Peristiwa Rengasdengklok dan Proklamasi

Sejarah91 Dilihat

Kapankah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya? Siapakah yang menjajah negara kita sebelum itu? Bagaimana keadaan negara kita pada masa penjajahan? Dari manakah kamu mengetahui keadaan seperti itu? Mulai bulan Maret 1942, Jepang menjajah Indonesia.

Pada saat itu peperangan di Samudera Pasifik atau Perang Asia Timur Raya masih terus berjalan hingga tahun 1945. Jepang terus terdesak oleh tentara Sekutu. Oleh karena itu, untuk menarik simpati bangsa Indonesia, Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Foto Ledakan bom atom di Kota Hiroshima Jepang
Ledakan bom atom di Kota Hiroshima, Jepang yang sangat dahsyat.

Dalam keadaan gawat, pada bulan Mei 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Melalui sidang-sidangnya, BPUPKI telah menghasilkan rumusan rancangan dasar negara. BPUPKI diketuai oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Soekarno sebagai salah seorang anggotanya. Masa persidangan BPUPKI berlangsung sejak tanggal 29 Mei dan berakhir pada tanggal 1 Juni 1945. Baca juga: Sejarah Pembentukan BPUPKI 1945

Pada tanggal 6 Agustus 1945, kota Hiroshima di Jepang dijatuhi bom atom oleh pasukan Sekutu. Ledakan bom itu sangat dahsyat sehingga kota itu hancur sama sekali. Disusul oleh pernyataan perang Rusia terhadap Jepang. Beberapa wilayah Jepang telah diduduki oleh Rusia.

Dalam keadaan demikian, Jepang semakin gawat. Selain menghadapi Sekutu (Amerika, Inggris, dan Perancis), juga menghadapi pasukan Rusia, Cina, dan lain-lain. Kemudian, pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom yang kedua dijatuhkan di atas kota Nagasaki.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, pasukan Sekutu mengeluarkan ancaman (ultimatum) agar Jepang menyerah tanpa syarat. Akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu.

Sebelum menyerah, yaitu pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketuanya lr. Soekarno, wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta. Anggotanya sebanyak 21 orang (semuanya orang Indonesia).

Pada hari itu juga, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat, secara rahasia, terbang ke Saigon (sekarang Ho Chi Minh) di negeri Vietnam. Kedatangan mereka itu dimaksudkan untuk memenuhi panggilan Marsekal Terauchi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara.

Bung Karno dan Bung Hatta baru pulang ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945. Menurut rencana Pemerintah Jepang, PPKI baru akan dilantik pada tanggal 18 Agustus 1945. Persidangannya akan dimulai tanggal 19 Agustus 1945. Jadi, menurut rencana Jepang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tergantung dari persidangan PPKI.

Peristiwa Rengasdengklok

Setelah mendengar Jepang menyerah kepada Sekutu, golongan pemuda sudah tidak sabar lagi, mereka ingin secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka menghendaki agar kemerdekaan itu diproklamasikan langsung oleh wakil bangsa Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Kemerdekaan itu jangan sampai diproklamasikan oleh PPKI, sebab PPKI dibentuk oleh Jepang.

Golongan tua, termasuk Bung Karno, berpendapat sebaliknya. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, kira-kira pukul 03.00, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok, dekat Karawang (Jawa Barat). Tujuan mereka agar Bung Karno dan Bung Hatta tidak dipengaruhi oleh Jepang. Rencananya, kemerdekaan akan diproklamasikan di sana. Kemudian disusul dengan perebutan kekuasaan oleh rakyat, dari Jepang.

Pada hari itu, tanggal 16 Agustus 1945 siang hari berlangsunglah perundingan tentang pelaksanaan proklamasi nanti. Sementara itu, di Luar tempat perundingan, yaitu di halaman pendopo Kawedanaan Rengasdengklok terjadilah persiapan proklamasi kemerdekaan. Bendera Hinomaru (Jepang) diturunkan. Sang Merah Putih telah berkibar dengan megahnya.

Akhirnya pada perundingan itu terdapat kesepakatan. Golongan tua yang diwakili oleh Mr. Ahmad Subarjo menjelaskan kepada golongan pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan besoknya, yaitu tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Golongan pemuda, akhirnya dapat menerima keputusan itu atas jaminan Mr. Ahmad Subarjo.

Perumusan Naskah Teks Proklamasi

Mengapa perumusan naskah Proklamasi dilaksanakan di rumah Laksamana Muda Maeda? Pada sore hari itu, tanggal 16 Agustus 1945, mereka semua, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta, kembali ke Jakarta.

Lewat pukul 21.00 malam hari itu juga, rombongan telah tiba di Jakarta. Kemudian mereka berkumpul di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. Maeda adalah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang. Ia mendukung keinginan bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Rumah Maeda itu merupakan tempat yang aman dari penindakan tentara Jepang. Letaknya di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat. Sekarang rumah itu dijadikan Museum Proklamasi.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 tengah malam, berbagai golongan Pergerakan Nasional baik golongan tua maupun golongan pemuda berkumpul di rumah Maeda untuk merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Tiga orang pemimpin golongan tua, yaitu Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo menyusun naskah Proklamasi, Sukarni, B. M. Diah, dan Mbah Diro, sebagai wakil golongan pemuda turut menyaksikannya. Peserta rapat lainnya menunggu di serambi muka Ir. Soekarno menuliskan naskah teks Proklamasi itu. Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Subarjo turut membantu memikirkannya. Hasilnya, diperoleh naskah teks Proklamasi tulisan tangan Ir. Soekarno. Bunyinya sebagai berikut:

Setelah rumusan naskah Proklamasi selesai, kelompok perumus, keluar ruangan, menuju serambi muka. Mereka menemui orang-orang yang menunggu di serambi itu. Di sana, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi tulisan tangan itu dan menyarankan agar naskah itu ditandatangani oleh semua yang hadir, selaku wakil-wakil bangsa Indonesia.

Golongan tua menghendaki agar naskah Proklamasi itu ditandatangani oleh pihak PPKI. Golongan pemuda tidak setuju sebab PPKI buatan Jepang. Jika ditandatangani oleh semua yang hadir, juga tidak setuju. Sebab, di antara yang hadir ada orang Jepang Sukarni, dari golongan pemuda mengusulkan agar naskah itu ditandatangani hanya oleh Soekarno dan Hatta.

Sebab, beliau pada saat itu merupakan tokoh yang dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia. Akhirnya, semua yang hadir menyetujui usul pemuda tersebut. Naskah Proklamasi itu harus ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia.

Setelah penandatanganan naskah itu disetujui oleh semua yang hadir, kemudian naskah itu diketik rapi oleh Sayuti Melik. Pengetikan naskah itu dilakukan dengan beberapa perubahan. Setelah ProkIamasi 17 Agustus 1945, naskah asli yang diketik rapi itu menghilang. Naskah itu baru muncul kembali pada tahun 1967.

Foto Naskah proklamasi yang sudah diketik
Naskah proklamasi yang sudah diketikSumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka

DETIK-DETIK PROKLAMASI

Pada hari itu tanggal 17 Agustus 1945, kebetulan hari Jumat pada bulan Ramadan, pukul 09.00 pagi telah banyak orang berdatangan di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Selain di sana, ada pula orang-orang yang berkumpul di lapangan Ikada (sekarang Silang Monas). Sebabnya, ada yang membawa berita bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan dikumandangkan di lapangan Ikada. Padahal, Proklamasi itu tetap akan dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi).

Menjelang pukul 10.00 pagi, Bung Hatta yang dinanti-nanti telah datang pula di sana. Penjagaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 telah diatur sedemikian rupa untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Barisan pemuda, pelopor, dan pasukan lainnya telah siap menjaga keamanan. Mereka dipersenjatai dengan senjata api, golok, pedang, dan bambu runcing.

Foto Pembacaan Teks Proklamasi
Bung Karno di dampingi Bung Hatta sedang membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia disaksikan pula oleh hadirin lainnya, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka

Tepat pukul 10.00 waktu setempat, Bung Karno membacakan naskah Proklamasi. Di belakangnya, Bung Hatta berdiri mendampinginya. Para mahasiswa, pemuda, dan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional lainnya, kurang-lebih seribu orang, turut hadir menyaksikan peristiwa penting itu.Pidato Bung Karno Sebelum Pembacaan Teks Proklamasi Sebelum membaca Naskah ProkIamasi, Ir. Sukarno menyampaikan ”Pidato ProkIamasi” sebagai berikut:

“Saudara-saudara sekalian,

Saya minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun, kita bangsa Indonesia, telah berjuang untuk memerdekakan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.

Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju cita-cita.

Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti.

Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia.

Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad.”

Dengarkanlah proklamasi kami:

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. 

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama Bangsa Indonesia

Sukarno-Hatta

Demikianlah saudara-saudara !

Kita sekarang teIah merdeka !

Tidak ada suatu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita.

Mulai saat ini kita menyusun negara kita.

Negara merdeka, Negara Republik Indonesia, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu. 

Sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih. Itulah upacara pengibaran Bendera Pusaka pertama setelah Indonesia merdeka. Upacara itu berlangsung di halaman gedung tempat Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta (sekarang Jl. Proklamasi). Untuk mengenang peristiwa yang bersejarah itu, maka di halaman gedung Jalan Pegangsaan Timur 56, kini dibangun sebuah Tugu peringatan Proklamasi yang dinamakan Monumen Proklamator Sukarno-Hatta. Sedangkan jalan di depan gedung itu, diberi nama Jalan Proklamasi. Dan oleh pemerintah Indonesia, kedua orang tokoh tersebut diberi gelar Pahlawan Proklamator.

Setelah selesai pembacaan naskah, Sang Saka Merah Putih pun dikibarkan, dengan diiringi lagu Indonesia Raya, lagu itu diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman. Untuk pertama kalinya, lagu itu diperdengarkan di muka umum pada waktu Kongres Pemuda II, tanggal 28 Oktober 1928, di Jakarta. Bendera Merah Putih yang dikibarkan pada saat itu dijahit sendiri oleh Ibu Fatmawati (istri Bung Karno).

Foto Pengibaran Sang Saka Merah Putih
Pengibaran Sang Saka Merah Putih, sesudah pembacaan naskah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka

Pada malam harinya, pukul 19.30 tanggal 17 Agustus 1945, naskah Proklamasi itu dibacakan seseorang melalui siaran radio di gedung Ika Daigaku (sekarang Fakultas Kedokteran UI). Pemancar radio itu merupakan pemancar gelap. Artinya, pemancar radio itu tidak diketahui oleh Pemerintah Jepang. Melalui pemancar itu, tokoh-tokoh Pergerakan Nasional dapat berhubungan dengan luar negeri.

Setelah disiarkan melalui radio itu, berita Proklamasi menyebar sampai ke seluruh tanah air, bahkan sampai pula ke luar negeri. Setelah itu, di beberapa daerah di wilayah Indonesia mengikuti kegiatan di Jakarta, yaitu turut menyebarkan berita Proklamasi dan mengibarkan Sang Merah Putih. Para pemuda dan mahasiswa sibuk membantu penyebaran berita Proklamasi itu dengan kertas selebaran stensilan atau tulisan tangan.