Sejarah 3 Pemberontakan Terhadap Jepang

Sejarah65 Dilihat

Pada mulanya, kedatangan Jepang disambut dengan gembira oleh bangsa Indonesia. Jepang datang dengan janji akan membebaskan bangsa Asia dari penjajahan bangsa Eropa. Rakyat Indonesia telah merasa jemu dijajah oleh bangsa Eropa.

Belanda menjajah bangsa Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Akibat penjajahan Belanda itu, kehidupan bangsa Indonesia menjadi miskin dan menderita. Jepang juga berjanji akan membantu Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. 

Akan tetapi, baru beberapa bulan saja janji-janji Jepang itu telah terbukti kebohongannya. Tindakan tentara Jepang ternyata lebih kejam dan lebih buas. Kekayaan alam Indonesia dikuras habis sampai ke akar-akarnya. Keadaan rakyat Indonesia lebih miskin lagi. Walaupun Jepang hanya menjajah selama lebih kurang 3,5 tahun, tetapi bangsa Indonesia lebih menderita.

Bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Setiap kesempatan selalu digunakan untuk melawan Jepang. Rakyat di beberapa daerah sudah tidak sabar lagi mendambakan kemerdekaan. Mereka sudah tidak tahan lagi menderita akibat penjajahan. Beberapa tokoh di tingkat pusat dianggapnya bekerja sama dengan Jepang. Oleh karena itu, di beberapa daerah timbul pemberontakan terhadap Jepang.

1. Perlawanan Supriyadi di Blitar

Supriyadi (Soeprijadi) adalah seorang pemimpin PETA. Ia sebagai Sedancho. Akan tetapi, ia lebih cinta kemerdekaan negaranya. Maka, ia mengobarkan semangat perlawanan terhadap Jepang. Ia menggerakkan rakyat Blitar (Jawa Timur) untuk memberontak terhadap tentara Jepang.

Foto Supriyadi tokoh peta Blitar
Supriyadi tokoh peta Blitar

Pemberontakan terhadap Jepang itu dilancarkan pada tanggal 14 Februari 1945, dini hari. Pihak Jepang membalasnya dengan mengerahkan beberapa tank dan pesawat terbang. Namun, Supriyadi dengan anggota pasukannya tidak gentar. Mereka lebih rela berkorban daripada dijajah Jepang. Pertempuran tersebut tidak seimbang sehingga pasukan Supriyadi dapat dikalahkan. Para tokoh pemberontakan itu ditangkap dan diadili oleh mahkamah militer Jepang. Di antaranya ada yang dihukum seumur hidup. Namun di antara terhukum itu tidak terdapat nama Supriyadi. Rupanya telah dibunuh oleh Jepang.

2. Perlawanan K.H. Zainal Mustofa di Tasikmalaya

Di Pesantren Sukamanah Tasikmalaya terjadi perlawanan yang dilakukan oleh para santri terhadap tentara Jepang. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Februari 1944. Asal mulanya K. H Zainal Mustofa pimpinan pesantren itu menolak untuk melakukan seikerei. Seikerei adalah membungkukkan badan untuk menghormati pada matahari terbit. K. H. Zainal Mustofa menganggapnya perbuatan itu musyrik. Sejak itu pihak Jepang selalu mencurigainya. K. H. Mustofa dipanggil untuk menghadap Kempeitai (Polisi Militer Jepang) di Tasikmalaya Panggilan itu ditolaknya pula. Sebab, jika Ia memenuhi panggilan sudah pasti disiksa dengan kejam oleh Jepang. Dari pada disiksa Jepang, ia lebih baik melawan.

Hari berikutnya datanglah pasukan Jepang yang akan menangkapnya. Oleh para santri, pasukan Jepang itu disergapnya. Senjatanya dirampas dan orangnya ditawan. Datang lagi serangan Jepang berikutnya. Pada saat itu para santri sedang melakukan salat Jumat, K.H.Z. Mustofa sedang berkhutbah. Selesai salat Jumat, terjadilah pertempuran. Para santri menyergap tentara Jepang. Pihak tentara Jepang dapat dikalahkan. Di antaranya ada yang tewas dan sisanya melarikan diri. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 25 Februari 1944. 

Atas peristiwa itu, pihak Jepang sangat marah. Dengan kekuatan yang cukup banyak, diserbunya lagi pesantren itu. Pada saat itu pihak pesantren menderita kekalahan. Santri yang tewas mencapai lebih dari seratus orang. Sisanya ditangkap semua oleh Jepang. Selain santri, penduduk Sukamanah semuanya ditangkap pula. Para pimpinan santri yang dianggap berbahaya ditawan di penjara Cipinang. Yang dianggap tidak berbahaya dilepaskan kembali. Sampai berakhirnya penjajahan Jepang, nasib K.H.Z. Mustofa beserta kawannya tidak diketahui nasibnya. Baru pada tahun 1970, setelah seperempat abad, diketahui bahwa mereka semuanya dibunuh oleh Jepang. 

3. Perlawanan di Tempat Lain

PETA yang dibentuk oleh Jepang, ternyata oleh bangsa Indonesia benar-benar dimanfaatkan untuk melawan Jepang. Di mana-mana terjadi perlawanan terhadap Jepang yang dilakukan oleh prajurit PETA. Selain di Blitar (Jawa Timur) dan di Tasikmalaya (Jawa Barat), perlawanan terhadap Jepang terjadi pula di daerah-daerah lainnya, antara lain:

  • Perlawanan rakyat di Lohbener, Indramayu (Jawa Barat), pada bulan April 1944. Perlawanan di daerah itu, dipimpin oleh Haji Madriyas. Perlawanan di Lohbener ini mengalami kegagalan. 
  • Perlawanan rakyat Aceh, di bawah pimpinan ulama muda yang bernama Tengku Abdul Jalil, terjadi pada bulan November 1942. Perlawanan di Aceh ini juga mengalami kegagalan. Pada bulan November 1944, di Aceh terjadi Iagi perlawanan, dipimpin Teuku Hamid (perwira Giyugun). 

Masih banyak lagi perlawanan-perlawanan terhadap bangsa Jepang yang terjadi di daerah-daerah lainnya. Baca juga: Sejarah Kekejaman Jepang di Indonesia