Pemberontakan G 30 S/PKI dan Penumpasannya

Sejarah2 Dilihat

Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin memberi peluang PKI untuk memperkuat posisinya di segala bidang. Di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya, PKI makin kuat pengaruhnya. Memang PKI selalu berusaha menyusun kekuatan untuk mempersiapkan pemberontakan. Pemberontakan dan pengkhianatan terhadap negara itu dilancarkan pada tanggal 30 September 1965.

Oleh karena itu, terkenal dengan nama pemberontakan G 30 S/PKI. Pelaksanaannya sebagai berikut:

1. Masa Prolog G 30 S/PKI

Sebelum melancarkan pemberontakan, PKI mengadakan persiapan-persiapan. Masa persiapan untuk memberontak itulah yang disebut masa prolog G 30 S/PKI. Adapun tindakan-tindakan PKI dalam masa prolog G 30 S/PKI itu sebagai berikut:

  • Sekitar 3.000 orang anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani dilatih di Lubang Buaya.
  • PKI berusaha membina kader-kader dan simpatisan-simpatisan dari kalangan ABRI.
  • PKI memfitnah ABRI dengan menyebarkan isue (desas-desus) tentang adanya ”Dewan Jenderal” yang akan merebut kekuasaan negara.

2. Pelaksanaan Pemberontakan G 30 S/PKI 

Setelah persiapannya dipandang cukup masak, maka pada malam hari tanggal 30 September 1965 PKI mulai melancarkan pemberontakan dan pengkhianatan terhadap negara dan bangsa. 

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 PKI menculik para pemimpin TNI AD. Mereka yang diculik ialah: 

  • Letnan Jenderal Ahmad Yani.
  • Mayor Jenderal Suprapto.
  • Mayor Jenderal Haryono
  • Mayor Jenderal S. Parman.
  • Brigadir Jenderal Panjaitan.
  • Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Para jenderal itu disiksa dengan cara-cara yang sangat kejam, kemudian dibunuh. Jenazah mereka dimasukkan ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta. 

Jenderal Nasution juga diincar akan diculik. Tetapi usaha menculik Jenderal Nasution gagal. Pengawal beliau, Letnan Satu Pierre Tendean dapat diculik. Nasibnya sama dengan para jenderal di atas. Ia dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur di Lubang Buaya.

Foto Sumur Lubang Buaya
Jenazah para Pahlawan Revolusi dikeluarkan dari Sumur tua di Lubang Buaya

Gerombolan penculik juga memasuki halaman rumah wakil perdana Menteri Leimena. Ketika itu Pembantu Letnan Satu Polisi Karel Sasuit Tubun sedang bertugas piket di tempat tersebut Ia melawan gerombolan penculik. Dalam peristiwa itu ia gugur. G 30 S/PKI juga melakukan penculikan dan pembunuhan di Yogyakarta. Dua orang perwira TNI AD menjadi korban adalah:

  • Kolonel Katamso Dharmokusumo.
  • Letnan Kolonel Sugiyono.

Kesepuluh orang perwira tersebut oleh pemerintah ditetapkan sebagai pahlawan revolusi. Kecuali itu, mereka juga memperoleh kenaikan pangkat satu tingkat secara anumerta.

10 Pahlawan Revolusi

Di bawah ini adalah 10 pahlawan revolusi sebagai korban keganasan PKI:

Foto Jenderal Ahmad Yani
Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
Foto Letjen R. Suprapto
Letjen TNI Anumerta R. Suprapto
Foto Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono
Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono
Foto Letjen TNI Anumerta S. Parman
Letjen TNI Anumerta S. Parman
Foto Mayjen TNI Anumerta D.I. Panjaitan
Mayjen TNI Anumerta D.I. Panjaitan
Foto Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswo Miharjo
Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswo Miharjo
Foto Brigjen TNI Anumerta Katamso Dharmokusumo
Brigjen TNI Anumerta Katamso Dharmokusumo
Foto Kapten TNI Anumerta Pierre Andries Tendean
Kapten TNI Anumerta Pierre Andries Tendean
Foto Kolonel TNI Anumerta Sugiyono
Kolonel TNI Anumerta Sugiyono
Foto Letda Polisi Anumerta Karel Sasuit Tubun
Letda Polisi Anumerta Karel Sasuit Tubun

Selanjutnya G 30 S/PKI merebut gedung studio RRI pusat dan Kantor Perum Telekomunikasi. Kemudian menyiarkan beberapa pengumuman lewat RRI. Pengumuman-pengumuman itu antara lain: 

  • Adanya ”Dewan Jenderal” yang akan merebut kekuasaan pemerintahan. Oleh karena itu, G 30 S/PKI mengambil tindakan terhadap para jenderal anggota ”Dewan Jenderal” tersebut.
  • Kabinet Dwikora tidak berkuasa lagi.
  • G 30 S/PKI membentuk ”Dewan Revolusi”, yang diketuai oleh Letnan Kolonel Untung. Sebagai wakil ketua Brigadir Jenderal Suparjo. ”Dewan Revolusi” inilah yang memegang kekuasaan di negara Republik Indonesia. 

Demikianlah tindakan-tindakan keji G 30 S/PKI. Sebenarnya tidak ada ”Dewan Jenderal” yang akan merebut kekuasaan, seperti yang diberitakan oleh PKI. Yang ada adalah sebaliknya, G 30 S/PKI yang merebut kekuasaan. 

Penumpasan Pemberontakan G 30 S/PKI

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 Mayor Jenderal Suharto telah menerima laporan tentang terjadinya penculikan para jenderal. Ketika itu beliau menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). 

Mayor Jenderal Suharto yakin bahwa G 30 S/PKI adalah gerakan yang bertujuan merebut kekuasaan negara. Dan gerakan tersebut merupakan pemberontakan yang mengancam keselamatan bangsa dan negara. Mayor Jenderal Suharto segera mengambil tindakan tegas dan tepat. Pemberontakan G 30 S/PKI harus segera ditumpas. Untuk itu, kesatuan-kesatuan ABRI diperintahkan bersiap siaga.

1. Penumpasan G 30 S/PKI di Ibu Kota Jakarta

Dua kesatuan khusus diperintahkan mulai melancarkan penumpasan. Kedua kesatuan khusus itu ialah:

  • Resimen Para Komando Angkatan Darat, yang terkenal dengan singkatan RPKAD. Pasukan ini dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo.
  • Batalyon Para Kujang/Siliwangi.

Operasi penumpasan dimulai pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 19.00. Gedung RRI pusat dan Kantor Perum Telekomunikasi dikepung pasukan RPKAD. Hanya dalam waktu 20 menit kedua gedung tersebut berhasil direbut kembali. Kemudian Mayor Jenderal Suharto mengeluarkan pengumuman lewat RRI. Dalam pengumuman itu dinyatakan bahwa:

  • G 30 S/PKI adalah suatu pemberontakan.
  • Presiden Sukarno dalam keadaan aman dan sehat.
  • Rakyat diminta tetap tenang dan waspada.

Pasukan RPKAD, Para Kujang, dan Kavaleri melanjutkan penumpasan. Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan Lubang Buaya diserbu. Tempat-tempat tersebut menjadi pusat pertahanan G 30 S/PKI.

Pada tanggal 2 Oktober 1965 pangkalan Halim Perdanakusuma dapat dikuasai TNI. Keesokan harinya ditemukan sebuah sumur tua di Lubang Buaya. Di situlah ternyata jenazah para pahlawan revolusi disembunyikan oleh G 3.0 S/ PKI. 

Akhirnya seluruh kota Jakarta dapat dikuasai penuh oleh ABRI. Dengan demikian, kekuatan G 30 S telah dapat dilumpuhkan. Dan tahulah TNI bahwa pelaku G 30 S adalah PKI.

2. Penumpasan G 30 S/PKI di Daerah-daerah

Pemberontakan G 30 S/PKI tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di daerah-daerah. Yogyakarta, Surakarta, Wonogiri, Klaten, Boyolali, dan Semarang adalah kota-kota yang menjadi sasaran PKI melancarkan pengacauan, penculikan, dan pembunuhan. Demikian juga beberapa tempat di Jawa Timur dan Bali. 

Itulah sebabnya, penumpasan G 30 S/PKI juga dilancarkan di daerah-daerah. Penumpasan G 30 S/PKI di Jawa Tengah dipimpin oleh Brigadir Jenderal Suryosumpeno. Pasukan RPKAD juga ditugaskan ke daerah-daerah menumpas G 30 S/PKI. Dalam waktu singkat kekuatan fisik G 30 S/PKI di seluruh Indonesia telah dapat dilumpuhkan.

Sisa-sisanya ditumpas oleh ABRI dengan bantuan rakyat yang tetap setia kepada Pancasila. Tokoh-tokoh PKI seperti Nyono, Utomo Ramelan, Kamaruzaman, Kolonel Sahirman, dan Mayor Mulyono tertangkap. Mereka diajukan ke depan Mahkamah Militer ,Luar Biasa (Mahmillub). Gembong PKI D. N. Aidit tertembak mati di daerah Surakarta, Letkol Untung tertangkap di Tegal (Jawa Tengah).

Foto DN. Aidit
DN. Aidit
Foto Letkol Untung
Letkol Untung

Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945 berhasil diselamatkan dari bahaya-komunis. PKI gagal dalam usahanya mengubah Dasar Negara Pancasila menjadi komunisme. Pancasila tetap menunjukkan kesaktiannya.

Titik tolak kehancuran PKI terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965, dalam usahanya untuk menghilangkan Pancasila. Oleh karena itu, tanggal 1 Oktober ditetapkan menjadi Hari Kesaktian Pancasila.

Foto Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti

PKI telah hancur. Namun demikian, kita harus tetap waspada. Kita tidak boleh lengah menghadapi sisa-sisa G 30 S/ PKI yang masih terpendam. Sisa-sisa G 30 S/PKI yang masih terpendam merupakan bahaya laten. Baca juga: Sejarah Pemberontakan PKI Madiun