Akhir Kekuasaan Jepang di Indonesia

Sejarah56 Dilihat

Kedudukan Jepang semakin terdesak oleh Sekutu pada tahun 1944, sehingga pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Jepang Jenderal Kaiso memberikan janji kemerdekaan. Janji itu diucapkan agar rakyat Indonesia membantu Jepang dalam menghadapi Sekutu. Untuk meyakinkan rakyat pada tanggal 1 Maret 1945 dibentuk BPUPKI (Dokoritsu Junbi Cosakai). Setelah berhasil menyusun rencana undang-undang dasar, badan ini dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945. Sebagai gantinya dibentuklah PPKI (Dokoritsu Junbi Inkai). Pada tanggal 15 Juni 1945 di Jakarta berlangsung musyawarah pemuda yang dikenal dengan “Gerakan Angkatan Baru” atau “Angkatan Baru Empat lima”. Gerakan ini sudah memiliki pikiran berani. Gerakan ini mengeluarkan pernyataan tentang datangnya Indonesia merdeka dengan bentuk negara republik yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Pada tanggal 6 Agustus 1945, Kota Hirosima dijatuhi bom atom oleh sekutu. Kemudian tanggal 9 Agustus 1945, Kota Nagasaki juga dijatuhi bom atom. Oleh karena itu, Marsekal Terauci selaku panglima tentara Jepang di Asia Tenggara memanggil Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman (Pemimpin BPUPKI) agar datang ke markas besarnya di Dalath (Vietnam). Rombongan tersebut berangkat dari Indonesia tanggal 9 Agustus 1945, sedangkan pertemuan dengan Marsekal Terauci diadakan tanggal 12 Agustus 1945. Marsekal Terauci mengatakan bahwa Jepang memutuskan akan memberi kemerdekaan kepada Indonesia. Kemerdekaan itu akan diumumkan kalau persiapan sudah selesai. Setelah mendengarkan penjelasan, rombongan Ir. Soekarno kembali ke Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945.

Bom Atom di Hiroshima

Kedudukan Jepang pada waktu itu bertambah berat. Pasukan Amerika semakin mendekat ke negeri Jepang. Rusia juga mengumumkan perang dengan menyerang Manchuria. Berita ini diketahui oleh Dr. Moh. Hatta dari seorang perwira Jepang. Akhirnya Jepang menyerah pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 (waktu Indonesia). Berita ini didengar oleh Syahrir dari siaran radio Amerika. Kemudian Syahrir menyampaikan berita ini kepada Moh. Hatta yang kemudian meneruskan berita itu kepada Ir. Soekarno. Baca juga : Sejarah Perang Dunia II

Pada tanggal 15 Agustus 1945 sore hari, Subadio Sastrosatomo dan Subianto menemui Drs. Moh. Hatta. Mereka meminta supaya Moh, Hatta mencegah PPKI mengumumkan kemerdekaan dengan alasan, kalau PPKI mengumumkan kemerdekaan berarti kemerdekaan itu hadiah dari Jepang. Kelompok pemuda tidak menetujui kehendak kelompok tua mengenai kemerdekaan, sebab mereka menghendaki kemerdekaan Indonesia harus diperoleh dari kekuatan sendiri. Mereka menolak pemberian kemerdekaan dari Jepang. Pada tanggal 15 Agustus 1945 malam hari, kelompok pemuda mengadakan pertemuan di Pegangsaan Timur dan mengambil keputusan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan persoalan bangsa Indonesia yang tidak dapat digantung pada orang atau bangsa lain. Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan memproklamasikan kemerdekaan oleh bangsa sendiri. Setelah selesai rapat, malam itu juga mereka mengirimkan utusan (Wikana dan Darwis) untuk menghadap Ir. Soekarno dan menyampaikan hasil keputusan tersebut. Ahmad Subardjo menemui Drs. Moh. Hatta yang pada saat itu sedang sibuk menyiapkan naskah Proklamasi Kemerdekaan. Naskah itu akan dibagi-bagikan esok harinya kepada anggota PPKI untuk dimintakan pendapat. Ahmad Subardjo mengajak Moh. Hatta kerumah Ir. Soekarno. Di rumah Ir. Soekarno sudah banyak pemuda. Mereka mendesak supaya Ir. Sukarno segera mengumumkan kemerdekaan malam itu juga. Tetapi, Ir. Soekarno menolak, sehingga terjadi perdebatan yang menegangkan. Semangat para pemuda meluap-luap. Ir. Sekarno dan Moh. Hatta tidak mau menuruti keinginan mereka. Para pemuda bersikeras. Kelompok tua berpendapat bahwa proklamasi harus dipersiapkan secara matang dan akan dibicarakan dalam rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Kelompok pemuda berpendapat bahwa proklamasi harus segera dilaksanakan, sebab kalau tidak dilaksanakan secara cepat Sekutu akan segera datang dan mengambil alih kekuasaan Jepang di Indonesia. Sedangkan mereka tidak berani mengumumkan kemerdekaan tanpa mendapat persetujuan Bung Karno dan Bung Hatta. Pertemuan malam itu tidak mendapat kesepakatan.

Baca juga :