Sejarah Perlawanan Pattimura Terhadap Kolonial Belanda

Sejarah4 Dilihat

Pada masa pemerintahan VOC di Indonesia, masyarakat Maluku sangat menderita karena adanya monopoli perdagangan yang disertai dengan Pelayaran Hongi. Keadaan seperti inilah yang mendorong terjadinya perlawanan rakyat. Sebab-sebab terjadinya perlawanan rakyat antara lain adalah adanya kegelisahan, ketakutan, kekecewaan rakyat Maluku terhadap Belanda, adanya peredaran uang kertas yang membingungkan, dan didudukinya Benteng Duurstede oleh Belanda.

Pattimura

Sebelum melakukan perlawanan, mereka mengadakan rapat secara rahasia untuk mengatur serangan ke Benteng Duurstede. Dalam rapat, mereka sepakat memilih Thomas Matulessi atau Pattimura sebagai pemimpin. Aksi penyerangan dilakukan pada tanggal 15 Mei 1817 dengan menyerang pos Belanda di Porto, dan berhasil menawan residen Van Den Berg. Namun pada akhirnya, residen dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke benteng. Pada tanggal 16 Mei 1817 rakyat bersama Thomas Matulessi mengadakan penyerbuan dan berhasil merebut kembali Benteng Duurstede. Dari Saparua perlawanan meluas ke tempat lain seperti Seram, Haruku, Larike, dan Wakasihu. Hampir seluruh Maluku melakukan perlawanan hingga muncullah pemimpin-pemimpin perlawanan seperti Cristina Marthatiahahu, Anthonie Rhebok, Lucas Latumahina, Thomas Patiwael, Ulupaha, Said Perintah, dan Raja Tio. Dalam upaya mengatasi perlawanan rakyat tersebut, Belanda mendatangkan bala bantuan dari Ambon ke Haruku. Mereka bermarkas di benteng Zeelandia, namun bala bantuan itu belum berhasil memadamkan perlawanan rakyat. Pada bulan Juli didatangkan kembali bala bantuan dibawah pimpinan Groot. Walaupun Belanda berhasil merebut kembali Benteng Duurstede, namun kedudukannya sangat sulit karena mereka terpisah dengan pasukan di luar benteng. Oleh karena itu, Belanda kemudian mengajak berunding, tetapi perundingan tersebut tidak membawakan hasil. Akhirnya pertempuran kembali meletus. Belanda mendatangkan pasukan ke Saparua dari Ambon dibawah pimpinan kapten Lisnet pada tanggal 3 September 1817. Mereka juga belum berhasil memadamkan perlawanan. Kemudian mereka mencari cara lain yaitu dengan mengadakan sayembara. Belanda akan memberikan hadiah 1.000 gulden kepada siapa saja yang berhasil menangkap Thomas Matulessi, dan 500 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkap pemimpin lainnya. Siasat tersebut juga belum berhasil. Pada tanggal 15 Oktober 1817, Belanda mulai mengadakan serangan secara besar-besaran. Berangsur-angsur perlawanan mulai dapat dipadamkan. Satu hal yang menyebabkan melemahnya perlawanan rakyat yaitu tertangkapnya satu persatu pemimpin mereka. Pada bulan November Thomas Matulessi tertangkap oleh Belanda. Akhirnya, pemerintah Belanda menjatuhkan hukuman gantung terhadap Thomas Matulessi dan pemimpin lainnya. Pada tanggal 16 Desember 1817 pukul 07.00, Matulessi dihukum gantung dihalaman Gedung Pengadilan Ambon dan dipertontonkan kepada rakyat. Hal ini dilakukan supaya rakyat Maluku tidak berani melakukan perlawanan. Sebelum digantung Thomas Matulessi berkata kepada rakyat “Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda”.