Sejarah Penjajahan Jepang dan Kekejaman Jepang di Indonesia

Sejarah6 Dilihat

Pada bulan Januari 1942, pasukan Jepang memasuki wilayah Indonesia. Mereka mendarat di Balikpapan dan Tarakan (Kalimantan Timur). Kemudian pada bulan Februari 1942, Jepang memasuki Pontianak (di Kalimantan Barat) dan Palembang (di Sumatra Selatan). Kemudian, Jepang mulai mengembangkan pendudukannya ke Asia Selatan. 

Pendaratan di Pulau Jawa dilakukan di beberapa tempat, yaitu di Merak (Serang), di pantai Eretan (Indramayu), di dekat Rembang (Jawa Tengah), dan di Kranggan (Jawa Timur). Usaha Jepang untuk menduduki Pulau Jawa dianggap sangat penting. Sebab Pulau Jawa, khususnya Jakarta, merupakan pusat Pemerintahan Belanda di Indonesia. 

Jika Pulau Jawa sudah dapat dikuasai, daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia akan dapat dikuasainya pula.

Pada tanggal 8 Marat 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang. Penandatanganan naskah serah terima dilakukan di pangkalan udam Kalijati (Subang, Jawa Barat). Sejak itu, berakhirlah masa penjajahan Belanda di Indonesia. Belanda telah menjajah negara kita selama kurang lebih 350 tahun. Akibat penjajahan itu, bangsa Indonesia sangat menderita. Bangsa Indonesia sangat mendambakan kebebasan dan kemerdekaan.

Ketika Jepang datang di Indonesia mengaku sebagai saudara tua, dengan membawa semboyan 3A, yaitu; Nippon (Jepang) Pemimpin Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia. Jepang berjanji akan membebaskan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan bangsa-bangsa Barat.

Para pemimpin Indonesia yang ditawan Belanda, dibebaskan oleh Jepang. Jepang berusaha menarik simpati bangsa Indonesia. Oleh karena itu, bangsa Indonesia menyambut kedatangan Jepang dengan penuh rasa gembira.

PENDERITAAN RAKYAT AKIBAT KEKEJAMAN JEPANG 

Jepang yang semula disambut gembira oleh bangsa Indonesia, ternyata janjinya bohong belaka. Mereka (bangsa Jepang) malah menjajah bangsa Indonesia. Bahkan, sikap penjajahan Jepang lebih ganas daripada Belanda.

Foto dokumen Kemiskinan masyarakat akibat penjajahan Jepang
Kemiskinan masyarakat akibat penjajahan Jepang

Gerakan menipu, mengelabui, dan memperbodoh bangsa Indonesia selalu dilakukan oIeh Jepang. Setelah kekuasaannya mencengkeram bumi Indonesia, mereka menginjak-injak hak-hak bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia diperlakukan dengan sangat kejam.

Kekayaan bangsa Indonesia yang berupa basil pertanian, hasil hutan, minyak bumi barang tambang, dan lain-lainnya dikuras dan diangkut ke Jepang. Para petani harus menyerahkan sebagian dari hasil panennya dengan paksa. Rakyat yang memiliki perhiasan emas, perak, dan platina, dirampasnya. Akibatnya, bangsa kita menderita kekurangan makanan, parkaian, dan minyak bumi.

Di sana-sini banyak orang menderita kelaparan. Sampai-sampai bonggol pisang, keladi hutan, atau daun-daunan dan buah-buahan hutan dijadikan bahan makanan, Banyak pula orang yang meninggal disebabkan busung lapar atau mati kelaparan.

Tekstil dan bahan pakaian lainnya sulit didapat di pasar sehingga banyak orang yang berpakaian compang-camping. Pakaian bangsa pribumi terbuat dari bahan karung, lembaran karet, atau tikar pandan. Kalau ada orang berpakaian dari bahan karung terigu saja, sudah dianggap baik.

Kain sangat sulit didapat. Minyak tanah untuk penerangan juga sulit didapat. Untuk penerangan pada malam hari, orang banyak yang membakar karet bekas ban. Ada pula yang membakar biji jarak (kaliki) yang ditusuk seperti sate.

Rakyat diwajibkan menanam tanaman jarak dan disuruh mencari iles-iles (semacam keladi beracun). Biji buah jarak dijadikan minyak pelumas oleh Jepang. Rakyat dipaksa untuk bekerja di proyek-proyek militer Jepang sebagai romusha.

Setiap desa diwajibkan mengirimkan beberapa orang laki-laki untuk dijadikan romusha. Orang yang disuruh bekerja paksa oIeh Jepang, disebut romusha (tenaga kerja paksa). Romusha itu pekerjaannya sangat berat sedangkan diberi makannya sangat sedikit.

Mereka bekerja di bawah pengawasan polisi militer Jepang (Kempeitai). Kempeitai sangat kejam. Jika ada yang istirahat sebentar saja dipukul ditendang, atau ditamparnya sehingga banyak romusha yang sampai meninggal di tempat kerja.

Tugas romusha antara lain membuat jalan, jembatan, bangunan, membuka hutan, dan menanam tanaman untuk keperluan Jepang. Ada pula yang ditugaskan bekerja pada bangunan rahasia. Setelah bangunan rahasia itu selesai dibangun, mereka dibantai atau dibunuh secara massal, agar kerahasiaan bangunan itu tidak bocor.

Ada pula romusha yang dikirim ke luar Jawa,  bahkan ke luar negeri seperti ke Malaysia, Vietnam, Burma, dan Thailand. Negeri-negeri itu merupakan jajahan Jepang juga. Penduduk pribumi sangat ketakutan jika dijadikan romusha, Tentara Jepang pada saat itu sangat kejam. Martabat dan hak-hak rakyat negara jajahan diinjak-injaknya.

Buruh, petani, pegawai, pelajar, mahasiswa dikenakan wajib kerja. Namanya kerja bakti atau kinrohosi. Mereka bekerja bakti untuk kepentingan Jepang, seperti membangun jalan, Jembatan, lapangan terbang, dan sebagainya. Kinrohosi itu agak ringan jika dibandingkan dengan romusha. Mereka bekerja hanya pada hari-hari atau jam-jam tertentu, tidak terus-menerus. Mereka sewaktu-waktu dapat pulang ke rumah.

Setiap pagi, saat matahari terbit, seluruh rakyat Indonesia diwajibkan seikerei. Mereka menghadap ke arah matahari terbit sambil membungkuk sebagai tanda hormat. Bangsa Jepang menghormati dewa matahari. Bendera Jepang berlambangkan matahari, merah bulat di atas dasar putih. Namanya Hinomaru.

Para pemuda, pelajar, dan mahasiswa juga diwajibkan mengikuti latihan baris-berbaris, bela diri, dan perang-perangan. Waktu untuk kegiatan belajar di sekolah atau bekerja dikantor banyak tersita untuk Iatihan tersebut.

Latihan itu dilaksanakan dengan disiplin keras. Pada waktu itu hampir tidak ada orang yang menganggur. Semua orang disibukkan dengan berbagai kegiatan, bekerja bakti atau berlatih, semanya itu untuk keperluan Jepang.

Sebagian dari mereka dijadikan Seinendan dan Keibodan. Keibodan adalah polisi bantuan Jepang. Seinendan adalah barisan pemuda. Keibodan beranggotakan pemuda yang telah berumur 25 tahun ke atas. Tugasnya adalah menjaga keamanan kampung dan desa.

Seinendan menampung para pemuda yang berumur 14-25 tahun. Kedudukan mereka setengah militer. Tugasnya adalah memadamkan kebakaran (jika terjadi kebakaran) dan menjaga tempat perlindungan dari serangan udara.

Baca juga: Sejarah Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang