Peradaban Lembah Sungai Nil

Sejarah99 Dilihat

Peradaban dapat diartikan sebagai tinggi rendahnya kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa yang mengandung nilai-nilai luhur. Kebudayaan ialah segala hasil daya cipta manusia yang ditujukan untuk kepentingan hidup masyarakat. Beberapa bangsa telah meninggalkan peradaban menakjubkan. Mesir, Mesopotamia, India, dan Cina adalah beberapa diantaranya.

Gambar Peta daerah peradaban Mesir Kuno
Peta daerah peradaban Mesir Kuno

Wilayah Mesir kuno terletak di bagian utara Benua Afrika. Sebagian besar wilayahnya itu terdiri atas gurun pasir yang luas. Di tengah hamparan pasir yang luas mengalir Sungai Nil yang panjangnya sekitar 5.600 km. 

Sejarawan Yunani, Herodotus mengungkapkan bahwa Mesir merupakan hadiah Sungai Nil. Hal ini berarti, andaikata tidak ada Sungai Nil niscaya tanah Mesir semuanya gersang. Berkat aliran Sungai Nil, di kiri kanan sungai terdapat tanah aluvial yang dapat memberi kesuburan sehingga dimanfaatkan bagi kegiatan pertanian. Tidak mengherankan apabila di sepanjang Sungai Nil telah banyak dihuni orang sejak dulu. Di sekitar wilayah itu kemudian berkembang peradaban yang terkenal ke seluruh dunia. 

1. Sistem Kekuasaan

Orang-orang yang menetap di sepanjang Sungai Nil kebanyakan mengusahakan pertanian. Mereka menanam jelai, sekoi, gandum, atau bahan-bahan pangan lainnya. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, mereka berusaha mengatur sistem tata air dengan baik.

Oleh karena itu, muncul para pengatur air yang berkuasa membagi-bagi aliran air ke ladang-ladang petani. Kepemimpinan mereka diakui. Mereka juga dihormati anggota masyarakat. Lambat laun peranan para pengatur air berubah sebagai penarik pajak hasil bumi dari para petani. Dalam keadaan demikian, timbul persaingan di antara mereka untuk menguasai wilayah yang lebih luas. Pemimpin yang paling cakap dan terkemuka akhirnya menjadi raja atau firaun (faraoh) di Mesir kuno.

Pada umumnya setiap firaun memiliki kekuasaan yang mutlak (absolut). Rakyat harus menerima kebijakan raja dengan pasrah. Bagi mereka yang tidak mematuhi perintah, hukuman yang berat, seperti dicambuk, direbus, digantung, atau dibakar hidup-hidup akan didapatnya. Namun, banyak pula rakyat Mesir yang menganggap firaun sebagai seorang dewa. Oleh karena itu, mereka amat memujanya. 

Sejak tahun 3.000 SM para firaun tinggal di istana yang indah di ibukota kerajaan, yaitu Memphis. Nama firaun yang terkenal, antara lain adalah Amenhotep I (1529-1508 SM), Tutmosis III (1504-1450 SM),  Akhnaton (1387-1365 SM), Seti I (1303-1290 SM), dan Ramses II (1290-1224 SM). Firaun yang terkenal bijak dan monotheis ialah Amenhotep IV. Ia memperkenalkan pemujaan terhadap satu dewa yang disebut Aton. Firaun yang menganggap dirinya Tuhan, yaitu Ramses II. 

Patung Firaun Amenhotep 3
Firaun Amenhotep 3

“Di dalam kitab suci diceritakan bahwa Ramses II mengejar Nabi Musa sampai ke Laut Merah. Di tempat itulah, ia bersama para pengikutnya menemui ajal.”

2. Sistem Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat Mesir kuno menyembah banyak dewa (politeisme). Dewa tertinggi yang mereka sembah ialah Dewa Ra atau Dewa Re (Dewa Matahari). Untuk menyembah Dewa Ra, mereka membangun obelisk. Bangunan obelisk ialah tugu yang terbuat dari batu granit berwarna merah. Dewa lain yang mereka puja adalah Dewa Osiris dan Dewa Isis. Dewa Osiris bertugas menghakimi orang-orang yang meninggal dunia. Dewa Isis ialah isteri Dewa Ra. 

Foto Mumi dan piramida sebagai tempat penyimpanannnya
Mumi dan piramida sebagai tempat penyimpanannnya

Menurut kepercayaan masyarakat Mesir kuno, roh seseorang yang meninggal akan tetap hidup selama jasadnya masih utuh. Oleh karena itu, mayat orang-orang yang meninggal harus diawetkan. Mereka akan dibalsem, dililit kain putih tipis sampai menutupi seluruh tubuhnya, dan kemudian dimasukan ke dalam peti yang bentuknya sesuai benar dengan tubuh mayat. Mayat yang telah diawetkan ini disebut mumi. 

Mumi para firaun disimpan di dalam piramida. Piramida adalah bangunan berbentuk limas yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat raja-raja. Peninggalan piramida yang paling besar di Mesir adalah Piramida Cheops. Piramida ini memiliki ketinggian 137 meter.

3. Peninggalan Budaya

Di dalam dinding-dinding kuburan firaun banyak dijumpai tulisan-tulisan. Tulisan bangsa Mesir kuno berbentuk gambar atau lambang-lambang. Orang Yunani menyebut tulisan itu hieroglyph, yang berarti huruf suci yang dipahat. Tulisan ini berhasil diterjemahkan seorang sarjana Prancis bernama Champolion. Berkat jasanya, tabir sejarah Mesir kuno bisa terungkap dan dapat dipelajari masyarakat di seluruh dunia.

Foto Barisan spink Mesir Kuno
Barisan spink Mesir Kuno

Selain piramida dan obelisk, masyarakat Mesir kuno juga meninggalkan seni budaya berupa patung-patung, kuil, dan sphink. Pembuatan bangunan-bangunan besar seperti piramida dan sphink memerlukan pengetahuan dan keterampilan. Para ahli memperkirakan masyarakat Mesir kuno telah mengenal matematika sehingga mereka dapat mengukur dengan tepat bentuk limas sebuah piramida. Mereka juga dapat menghitung berapa banyak balok cadas yang diperlukan untuk membuat bangunan itu. Demikian pula dalam menghitung ukuran dan benda-benda yang diperlukan untuk membuat sphink.

“Sphink adalah bangunan berupa patung singa yang berkepala manusia. Salah satu sphink besar dibangun berdekatan dengan Piramida Cheops. Apa makna bangunan Sphink tersebut?”

Bangsa Mesir kuno telah mengenal sistem penanggalan berdasarkan peredaran matahari. Mereka dapat membagi satu tahun ke dalam 12 bulan dan setiap bulan dalam 30 hari. Untuk menemukan musim tanam dan mengatasi luapan Sungai Nil, mereka memanfaatkan astronomi atau ilmu falak. Astronomi ialah ilmu yang mempelajari benda-benda langit, seperti matahari, bulan, bintang, dan lain-lain.

“Astronomi dan sistem penanggalan didasarkan kepada hasil pengamatan bahwa sistem tata surya memiliki kaidah keteraturan. Tuhan menciptakan keteraturan sistem tata surya itu agar manusia memiliki perhitungan atas waktu.”

Baca juga artikel peradaban tertua di dunia lainnya pada tautan di bawah ini: