Pada tahun 1950-1959 keamanan dan perdamaian dunia terancam, sebab adanya pertentangan antara dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, Kedua negara adidaya itu masing-masing memiliki blok, Blok Barat dan Blok Timur. Bila pertentangan itu meningkat menjadi perang, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, tentu ikut merasakan akibatnya. Keamanan dan ketenteraman dalam negeri Indonesia akan terancam.
Oleh karena itu, politik luar negeri bebas aktif pada masa itu ditujukan untuk meredakan ketegangan dunia. Pertentangan antara kedua negara adidaya tersebut harus dicegah, agar perdamaian dunia tetap terpelihara.
Salah satu usaha Indonesia untuk meredakan ketegangan dunia ialah memprakarsai dan menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika. Ternyata bahwa usaha Indonesia mendapat dukungan negara-negara Asia-Afrika. Dengan demikian, Konferensi Asia-Afrika. merupakan puncak usaha politik luar negeri bebas aktif untuk memelihara perdamaian dunia. Kecuali itu, Konferensi Asia-Afrika merupakan cetusan rasa solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika.
Dasar-dasar dan Pertimbangan Diselenggarakannya konferensi Asia-Afrika
1. Benua Asia dan Afrika berbatasan, dan mempunyai ciri-ciri geografis yang hampir sama.
2. Bangsa-bangsa Asia-Afrika mempunyai persamaan sejarah dan nasib, yakni pada umumnya pernah menderita karena penindasan Imperialisme Barat.
3. Perdamaian dunia terancam, karena adanya pertentangan antara Blok Barat dengan Blok Timur.
4. Di antara negara-negara Asia yang telah merdeka, ada yang belum menyadari akan perlunya persatuan.
- RRC bersengketa dengan Taiwan, karena memperebutkan Pulau Quemoi.
- India bersengketa dengan Pakistan, karena masalah Kashmir.
- Korea Utara bersengketa dengan Korea Selatan, karena masalah perbatasan.
- Perang Vietnam antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan masih berkecamuk.
5. PBB seringkali tidak mampu mengatasi sengketa antarnegara.
6. Negara-negara Asia-Afrika yang telah merdeka perIu menjalin kerja sama untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
Konferensi-konferensi Pendahuluan Sebelum dilaksanakan Konferensi Asia-Afrika diadakan konferensi pendahuluan, yaitu Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor. Pembahasan selengkapnya sebagai berikut:
1. Konferensi Kolombo
Pada tanggal 28 April – 2 Mei 1954 diadakan konferensi di Kolombo, ibu kota Srilangka. Konferensi itu dihadiri oleh lima orang perdana menteri.
- Perdana Menteri Indonesia: Mr. Ali Sastroamijoyo
- Perdana Menteri India : Jawaharlal Nehru
- Perdana Menteri Pakistan : Mohammad Ali
- Perdana Menteri Srilangka: Sir John Kotelawala
- Perdana Menteri Birma : U Nu
Dalam konferensi itulah Perdana Menteri Indonesia Mr. Ali Sastroamijoyo mengemukakan prakarsa untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika. Ternyata prakarsa Mr. Ali Sastroamijoyo diterima baik oleh rekan-rekannya, keempat orang perdana menteri. Oleh karena itu, Konferensi Kolombo merupakan konferensi pendahuluan pertama untuk mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika. Karena dihadiri oleh perdana menteri dari lima negara, maka Konferensi Kolombo juga disebut Konferensi Pancanegara I.
Selanjutnya Konferensi Kolombo dengan suara bulat memutuskan akan mengadakan Konferensi Asia-Afrika, dan Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggara.
2. Konferensi Bogor
Untuk persiapan selanjutnya, pada tanggal 28/29 Desember 1954 diadakan konferensi pendahuluan kedua di Bogor. Konferensi Bogor dihadiri oleh kelima orang perdana menteri yang hadir dalarn Konferensi Kolombo, dan dinamakan Konferensi Pancanegara II. Konferensi ini mengeluarkan keputusan-keputusan penting.
- Konferensi Asia-Afrika akan diselenggarakan di Bandung pada tanggal. 18-24 April 1955.
- Negara-negara yang akan diundang sebanyak tiga puluh (termasuk Indonesia, India, Pakistan, Srilangka, dan Birma sebagai negara pengundang).
- Menetapkan rancangan agenda/acara konferensi, dan merumuskan tujuan pokok konferensi.
- Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat.
Kelima negara yang para perdana menterinya hadir dalam Konferensi Kolombo maupun Konferensi Bogor terkenal sebagai negara-negara sponsor Konferensi Asia-Afrika, atau negara-negara pengundang. Ada pula yang menamakan negara-negara Kolombo.
Penyelenggara Konferensi Asia-Afrika

Dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika beberapa orang tokoh bangsa Indonesia memegang peranan penting dalam kepengurusan konferensi, yaitu sebagai berikut:
- Ketua Konferensi: Mr. Ali Sastroamijoyo Sekretaris Jenderal Konferensi: Ruslan Abdulgani
- Ketua Komite Kebudayaan: Mr. Muhammad Yamin
- Ketua Komite Ekonomi: Prof. Ir. Rooseno.

Sesuai dengan rencana, Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan pada tanggal 18 -24 April 1955 di gedung Merdeka, Bandung. Konferensi dihadiri oleh wakil-wakil dari 29 negara, termasuk lima negara sponsor (pengundang).

Negara-negara sponsor (pengundang):
- Indonesia
- India
- Pakistan
- Srilangka
- Birma
Negara-negara yang diundang dalam Konferensi Asia – Afrika adalah sebagai berikut:
Negara-negara Asia:
- Philipina
- Muang Thai (Thailand)
- Kamboja
- Laos
- Jepang
- RRC
- Vietnam Utara
- Vietnam Selatan
- Nepal
- Afganistan
- Irak
- Iran
- Saudi Arabia
- Syria (Suriah)
- Yordania
- Libanon
- Turki
- Yaman
Negara-negara Afrika:
- Mesir
- Sudan
- Ethiopia
- Liberia
- Libia
- Ghana = Gold Coast (Pantai Emas).
Negara-negara yang diundang, tetapi tidak hadir ialah Federasi Afrika Tengah (Rhodesia dan Nyasa), sebab di negara tersebut sedang terjadi pergolakan politik. Orang-orang kulit hitam (Negro) menentang diskriminasi ras yang dijalankan oleh penguasa kulit putih. Negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika mempunyai pandangan politik yang berbeda-beda.
- Negara-negara pro Barat: Philipina, Muang Thai, Pakistan, Iran, Turki, dan Jepang.
- Negara-negara pro Komunis: RRC dan Vietnam Utara.
- Negara-negara yang tidak masuk dalam Blok Barat maupun Blok Timur. Indonesia, India, Srilangka, Birma, Mesir, dan Irak.
Kecuali negara-negara tersebut, negara-negara peserta yang lain belum menampakkan pandangan politiknya. Meskipun negara-negara pesertanya berlain-lain pandangan politiknya, tetapi konferensi dapat berjalan lancar. Sebab para peserta konferensi tidak mempermasalahkan perbedaan. Mereka lebih menonjolkan persamaan dan rasa solidaritas (setia kawan). Konferensi dibuka secara resmi oleh Presiden Sukarno dengan menyampaikan pidato pembukaan pada tanggal 18 April 1955.
Tujuan Konferensi Asia-Afrika
Tujuan Konferensi Asia-Afrika adalah sebagai berikut:
- Memajukan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia-Afrika di lapangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
- Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme.
- Memperbesar peranan Asia-Afrika di dunia, dan ikut serta mengusahakan perdamaian dunia.
Keputusan-keputusan Konferensi Keputusan yang di dapat dari Konferensi Asia-Afrika adalah sebagai berikut:
1. Memajukan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia-Afrika di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan. Antara lain memajukan perdagangan, memajukan pengajaran, dan pertukaran pelatih serta guru.
2. Membantu perjuangan menentang imperialisme.
- Menuntut kemerdekaan Aljazair, Tunisia, dan Maroko.
- Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat, dan tuntutan Yaman atas Aden.
3. Masalah hak asasi manusia
- Menjunjung hak-hak asasi manusia seperti yang tercantum dalam Piagam PBB. b. Menentang diskriminasi ras.
4. Ikut aktif mengusahakan perdamaian dunia:
- Mengakui hak bangsa Arab Palestina atas Palestina, dan menuntut agar masalah Palestina diselesaikan secara damai.
- Mengusulkan agar negara-negara yang telah memenuhi syarat, dapat diterima menjadi anggota PBB. Antara lain Jepang, Srilangka, Kamboja, Laos, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, dan Nepal.
- Mengusulkan diadakan pengurangan senjata.
- Mengusulkan agar diadakan larangan pembuatan, percobaan, dan penggunaan ,Senjata atom.
Kecuali itu, dalam keputusannya Konferensi Asia -Afrika mengajak setiap bangsa untuk melaksanakan sepuluh prinsip yang terkenal dengan nama ”Dasasila Bandung”, yaitu sebagai berikut:
1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta azas-azas yang tercantum dalam Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas semua bangsa.
3. Mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian atau secara kolektif, yang sesuai dengan Piagam PBB.
6. a. Tidak mempergunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar.
b. Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau penyelesaian hakim, ataupun cara damai lain lagi menurut pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan Piagam PBB.
9. Memajukan kerja sama untuk kepentingan bersama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
Sepuluh prinsip tersebut juga dinamakan Bandung Declaration (Deklarasi Bandung) atau Bandung Spirit (Semangat Bandung). Sepuluh prinsip itu merupakan penuangan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika yang wakil-wakilnya hadir dalam Konferensi Asia-Afrika.
Pengaruh Konferensi Asia-Afrika Akibat/Pengaruh Konferensi Asia-Afrika adalah sebagai berikut”
Ketegangan dunia berkurang.
2. Perjuangan bangsa-bangsa Asia-Afrika yang belum merdeka semakin meningkat.
3. Australia dan Amerika Serikat mulai berusaha menghapuskan diskriminasi ras di negaranya.
4. Politik Luar negeri bebas aktif yang dijalankan oleh Indonesia, India, Birma, dan Srilangka mulai diikuti oleh negara-negara lain yang tidak masuk Blok Barat maupun Blok Timur.
5. Belanda bingung dalam menghadapi Blok Asia-Afrika di PBB, sebab dalam Sidang Umum PBB, Blok Asia Afrika mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat.
6. Setelah Konferensi Asia-Afrika, menyusul konferensi konferensi yang diselenggarakan oleh berbagai golongan masyarakat Asia-Afrika, antara lain:
- Konferensi Ahli Hukum Asia-Afrika di Tokyo pada tahun 1961.
- Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Kolombo pada tahun 1962.
- Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Jakarta pada tahun 1963.
- Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1965.
Semua itu merupakan bukti adanya solidaritas golongan-golongan masyarakat Asia-Afrika.
Arti Pentingnya Konferensi Asia-Afrika adalah sebagai berikut:
- Merupakan cetusan rasa setia kawan dan kebangunan bangsa-bangsa Asia-Afrika untuk menggalang persatuan.
- Merupakan penengah antara Blok Barat dan Blok Timur.
- Merupakan pendorong bagi perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia pada umumnya, dan Asia-Afrika khususnya.
- Mengilhami berdirinya gerakan Non Blok.
Baca juga: Sejarah Politik Luar Negeri Bebas Aktif Masa Demokrasi Liberal










