Perjuangan Menghadapi Sekutu dan Belanda

Sejarah11 Dilihat

Pada tanggal 15 September 1945, tentara Sekutu telah mendarat di Tanjung Priok, Jakarta. Tugasnya terutama untuk melucuti tentara Jepang, dan menarik tentara Jepang dari Indonesia secara berangsur-angsur.

Pada tanggal 19 September 1945, di Surabaya terjadi insiden, yang terkenal dengan nama ”Insiden Bendera” atau ”Insiden Tunjungan”. Peristiwanya sebagai berikut:

Kecuali di Jakarta, tentara Sekutu juga mendarat di Surabaya. Ternyata kedatangan tentara Sekutu di Indoensia diikuti (diboncengi oleh tentara Belanda dan NICA (pemerintahan sipil Hindia Belanda)

Ketika Sekutu dan Belnda mendarat di Surabaya, di Hotel Yamato telah berkibar bendera Merah Putih. Sebelum zaman penjajahan Jepang, hotel tersebut bernama Hotel Oranje, letaknya di Jalan Tunjungan, Surabaya.

Belanda dan Sekutu datang, Hotel Yamato akan dijadikan markas Angkatan Laut Belanda. Maka Bendera Merah Putih yang berkibar di hotel tersebut diturunkan, diganti dengan bendera Merah Putih Biru (bendera Belanda). Tentu saja tindakan Belanda tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya,

BKR, para pemuda, dan rakyat segera bertindak. Hotel Yamato dikepung. Beberapa orang diantaranya memanjat tiang bendera. Bendera merah putih biru diturunkan. Warna birunya disobek, tinggalah warna merah putih saja. Kemudian dikibarkan kembali di tiang semula.

Gambar Para pemuda menurunkan dan menaikkan bendera di hotel Yamato
Para pemuda menurunkan bendera Belanda dan menaikkan bendera Indonesia di hotel Yamato

Peristiwa itu berlangsung dalam suasana tegang, BKR, para pemuda, dan rakyat telah siap siaga. Mereka berjaga-jaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, maka kini di depan Hotel Yamato dibangun sebuah prasasti. Dengan kedatangan Sekutu dan Belanda, maka situasi semakin genting. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kemerdekaan, BKR perlu disempurnakan. Perlu dibentuk tentara resmi. Pada tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Markas besar TKR di Yogyakarta.

Semula Supriyadi pemimpin perlawanan PETA di Blitar, ditunjuk sebagai Panglima Besar TKR. Ternyata Supriyadi tidak pernah muncul. Mungkin ia telah gugur dalam per: tempuran melawan Jepang di Blitar. O1eh karena itu, perlu ditunjuk orang lain sebagai penggantinya.

Pada tanggal 12 November,1945, diselenggarakan konferensi besar TKR di Yogyakarta. Dalam konferensi itu, Kolonel Sudirman dipilih menjadi Panglima Besar TKR. Dan Letnan Jenderal Urip Sumoharjo sebagai Kepala Staf TKR.

Pada tanggal 18 Desember 1945 di Gedung Negara Yogyakarta Presiden Sukarno melantik Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar TKR. Sesuai dengan jabatannya, maka pangkatnya pun dinaikkan dari kolonel menjadi Letnan Jenderal

Nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengalami perubahan beberapa kali. Pada bulan Januari 1946, nama TKR mengalami dua kali perubahan.

1. TKR yang semula singkatan dari Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Singkatannya tetap TKR.

2. Tentara Keselamatan Rakyat diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia, disingkat TRI. Tentara Republik Indonesia (TRI) mempunyai bagian-bagian: Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Ketika itu, di samping TRI sebagai tentara resmi, masih ada badan-badan perjuangan dan laskar-laskar pemuda. Antara lain Angkatan Pemuda Indonesia (API), Laskar Rakyat, Pemuda Republik Indonesia (PR1), Angkatan Muda Indonesia (AMI), Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), dan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). Tentu saja hal itu kurang menguntungkan perjuangan, sebab tidak mencerminkan persatuan.

Pada’tanggal 3 Juni 1947 TRI dengan badan-badan perjuangan dan laskar-laskar pemuda disatukan, dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya TNI inilah satu-satunya wadah bagi perjuangan bersenjata.

Meskipun namanya berkali-kali mengalami perubahan, namun hari lahir Tentara Keamanan Rakyat tanggal 5 Oktober 1945 merupakan peristiwa bersejarah. Oleh karena itu, tanggal 5 Oktober diresmikan sebagai Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Hari ABRI), yang kita peringati setiap tahun.

Di samping kelahiran dan perkembangan TNI, pada tanggal 29 September 1945 diresmikan pula berdirinya Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sebagai Kepala Kepolisian Negara RI pertama diangkatlah Said Sukanto Cokroatmojo.

Pada tanggal S Oktober 1945 telah terbentuk tentara resmi untuk meningkatkan kekuatan dalam perjuangan bersenjata. Sebelum sempat menyusun kekuatan TKR harus menghadapi perjuangan yang lebih berat melawan tentara Sekutu (Inggris) dan Belanda.

Perjuangan bersenjata pertama melawan tentara Belanda terjadi di Medan, pada tanggal 13 Oktober 1945. Peristiwanya sebagai berikut;

Seperti halnya di tempat-tempat lain, pada tanggal 9 Oktober tentara Sekutu mendarat di Medan dengan diboncengi oleh tentara Belanda. Belanda juga telah menyiapkan kelompok Komando di bawah pimpinan Westerling. Para pemuda di Medan segera membentuk Divisi TKR untuk menghadapi Belanda. Maka terjadilah pertempuran, yang terkenal dengan nama ”Perternpuran Medan Area”.

Pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuan melawan tentara Sekutu di Surabaya. Peristiwa itu dimulai dengan terbunuhnya Jenderal Mallaby, komandan Brigade ke-49 tentara Inggris (Sekutu). Pihak Sekutu menuduh bahwa pemuda-pemuda Indonesia yang membunuhnya.

Foto Mobil Jenderal Mallaby hancur
Mobil Jenderal Mallaby hancur dalam pertempuran 10 November

Sekutu (Inggris) mengeluarkan ultimatum agar pemuda yang membunuh Mallaby segera menyerahkan diri. Bila ultimatum itu tidak dipenuhi, maka kota Surabaya akan diserang dari darat, laut, maupun udara. Tentu saja para pemuda Surabaya tidak memenuhi ultimatum itu.

Foto Kapal perang Inggris
Kapal perang Inggris yang dipergunakan menyerang Surabaya

Oleh karena itu, pada tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 Inggris mulai menyerang kota Surabaya secara besar-besaran. Baik dari darat, laut, maupun udara. Para pemuda mengadakan perlawanan dengan penuh semangat dan tekad membaja.

Foto Petempuran Surabaya
Api membakar perkampungan dalam pertempuran Surabaya

Karena lawan yang dihadapi sangat berat, maka TKR dan para pemuda terpaksa mundur ke luar kota. Perlawanan para pemuda terhadap Sekutu di Surabaya benar-benar dijiwai semangat pahlawan. Oleh karena itu, tanggal terjadinya peristiwa tersebut ialah tanggal 10 November, ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Untuk mengenang peristiwa itu, di Surabaya dibangun Tugu Pahlawan.

Foto Tugu Pahlawan di Surabaya
Tugu Pahlawan di Surabaya untuk mengenang 10 November

Pertempuran melawan Inggris tidak hanya terjadi di Surabaya. Di tempat-tempat lain pun terjadi. Antara lain di Ambarawa, Pertempuran di Ambarawa terjadi juga dalam bulan November 1945.

TKR di bawah pimpinan Kolonel Sudirman (ketika itu belum menjabat sebagai Panglima Besar) berhasil memukul tentara Inggris. Pada tanggal 15 Desember 1945, tentara Inggris terpaksa mundur ke Semarang.

Peristiwa 15 Desember 1945 benar-benar bersejarah bagi bangsa kita, khususnya ABRI. Maka tanggal 15 Desember ditetapkan sebagai Hari Infanteri. Pertempuran di Ambarawa itu terkenal dengan nama Palagan Ambarawa.

Foto Monumen Palagan Ambarawa
Monumen Palagan Ambarawa untuk mengenang petrtempuran Ambarawa.

Dalam pertempuran tanggal 15 Desember 1945 jasa Kolonel Sudirman cukup besar. Beliau adalah seorang pejuang yang tangguh. Oleh karena itulah, maka kemudian beliau. diangkat sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat Letnan Jenderal.

Gambar Peta Pertempuran Ambarawa
Peta Pertempuran Ambarawa

Sementara itu, situasi di ibu kota semakin genting. Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia terancam oleh tentara Sekutu dan Belanda, Pada tanggal 4 Januari 1946 ibu kota RI dipindahkan ke Yogyakarta. Sejak itu kota Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, dan sekaligus menjadi pusat perjuangan.

Pada tanggal 23 Maret 1946 di Bandung terjadi suatu peristiwa yang terkenal dengan nama ”Bandung Lautan A 191” Peristiwa itu terjadi karena Sekutu menuntut agar senjata yang dirampas oleh para pemuda dari tangan Jepang, di serahkan kepada Sekutu. Kemudian disusul ultimatum dari Sekutu, agar pasukan TRI meninggalkan kota Bandung. Maka pasukan TRI pun melancarkan serangan umum ke pos-pos tentara Sekutu. Kemudian mengundurkan diri sambil membumihanguskan kota Bandung bagian selatan.

Pertempuran melawan Sekutu hanya berlangsung beberapa bulan. Secara berangsur-angsur tentara Sekutu ditarik dari Indonesia. Tetapi hal itu bukan berarti perjuangan bersenjata telah selesai. Sebab Belanda masih bercokol di Indonesia. Bahkan jelas, bahwa Belanda bermaksud menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda yang dahulu telah diruntuhkan oleh Jepang Oleh karena itu, pertempuran melawan Belanda pun terjadi di mana-mana.

Di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan di Irian Barat (Irian Jaya). Pertempuran melawan Belanda ternyata berlarut-larut cukup lama.

Akhirnya Inggris menyadari, bahwa Belanda tidak mungkin dapat mematahkan perjuangan rakyat Indonesia dengan kekuatan senjata. Maka Inggris berusaha agar sengketa antara Indonesia dengan Belanda dapat diselesaikan dengan jalan perundingan.

Apakah kita bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda? Tentu saja Sebab, bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai. Perjuangan bersenjata terpaksa kita lakukan, karena untuk mempertahankan kemerdekaan kita. Bila hal itu dapat diselesaikan dengan melalui perundingan, tentu saja kita terima.

Dengan perundingan berarti bangsa Indonesia menempuh perjuangan diplomasi. Memang, di samping perjuangan bersenjata, kita perlu mengadakan perjuangan melalui diplomasi. Dengan perantara Inggris, terjadilah beberapa kali perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Yang terkenal ialah perundingan di Linggajati, sebelah selatan Cirebon.

Perundingan itu berlangsung pada tanggal 10-15 November 1946. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir. Sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Dr. H. J. van Mook. Penengah dari’pihak Inggris semula Lord Inverchapel, kemudian diganti Lord Killearn.

Perundingan Linggajati menghasilkan Persetujuan Linggajati. Isinya antara lain sebagai berikut:

  • Belanda mengakui kedaulatan de facto Negara RI atas Sumatra, Jawa, dan Madura.
  • RI dan Belanda akan bekerja sama membentuk Negara Indonesia Serikat, dan RI sebagai salah satu negara bagian dalam negara Indonesia Serikat.
  • Negara Indonesia Serikat dan Belanda akan bersatu menjadi Uni Indonesia – Be1anda, dengan Ratu Belanda sebagai kepala uni.

Setelah dipertimbangkan masak-masak, Persetujuan Linggajati ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di Istana Rijswijk (Sekarang Istana Merdeka) di Jakarta. Amatilah baik-baik peta berikut ini! Inilah peta wilayah RI berdasarkan Persetujuan Linggajati.

Gambar Peta Indonesia berdasarkan Persetujuan Linggajati
Peta Indonesia berdasarkan Persetujuan Linggajati

Dari peta itu, Anda mengetahui bahwa Persetujuan. Linggajati belum memenuhi tuntutan perjuangan kita, bukan? Apa sebabnya?

Persetujuan Linggajati belum memuaskan bangsa Indonesia. Meskipun demikian, ada juga arti pentingnya. Sebab, perundingan ini dapat memperkokoh kedudukan politik Indonesia di gelanggang internasional.

Perjuangan bangsa Indonesia dikenal oleh dunia internasional. Bahkan telah ada beberapa negara yang mengakui kedaulatan Indonesia. Antara lain Mesir. Mesir ialah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia.

Ternyata bahwa perjuangan bersenjata maupun diplomasi sama-sama pentingnya. Perjuangan bersenjata untuk menekan musuh dalam bidang militer. Sedangkan diplomasi untuk memperkokoh kedudukan politik di gelanggang internasional.

Sementara Perjanjian Linggajati baru selesai, dan persetujuannya belum ditandatangani, di Bali terjadi pertempuran melawan Belanda. Pertempuran itu dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, dan terkenal dengan nama ”Pertempuran Margarana”.

Peristiwa itu terjadi di Margarana, sebelah utara Tabanan, pada tanggal 29 November 1946. Mengapa terjadi pertempuran Margarana? Karena rakyat Bali kecewa setelah mendengar keputusan Perjanjian Linggajati, Belanda hanya mengakui kedaulatan de facto RI atas Sumatra, Jawa, dan Madura.

Berarti wilayah Bali dipisahkan dari RI, lebih-lebih ketika Belanda mengajak Letkol I Gusti Ngurah Rai untuk bekerja sama mendirikan negara boneka Indonesia Timur. Ajakan Belanda itu ditolak dengan tegas oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai. Maka pertempuran pun berkobar dalam pertempuran ini I Gusti Ngurah Rai mengobarkan perang ”puputan”, artinya perang habis-habisan. I Gusti Ngurah Rai gugur sebagai kusuma bangsa.

Sementara itu, pada tanggal 7 hingga 25 Desember 1946 Belanda melakukan tindakan kejam di luar batas kemanusiaan terhadap rakyat Sulawesi Selatan. Pelakunya ialah Kapten Westerling. Ia membunuh ribuan rakyat, dengan tujuan membinasakan semua pejuang di Sulawesi Selatan.

Baca juga: Sejarah Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang