Kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dan kedua di Nusantara adalah Tarumanegara, yang diperkirakan terbentuk pada abad ke-5. Keberadaan kerajaan ini diketahui dari tujuh prasasti yang ditemukan di Bogor, Jakarta, dan Banten, serta berita dari seorang pengelana Cina bernama Fa-hsien.
Satu-satunya penguasa Tarumanegara yang diketahui namanya adalah Purnawarman. Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai dirinya. Dalam Prasasti Pasir Koleangkak dikatakan bahwa Pumawarman adalah seorang penguasa yang gagah, mengagumkan, dan jujur dalam tugas. la juga disebut sebagai pejuang kawakan yang baju zirahnya tidak dapat ditembus senjata musuh dan senantiasa berhasil menggempur kota-kota lawan.

PURNAWARMAN YANG DERMAWAN
Pada tahun ke-22 pemerintahannya, Pumawarman memerintahkan penggalian sebuah saluran yang disebut Sungai Gomati sepanjang 6.122 tombak (kurang lebih 12 km) di sisi Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi). Diduga, saluran ini dibuat untuk memperlancar pengaliran air Kali Bekasi agar tidak menimbulkan banjir yang dapat merusak lahan pertanian rakyat. Setelah 21 hari, penggalian tersebut selesai. Raja kemudian menyumbang 1.000 ekor sapi kepada para brahmana sebagai ungkapan syukur.
Sikap yang memerhatikan kepentingan rakyat ini memberi kesan bahwa Pumawarman adalah raja yang berhasil menciptakan suasana damai dan tenteram dalam kerajaan. Sikap murah hati dan bijaksana dari sang raja disanjung dalam prasasti yang ditemukan. Bahkan pada Prasasti Ciaruteum, jejak telapak kaki Purnawarman disetarakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu. Pada kebudayaan India kuno, tapak kaki melambangkan kekuasaan yang diberkati para dewa dan dicintai rakyat.
FA-HSIEN
Fa-Hsien adalah pengelana Cina yang terpaksa mendarat di Jawa pada tahun 414 akibat badai. Ia melaporkan bahwa di Tarumanegara hanya ada sedikit orang yang beragama Buddha. Ia mengeluh bahwa kebanyakan penduduk adalah pengikut para brahmana dan pengikut agama kotor. Kemungkinan besar yang dimaksud sebagai agama kotor ini adalah agama asli penduduk Nusantara. Fa-Hsien menyebutnya sebagai agama kotor kemungkinan karena agama itu berbeda dengan agama Buddha dan Hindu yang dikenalnya.





