Sejarah Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang

Sejarah92 Dilihat

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada Sekutu, tanpa syarat. Oleh karena itu, Jepang harus tunduk kepada perintah Sekutu. Sekutu memerintahkan, agar Jepang mempertahankan keadaan di Indonesia seperti pada waktu penyerahan kepada Jepang. Dengan kata lain, keadaan di Indonesia tidak boleh berubah.

Mungkinkah hal itu dilaksanakan oleh Jepang ? Tentu saja tidak mungkin. Sebab, ternyata setelah Jepang menyerah keadaan di Indonesia sudah berubah. Indonesia sudah menjadi negara merdeka. 

Untuk melaksanakan perintah Sekutu tersebut, Jepang berusaha menghalang-halangi bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Untuk itu, Jepang harus berhadapan dengan bangsa Indonesia.

Foto Tugu Muda Semarang
Tugu Muda Semarang, monumen perjuangan bersenjata melawan Jepang di Semarang, Jawa Tengah.

Sedang bangsa Indonesia sendiri telah bertekad bulat, bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan akan tetap dipertahankan. Bahkan sisa-sisa kekuasaan Jepang di Indonesia harus segera diambil alih Kecuali itu, bangsa Indonesia juga berusaha melucuti senjata Jepang. Usaha melucuti senjata Jepang itu mempunyai tiga tujuan, yaitu sebagai berikut: 

  • Untuk mendapatkan senjata sebagai modal perjuangan selanjutnya.
  • Agar senjata Jepang tidak jatuh ke tangan Sekutu atau Belanda. 
  • Agar Senjata itu tidak digunakan Jepang secara membabi buta untuk membunuh rakyat. 

Di mana-mana terjadilah pertempuran melawan Jepang. Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Jepang antara lain sebagai berikut:

Di Jakarta

Gudang senjata di Cilandak diserbu oleh BKR dan para pemuda yang tergabung dalam badan-badan perjuangan.

Di Bandung

Para pelajar dan pemuda bekas PETA mengepung markas pasukan panser Jepang. Mereka berhasil merebut sembilan buah panser. Para pemuda dan kaum buruh merampas senjata di gudang maupun pabrik senjata di lapangan terbang Andir.

Di Bogor

Senjata polisi-polisi Jepang dilucuti oleh para pemuda. 

Di Surabaya

Rakyat dengan dipelopori BKR merebut kompleks penyimpanan senjata Jepang dan pemancar radio di Embong Malang. 

Di Surakarta

Markas kempeitai dikepung oleh rakyat. Pertempuran sengit pun terjadi. Dalam pertempuran itu, seorang pemuda bernama Arifin gugur. Nama Arifin kemudian diabadikan menjadi nama sebuah jembatan di Surakarta. 

Di Lampung

BKR dan para pemuda yang tergabung dalam API melucuti senjata Jepang di Teluk Betung, Kalianda, dan Menggala.

Di Aceh

Aksi pelucutan senjata Jepang di Aceh terjadi di Sigli, Seulimeun, Langsa, dan Lhokseumawe. 

Di Semarang

Berkobar pertempuran yang terkenal dengan nama ”Pertempuran Lima Hari di Semarang”. Pertempuran itu terjadi pada tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945.

Semula terjadi desas-desus, bahwa Jepang meracuni cadangan air minum di Candi (bagian selatan kota Semarang). Kemudian dr. Kariyadi sebagai Kepala Laboratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) memberanikan diri untuk memeriksa cadangan air minum tersebut. Ketika sedang melakukan pemeriksaan, ia ditembak oleh Jepang. Dr. Kariyadi gugur. Hal itu menimbulkan kemarahan rakyat. Maka berkobarlah pertempuran selama lima hari. Dalam pertempuran itu, Jepang melakukan kekejaman-kekejaman di luar batas kemanusiaan. Konon sekitar 2.000 orang pemuda gugur. Dan sekitar 100 orang serdadu Jepang tewas. Untuk mengenang keberanian para pemuda, di kota Semarang dibangun sebuah monumen, yang diberi nama Tugu Muda.

Di Yogyakarta

BKR dan para pemuda yang tergabung dalam Barisan Penjagaan Umum (BPU) memaksa pasukan kempeitai menyerah. Kemudian mereka mengepung markas bocitai, dan menyergap markas angkatan laut bagian udara Jepang di Maguwo. 

Kecuali pertempuran-pertempuran tersebut, terjadi pula pertempuran melawan Jepang di daerah-daerah lain. Baik di Jawa maupun di luar Jawa. Puncak kebulatan tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan ditunjukkan dalam rapat raksasa di lapangan Ikada, Jakarta. Rapat raksasa tersebut berlangsung pada tanggal 19 September 1945, dihadiri oleh sekitar 300.000 orang. 

Meskipun mendapat ancaman dari pihak Jepang, bahkan tentara Jepang berjaga-jaga di sekitar lapangan dengan bayonet terhunus, rakyat tetap tidak gentar.

Dalam rapat itu, Presiden Soekarno menyampaikan pidato singkat. Hanya merupakan pesan, agar rakyat tetap tenang dan waspada, serta pulang ke rumah masing-masing dengan tertib, sambil menanti instruksi pemerintah selanjutnya. Baca juga: Perjuangan Menghadapi Sekutu dan Belanda

Meskipun rapat hanya berlangsung singkat, tetapi mempunyai arti penting. Hal itu membuktikan bahwa rakyat mempunyai kebulatan tekad untuk berjuang, tidak gentar menghadapi bahaya, demi mempertahankan kemerdekaan. Baca juga: Akhir Kekuasaan Jepang di Indonesia