Setiap peradaban yang pernah tumbuh dan berkembang di suatu wilayah akan meninggalkan bekas atau jejak. Jejak sejarah itu ada yang ditemukan di tempat aslinya, ada pula yang tersimpan di daerah lain. Begitu pula jejak sejarah Provinsi Jambi. Di wilayah Provinsi Jambi masih ditemukan berbagai peninggalan sejarah, mulai dari zaman prasejarah, kerajaan, sampai dengan masa perjuangan.SITUS PRASEJARAH Ada beberapa tempat yang menunjukkan bahwa dahulu di Provinsi Jambi bermukim manusia purba atau prasejarah. Jejak-jejaknya yang berupa situs masih dapat dilihat sampai sekarang. Persebarannya terpusat di daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti kawasan sekitar danau atau sungai. Bentuk peninggalannya, seperti batu megalitik, alat-alat rumah tangga (keramik, gerabah) dan hunian berupa gua alam.

Di dataran tinggi Kabupaten Merangin yang subur dapat dijumpai bentuk peninggalan megalitik (batu larung) beserta huniannya. Peninggalan megalitik tersebut terletak di Dusun Duo dan Nilodingin. Daerah sekitar Danau Kerinci juga ditemukan bentuk peninggalan prasejarah, seperti Batu Patah dan Batu Bergambar di Desa Muak, Batu Meriam di Desa Lempur, serta Batu Gong di Desa Pondok. Selain itu, ditemukan pula alat tetabuhan (genderang) yang diperkirakan berasal dari zaman besi dan tembaga. Bentuk hunian manusia purba yang dapat disaksikan sampai saat ini yaitu Gua Tiangko. Gua yang terletak di dekat Desa Sengering, 9 km Sungai Manau, ini pernah dihuni manusia purba sekitar 9 000 tahun yang lalu Saat ini Gua Tiangko yang mempunyai stalaktit dan stalakmit ini dijadikan salah satu cagar alam di Provinsi Jambi.SITUS SEJARAH Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur banyak ditemukan benda-benda bersejarah. Ada beberapa situs sejarah yang sudah diteliti dan digali di wilayah ini, seperti Situs Lambur Dalam I dan II, Situs Lambur Luar, serta Situs Air Hitam Laut.

Di situs Lambur Luar yang terletak di Kecamatan Muara Sabak ditemukan benda-benda arkeologi, seperti keramik, gerabah, dan sisa-sisa perahu. Situs ini diindikasikan mempunyai hubungan dengan Situs Lambur Dalam I dan II yang berada di daerah pedalaman. Situs Air Hitam Laut berada di tepi pantai Jambi, tepatnya di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu. Selain berupa situs permukiman pantai, di wilayah ini juga ditemukan keramik dan tembikar. Sebagian besar bukti sejarah ini tersimpan di Museum Pondok Pesantren Wali Peetu desa setempat. Situs sejarah ini menunjukkan bahwa di daerah Muara Sabak (Kabupaten Tanjung Jabung Timur, telah berlangsung peradaban manusia. Hal ini tidak mengherankan karena menurut sejumlah ahli sejarah, dahulu Muara Sabak adalah pusat perdagangan Asia Tenggara. Ada satu situs lagi yang tidak bisa dipisahkan dari peradaban Jambi, yaitu Situs Rantau Kapas Tuo. Di situs yang terletak 32 kilometer dari Muaro Jambi ini ditemukan dua Area Bodhisatwa Avalokiteswara. Kedua arca ini ditemukan penduduk secara berjejer di sebuah kebun tahun 1991. Satu arca kakinya patah terkena cangkul. Arca Avalokiteswara yang diperkirakan berasal dari abad X/ XII ini terbuat dari perunggu dan berlapis emas 22 karat. Saat ini kedua arca tersebut disimpan di Museum Negeri Jambi.Situs Sejarah Muara Jambi Inilah salah satu situs sejarah terluas di Indonesia. Luas situs ini sekitar 12 km, membentang 7,5 km sepanjang aliran Sungai Batanghari. Secara administratif situs ini terletak di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi. Situs ini merupakan peninggalan budaya zaman Hindu dan Buddha. Di dalamnya ditemukan lebih dari 80 titik yang diduga sebagai kompleks candi. Tiap kompleks candi dihubungkan oleh kanal (sungai kecil) yang dapat dilalui perahu. Salah satu kompleks candi diduga sebagai Kota Jambi Tua yang merupakan kota Kerajaan Melayu Tua. Kerajaan ini mencapai kejayaan pada abad XIII. Dari sekitar 80 titik yang diduga candi, baru 10 candi yang berhasil dipugar, yaitu candi Kota Mahligai, Gumpung, Astano, Kedaton, Duku, Gedong I, Gedong II, Kembarbatu, Tinggi, dan Teluk. Candi lainnya masih terkubur di belantara hutan dan pekarangan penduduk berupa gundukan batu. Gundukan batu ini oleh masyarakat setempat disebut menapo.

Selain itu, ditemukan pula beberapa kolam pemandian. Salah satunya adalah kolam Talago Rajo. Kolam pemandian ini terletak 100 meter sebelah tenggara candi Gumpung. Sampai saat ini pun di daerah itu masih ditemukan benda-benda purbakala, seperti keramik, arca, dan benda-benda logam oleh penduduk setempat. Situs Karang Berahi Satu hal yang terkenal dari situs ini adalah Prasasti Karang Berahi. Di sinilah prasasti yang menunjukkan kebesaran Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan. Situs Karang Berahi terletak di Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin. Posisinya terletak 200 meter dari Sungai Batang Merangin yang menjadi jalur transportasi dan perdagangan waktu itu.

Sebelah utara situs ini terdapat danau yang menjadi sumber irigasi pertanian. Selain prasasti, dalam situs ini ditemukan pula struktur bangunan bata segi empat berukuran 5,26 x 1,96 meter dan empat periuk tanah liat. Di daerah sekitar situs masih dijumpai sisa-sisa struktur bata yang diperkirakan sisa-sisa sebuah bangunan. BANGUNANMasjid Masjid Pondok Tinggi atau Masjid Agung Pondok Tinggi adalah bukti peradaban Islam di Provinsi Jambi. Masjid yang terletak di Desa Pondok Tinggi, Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci ini dibangun tahun 1874. Pengerjaan bangunan ini dilakukan oleh masyarakat setempat secara bergotong royong. Semula dinding bangunannya terbuat dari bambu, sedangkan atapnya terbuat dari ijuk.

Atap bangunan tersebut bertingkat (tumpang) tiga seperti pagoda dan diujung atapnya terdapat mustaka berbentuk gada. Penopang bangunan masjid ini berupa tiang-tiang kayu yang diberi hiasan ukiran. Lantai masjid menggunakan ubin yang didatangkan dari Belanda. Tahun 1890 Masjid Pondok Tinggi mengalami renovasi. Dindingnya diganti dengan kayu, sedangkan atapnya diganti dengan seng. Salah satu yang istimewa dari masjid ini yaitu penyambungan kayunya tidak menggunakan pasak besi, tetapi pasak kayu. Bangunan masjid ini dihias dengan beragam ukiran yang bermotif sulur-suluran, tumpal, flora, dan medalian. Selain Masjid Pondok nggi, masih ada beberapa masjid yang tergolong peninggalan sejarah seperti Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Koto Tuo Pulau Tengah, Nurul Iman Lolo Hilir, Tamiang Hilir, Lempur Murdik, dan Masjid Lempur Tengah. Museum Ada beberapa museum yang terdapat di Provinsi Jambi. Meskipun museum-museum itu dibangun setelah masa kemerdekaan, tetapi di dalamnya tersimpan benda-benda bersejarah. Museum-museum tersebut, antara lain Museum Negeri Jambi, Museum Perjuangan Rakyat Jambi, dan Museum Budaya Jambi.

Museum Negeri Jambi dibangun tahun 1981 di atas tanah seluas 13.350 m2. Luas bangunan museumnya 4.000 m2. Di dalamnya, terdapat koleksi benda-benda bersejarah berasal dari abad VII sampai XI, seperti bentuk rumah tradisional Jambi, alat-alat rumah tangga (keramik dan gerabah), arca, dan batik khas Jambi. Lokasi museum Negeri Jambi berada di Telanaipura, Kota Jambi. Tepatnya di sudut antara Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Prof. Dr. Sri Sudewi. Museum Perjuangan Rakyat Jambi dibangun di atas tanah seluas 1.360 m2. Lokasinya berada di sudut pertigaan Jalan Sultan Thaha, Slamet Riyadi, dan Sultan Agung. Bangunan museum ini berbentuk rumah tradisional Jambi. Sebagian besar koleksi museum berupa benda-benda yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Salah satunya yaitu pesawat tempur Catalina. Pesawat yang dipajang di depan bangunan museum ini pernah digunakan oleh tentara Indonesia. Pesawat ini tertembak jatuh di Sungai Batanghari tahun 1948. Makam Sejumlah makam yang menunjukkan bukti sejarah Jambi masih terpelihara hingga saat ini. Makam-makam tersebut merupakan makam dari orang-orang besar Jambi, seperti raja, para penguasa, dan tokoh-tokoh perjuangan. Salah satunya yaitu makam Sultan Thaha Syaifuddin.

Makam ini terletak di Kelurahan Muara Tebo, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo. Areal bangunan makam seluas 50×50 meter. Sultan Thaha Syaifuddin adalah salah satu Raja Kesultanan Jambi yang memimpin rakyat Jambi mengusir penjajah Belanda. Berkat jasanya ini, Sultan Thaha Syaifuddin yang gugur tanggal 27 April 1904 ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 079/TK/77 tertanggal 1 Februari 1977. Selain Makam Sultan Thaha Syaifuddin, masih ada beberapa makam yang termasuk peninggalan sejarah. Berikut ini makam-makam peninggalan sejarah tersebut.
- Puteri Ayu di Kelurahan Sungai Putri, Telanaipura, Kota Jambi
- Raden Mattahir di Kota Jambi
- Raden Mahmud Majuddin di Kota Jambi
- Kompleks Makam Rajo-Rajo di Kampung Baru Broni, Kota Jambi
- Tamul Yaman di Kelurahan Tahtul Yaman, Pelayangan, Kota Jambi
- Syekh Burhanuddin di Kecamatan Tabir Ulu. Kabupaten Merangin
- Rajo Tiangso di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin
- Pakubuwono III di Desa Lubuk Landai, Tanah Sepenggal, Bungo
- Orang Kayu Hitam di Desa Simpang, Rantau Rasau, Tanjatim
- Orang Kayo Pingai di Desa Rawa Sari, Tanjatim
Demikian peninggalan sejarah Jambi, silahkan baca juga: Peninggalan Sejarah Provinsi Bengkulu





