Asal usul dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Sejarah8 Dilihat

Sejak berjuta tahun yang lalu wilayah Indonesia telah dihuni beberapa jenis manusia purba. Namun, jenis makhluk tersebut sebagian besar telah mengalami kepunahan. Sisanya lambat-laun mengalami perubahan secara perlahan. Salah satu jenis manusia purba yang masih tersisa adalah Homo Wajakensis yang kemudian menjadi penghuni asli wilayah Nusantara ini. 

Pada perkembangannya Homo wajakensis menyebar ke arah timur dan barat. Mereka yang ke arah timur menduduki Irian, Kepulauan Kai, Pulau Seram, dan Sulawesi Selatan. Mereka yang ke arah barat menduduki Sumatera, terutama di Sumatera Timur. Mereka yang menyebar ke kedua arah tersebut termasuk ke dalam ras Austro Melanesoid. 

Nenek moyang bangsa Indonesia yang menurunkan generasi paling banyak sekarang ini, diduga berasal dari benua Asia. Menurut von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunnan, di Cina Selatan. Pendapat Geldem didukung bukti berupa kesamaan peninggalan benda-benda antara daerah Yunan dan Indonesia. Benda-benda yang sama itu, antara lain adalah kapak lonjong dan kapak persegi. Mereka

pindah ke Nusantara karena terdesak oleh bangsa lain yang lebih kuat. Selain itu, mereka hidup di alam yang tidak banyak memberikan kesejahteraan hidup. 

“Jika di suatu tempat mengalami kesulitan hidup maka untuk mencapai kehidupan yang Iebih baik perlu dilakukan perpindahan (hijrah). Peradaban-peradaban di dunia lahir karena manusia-manusianya melakukan hijrah. Peradaban Hindu, Mesir, dan Amerika adalah beberapa contohnya.”

Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia ke Kepulauan Nusantara dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama yang datang lebih awal disebut Proto Melayu (Melayu Tua) dan berikutnya adalah Deutero Melayu (Melayu Muda). 

1. Bangsa Prote Melayu (Melayu Tua)

Bangsa Proto Melayu tiba di Indonesia kira-kira tahun 2000 SM. Mereka membawa kebudayaan neolitikum (batu baru). Arah persebaran bangsa Proto Melayu terdiri atas dua cabang. Cabang pertama adalah bangsa yang membawa peralatan kapak lonjong. Mereka disebut sebagai ras Papua-Melanesoid. Arah persebarannya dari Yunnan melalui Filipina, kemudian menyebar ke Sulawesi Utara, Maluku, dan bahkan ada yang sampai ke Irian (Papua). 

Gambar Jenis kapak lonjong
Jenis kapak lonjong

Cabang yang kedua adalah bangsa Proto melayu yang disebut sebagai ras Austronesia. Gelombang cabang kedua ini bermula dari Yunnan melalui Malaya, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lain. Hasil kebudayaan yang mereka bawa adalah kapak persegi. Setiba di Kepulauan Nusantara, bangsa Proto Melayu berasimilasi dengan ras Austro-Melanesoid. Namun, ada pula yang tetap mempertahankan keaslian rasnya.

2. Bangsa Deutero Melayu (Molayu Muda)

Bangsa Deutero Melayu tiba di Kepulauan Nusantara kira-kira tahun 500 SM. Kedatangan mereka disertai kebudayaan logam yang berasal dari Dongson (Vietnam Utara). Benda-benda logam yang mereka bawa di antaranya berupa nekara, candrasa, bejana perunggu, manik-manik, arca, dan sebagainya. 

Alur penyebaran nenek moyang dari kelompok Melayu Muda ini bermula dari daratan Asia ke Thailand, Malaysia Barat, dan terus menuju tempat-tempat di Nusantara. Gelombang terakhir ini masih tergolong ras Austronesia.

Pada perkembangannya, ras Papua-Melanesoid, Austronesia, dan sisa ras Austro Melanesoid melahirkan berbagai macam suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Seiring dengan perkembangan zaman, corak kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia juga berubah. Corak kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia menjelang memasuki zaman sejarah dapat dijelaskan sebagai berikut.

Baca juga: Corak Kehidupan Masyarakat Purba di Indonesia

a. Masyarakat Agraris

Pada zaman neolitikum akhir, masyarakat Indonesia telah pandai bercocok tanam dan beternak. Cara bercocok tanam yang pertama dilakukan, yaitu dengan sistem berladang. Lama-kelamaan sistem ini berubah menjadi bersawah. Cara bercocok tanam dengan bersawah kemudian menjadi bagian hidup mereka. Oleh karena itu, mereka mencari tempat tinggal dan tempat bercocok tanam yang terletak di sepanjang aliran sungai. Akhirnya, mereka mampu mengatur tata air melalui irigasi sederhana. Mereka juga dapat menentukan jenis tanaman apa yang cocok ditanam pada suatu musim. Hal ini tidak mengherankan karena mereka telah mengenal astronomi (ilmu perbintangan). 

Peralatan pertanian yang digunakan pada masyarakat agraris, yaitu cangkul dari perunggu, kapak persegi, dan kapak lonjong. Mereka menggunakan ani-ani untuk memotong padi. Semua gambaran kegiatan dan peralatan hidup yang dipakai masyarakat agraris memperlihatkan adanya corak kebudayaan sungai. 

b. Masyarakat Bahari

Kemampuan nenek moyang kita dalam mengarungi lautan telah diperlihatkan sejak lama. Ketika memasuki Kepulauan Nusantara mereka menggunakan perahu bercadik 

“Perahu bercadik adalah jenis perahu yang di kanan kirinya menggunakan bambu dan kayu supaya perahu tetap seimbang.”

Gambar Perahu bercadik terlukis di relief candi borobudur
Perahu bercadik terlukis di relief candi borobudur

Masyarakat bahari bertempat tinggal di sepanjang pantai. Mereka menangkap ikan dan kerang tanpa mengenal rasa takut. Pengetahuan arah angin dan astronomi diperoleh

melalui pengalaman bertahun-tahun. Melalui pengetahuan tersebut mereka tidak Pernah khawatir tersesat dalam perjalanan. 

“Untuk menguasai suatu masalah dengan baik diperlukan belajar berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Pengalaman belajar di sekolah dan masyarakat merupakan bekal untuk menghadapi kenyataan persaingan hidup yang semakin sulit di masa yang akan datang.”

Kehidupan bahari telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya. Kemampuan dan pengetahuan bahari kemudian dianut oleh masyarakat di Kerajaan Sriwijaya dan Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Kepandaian ini tersebar ke seluruh wilayah Nusantara sehingga tercipta peninggalan kebudayaan laut Indonesia. 

c. Masyarakat Seni

Di bidang seni, nenek moyang kita telah pandai membuat boneka-boneka untuk kesenian wayang. Alat-alat gamelan pun dibuat untuk memeriahkan seni pertunjukkan tersebut. Selain itu, mereka telah mampu membuat batik, kerajinan logam dengan beragam bentuk, dan benda-benda dari batu besar (tradisi megalitikum). 

d. Masyarakat Religius

Pada saat agama belum masuk ke Indonesia, nenek moyang kita telah mempercayai adanya kekuatan yang maha tinggi di luar dirinya. Kekuatan itu terdapat di alam semesta. Upacara-upacara pemujaan terhadap roh seringkali dilakukan. Oleh karena itu, muncul kepercayaan animisme dan dinamisme.

“Animisme adalah kepercayaan kepada roh nenek moyang, sedangkan dinamisme adalah kepercayaan kepada benda-benda yang memiliki kekuatan gaib kesaktian, atau tuah.”

Sebagai sarana yang turut mendukung kepercayaan tersebut, di Indonesia berkembang tradisi megalitikum (mega = besar; litikum = batu). Adapun benda-benda peninggalan tradisi megalitikum di antaranya sebagai berikut.

1) Menhir, adalah tugu batu yang diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati dan tempat memuja roh Iienek moyang.

Foto Gambar Menhir manusia purba
Menhir

2) Sarkofagus, adalah Tempat jenazah yang terbuat dari dua batu besar dan ditangkupkan. 

Foto Sarkofagus manusia purba
Sarkofagus 

3) Dolmen, adalah Bangunan semacam meja dari batu yang berkaki batu utuh dan digunakan untuk pelinggih roh atau tempat sesajian.

Foto Dolmen di kecamatan Batu Brak, Lampung Barat
Dolmen di kecamatan Batu Brak, Lampung Barat (foto diambil pada tahun 1931)

4) Peti kubur batu, adalah Peti mayat yang dibentuk dari empat atau lebih papan batu.

Foto Peti kubur batu manusia purba
Peti kubur batu manusia purba

5) Waruga, adalah Peti kubur batu dalam ukuran yang kecil.

Foto Waruga manusia purba
Waruga manusia purba

6) Punden berundak-undak, adalah Bangunan berupa susunan batu berundak-undak yang biasanya terdiri dari tujuh undak dan digunakan bagi kegiatan pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Foto candi cetho punden berundak
Candi Ceto, percandian bercorak Hindu yang berstruktur punden berundak.

7) Berbagai arca yang dibuat dari batu yang besar.

Baca juga: Jenis Manusia Purba di Indonesia dan Penemunya