Peninggalan sejarah adalah jejak masa lampau. Dari peninggalan ini kita dapat mengetahui kejadian pada masa lalu. Bentuk peninggalan sejarah di Provinsi Bengkulu cukup banyak, mulai dari zaman prasejarah (zaman megalitikum), zaman kerajaan, sampai penjajahan. Peninggalan-peninggalan tersebut ada yang berbentuk benda-benda purbakala, bangunan, dan makam. Situs Prasejarah Situs merupakan tempat atau daerah ditemukannya benda-benda purbakala. Benda-benda tersebut menunjukkan adanya kehidupan/ peradaban manusia pada masa lampau. Provinsi Bengkulu mempunyai banyak peninggalan berwujud situs. Situs-situs itu tersebar di beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, dan Kaur. Bentuk peninggalan zaman megalitikum yaitu dolmen, menhir, altar batu, tetralit, nekara, punden, alat batu, batu bertulis, beliung persegi, lumpang batu, kursi batu, dan lesung batu. Berikut beberapa situs peninggalan zaman megalitikum di Provinsi Bengkulu. Nama Situs prasejarah di Provinsi Bengkulu Secara Lengkap adalah sebagai berikut:
- Talang Padang. Dolmen
- Nagarantai. Tetralit
- Pagar dewa. TetraIit
- Sukarami. Domlen, tetralit
- Sebilo. Dolmen berkaki 3
- Kotabumi. Dolmen berkaki 4
- Massat II. Dolmen berkaki 3
- Rantaupanjang. Menhir, punden, alat batu
- Bukit Gerinsing. Dolmen, altar batu
- Padang Peri. Nekara perunggu
- Pandan. Batu perahu
- Lawang Agung. Batu bertulis
- Pasar Tengah. Beliung persegi
- Batu keris. Menhir
- Talang Sakti. Lumpang batu/ bejana batu
- Padang Genting. Beliung persegi
- Talang Macan. Kursi batu
- Air Putih Biru. Beliung persegi
- Talang Leak. Beliung persegi
- Batu Belarik. Tetralit
Rumah Pengasingan Bung Karno Presiden Soekarno atau Bung Karno, proklamator kemerdekaan Bangsa Indonesia, pernah diasingkan ke Bengkulu. Rumah pengasingan beliau terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Pada awalnya rumah tersebut merupakan rumah tinggal orang Cina yang bernama Tan Eng Cian, penyalur bahan pokok untuk Pemerintah Kolonial Belanda. Soekarno menempati rumah tersebut sejak tahun 1938 hingga 1942.

Dilihat dari gaya bangunannya, rumah tersebut dibangun pada abad XX. Bentuknya empat persegi panjang dengan ukuran 9×18 meter. Atapnya berbentuk limas. Beberapa peninggalan sejarah yang beliau tinggalkan adalah sepeda, buku, dan pakaian, kosturn sandiwara tonil montecarlo, dan properti. Benteng Marlborough Benteng Marlborough merupakan benteng bersejarah yang sudah cukup dikenal. Inilah benteng peninggalan Inggris terbesar di Indonesia. Benteng Marlborough berada di pusat kota Bengkulu. Benteng ini merupakan warisan pada masa penjajahan kolonial Inggris yang dibangun pada tahun 1714. Di dalam benteng ini terdapat sebuah lorong bawah tanah yang menghubungkan benteng dengan area di luar benteng.

Sebenarnya, belum banyak yang mengetahui bahwa Benteng Marlborough bukan sekadar benteng pertahanan. Pada masa kolonialisme Inggris, benteng ini juga sebagai kantor pusat perdagangan, pemerintahan, dan untuk mengawasi jalur perdagangan melalui Selat Sunda. Dahulu Benteng Marlborough juga dihuni oleh pegawai sipil dan tentara Inggris. Bahkan menurut sebuah sumber, pada tahun 1792 terdapat 90 pegawai sipil dan militer yang tinggal serta bekerja di Benteng Marlborough. Para petinggi atau perwira senior tinggal dalam lingkungan benteng bersama keluarga mereka. Benteng ini menyerupai hunian dalam kota kecil dikelilingi tembok tebal.Museum Negeri Bengkulu Museum Negeri Bengkulu terletak di Padang Harapan. Di museum ini terdapat koleksi benda bersejarah, seperti batu-batu prasejarah, gendang tembaga kuno, dan rumah adat kayu. Koleksi lainnya adalah kain batik Bengkulu yang disebut kain besurek. Kain ini mempunyai motif gabungan antara kaligrafi Arab dan motif matahari dari masa Majapahit.

Di museum ini juga terdapat maket rumah adat dari daerah Bengkulu, senjata-senjata tradisional, alat-alat tradisional, musik-musik tradisional, tulisan-tulisan kuno, bahan-bahan tembikar, mesin cetak kuno, mata uang kuno (kertas dan logam), dan lain-lain. Ada juga produk tekstil dari Pulau Enggano beserta alat tenunnya.
Monumen Parr (Kuburan Bulek) Monumen ini merupakan peninggalan pemerintah kolonial Inggris untuk memperingati tewasnya Residen Thomas Parr (1805-1807) yang terbunuh pada tanggal 27 Desember 1807. Residen ini terbunuh oleh rakyat Bengkulu. Monumen yang juga disebut Kuburan Bulek ini terletak di sebelah tenggara dari Benteng Marlborough.

Tugu tersebut berbentuk segi delapan dan diberi tiang-tiang. Di dalamnya terdapat pintu masuk yang ada di bagian depan dan sisi kanan-kiri. Bentuk pintu masuknya lengkung sempurna tanpa daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam terdapat sebuah prasasti, tetapi pada saat ini sudah tidak terbaca lagi. Bagian atas tugu diberi atap berbentuk kubah. Pada saat ini lingkungan sekitar monumen berkembang menjadi kawasan Pasar Baru Kota.Masjid Jamik Selama masa pembuangannya di Bengkulu, Ir. Soekamo sempat menjadi arsitek pembangunan sebuah masjid tua yang berada di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di persimpangan jalan antara Jalan Sudirman dan Jalan Suprapto.

Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Bung Karno. Renovasi masjid ini dilaksanakan pada tahun 1938. Bung Karno berperan sebagai arsitek dan membuat maket Masjid Jamik serta turut mengawasi langsung proses pemugarannya.MAKAMMakam Raja-Raja Pada zaman dahulu di Provinsi Bengkulu berdiri beberapa kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan ini hanya memiliki wilayah yang kecil. Meskipun begitu, kerajaan-kerajaan ini turut memberikan warna sendiri bagi peradaban dari zaman kerajaan ini.

Satu bentuk peninggalan yang masih tersisa dari zaman itu adalah makam raja-raja. Di kabupaten Bengkulu Utara ada Makam Raja-Raja Sungai Limau (1550-1852) dan Makam Ratu Samban (1862-1875). Di Kabupaten Rejang Lebong ada situs Pute Giri yang merupakan Makam Dipati Pekat.Makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo Sentot Alibasyah adalah salah satu pahlawan. Beliau seorang panglima dalam Perang Diponegoro(1825-1830). Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro, Sentot dan para pengikutnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memerangi kaum Paderi di Sumatra Barat. Oleh karena dianggap bersimpati terhadap perjuangan kaum Paderi, akhirnya Sentot Alibasyah dibuang di Bengkulu hingga akhir hayatnya.

Makam Sentot Alibasyah terletak di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara. Letaknya sekitar 1,2 km dari Benteng Marlborough. Pada makam Sentot tertulis tanggal pemakaman 17 April 1885. Menurut penuturan masyarakat, bangunan cungkup yang ada di atas makam Sentot Alibasyah adalah bangunan baru. Hal itu menunjukkan bangunan makam tersebut pada awalnya sangat sederhana, tanpa bangunan tambahan. Makam tidak ditandai dengan nisan. Pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Sentot Alibasyah ke Bengkulu untuk mencegah tumbuhnya semangat perlawanan dari masyarakat yang bersimpati kepada perjuangan beliau. Baca juga: Peninggalan Sejarah Riau yang Masih Ada Hingga Saat Ini





