Semenjak akhir abad ke XIII di Aceh telah ada kerajaan yang pada masa itu lazim disebut Lamuri. Tetapi, Lamuri itu hanya kerajaan kecil yang pada masa perkembangan Majapahit dimasukkan ke bawah kekuasaannya. Pada masa perkembangan Samudra Pasai dan Malaka, Aceh tidak mendapat kesempatan untuk berkembang. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 M barulah Aceh mendapat kesempatan untuk maju. Ketika orang-orang Portugis mulai datang ke Malaka pada permulaan abad ke XVI, Aceh masih berada di bawah kekuasaan kerajaan yang ada di Sumatra pula, yaitu Pidie. Tetapi, kemudian Aceh melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Pidie berkat seorang tokoh yang menjadi penguasa Aceh pada waktu itu, yaitu Ali Muqhayat Syah (1514-1528). Dialah pendiri kerajaan Aceh, sekaligus sultan Aceh yang pertama.
Letak Geografis Kerajaan Aceh
Secara geografis letak dan kedudukan kerajaan Aceh sangat strategis di sekitar selat Malaka. Kerajaan Aceh terletak di pulau Sumatera bagian utara dan dekat dengan jalur pelayaran dan perdagangan Internasional. Ramainya aktifitas pelayaran dan perdagangan melalui bandar-bandar perdagangan Kerajaan Aceh mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang.

Di bawah pimpinan Sultan Ali Muqhayat Syah, Aceh mulai melebarkan kekuasaan ke daerah-daerah sekitarnya. Operasi-operasi militer Aceh diadakan tidak saja dengan tujuan agama dan politik, tetapi juga dengan tujuan ekonomi. Kesebelah utara, Sultan menyerang Pidie, Pasai, dan Daya. Usaha perluasan wilayah itu kemudian diteruskan oleh sultan-sultan Aceh berikutnya. Selain berhasil menguasai daerah itu, ia juga berhasil menggabungkan Samudera, Perlak, Gayo-Alas, Barat, Singkel, Teureumon, dan Barus ke dalam kedaulatan Sultan Aceh. Antara kesultanan Aceh dengan Portugis di Malaka selalu timbul persaingan yang hebat. Persaingan itu berkaitan dengan usaha memperebutkan dominasi ekonomi di wilayah sekitar Selat Malaka. Selain itu, kedudukan Portugis di Malaka telah menjadi penghalang bagi usaha perluasan wilayah oleh Aceh. Hal ini juga menambah sering terjadi pertempuran antara Aceh dengan Malaka. Semenjak tahun 1515 Aceh mulai memerangi Portugis dan berkali-kali berusaha merebut Selat Malaka, tetapi usaha Aceh selalu gagal.
Masa Kejayaan Kerajaan Aceh
Puncak Kejayaan Kesultanan Aceh tercapai pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam masa itu, kerajaan Aceh mencapai kemakmuran yang luar biasa. Bandar Aceh dibuka luas menjadi pelabuhan internasional dengan jaminan pengamanan terhadap gangguan laut dari kapal Portugis. Kekayaan negara berasal dari hasil perdagangan lada, emas, kapur barus, dan hasil-hasil bumi lainnya yang diminati oleh para pedagang asing. Hasil pemungutan bea cukai dari barang-barang yang ke luar masuk pelabuhan dipergunakan untuk pembelian dan pembuatan kapal-kapal perang guna memperkuat armada kerajaan Aceh. Penaklukan demi penaklukan tidak hanya terhadap daerah sekitar Aceh, namun meluas jauh ke luar daerah Aceh. Daerah kekuasaan Aceh tidak hanya meliputi seluruh Sumatra Utara dan sepanjang daerah pesisir Sumatra Barat sampai Indrapura, melainkan sampai Semenanjung Malaya, yaitu Pahang, Kedah, Perak, dan Johor. Pada zaman Sultan Iskandar Muda, di Aceh hidup seorang ahli tasawuf yang bernama Syamsudin as-Samaratani. Ia adalah murid Hamzah Fansuri, seorang ahli tasawuf dari Persia. Ia meninggal dunia di Aceh beberapa tahun sebelum pemerintahan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda disusun suatu undang-undang tentang tata pemerintahan yang disebut Adat Meukeuta (Mahkota) Alam. Iskandar Muda juga membangun sebuah mesjid, yaitu mesjid Raya Baitul Rahman.

Setelah Iskandar Muda wafat, Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Ia adalah menantu Iskandar Muda. Di bawah sultan baru ini, Aceh mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan Iskandar Thani yang memerintah antara tahun 1636-1641 bersikap lunak terhadap orang barat, baik terhadap Portugis maupun Belanda dan Inggris. Apalagi setelah Belanda dengan bantuan Johor berhasil merebut Malaka pada 14 Juni 1641, maka Aceh menderita dalam bidang politik dan perdagangan. Kerajaan Aceh bentambah mundur sejak Sultan Iskandar Thani wafat dan digantikan oleh istrinya sendiri, yaitu Tajul Alam Syarifiatuddin Syah. Tajul Alam Syarifiatuddin Syah memerintah pada tahun 1641 sampai 1675. Daerah-daerah pengaruh Aceh di luar Sumatra mulai melepaskan diri, sedangkan di dalam negeri orang-orang kaya yang juga mempunyai kedudukan dalam pemerintahan menambah kekuasaan mereka masing-masing. Dengan demikian, kerajaan Aceh yang semula memiliki daerah yang begitu luas, tidak dapat lagi dikuasai oleh sultanah Aceh atau penguasa pusat.
Raja-Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Aceh
Berdirinya kerajaan aceh tidak pernah diketahui secara pasti, namun berdasarkan kitab Bustanussalatin karangan Nuruddin ar-Raniri tahun 1637 M, diketahui Raja-raja yang pernah memerintah Aceh adalah sebagai berikut.
1. Sultan Ali Mughayat Syah
Sultan Ali Mughayat Syah adalah Raja pertama Kerajaan Aceh dan memerintah dari tahun 1514-1528. Di bawah kepemimpinan Ali Muqhayat Syah, Aceh memperluas kekuasaan ke daerah sekitarnya. Di sebelah utara, Aceh berhasil menundukkan Pidie, Pasai, dan Daya. Ke arah selatan, Aceh memperluas wilayah hingga perbatasan Minangkabau. Dalam ekspedisi militernya, Aceh menggunakan pasukan asing, terdiri atas orang-orang Turki, Arab, dan Abesinia (sekarang Ethiophia).
Keberhasilan militer Aceh ikut mendorong kemajuan perekonomiannya. Jatuhnya Malaka ke tangan orang Portugis pada tahun 1511 menjadikan Aceh sebagai pelabuhan utama di kawasan. Para pedagang Muslim dari mancanegara dan Nusantara datang untuk memperoleh rempah-rempah di Selat Malaka.
Lonjakan perdagangan internasional di Aceh memungkinkan kesultanan membangun angkatan laut yang kuat. Untuk memantapkan kedudukannya, Aceh Juga membangun hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Ottoman. Pada masa itu Kesultanan Turki Ottoman dianggap sebagai pemegang kekuasaan tertinggi Islam.
2. Sultan Salahuddin
Pengganti Sultan Ali Mughayat Syah adalah Sultan Salahuddin (1528-1537). Ketika memerintah Aceh, ia tidak pernah mempedulikan kekuasaannya. Kerajaan Aceh mulai goyah dan mengalami pemerosotan yang tajam. Oleh karena itu, Salahuddin digantikan saudaranya yang bernama Alauddin Riayat Syah al Kahar.
3. Sultan Alauddin Riayat Syah al Kahar
Sultan Alauddin Riayat Syah al Kahar memerintah kerajaan Aceh dari tahun 1537 sampai dengan tahun 1568. Setelah menjadi raja ia melakukan berbagai perbaikan dan perubahan diberbagai bidang kehidupan. Daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari kerajaan Aceh kembali dapat dipersatukan lagi. Setelah Sultan wafat keadaan kerajaan Aceh mengalami kemerosotan dan penuh dengan pemberontakan. Keadaan itu berlangsung cukup lama, hingga pada tahun 1607 muncul Sultan Iskandar Muda yang berhasil mengembalikan keadaan seperti semula.
4. Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1607 sampai dengan tahun 1636. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi Kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam di Asia Tenggara. Sultan Iskandar Muda juga pernah melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Tujuannya adalah untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah penghasil lada. Kerajaan Aceh juga pernah menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatra bagian barat.
Pada masa kekuasaannya, terdapat dua ahli tasawuf yang terkenal di Aceh, yaitu Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syekh Ibrahim as-Syami. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya yang bergelar Sultan Iskandar Thani.
5. Sultan Iskandar Thani
Sultan Iskandar Thani memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1636 sampai tahun 1641 melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Akan tetapi ia tidak lama memerintah karena pada tahun 1641 ia wafat. Tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh permaisurinya yaitu Putri Iskandar Muda, yang bergelar Putri Sri Alam Permaisuri (tahun 1641-1675).
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani muncul seorang ulama besar yang bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh yang berjudul Bustanussalatin. Sebagai ulama besar ia sangat disegani dan dihormati oleh Sultan dan keluarganya serta seluruh rakyat Aceh.
Masa Kemunduran Kerajaan Aceh
Pengganti Iskandar Muda adalah Iskandar Tsani. Tidak seperti pendahulunya, Tsani lebih memperhatikan pembangunan dalam negeri dibanding melakukan perluasan wilayah Kesultanan Aceh. Ia lebih memerhatikan masalah agama daripada pemerintahan. Selama berkuasa Tsani banyak membangun masjid. Pada periode ini hidup seorang ulama asal Gujarat bernama Nuruddin ar-Raniri yang mendorong perkembangan studi agama Islam di Aceh.
Setelah kematian Iskandar Tsani, Aceh mengalami ketidakstabilan dan pergolakan karena ia tidak meninggalkan seorang putra mahkota. Di tengah krisis ini, sejumlah wilayah melepaskan diri dari kesultanan. Akibatnya, Aceh berangsur melemah. Kesultanan masih dapat bertahan cukup lama sebelum akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada awal abad ke-20.
Kehidupan Ekonomi Masyarakat Kerajaan Aceh
Dalam masa kejayaannya, perekonomian Kerajaan Aceh berkembang dengan pesat. Daerah yang subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah pantai timur dan barat Sumatra menambah jumlah ekspor ladanya. Pada masa itu aktifitas perekonomian Kerajaan Aceh sudah berkembang sampai keluar wilayah kerajaannya. Bahkan para pedagang dari negeri-negeri di sebelah barat sudah banyak yang melakukan kegiatannya di Kerajaan Aceh. Mereka adalah bangsa Inggris, Belanda, Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, dan Jepang. Barang-barang yang berhasil di ekspor oleh Aceh diantaranya beras dan lada, Timah dari Perlak dan Pahang, emas dan perak dari Minangkabau, serta rempah-rempah dari Maluku. Bahan-bahan yang diimpor Aceh diantaranya kain dari Coromandel-India, porselen dan sutra dari Jepang dan Cina, serta minyak wangi dari Eropa dan Timur Tengah. Kapal-kapal Aceh juga aktif dalam pelayaran dan perdagangan sampai wilayah Laut Merah.
Kehidupan Sosial Masyarakat Kerajaan Aceh
Kemakmuran yang semakin meningkat menyebabkan berkembangnya sistem feodalisme dan ajaran agama Islam di Aceh. Kaum bangsawan yang memegang golongan penting dalam pemerintahan sipil disebut golongan teuku. Kaum agama yang memegang peranan penting dalam bidang keagamaan disebut golongan tengku. Antara kedua golongan itu sering terjadi persaingan yang menyebabkan lemahnya kedudukan Aceh. Disamping itu, kehidupan sosial masyarakat lebih banyak didasarkan pada ajaran agama Islam.
Kehidupan Budaya Masyarakat Aceh
Kejayaan yang dialami oleh kerajaan Aceh tersebut tidak banyak yang diketahui melalui hasil kebudayaannya. Walaupun demikian, ada perkembangan dalam bidang kebudayaan, tetapi tidak sepesat dalam bidang perekonomiannya. Peninggalan kebudayaan yang terlihat dari Kerajaan Aceh yaitu berupa bangunan Masjid Baiturrahman. Masjid Baiturrahman dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Baca juga :









