Peradaban Lembah Sungai Indus

Sejarah154 Dilihat

Pada tahun 3000 SM, di Lembah Sungai Indus (India) telah berkembang suatu peradaban yang dikenal sebagai peradaban Mohenjo Daro dan Harappa. Di tempat ini bangsa Dravida meninggalkan salah satu dari beberapa kebudayaan tertua di dunia. Di tempat ini pula ditemukan bukti-bukti adanya kehidupan masyarakat yang sudah berperadaban maju. 

Peradaban Mohenjo Daro dan Harappa

Pada tahun 1922 seorang ahli arkeologi Inggris, Sir John Marshall mengadakan penelitian di sepanjang Sungai Indus. Di wilayah itu ia menemukan adanya puing-puing seperti bekas kota. Setelah melalui penelitian yang cermat, Marshall mengambil kesimpulan bahwa reruntuhan tersebut memang sisa-sisa sebuah kompleks perkotaan di masa lampau.

Gambar Peta peradaban lembah Sungai Indus
Peta peradaban lembah Sungai Indus

Peradaban di lembah Sungai Indus kemudian dikenal pula sebagai peradaban Mohenjo Daro dan Harappa sebab sisa-sisa perkotaan itu berada di kedua daerah tersebut. 

Foto Reruntuhan arkeologis Moenjodaro
Reruntuhan arkeologis Moenjodaro, Situs Warisan Dunia UNESCO

Para ahli menduga, kota-kota tua di Lembah Sungai Indus memiliki kesamaan budaya dan usia dengan peradaban Mesir dan Mesopotamia. Pada reruntuhan bangunan tersebut terdapat tulisan gambar (piktograf) yang sampai sekarang belum dapat diterjemahkan. Gambaran peristiwa sejarah Mohenjo Daro dan Harappa hingga kini belum dapat terungkap secara jelas.

Atas dasar penelitian para ahli, tata kota dan peninggalan budaya Mohenjo Daro dan Harappa dapat digambarkan sebagai berikut.

  • Rumah-rumah terbuat dari batu-bata yang bertingkat dua atau tiga. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan tangga. Lantai rumah terbuat dari batu.
  • Tiap-tiap rumah mempunyai sumur dan kamar mandi.
  • Jalan-jalan telah teratur, lebar, dan lurus.
  • Kebersihan kota dijaga dengan baik. Di pinggir jalan terdapat selokan-selokan untuk mengalirkan limbah dari rumah-rumah.
  • Sebuah kolam pemandian umum yang besar telah tersedia.
  • Penduduk telah pandai membuat patung dari batu dan perunggu, serta barang-barang tembikar yang indah.
  • Persenjataan yang ada terdiri atas kapak, tombak, pisau belati, panah dan busur. 

Kebudayaan India Kuno

Antara tahun 2000 SM dan 1000 SM bangsa Arya memasuki India di bagian barat laut. Bangsa Arya berasal dari dataran tinggi Iran dan mereka tiba di India melalui jalan sempit lembah Kaibar. Sekalipun bangsa Arya memandang rendah bangsa Dravida, tetapi lambat laun terjadilah percampuran di antara keduanya. Unsur-unsur budaya bangsa Dravida banyak mempengaruhi budaya bangsa Arya. Dari percampuran dua budaya ini lahir kebudayaan Hindu. Perkembangan kebudayaan India kuno biasanya dibagi ke dalam tiga zaman.

Zaman Weda

Zaman Weda ditandai dengan munculnya karya sastra berupa kitab-kitab Weda. Kitab-kitab ini bercerita tentang kepahlawanan bangsa Arya dan puji-pujian untuk para dewa. Kitab Weda yang bermakna pengetahuan, ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Weda yang tertua adalah Weda Samhita yang berisi puji-pujian (samhita) untuk para dewa. Dewa-dewa itu sendiri merupakan perwujudan gejala alam, seperti Dewa Waruna (langit), Dewa Indra (hujan), dan Dewa Surya (matahari). Kitab yang lebih muda adalah kitab Brahmana. Kitab ini berisi doa atau mantera yang harus diucapkan oleh brahmana dalam upacara.

Zaman Wiracarita

Pada zaman Wiracarita (1000-500 SM) muncul dua karya sastra yang sangat terkenal, yaitu Mahabharata dan Ramayana. Kedua sastra berbentuk syair itu menceritakan kepahlawanan bangsa Arya. Kitab Mahabharata dihimpun oleh Wiyasa Kresna Dwipayana dan terdiri atas 18 jilid. Kitab tersebut menceritakan keluarga Pandawa sebagai lambang kebaikan dan keluarga Kurawa sebagai simbol kejahatan. Kitab Ramayana dikarang oleh Walmiki dan terdiri atas 7 jilid. Kitab ini menceritakan kesetiaan cinta Shinta terhadap Rama meskipun ia pernah dilarikan oleh Rahwana. 

Karya besar lainnya yang ditulis di zaman Wiracarita, yaitu Brahmana dan Upanisyad. Kedua kitab yang berbentuk prosa ini ditulis kira-kira tahun 800-600 SM. Kitab Brahmana merupakan kitab suci yang menjelaskan hal-hal tentang sesaji dan upacara. Kitab Upanisyad berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.

Zaman Sutra-sutra

Zaman ini ditandai dengan munculnya kitab-kitab Sutra. Kitab Sutra ialah kitab yang berisi petunjuk praktis dan ringkas untuk menafsirkan kitab-kitab keagamaan. Pada perkembangan selanjutnya, kitab-kitab Sutra cenderung membahas cara bemalar yang berlainan. Akibatnya, lahir aliran-aliran tertentu. Pada dasarnya kehidupan masyarakat India pada zaman ini tidak berbeda dengan kehidupan di masa sebelumnya.

Pada bidang politik, dinasti yang terkenal dan berkuasa di masa India kuno, yaitu Dinasti Maurya dan Dinasti Gupta. 

Dinasti Maurya

Dinasti Maurya didirikan oleh Candragupta Maurya (332 – 298 SM) setelah ia berhasil menumbangkan kekuasaan Yunani di India. Dalam upaya memperluas wilayah kekuasaan, Chandragupta menaklukkan Kerajaan Magadha. Setelah itu, diciptakanlah Sebuah pemerintahan yang teratur, yang didukung oleh tentara yang kuat sehingga suatu kerajaan yang aman dan makmur bisa terlaksana. 

Pengganti Candragupta ialah Bindusara (298-273 SM). Ia seorang raja yang perhatiannya banyak ditumpahkan kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Demi kemajuan negeri dan masyarakatnya, beberapa ahli filsafat dari Syria didatangkan. Pengganti Bindusara adalah Asyoka Vardhana (273-232 SM). Semula raja ini memiliki sifat yang bengis. Ia tega membunuh kakak tertuanya untuk

mendapatkan kekuasaan. Ia juga berperan dalam pembunuhan 90 orang saudaranya karena dianggap menghalangi cita-citanya. Kesadaran Raja Asyoka mulai timbul sejak ia menyaksikan akibat pertempuran antara pasukannya dengan prajurit Kerajaan Kalingga Kekejaman dan kelalimannya kemudian ia tebus dengan cara memilih agama Buddha sebagai agama dan pedoman hidupnya. Ia Juga menetapkan agama Buddha sebagai agama negara dan dasar pemerintahannya. 

“Manusia berbuat kesalahan adalah wajar, tetapi berbuat kesalahan tidak segera bertobat adalah kurang wajar.”

Zaman Dinasti Gupta

Dinasti Gupta didirikan oleh Candragupta I (320-330 M). Ia berhasil membangun Kerajaan Gupta dengan pusatnya di sekitar Lembah Sungai Gangga. Berbeda dengan Dinasti Maurya, raja-raja Gupta memeluk agama Hindu. Zaman raja-raja Gupta boleh dikatakan sebagai zaman keemasan Hindu karena agama Hindu berkembang amat pesat. 

Puncak kebesaran Dinasti Gupta terjadi pada zaman Samuderagupta (330-375 M). Daerah-daerah yang menjadi wilayahnya meliputi seluruh Lembah Sungai Gangga, Lembah Sungai Indus, dan India Selatan. Kota Ayodhia dijadikan sebagai ibukota kerajaan. Samuderagupta terkenal keras dan kejam. Namun, ia sangat dihormati rakyat berkat kemurahan dan keadilannya.

Sistem Kepercayaan

Zaman India kuno meninggalkan dua agama besar, yaitu Hindu dan Buddha. Kedua agama itu masing-masing memiliki aturan dan ajaran yang berbeda. 

a. Agama Hindu

Sumber keagamaan Hindu termaktub dalam berbagai kitab suci. Kitab yang tertua adalah Weda (pengetahuan) yang terdiri atas:

1) Rigweda (syair-syair pujian terhadap para dewa),

2) Samaweda (syair-syair nyanyian untuk para dewa),

3) Yajurweda (doa-doa pengantar sesaji yang disampaikan kepada para dewa), dan 

4) Atharwaweda (mantra-mantra dan jampi-jampi untuk sihir dan ilmu gaib). 

Agama Hindu memiliki kepercayaan terhadap beberapa dewa atau bersifat politeisme. Tiga dewa tertinggi disebut Trimurti. Dewa-dewa tersebut adalah Dewa

Brahma (pencipta alam), Dewa Wisnu (pemelihara alam), dan Dewa Syiwa (perusak alam). Selain dewa-dewa tersebut, pemeluk agama Hindu juga mempercayai keberadaan beberapa dewa yang lain. Dewa-dewa itu antara lain adalah Dewa Agni (api), Dewa Bayu (angin), Dewa Surya (dewa matahari), Dewa Candra (bulan), Dewa Marut (angin kencang), Dewa Baruna (angkasa), Dewa Parjana (hujan), Dewa Indra (perang), Dewa Asywin (kesehatan), dan Dewa Usa (fajar).

Kepercayaan di dalam agama Hindu didasarkan atas moksa, karma, dan samsara. Moksa ialah tingkatan hidup tertinggi yang terlepas dari ikatan keduniawian atau bebas dari penjelmaan kembali. Karma ialah perbuatan-perbuatan manusia ketika hidup di dunia yang menentukan kehidupan berikutnya. Samsara ialah lingkaran yang merangkaikan kehidupan manusia, yaitu mati, lahir kembali, hidup lagi, mati lagi, dan seterusnya.

Agama Hindu juga mengenal adanya pembagian kelompok masyarakat (strata Sosial). Pembagian manusia ke dalam empat kasta disebut caturwama. Kasta-kasta itu adalah Brahmana (pendeta), Ksatria (raja, bangsawan, dan prajurit), Waisya (petani, pedagang, dan pengusaha), serta Sudra (pekerja kasar dan budak).

Dalam masyarakat Hindu Arya, ada golongan masyarakat yang dianggap paling rendah kedudukannya. Mereka dikeluarkan dari kasta setelah dinilai melakukan pelanggaran dalam masyarakat. Kelompok masyarakat ini disebut Paria atau Candala.

b. Agama Buddha

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama. Ia dilahirkan di taman Lumbini, kapilawastu (Nepal) pada tahun 563 SM. Ayahnya bernama Raja Sudodana dan ibunya bernama Maya.

Kitab suci agama Buddha diberi nama Tripittaka yang artinya tiga keranjang, Tripittaka terdiri atas:

1) Winayapittaka (peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya),

2) Sutrantapittaka (wejangan-wejangan Sang Buddha), dan

3) Abhidharmapittaka (penjelasan dan kupasan mengehai soal keagamaan).

Ajaran agama Buddha bertujuan membebaskan manusia dari lingkaran samsara (penderitaan) untuk mencapai nirwana (surga). Di dalam kitab Tripittaka diterangkan cara-cara manusia menghilangkan penderitaan, yaitu dengan melaksanakan delapan jalan. Isi delapan jalan, yaitu berpikir baik, berniat baik, berkata baik, bertingkah laku baik, makan minum yang baik, berusaha yang baik, perhatian yang baik, dan samadi yang baik.

Baca juga artikel peradaban tertua di dunia lainnya pada tautan di bawah ini: