Peninggalan Sejarah Riau yang Masih Ada Hingga Saat Ini

Sejarah6 Dilihat

Sebagai wilayah yang sudah ramai sejak zaman dahulu, Provinsi Riau menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah. Ada beberapa artefak sebagai bukti zaman prasejarah. Ada candi, istana, makam, dan bangunan lain yang menjadi bukti-bukti zaman kerajaan, penjajahan, sampai zaman perjuangan kemerdekaan. Dari semua bentuk peninggalan sejarah itu yang paling banyak adalah peninggalan dari zaman kerajaan. Hal ini tidaklah mengherankan karena dahulu di wilayah Provinsi Riau berdiri banyak kerajaan. Peninggalan tersebut tidak hanya berupa situs, tetapi juga budaya dan adat istiadat yang sampai sekarang masih dipegang teguh masyarakat Provinsi Riau. Berbagai peninggalan sejarah ini adalah kepingan-kepingan masa lalu Provinsi Riau. Bagaikan sebuah puzzle raksasa, kepingan-kepingan itu belum terangkai secara utuh sehingga masih banyak cerita yang belum terungkap. Sebenarnya, dari peninggalan-peninggalan inilah masyarakat Provinsi Riau dapat belajar banyak tentang kegemilangan Riau pada masa lampau. Tidak hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk memperteguh jati diri masyarakat Pravinsi Riau di tengah ingar-bingar peradaban dunia yang bergerak cepat.Peninggalan Prasejarah Menurut para ahli, pada zaman dahulu wilayah Provinsi Riau menjadi salah satu lokasi yang dilewati manusia prasejarah saat bermigrasi dari daratan Asia, tepatnya dari Yunan Utara (Cina). Suku bangsa Sakai yang menjadi penduduk asli Provinsi Riau merupakan keturunan dari ras Melanesia yang pertama kali bermigrasi ke Nusantara. Ras Melanesia dicirikan dengan badan kekar, kulit kehitam-hitaman, rambut keriting, mulut lebar, dan hidung mancung. Pola kehidupan mereka pada masa lampau masih dapat dilihat sampai sekarang. Inilah yang menjadi satu bukti nyata bahwa manusia prasejarah pernah bermukim di wilayah Provinsi Riau. Bukti-bukti lainnya berupa artefak-artefak yang ditemukan di beberapa tempat di Provinsi Riau. Artefak-artefak itu berupa kapak persegi, batu keramat, dan beberapa hasil budaya zaman batu dan perunggu lainnya. Bukti-bukti itu ada yang disimpan di museum, ada pula yang masih dimiliki masyarakat. Keberadaan batu keramat dan batu patah di Kabupaten Kuantan Singingi menjadi bukti berkembangnya peradaban prasejarah di Provinsi Riau.Peninggalan Sejarah KerajaanCandi Muara Takus Candi Muara Takus ini terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Candi ini pertama kali ditemukan oleh Comet de Groot pada tahun 1860. Kompleks candi ini dikeIiIingi tembok berukuran 74 x 74 meter. Pada bagian luar terdapat tembok tanah berukuran 1, 5 x 1, 5 kilometer yang mengelilingi kompleks Candi sampai ke tepi Sungai Kampar Kanan.

Foto Candi Muara Takus Riau terbaru
Candi Muara Takus Riau

Di dalamnya terdapat enam bangunan yaitu candi Tua, candi Bungsu, Candi Mahligai, candi Palangka, dan dua buah bangunan batu bata. Kedua bangunan tersebut diduga sebuah candi yang belum diketahui namanya dan sebuah tempat pembakaran mayat. Candi Muara Takus adalah peninggalan agama Buddha terbesar di Pulau Sumatera. Satu keunikan dari candi ini yaitu bahan pembuatannya. Berbeda dengan candi lainnya yang dibuat dari batu kali atau gunung, candi Muara Takus dibuat dari batu bata merah. Candi ’merah’ ini diduga dahulunya merupakan salah satu pusat Kerajaan Sriwijaya. Perlu diketahui Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang selalu berpindah-pindah lokasi dan sampai sekarang belum diketahui secara pasti lokasinya.Peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura

Kerajaan Siak atau Siak Sri Indrapura adalah sebuah kerajaan Melayu Islam terbesar di wilayah Provinsi Riau. Kerajaan ini mencapai masa jayanya pada abad ke-16 sampai ke-20. Dalam silsilah sultan-sultan, Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725 dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Peninggalan Kerajaan Siak yang utama terdapat di Kecamatan Siak Sri Indrapura, Kabupaten Bengkalis yang berupa sebuah kompleks Istana Kerajaan Siak.

Foto Barang antik Peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura
Barang antik Peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura

Istana Kerajaan Siak dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama Hassirayatul Hasyimiah. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda benda koleksi kerajaan, seperti kursi singgasana, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan, payung, tombak, keramik, dan komet. Komet ini merupakan barang langka dan menurut cerita hanya ada dua di dunia. Dalam istana ini pula terdapat istana paraduan sang raja. Peninggalan sejarah lainnya yang masih satu lokasi dengan Istana Siak adalah sebuah masjid kerajaan yang bernama Masjid Syahabuddin. Masjid yang juga disebut Masjid Sultan ini didirikan oleh Sultan Assyaidis Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Lokasinya berada di pinggir Sungai Siak, sekitar 500 meter di depan Istana Siak. Arsitektur masjid ini sangat khas dan unik dengan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu berukir indah bermotifkan daun, sulur, dan bunga. Tidak begitu jauh dari Masjid Sultan terdapat Balai Kerapatan Tinggi. Bangunan untuk tempat bermusyawarah, persidangan, dan pengadilan kerajaan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Istana Siak pada masa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Dalam kompleks Kerajaan Siak terdapat pula makam keluarga raja-raja Siak. Seperti diketahui Kerajaan Siak diperintah oleh dua belas sultan yang masing-masing memiliki keluarga. Para sultan ini ketika meninggal ada yang dimakamkan di kompleks Kerajaan Siak, ada pula yang dimakamkan di luar kompleks kerajaan. Di sebelah timur istana Siak terdapat Makam Koto Tinggi yang di dalamnya terdapat makam Sultan Syarif Hasyim, ayahanda Sultan, permaisuri Sultan, keluarga, dan kerabatnya yang lain. Sementara itu, di samping Masjid Sultan juga terdapat makam Sultan Syarif Kasyim dan permaisuri. Makam Sultan Siak I dengan gelar Abdul Jalil Rakhmad Syah Yang Dipertuan Muda Raja Kecil yang meninggal tahun 1746 dapat ditemui di Desa Buantan, Kecamatan Siak Sri Indrapura. Masjid Raya Pekanbaru juga merupakan peninggalan Kerajaan Siak. Masjid yang terletak di Kecamatan Senapelan ini merupakan masjid tertua di Kota Pekanbaru dengan arsitektur tradisional yang menarik. Masjid ini dibangun pada abad ke-18 masa pemerintahan Sultan Siak IV dan Sultan Siak V. Masjid ini juga menjadi bukti bahwa ibu kota Kerajaan Siak pernah berada di Kota Pekanbaru. Dalam kompleks ini terdapat makam Sultan Marhum Bukit dan Marhum Pekan beserta keluarganya. Sultan Marhum Bukit adalah Sultan Siak IV, sedangkan Marhum Pekan adalah Sultan Siak V yang juga pendiri Kota Pekanbaru. Satu lagi peninggalan yang tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Siak yaitu kapal kato. Kapal ini merupakan kapal besi berbahan bakar batu bara yang dimiliki oleh Sultan Siak untuk berkunjung ke daerah kekuasaannya. Kapal kato berukuran panjang 12 m dengan berat 15 ton. Sekarang kapal kato berada di pinggir Sungai Siak sebagai monumen sejarah Kerajaan Siak.Peninggalan Kerajaan Indragiri Peninggalan Kerajaan Indragiri sebagian besar terpusat di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Di wilayah ini dapat dijumpai Rumah Tinggi Kerajaan dan kompleks Makam Sultan Indragiri. Rumah Tinggi Kerajaan yang terletak di Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu berisi koleksi benda benda kerajaan. Sementara itu, kompleks Makam Sultan Indragiri terletak di Kota Lama, tepatnya dalam kompleks Masjid Raya Rengat yang juga merupakan satu peninggalan Kerajaan lndragiri.

Foto Istana Peninggalan Kerajaan Indragiri
Istana Peninggalan Kerajaan Indragiri

Peninggalan Kerajaan Indragiri juga terdapat di daerah lain. Kompleks makam raja-raja Indragiri terdapat di beberapa lokasi, seperti Mohon Saleh (keturunan Raja Indragiri) di Tambak, Makam Raja Indragiri (Narasinga II) di Desa Koto Lama, Makam Raja Japura dan Makam Datuk Bendahara Lidah Hitam di Desa Japura, serta Makam Raja Muda di Peranap.
Peninggalan Kerajaan-Kerajaan Lainnya
Selain Kerajaan Siak dan Kerajaan Indragiri, di wilayah Provinsi Riau masih ada kerajaan-kerajaan lainnya. Setiap kerajaan ini juga memiliki peninggalan sejarah yang menjadi bukti keberadaannya. Peninggalan yang dapat disebutkan antara lain Istana Rokan di Desa Rokan IV Koto (Kabupaten Rokan Hulu), Kolam Raja di Kecamatan Kateman (Kabupaten Indragiri Hilir), Pesanggrahan Putri Tujuh di Kota Dumai, Makam Raja-Raja Rambah di Desa Kumu (Kabupaten Rokan Hulu), Makam Sultan Mahmud Syah I (Raja Malaka Terakhir) di Desa Tolam, Kecamatan Bunut (Kabupaten Kampar), Makam Keramat di Kecamatan Gaung Anak Serka (Kabupaten Indragiri Hilir), serta makam Raja-Raja Pelalawan. Peninggalan Sejarah Perjuangan Peninggalan sejarah zaman penjajahan ada beberapa bentuk. Di Kelurahan Benteng Hilir dan Benteng Hulu ada bangunan yang dahulunya merupakan rumah, kantor, dan tangsi militer Belanda. Kondisinya memang tidak terawat sehingga memerlukan perbaikan. Di Muara Lembu Kecamatan Sengingi, Kabupaten Indragiri Hulu ada bekas tambang emas Logas.

Foto Tangsi militer peninggalan Belanda di Benteng Hulu
Tangsi militer peninggalan Belanda di Benteng Hulu, Riau

Tambang emas ini didirikan oleh Belanda dan diambil alih oleh Jepang saat menguasai Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang lokasi ini merupakan tempat kerja paksa rakyat Provinsi Riau. Selain itu, Logas juga dikenal sebagai tempat pembuangan serdadu Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Satu bentuk peninggalan zaman perjuangan yang masih dapat dilihat sampai sekarang yaitu Benteng Tujuh Lapis. Benteng ini terdapat di Dalu- Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Kampar. Benteng dari bambu ini dibuat masyarakat dengan petunjuk dari Tuanku Tambusai untuk melawan penjajah. Sesuai namanya benteng ini mempunyai tujuh lapis benteng bambu. Selain itu, di sekitar Dalu-Dalu masih terdapat beberapa benteng yang oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah kubu. Peninggalan Sejarah Lainnya Peninggalan sejarah Provinsi Riau sangat banyak dan beragam. Beberapa di antaranya tidak berada di lokasi aslinya, tetapi sudah dikumpulkan dalam satu tempat yang disebut museum. Museum Sang Nila Utama di Kota Pekanbaru menyimpan berbagai benda seni, budaya, dan sejarah Provinsi Riau.

Foto Museum Sang Nila Utama di Kota Pekanbaru
Museum Sang Nila Utama di Kota Pekanbaru

Di Pulau Belimbing, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar dapat dijumpai Museum Kandil Kemilau Emas. Museum berbentuk rumah adat Lima Koto ini dibangun oleh Haji Hamid pada tahun 1900. Di dalamnya terdapat beragam koleksi yang bernilai tinggi. Di Desa Sipungguk, Kecamatan Bangkinang Barat dapat dijumpai Rumah Asli Lontiok. Rumah ini merupakan rumah masyarakat Riau Darat yang arsitekturnya kental dengan perpaduan budaya Melayu dan Islam. Hal yang sama dapat dilihat pada Balai Adat Riau yang berada di Kota Pekanbaru. Balai berlantai dua ini dibangun untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan adat resmi Melayu Riau. Pada bagian kiri kanan pintu masuk utama terpahat beberapa pasal dari Gurindam Dua Betas karya Raja Ali Haji. Satu lagi peninggalan sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari Provinsi Riau sebagai penghasil minyak bumi adalah Monumen Pompa Angguk yang terletak di Minas, Kabupaten Siak. Monumen ini berupa pompa sumur minyak bumi yang terus mengangguk. Inilah sumur minyak bumi pertama yang beroperasi di Provinsi Riau. Lokasi ini ditemukan pada tahun 1941 dan mulai dilakukan pengeboran tanggal 10 Desember 1944. Sekarang sumur minyak ini sudah tidak berproduksi karena minyaknya telah habis. Itulah sebagian kecil bukti sejarah perjalanan panjang Provinsi Riau yang tersebar di berbagai tempat. Kepingan-kepingan sejarah tersebut yang apabila dipandang seperti tak berarti, tetapi apabila ditelusuri lebih mendalam lagi, masih menyimpan seribu cerita yang belum terungkap. Semua peninggalan tersebut bisa menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat Provinsi Riau di tengah geliat peradaban dunia yang semakin maju ini. Baca juga: Peninggalan Kerajaan Siak