Peradaban Lembah Sungai Kuning

Sejarah135 Dilihat

Negeri Cina dikenal sebagai negeri yang mempunyai wilayah sangat luas. Wilayah Cina sebagian besar tertutup oleh pegunungan, perbukitan, dan dataran tinggi. Di daerah Cina mengalir tiga buah sungai utama, yaitu Sungai Yang-tse, Sungai Hoang Ho (Sungai Kuning), dan Sungai Si Kiang. Peninggalan budaya Cina yang tiada ternilai mutu dan harganya banyak ditemukan di Lembah Sungai Kuning. Di daerah inilah para sejarawan merangkaikan hasil-hasil penelitiannya untuk mengetahui kisah yang sesungguhnya dari peradaban Cina.

Foto Lembah Sungai Kuning
Lembah Sungai Kuning

Sistem Pemerintahan dan Peninggalan Budaya

Sesuatu yang menarik dan membedakan sajarah Cina dengan sejarah negeri-negeri lain adalah bahwa sejarah negeri Cina banyak bercerita dan memuat kisah tentang raja-raja atau turun-naiknya suatu dinasti. Dinasti-dinasti yang pernah muncul dipanggung sejarah Cina amat banyak. Dinasti-dinasti tersebut mempunyai kekhasan masing-masing dalam mengatur pemerintahannya. Dinasti yang dikenal dalam Sejarah Cina, antara lain adalah Dinasti Hsia, Shang, Chou, Chin, dan Han.

“Dinasti adalah raja-raja yang memerintah suatu kerajaan dan berasal dari satu keturunan keluarga.”

1. Dinasti Hsia

Kebanyakan para ahli menganggap bahwa kisah mengenai Dinasti Hsia merupakan cerita dongeng. Hal ini disebabkan Dinasti Hsia tidak meninggalkan bukti peninggalan sejarah. Keberadaan Dinasti Hsia tidak lebih hanya sebagai mitologi Cina.

Gambar Dinasti Hsia
Dinasti Hsia (3000-2205 SM)

Menurut mitologi Cina, Dinasti Hsia (3000-2205 SM) didirikan oleh Kaisar Yu. Semenjak ia berkuasa, pemerintahan selanjutnya berlaku secara turun-temurun. Sebelumnya, kaisar dipilih oleh rakyat dan berasal dari kalangan rakyat.

2. Dinasti Shang (1766-1122 SM)

Dinasti Shang didirikan oleh Kaisar Chen Tang. Wilayah kekuasaannya membentang dari hilir Sungai Hoang Ho sampai daerah yang sekarang disebut Provinsi Shensi. Selama kira-kira 300 tahun dinasti ini berdiri, pemerintah telah lima kali memindahkan ibukota kerajaan. Zaman Kaisar Pang Keng (raja ke-16) ibukota kerajaan ditetapkan di kota Po Ke Yin.

Gambar Dinasti Shang
Dinasti Shang (1766-1122 SM)

Peninggalan budaya terpenting Dinasti Shang antara lain adalah:

  • keterampilan membuat barang-barang perunggu,
  • adanya tradisi pembuatan keramik dan kain sutera,
  • pertanian telah menggunakan sistem pengairan dan astronomi, dan
  • keterampilan dan pengetahuan berperang. 

3. Dinasti Chou (1027-256 SM)

Pada tahun 1027 SM, Dinasti Chou muncul menggantikan kekuasaan Dinasti Shang. Tokoh yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Chou ialah Kaisar Wu Wang. Wilayah kekuasaan Dinasti Chou amat luas. Selain itu, angkatan perangnya juga amat kuat.

Dinasti Chou memberlakukan ajaran Tzen Ming (mandat dari langit). Menurut ajaran ini, penguasa tertinggi di bumi akan mengembari amanat dari langit. Ia adalah manusia pilihan di Tien Hsia. Selama raja-raja masih mengemban amanat dari langit maka dinasti itu akan tetap berdiri. Dinasti Chou memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan. Mereka banyak yang duduk dalam pemerintahan dan mendapa perlakuan istimewa dari kerajaan. Sistem kekuasaan yang banyak memberikan tempat dan kedudukan kepada kaum bangsawan disebut sistem feodalisme.

Pada masa pemerintahan Dinasti Chou banyak bermunculan ahli fllsafat. Mereka antara lain adalah Kong Fu-tse, Meng-tse, Lao-tse, Mothi, Yang Chu, dan Fa Chia. Dari para filsuf tersebut, Kong Fu-tse dianggap paling besar mempengaruhi kehidupan masyarakat Cina.

4. Dinasti Chin (221-207 SM)

Kekuasaan Dinasti Chin didirikan oleh Kaisar Shi Huang-ti. Dinasti ini memperoleh kebesaran berkat peran tokoh intelektual bernama Li Szu. Pada masa dinasti ini, timbul unifikasi (penyatuan) Cina yang pertama. Wilayah Cina yang begitu luas dapat dipersatukan. Kekuasaan para bangsawan di daerah-daerah dihapuskan. Dinasti ini menghancurkan sistem feodalisme yang diciptakan Dinasti Chou. Tanah-tanah para bangsawan disita dan dibagikan kepada para petani.

Gambar Dinasti Chin
Dinasti Chin (221-207 SM)

Pada bidang pemerintahan, disusun suatu pemusatan kekuasaan. Kerajaan dibagi ke dalam 36 provinsi yang masing-masing dipimpin seorang gubernur militer, seorang administratur pemerintahan, dan seorang inspektur. Ketiga pejabat ini langsung bertanggung jawab kepada kaisar.

Dinasti Chin menetapkan keseragaman sistem bahasa dan tulisan. Sistem ini menggantikan semua bentuk huruf yang berbeda-beda di berbagai daerah. Selain itu, ditetapkan pula keseragaman mata uang dan timbangan. Kendaraan-kendaraan harus mempunyai sumbu roda yang sama panjangnya. Semua tindakan tersebut dilakukan dalam upaya menciptakan persatuan dan kesatuan Cina. Perubahan-perubahan yang dijalankan Dinasti Chin boleh dikatakan sebagai revolusi besar pertama di Cina.

“Apakah manfaat persatuan dan kesatuan dalam sebuah negara yang besar dan memiliki jumlah penduduk yang banyak ?”

Peninggalan budaya tertinggi dari Dinasti Chin adalah Tembok Besar Cina. Dinding-dinding tembok memanjang dari Sanhaikuan di pantai Pulau Liaotung sampai ke daerah Ordos. Panjangnya kira-kira 2.430 kilometer. Lebarnya sekitar 8 meter. Di beberapa tempat tingginya ada yang mencapai 16 meter. Pada setiap jarak tertentu dibuat menara-menara bagi para pengawal.

Pembangunan Tembok Besar Cina mempunyai tujuan, yaitu:

  • membatasi bangsa Cina asli dengan suku-suku nomaden di padang rumput utara dan barat laut,
  • sebagai benteng pertahanan terhadap serangan bangsa Mongol (terutama suku Shung Nu),
  • menjadi penjara bagi para tahanan politik, dan
  • lambang kebesaran Dinasti Chin.

5. Dinasti Han (206 SM-220 M)

Dinasti Han didirikan oleh Liu Pang. Ia berasal dari golongan rakyat biasa. Namun, ketika ia berkuasa, sistem feodalisme berkembang lagi. Hal ini ditandai dengan bermunculannya tuan-tuan tanah baru yang mempunyai pengaruh besar dalam pemerintahan. Golongan tuan tanah baru ini disebut kaum Gentry.

Kaisar yang paling terkenal dari Dinasti Han ialah Han Wu Ti. Di masa pemerintahannya, persatuan Cina semakin diperkuat. Bangsa Shung Nu berhasil dihalau dari perbatasan barat laut Cina. Selain itu, kerajaan diperluas dengan melakukan ekspansi ke Vietnam, Korea, dan Manchuria. Untuk memajukan derajat bangsa, dibangunlah sekolah-sekolah yang menggodok para sarjana. Oleh karena itu, kaum intelektual kemudian banyak berperan sebagai pemegang kekuasaan dan pembantu kaisar.

Peninggalan budaya terpenting dari Dinasti Han antara lain sebagai berikut.

  • Kepandaian membuat kertas dari kulit kayu dan kain-kain tua.
  • Seismograf (alat pencatat getaran bumi di waktu terjadi gempa) yang pertama.
  • Gnomon (alat penunjuk kedudukan matahari untuk mengetahui waktu). 

Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan masyarakat Cina berlandaskan ajaran-ajaran filsafat. Ajaran filsafat Cina mengajarkan tata cara hidup bertuhan, bernegara, bermasyarakat, dan berkeluarga. Para filsuf Cina yang memberikan dasar kepada sistem kepercayaan di Cina, yaitu Kong Futse, Lao-tse, dan Meng-tse.

1. Kong Fu-tse (551-479 SM)

Ajaran yang dibawa Kong Fu-tse disebut Konfusianisme. Ajaran Kong Fu-tse berkisar kepada masalah pemerintahan dan keluarga. Menurut Kong Fu-tse, setiap masyarakat terdiri atas keluarga-keluarga. Seorang bapak akan selalu menjadi pusat dan pimpinan suatu keluarga. Seorang bapak berkewajiban mengurus anak-anaknya dengan baik. Sebaliknya, setiap anak wajib patuh dan hormat kepada orang tuanya.

Dalam ajaran Kong Fu-tse, negara dianggap sebagai sebuah keluarga besar. Raja berperan sebagai bapak, sedangkan rakyat menjadi anaknya. Raja harus memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyat harus hormat dan taat kepada raja. Inilah prinsip keseimbangan hidup dan penempatan fungsi serta kedudukan setiap orang dalam hidup bernegara dan bermasyarakat.

2. Lao-tse (605-531 SM)

Ajaran yang dibawa Lao-tse disebut Taoisme. Ajaran Taoisme tercantum dalam buku yang berjudul Tao-te-cing. Inti ajaran Taoisme menerangkan, bahwa orang hams mengikuti Tao (jalan) menurut alam dan menolak kehidupan duniawi. Taoisme mengajarkan untuk kembali kepada kehidupan masyarakat primitif. Hal ini merupakan ungkapan penolakan terhadap pemerintahan yang kacau dan kemunduran akhlak pada masa itu. Selain itu, Taoisme mengajak orang supaya menerima nasib seadanya. Suka dan duka, bahagia dan sengsara adalah sama saja. Oleh karena itu, penganut Taoisme harus dapat memikul penderitaan dengan hati yang tabah dalam keadaan bagaimanapun.

3. Meng-tse (372-289 SM)

Meng-tse mengemukakan ajaran bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Manusia memiliki sifat jahat karena terbentuk oleh pemerintahan yang buruk dan kacau. Untuk mendapatkan pemerintahan yang baik, orang-orang harus mau belajar. Jika negara ditopang oleh kaum yang pintar niscaya kesejahteraan dan kebaikan masyarakat akan tercipta.

Menurut Meng-tse, rakyat berhak melakukan pemberontakan dan menumbangkan pemerintahan yang ada seandainya kaisar sudah tidak memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Sistem Kemasyarakatan

Secara garis besar, masyarakat Cina terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. kaisar (penguasa negara),
  2. bangsawan (pendukung pemerintahan), dan
  3. rakyat (orang yang wajib taat dan patuh menjalankan peraturan pemerintah). 

Sejak dulu masyarakat Cina hidup dalam suatu klan. Klan adalah kesatuan terkecil kekerabatan dalam suatu masyarakat. Di Cina, klan terdiri atas para bangsawan yang mempunyai tentara sendiri-sendiri. Klan yang kuat akan menjadi penguasa dalam suatu dinasti. 

Pada masa Dinasti Chou dan Han, para bangsawan mendapatkan kedudukan yang istimewa dalam pemerintahan dan masyarakat. Kekuasaan di daerah-daerah diserahkan kepada para bangsawan. Sebagai imbalan dari raja, para bangsawan mendapat pinjaman tanah dari kaisar. Bangsawan yang mendapatkan pinjaman tanah ini disebut vazal.

Baca juga artikel peradaban tertua di dunia lainnya pada tautan di bawah ini: