Sejarah Berdirinya 7 Pergerakan Nasional

Sejarah7 Dilihat

Organisasi pergerakan nasional yang pernah berdiri pada zaman penjajahan antara lain adalah Budi Utomo, Syarikat Islam (SI), Indische Partij (IP), Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Indonesia Raya (Parindra).

Dari ke-7 organisasi tersebut, Budi Utomo merupakan pelopor berdirinya organisasi pergerakan Indonesia pada waktu itu. Lalu bagaimana sejarah berdirinya organisasi-organisasi tersebut? Di bawah ini akan kita ulas secara sekilas berdirinya 7 pergerakan nasional pada masa penjajahan.

1. Budi Utomo

Perjuangan melawan penjajah sampai akhir abad ke-19 itu, ternyata lebih banyak mengalami kegagalan. Penyebabnya antara lain:

a. Belanda menjalankan “politik adu domba (divide et impera)”. Akibatnya, antara berbagai suku bangsa, golongan, daerah, kerajaan, terjadi saling berperang dan saling bermusuhan. Akibatnya, kekuatan bangsa Indonesia terpecah belah dan menjadi lemah.

b. Belanda menanamkan rasa rendah diri (perhambaan) kepada penduduk pribumi. Akibatnya, bangsa Indonesia merasa rendah diri terhadap bangsa-bangsa lainnya.

c. Belanda menjadikan penduduk pribumi tetap dalam keadaan bodoh. Sekolah disediakan hanya bagi golongan ningrat. Rakyat kecil dibiarkan bodoh agar tidak melawan terhadap penjajah.

d. Bangsa Indonesia berjuang dengan menggunakan senjata yang masih sederhana sedangkan senjata musuh jauh lebih modern.

Untuk mengatasi hal tersebut, para pemuda dan pelajar berusaha untuk mempersatukan dan menyusun kekuatan. Mereka membentuk organisasi pergerakan nasional. Pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta, Sutomo membentuk perkumpulan Budi Utomo. Anggota-anggotanya terdiri dari para dokter Jawa dan mahasiswa pelajar STOVIA. STOVIA adalah Sekolah Tinggi Kedokteran. Budi Utomo artinya perbuatan luhur dan baik.

Setelah beberapa tahun berkembang, keanggotaan Budi Utomo menyebar di lingkungan masyakarat umum. Cabang-cabang Budi Utomo bermunculan di berbagai daerah. Di antaranya di Bandung, Bogor, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lubuk Pakam (dekat Medan), Ambon, dan tempat-tempat lainnya.

Foto Tokoh pergerakan nasional
Sebagian dari tokoh-tokoh pergerakan nasional, yaitu: (Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo)

Budi Utomo pada saat itu belum bergerak di bidang politik. Kegiatannya baru berjalan dalam bidang pendidikan, sosial, dan budaya. Budi Utomo bertujuan untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Budi Utomo mendirikan sekolah di beberapa tempat.

Budi Utomo telah membangkitkan semangat nasionalisme (kebangsaan) bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, hari berdirinya Budi Utomo merupakan momentum bersejarah bagi bangsa kita. Sampai sekarang, setiap tanggal 20 Mei kita memperingati hari lahirnya organisasi Budi Utomo yang lebih dikenal sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”. 

2. Syarikat Islam (SI)

Pada tahun 1911, Haji Samanhudi mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI) di Solo. Tujuan SDI yang kemudian menjadi SI, antara lain:

  • mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berdagang;
  • membantu menyelesaikan masalah anggotanya dalam berdagang;
  • memajukan pendidikan dan segala usaha yang meningkatkan derajat dan kesejahteraan rakyat;
  • meluruskan pandangan-pandangan yang keliru terhadap ajaran Islam; dan
  • membina anggotanya untuk hidup sesuai menurut perintah agama Islam.
Foto Haji Samanhudi
Haji Samanhudi tokoh Syarikat Islam

Pada tanggal 10 September tahun 1912 SDI berubah nama menjadi Syarikat Islam (SI). Tujuannya, selain berdagang bergerak juga di bidang politik. H. O. S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, dan Abdul Muis adalah para pemimpin Syarikat Islam.

3. Indische Partij (IP)

Setelah Budi Utomo berdiri, dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan lndische Partij, bersama-sama dengan Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Indische Partij didirikan pada tahun 1912 di Bandung.

Tujuannya untuk mencapai Indonesia merdeka. Kegiatan Indische Partij dianggap berbahaya oleh Belanda. Para pemimpinnya ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda. Akhirnya, Indische Partij dinyatakan dilarang oleh Belanda.

4. Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912, oleh KH. Ahmad Dahlan, di Yogyakarta. Muhammadiyah bergerak dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan sosial. Muhammadiyah mendirikan sekolah di berbagai tempat. Mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Dalam bidang sosial, Muhammadnyah mendirikan panti-panti asuhan dan rumah-rumah sakit.

5. Perhimpunan Indonesia (PI)

Pada tahun 1908 orang-orang Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Belanda mendirikan organisasi yang bernama Indische Vereeniging (IV). Organisasi ini pada mulanya bergerak dalam bidang sosial. Setelah Perang Dunia I semangat nasionalisme para pemuda Indonesia khususnya anggota IV semakin kuat.

Foto Drs. Moh. Hatta
Drs. Moh. Hatta tokoh Perhimpunan Indonesia

Kemudian pada tahun 1922 IV diganti menjadi Indonesische Vereeniging dan kegiatannya sudah bergerak dalam bidang politik. Pada tahun 1925 namanya diganti menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Tujuannya berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka. Tokoh-tokohnya antara lain: Drs. Moh. Hatta, Mr. Sartono, Mr. Ali Sastroamidjojo dan Mr. Iwa Kusuma Sumantri.

6. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 dan dipimpin oleh Ir. Soekamo. PNI mendirikan berbagai macam kursus, sekolah, bank, koperasi, rumah sakit, dan sebagainya.

Foto Ir. Soekarno hitam putih
Ir. Soekarno tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI)

Dengan pengaruh Ir. Soekarno atau lebih dikenal Bung Karno, pergerakan PNI berkembang pesat sehingga di mana-mana banyak didirikan cabang-cabang. Pengaruh pergerakan PNI begitu kuat di hati rakyat Indonesia.

Melihat semakin meluasnya pengaruh PNI tersebut, Pemerintah Kolonial Belanda merasa khawatir. Sekitar bulan Desember 1929 terdengar isu bahwa PNI akan mengobarkan pemberontakan. Isu itu dijadikan alasan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk menangkap tokoh PNI. Oleh karena itu, pada tanggal 29 Desember 1929, Pemerintah Kolonial Belanda menangkap Ir. Soekarno sebagai pemimpin PNI.

Pada tahun 1931 PNI dibubarkan, kemudian anggota-anggotanya mendirikan organisasi baru, antara lain:

  • Partai Indonesia (Partindo) di bawah pimpinan Sartono, dan
  • Pendidikan Nasional Indonesia (PNIBaru) di bawah pimpinan Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.

7. Partai Indonesia Raya (Parindra)

Pada tahun 1930, dr. Sutomo mendirikan Partai Bangsa Indonesia. Kemudian, pada tahun 1935 dr. Sutomo menyatukan Partai Bangsa Indonesia dengan Budi Utomo menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Pergerakan Parindra berhaluan moderat (lunak), yaitu mau bekerja sama dengan Pemerintah Kolonial Belanda.

Foto Muhammad Husni Thamrin
Muhammad Husni Thamrin tokoh Parindra

Parindra memiliki wakil di Dewan Rakyat (Volksraad), yaitu perwakilan rakyat yang dibentuk oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Melalui Dewan Rakyat, Muhammad Husni Thamrin sebagai wakil Parindra terus berjuang untuk membela nasib rakyat. Baca juga: Latar Belakang Timbulnya Pergerakan Nasional