Sejarah Lengkap Kerajaan Makassar: Dari Awal Berdiri hingga Menjadi Kekuatan Maritim Nusantara

Sejarah7 Dilihat

Berkasilmu.com – Kerajaan Makassar merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Kerajaan ini dikenal sebagai kekuatan maritim yang mampu menguasai jalur perdagangan penting di Nusantara pada abad ke-16 hingga abad ke-17.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Makassar tidak hanya menjadi pusat perdagangan internasional, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi bangsa Eropa, terutama VOC Belanda.

Secara historis, istilah Kerajaan Makassar sering merujuk pada gabungan dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Kedua kerajaan tersebut kemudian bersatu dan berkembang menjadi kekuatan politik serta ekonomi yang sangat disegani. Oleh karena itu, ketika membahas sejarah Kerajaan Makassar, pembahasan tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.

Letak dan Kondisi Geografis Kerajaan Makassar

peta Gowa Tallo

Kerajaan Makassar terletak di wilayah pesisir barat daya Pulau Sulawesi, tepatnya di sekitar daerah yang saat ini menjadi Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Letak geografis yang strategis menjadikan kerajaan ini sebagai persinggahan penting bagi kapal-kapal dagang yang berlayar dari Malaka menuju Maluku maupun sebaliknya.

Wilayah kerajaan berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai pusat ekonomi di Asia. Para pedagang dari Jawa, Sumatra, Maluku, Kalimantan, Tiongkok, India, Arab, hingga Eropa sering singgah di pelabuhan Makassar untuk melakukan aktivitas perdagangan.

Kondisi alam yang mendukung serta posisi yang strategis menjadikan Makassar berkembang pesat sebagai pusat perdagangan maritim di Nusantara.

Pelajari juga: Sejarah Aceh masa Kerajaan hingga saat ini, lengkap Peta, Letak Geografis, Wilayah Administrasi, dan Lambang identitas

Asal Usul Berdirinya Kerajaan Makassar

Sebelum menjadi kerajaan besar, wilayah Sulawesi Selatan terdiri atas berbagai kerajaan kecil yang berdiri secara terpisah. Dua kerajaan yang paling menonjol adalah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Kerajaan Gowa diperkirakan berdiri sekitar abad ke-14. Menurut tradisi lisan masyarakat Bugis-Makassar yang tercatat dalam lontara, kerajaan ini didirikan oleh seorang tokoh yang dikenal sebagai Tomanurung. Tomanurung dipercaya sebagai sosok yang turun dari langit dan kemudian diangkat menjadi penguasa pertama Gowa.

Pada awal berdirinya, Kerajaan Gowa merupakan kerajaan agraris yang mengandalkan hasil pertanian. Namun seiring waktu, kerajaan mulai mengembangkan kekuatan maritim dan memperluas pengaruhnya ke wilayah pesisir.

Sementara itu, Kerajaan Tallo berkembang sebagai kerajaan tetangga yang memiliki hubungan erat dengan Gowa. Kedua kerajaan kemudian menjalin kerja sama politik yang kuat hingga akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Kembar Gowa-Tallo.

Penyatuan Gowa dan Tallo

Penyatuan Gowa dan Tallo menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Sulawesi Selatan. Meski tetap memiliki struktur pemerintahan masing-masing, kedua kerajaan bekerja sama dalam menjalankan pemerintahan dan memperluas wilayah kekuasaan.

Dalam sistem pemerintahan ini, Raja Gowa bertindak sebagai pemimpin utama, sedangkan Raja Tallo berperan sebagai mangkubumi atau penasihat utama kerajaan. Kerja sama tersebut menciptakan stabilitas politik yang memungkinkan Makassar berkembang menjadi kekuatan regional yang besar.

Penyatuan ini juga memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi ancaman dari kerajaan lain maupun pengaruh asing yang mulai masuk ke Nusantara.

Masuknya Islam ke Kerajaan Makassar

Perkembangan penting berikutnya dalam sejarah Kerajaan Makassar adalah masuknya agama Islam pada awal abad ke-17.

Islam diperkenalkan oleh para ulama dari Minangkabau yang datang ke Sulawesi Selatan melalui jalur perdagangan. Tiga ulama yang terkenal dalam proses penyebaran Islam adalah Dato ri Bandang, Dato ri Pattimang, dan Dato ri Tiro.

Pada tahun 1605, Raja Tallo yang bernama I Mallingkang Daeng Manyonri memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Tidak lama kemudian, Raja Gowa juga memeluk Islam dan mengambil gelar Sultan Alauddin.

Masuknya Islam membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Makassar. Sistem pemerintahan mulai menyesuaikan dengan nilai-nilai Islam, sementara kegiatan dakwah semakin berkembang ke berbagai wilayah Sulawesi dan sekitarnya.

Masa Kejayaan Kerajaan Makassar

Puncak kejayaan Kerajaan Makassar terjadi pada abad ke-17, terutama pada masa pemerintahan Sultan Alauddin dan penerusnya.

Kerajaan berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang sangat ramai. Pelabuhan Somba Opu menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Asia Tenggara pada masa itu. Kapal-kapal dari berbagai negara datang untuk membeli rempah-rempah, beras, kain, logam, dan berbagai komoditas lainnya.

Berbeda dengan VOC yang menerapkan monopoli perdagangan, Kerajaan Makassar menerapkan sistem perdagangan terbuka. Semua pedagang diperbolehkan berdagang tanpa diskriminasi. Kebijakan ini membuat Makassar menjadi tujuan utama para pedagang yang ingin menghindari monopoli VOC.

Selain kuat dalam perdagangan, Kerajaan Makassar juga memiliki armada laut yang tangguh. Kapal-kapal perang Makassar mampu menjaga keamanan jalur pelayaran dan memperluas pengaruh kerajaan ke berbagai wilayah Nusantara.

Sultan Hasanuddin: Ayam Jantan dari Timur

Nama yang paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Makassar adalah Sultan Hasanuddin. Ia memerintah Kerajaan Gowa antara tahun 1653 hingga 1669.

Sultan Hasanuddin dikenal sebagai pemimpin yang berani, cerdas, dan memiliki semangat tinggi dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan. Pada masa pemerintahannya, konflik dengan VOC semakin meningkat.

VOC berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia Timur melalui sistem monopoli. Namun Kerajaan Makassar menolak kebijakan tersebut karena bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang selama ini diterapkan.

Penolakan inilah yang memicu serangkaian peperangan antara Makassar dan VOC.

Karena keberanian dan kegigihannya dalam melawan Belanda, Sultan Hasanuddin mendapat julukan “Ayam Jantan dari Timur”. Julukan tersebut diberikan oleh pihak Belanda sebagai bentuk pengakuan terhadap keberanian sang sultan di medan perang.

Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya

Konflik antara Kerajaan Makassar dan VOC mencapai puncaknya dalam Perang Makassar yang berlangsung antara tahun 1666 hingga 1669.

VOC mendapat bantuan dari Arung Palakka, penguasa Bone yang memiliki konflik lama dengan Gowa. Dengan dukungan tersebut, VOC melancarkan serangan besar-besaran terhadap wilayah Makassar.

Setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, Kerajaan Makassar akhirnya mengalami kekalahan. Pada tahun 1667 ditandatangani Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan pihak Makassar.

Isi perjanjian tersebut antara lain:

  • VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di wilayah Indonesia Timur.
  • Makassar harus melepaskan wilayah taklukannya.
  • Benteng-benteng pertahanan kerajaan harus dihancurkan.
  • VOC diperbolehkan mendirikan benteng di Makassar.
  • Kerajaan Makassar harus mengakui dominasi VOC.

Meskipun Sultan Hasanuddin berusaha melanjutkan perlawanan, kekuatan kerajaan terus melemah hingga akhirnya ia turun takhta pada tahun 1669.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Makassar

Perekonomian Kerajaan Makassar bertumpu pada sektor perdagangan maritim. Letaknya yang strategis menjadikan kerajaan ini sebagai pusat distribusi berbagai komoditas dari seluruh Nusantara.

Barang-barang yang diperdagangkan antara lain:

  • Rempah-rempah dari Maluku.
  • Beras dari Jawa dan Sulawesi.
  • Kayu cendana dari Nusa Tenggara.
  • Emas dan logam mulia.
  • Kain dari India.
  • Keramik dari Tiongkok.

Pelabuhan Makassar menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa sehingga menciptakan aktivitas ekonomi yang sangat dinamis.

Kehidupan Sosial dan Budaya

Masyarakat Kerajaan Makassar dikenal sebagai pelaut ulung yang memiliki tradisi maritim kuat. Kehidupan sosial mereka dipengaruhi oleh adat istiadat Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi nilai siri’ atau harga diri.

Nilai siri’ menjadi landasan penting dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hubungan sosial maupun dalam mempertahankan kehormatan keluarga dan kerajaan.

Budaya tulis juga berkembang dengan baik melalui penggunaan aksara lontara. Berbagai catatan sejarah, hukum adat, dan silsilah kerajaan ditulis menggunakan aksara tersebut.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Makassar

Kerajaan Makassar memiliki sistem pemerintahan yang terorganisasi dengan baik. Raja atau sultan bertindak sebagai pemimpin tertinggi yang dibantu oleh para pejabat kerajaan.

Setelah Islam menjadi agama resmi kerajaan, gelar raja berubah menjadi sultan. Pemerintahan dijalankan berdasarkan perpaduan antara adat lokal dan nilai-nilai Islam.

Struktur pemerintahan yang kuat menjadi salah satu faktor keberhasilan Makassar dalam membangun kekuatan politik dan ekonomi yang besar.

Peninggalan Kerajaan Makassar

Hingga saat ini masih terdapat berbagai peninggalan sejarah Kerajaan Makassar yang dapat disaksikan, antara lain:

Benteng Somba Opu

Benteng ini dahulu menjadi pusat pertahanan Kerajaan Gowa dan merupakan simbol kekuatan militer Makassar.

Benteng Rotterdam

Benteng ini awalnya dibangun oleh Kerajaan Gowa dengan nama Benteng Ujung Pandang. Setelah dikuasai VOC, namanya diubah menjadi Benteng Rotterdam dan masih berdiri hingga sekarang.

Makam Sultan Hasanuddin

Makam Sultan Hasanuddin terletak di Kabupaten Gowa dan menjadi salah satu situs sejarah penting di Sulawesi Selatan.

Naskah Lontara

Berbagai naskah lontara yang berisi sejarah kerajaan, hukum adat, dan silsilah keluarga bangsawan menjadi sumber penting dalam penelitian sejarah Sulawesi Selatan.

Keruntuhan Kerajaan Makassar

Kekalahan dalam Perang Makassar dan diberlakukannya Perjanjian Bongaya menjadi awal kemunduran Kerajaan Makassar. Dominasi VOC dalam perdagangan menyebabkan pendapatan kerajaan menurun drastis.

Wilayah kekuasaan yang semakin menyempit serta meningkatnya pengaruh Belanda membuat kerajaan kehilangan posisi strategisnya sebagai pusat perdagangan internasional.

Meski demikian, identitas budaya dan tradisi masyarakat Makassar tetap bertahan hingga masa modern dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia.

Kerajaan Makassar merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia yang memiliki peran penting dalam perdagangan, pelayaran, dan penyebaran Islam di kawasan timur Nusantara.

Berawal dari penyatuan Kerajaan Gowa dan Tallo, kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai serta kekuatan maritim yang disegani.

Masa kejayaan Makassar mencapai puncaknya pada abad ke-17 ketika pelabuhan Somba Opu menjadi pusat perdagangan bebas yang menarik pedagang dari berbagai belahan dunia. Kepemimpinan Sultan Hasanuddin dalam menghadapi VOC menjadikan kerajaan ini simbol perjuangan melawan kolonialisme.

Walaupun akhirnya mengalami kemunduran akibat dominasi VOC dan Perjanjian Bongaya, warisan sejarah Kerajaan Makassar tetap hidup melalui berbagai peninggalan budaya, situs sejarah, dan nilai-nilai luhur masyarakat Bugis-Makassar yang masih terjaga hingga saat ini.

Pelajari juga: Sejarah Kerajaan Minangkabau Kumpulan Sejumlah Nagari