai.

Melalui perkawinannya Sultan Muhammad Iskandar Syah berhasil mencapai cita-citanya. Dibawah pemerintahannya pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka semakin bertambah  ramai. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan Malaka dalam aktifitas perdagangan.

Muhammad Iskandar Syah berhasil membawa Malaka ke masa kejayaannya sebagai kerajaan Maritim. Namun ditengah-tengah kejayaanya itu terjadi pemberontakan dari saudara sendiri bernama Mudzafat Syah.

3. Sultan Mudzafat Syah

Setelah Mudzafat Syah berhasil menyingkirkan Muhammad Iskandar Syah, ia langsung naik tahta menjadi Raja Malaka dan bergelar Sultan. Dengan Demikian, Mudzafat Syah merupakan Raja yang bertama mempergunakan gelar sultan di Malaka. Mudzafat Syah memerintah kerajaan Malaka dari tahun 1424 sampai tahun 1458. Pada masa pemerintahannya terjadi serangan dari Kerajaan Siam. Serangan itu dilakukan dari darat maupun dari laut. Namun serangan itu dapat digagalkan. Keberhasilan Malaka menggagalkan serangan  Siam menjadikan Malaka semakin bertambah penting peranannya di Selat Malaka. Bahkan dibawah pemerintahan Sultan Mudzafat Syah, Malaka mengadakan perluasan di daerah-daerah sekitar Malaka, seperti Pahang, Indragiri, dan Kampar.

4. Sultan Mansyur Syah

Setelah Sultan Mudzafat Syah wafat, tahta Kerajaan Malaka dipegang oleh putranya yang bernama Sultan Mansyur Syah. Sultan Mansyur Syah memerintah kerajaan Malaka dari tahun 1458 sampai tahun 1477. Dibawah pemeintahannya Malaka mencapai masa kejayaannya. Malaka berhasil menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Kejayaan yang dialami oleh Malaka adalah berkat usaha Sultan Mansyur Syah melanjutkan politik ayahnya dengan memperluas wilayah kekuasaannya, baik di Semenanjung Malaya maupun di Sumatra tengah. Kemudian kerajaan Siam dikuasainya, Raja Siam tewas dalam suatu pertempuran, dan putra mahkotanya ditawan oleh pasukan Malaka. Putra Mahkota Siam dibawa ke Malaka dan selanjutnya dikawinkan dengan Putri Sultan. Ia diangkat menjadi Raja dengan gelar Ibrahim. Indragiri dan Rokan mengakui kekuasaan Malaka.

Pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah, hidup seorang laksamana yang terkenal. Laksamana itu membantu Sultan Mansyur Syah dalam mengembangkan Malaka. Laksamana itu bernama Laksamana Hang Tuah. Kebesaran Laksamana Hang Tuah sering disamakan dengan kebesaran Patih Gajah Mada dari Majapahit.

5. Sultan Alauddin Syah

Pengganti Sultan Mansyur Syah adalah Sultan Alauddin Syah. Ia memerintah Malaka dari tahun 1477 sampai 1488. Sultan Alauddin Syah mewarisi wilayah kerajaan yang sangat luas. Perkembangan perekonomian tetap stabil pada awal pemerintahannya. Namun karena Sultan Alauddin Syah kurang cakap dalam pemerintahan maka kekuasaan Malaka mulai mengalami pemerosotan. Daerah-daerah yang dahulunya berhasil ditakhlukkan oleh pendahulunya, akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan Malaka.

6. Sultan Mahmud Syah 

Setelah Sultan Alauddin Syah Wafat, tahta kerajaan digantikan oleh Sultan Mahmud Syah (tahun 1488-1511). Dibawah pemerintahannya, Malaka merupakan kerajaan yang sangat lemah. Daerah kekuasaannya meliputi sebagian kecil semenanjung Malaya. Pada masa pemerintahannya muncul pula ekspedisi bangsa Portugis dibawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Bangsa Portugis berhasil menguasai Malaka ditahun 1511 dengan mengakhiri kekuasaan Malaka.

Kehidupan Ekonomi Masyarakat Malaka

Peranan Malaka sebagai penguasa perdagangan di Asia Tenggara pada masa itu terlihat dari ramainya perdagangan yang berpusat di ibukota Kerajaan. Kapal-kapal dari Indonesia bagian timur membongkar baeang dagangannya di ibukota kerajaan. Demikian juga kapal-kapal yang datang dari negeri Cina, India maupun arab bertujuan membeli dan mengangkut barang-dagangan ke negerinya. Ada juga barang dagangan yang diteruskan ke Eropa melalui pelabuhan Venesia. Dari aktifitas perdadgangan tersebut Malaka memungut pajak penjualan, bea cukai barang-barang yang masuk dan keluar. Keadaan yang demikian membuat kehidupan masyarakat malaka semakin sejahtera dan kas Kerajaan Malaka semakin terisi. Disamping itu untuk mempermudah terjalin komunikasi antar pedagang bahasa melayu dijadikan bahasa perantara.

Kehidupan Sosial Masyarakat Malaka

Kehidupan sosial masyarakat Malaka dipengaruhi oleh faktor letak, keadaan alam dan faktor lingkungan wilayahnya. Masyarakat Malaka disebut sebagai masyarakat maritim. Sebagai masyarakat yang hidup dalam dunia maritim, hubungan sosial masyarakatnya sangat terbatas. Bahkan diantara mereka cenderung mangarah ke sifat individualistis. yaitu berusaha memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu hubungan sosial masyarakat maritim sangat berbeda dengan masyarakat agraris.

Kehidupan Budaya Masyarakat Malaka

Kehidupan budaya masyarakat Malaka tidak begitu jelas dan tidak diketahui secara pasti. Namun demikian, dari perkembangan sastra melayu, terdapat hasil karya yang sudah memiliki mutu yang sangat tinggi. Karya sastra masyarakat malaka lebih banyak memuat cerita-cerita tentang kepahlawanan. Tokoh-tokoh yang mengisi cerita tradisi melayu diantaranya Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir.

Baca juga :