Dalam artikel sejarah kali ini, berkasilmu.com akan menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan manusia purba khususnya yang ditemukan di Indonesia. Pertanyaan tersebut antara lain: Apa saja jenis manusia purba di Indonesia? Manusia purba tahun berapa? Siapa penemu manusia purba di Indonesia? Siapa saja yang meneliti manusia purba di Indonesia? Selengkapnya silahkan baca ulasannya di bawah ini:
Manusia Purba di Indonesia
Setiap orang telah mengetahui manusia pertama yang diturunkan Tuhan di atas permukaan bumi. Namun, tidak semua orang mengetahui bentuk fisik manusia pada masa lalu, corak kehidupan, dan berbagai peralatan hidup manusia di kelampauan.
Keingintahuan inilah yang telah mendorong manusia (terutama para peneliti) untuk menggali, mengorek tanah, dan mengumpulkan berbagai benda purbakala, seperti fosil, artefak, atau peralatan rumah tangga.

Fosil ialah sisa-sisa tulang belulang jenis manusia, binatang, atau tumbuhan yang telah membatu karena tertimbun tanah ribuan atau jutaan tahun. Artefak adalah segala benda atau perkakas yang dibuat dan digunakan manusia purba untuk keperluan hidupnya.

Indonesia termasuk negara yang banyak meninggalkan fosil dan artefak. Banyaknya penemuan benda-benda itu membuat Indonesia menjadi negara yang penting bagi para peneliti kehidupan prasejarah. Para peneliti yang datang ke Indonesia umumnya memiliki alasan sederhana. Menurut mereka, kawasan Indonesia amat nyaman, lingkungannya enak, dan berada di bawah garis khatulistiwa. Hal ini memungkinkan kehidupan keseharian bisa terus berlangsung tanpa terputus oleh musim.
Usaha para peneliti untuk terus mencari benda-benda purbakala membawa hasil. Para peneliti telah menemukan berbagai jenis manusia purba yang pernah hidup di Indonesia. Fosil-fosil manusia purba di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Pithecantropus
Pada tahun 1889 seorang geologiwan Belanda bernama B.D. van Rietschoten menemukan tengkorak manusia di daerah Wajak, dekat Tulungagung (Jawa Timur). Hasil temuan itu kemudian dikirimkan kepada temannya yang bernama Dr. Eugene Dubois di Belanda. Dubois merasa tertarik dengan benda kiriman itu. Ia berusaha mendatangi tempat penemuannya. Segeralah ia dengan sukarela mendaftarkan diri ke dalam dinas militer Belanda. Harapannya, ia dapat dikirim untuk bertugas di Indonesia. Keinginan ini akhirnya terkabul.
Di Indonesia, Dubois lebih banyak menekuni penelitian daripada tugas militernya. Daerah pertama yang ia jelajahi adalah sekitar wilayah Sumatera Barat. Berbulan-bulan ia mengadakan penelitian di situ tetapi hasilnya sia-sia. Oleh karena itu, Dubois segera mengalihkan perhatiannya ke Pulau Jawa.
Keinginannya terpenuhi di Pulau Jawa. Pada tahun 1890 Dr. Eugene Dubois menemukan fosil di daerah Trinil, dekat Ngawi (Jawa Timur). Fosil yang pertama ia temukan adalah tempurung kepala dan tulang rahang. Setahun kemudian ia mendapatkan fosil tulang paha kiri yang diperolehnya di dekat lokasi penemuan pertama. Setelah direkonstruksi tinggi tubuh fosil temuan Dubois itu diperkirakan antara 165-180 cm. Fragmen tubuhnya menunjukkan ciri manusia yang mulai berjalan tegak. Oleh karena itu, fosil temuan ini oleh Dubois diberi nama Pithecantropus erectus yang berarti manusia-kera yang berjalan tegak. Fosil ini dikenal pula dengan sebutan Manusia Jawa.
Pencarian terhadap jenis fosil Pithecantropus erectus terus dilakukan. Pada tahun 1936 dua orang peneliti yang bernama Duyfjes dan Von Koenigswald berhasil menemukan fosil Pithecantropus erectus di Perning, Kabupaten Mojokerto (Jawa Timur). Hasil temuannya-berupa tengkorak anak-anak yang berusia sekitar enam tahun. Jenis manusia purba ini diduga telah hidup sekitar 1,9 juta tahun yang lalu. Hasil temuan tadi kemudian diberi nama Pithecantropus mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto) atau Pithecantropus robustus. Para arkelog menganggap jenis fosil manusia purba ini paling tua usianya di Indonesia.
2. Megantropus
Penamuan fosil manusia purba lain yang agak tua usianya di Indonesia ialah Megantropus palaeojavanicus (manusia besar tua dari Jawa). Jenis manusia purba ini diperkirakan hidup pada 1,6 juta tahun yang lalu. Fragmen-fragmen fosil Megantropus
ditemukan oleh von Koenigswald antara tahun 1936-1941 di Sangiran, daerah Surakarta (Jawa Tengah). Fragmen pertama yang ditemukan berupa rahang bawah dan rahang atas. Pada tahun 1952 seorang peneliti bernama Marks menemukan pula fragmen gigi lepas sehingga ikut melengkapi temuan sebelumnya. Setelah diteliti dengan saksama, jenis fosil Megantropus. ternyata memiliki tulang rahang bawah yang tegap. Selain itu, fosil ini juga bergeraham besar.
Apabila kita bandingkan ukuran dan bentuknya, fosil Megantropus ternyata lebih besar dan berperawakan lebih tegap dibanding Pithecantropus erectus.
3. Homo
Jenis fosil homo memiliki ciri yang berbeda dengan Pithecantropus dan Meganthropus. Isi tengkorak fosil homo diperkirakan antara 1.000-2.000 cc. Fosil homo memiliki tinggi badan yang bervariasi, yaitu antara 130-210 Cm. Berat badannya diperkirakan antara 30-150 kg. Fosil homo yang ditemukan di Indonesia adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
a. Homo soloensis
Pada tahun 1931-1933 tiga orang peneliti, yaitu Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koenigswald berhasil menemukan satu seri tengkorak yang jumlahnya sangat besar. Tengkorak-tengkorak. itu ditemukan di daerah Ngandong, dekat Blora (Jawa Tengah). Berdasarkan penelitian, fosil manusia purba ini menempatkan diri pada tingkatan yang lebih tinggi daripada Pithecantropus erectus. Jenis penemuan ini dinamakan Homo soloensis, artinya manusia dari Solo. Homo soloensis diperkirakan telah hidup antara tahun 35000-15000 SM.
b. Homo wajakensis
Fosil purba ini ditemukan pada tahun 1889 oleh B.D. van Rietschoten di daerah Wajak, Tulungagung (Jawa Timur) dan diberi nama Homo wajakensis (manusia dari Wajak). Di tempat yang sama, Dubois menemukan fosil sejenis yang diberi nama Homo Wajakensis II pada tahun 1920. Menurut perkiraan para ahli, Homo wajakensis merupakan bentuk perubahan langsung dari Homo soloensis. Jenis manusia purba ini menurunkan penduduk asli Pulau Irian dan sekitarnya.
Tengkorak Homo wajakensis mempunyai daya tampung volume otak kira-kira 1530 cc dan 1650 cc. Di antara semua jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia, Homo wajakensis merupakan jenis manusia purba terakhir yang memiliki tingkat kecerdasan dan peradaban paling tinggi dibanding yang lainnya. Baca juga: Penemuan Fosil Manusia Purba di Asia, Afrika, dan Eropa Perhatikan peta penemuan jenis-jenis manusia purba di Indonesia berikut ini!

Baca juga referensi lainnya tentang manusia purba di artikel: 3 Jenis Manusia Purba di Indonesia





