Pembentukan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) – Seperti telah dijelaskan pada artikel Sejarah Penjajahan Jepang bahwa kedatangan Jepang diawali dengan mengadakan Gerakan 3A. Maksudnya untuk menggerakkan rakyat Indonesia agar berbakti kepada Jepang. Jepang mengangkat Mr. Syamsudin sebagai ketuanya. Akan tetapi, rakyat kurang memberikan sambutan. Akhirnya Gerakan 3A dibubarkan pada bulan November 1942.
Sebagai gantinya Jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) pada tanggal 9 Maret 1943. Untuk menarik simpati rakyat, Jepang mengangkat tokoh-tokoh bangsa Indonesia sebagai pimpinan PUTERA. Mereka adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K. H. Mas Mansyur.
Mereka terkenal dengan sebutan Empat Serangkai. Selain empat serangkai, Jepang mengangkat Shimizu (orang Jepang) untuk mengawasi kegiatan PUTERA. PUTERA dipersiapkan untuk kepentingan aksi militer Jepang. Pemerintah Jepang menjanjikan bahwa Putera bertugas “untuk menyiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia”.
Akan tetapi, oleh bangsa Indonesia gerakan PUTERA itu betul-betul dimanfaatkan untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Setiap anggota PUTERA yang aktif, digembleng agar menyadari pentingnya kemerdekaan. Mereka harus membantu secara aktif gerakan persiapan kemerdekaan Indonesia. Jepang mengetahui hal ini, kemudian PUTERA dibubarkan oleh Jepang pada tanggal 1 Maret 1944.
Pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) dan HEIHO – Pada bulan Oktober 1943 tujuh bulan setelah dibentuknya PUTERA, Jepang membentuk pasukan tentara sukarela. Namanya Pembela Tanah Air(PETA). Tujuannya untuk membantu Jepang dalam membela atau mempertahankan Asia Timur Raya. Jepang selalu memberikan janji bohong kepada bangsa Indonesia. Dikatakannya bahwa PETA dipersiapkan agar para pemuda Indonesia membela tanah airnya untuk kemerdekaan Indonesia.
Untuk memimpin PETA, ditempatkan beberapa perwira Jepang. Mereka ditugaskan untuk melatih calon perwira Indonesia yang akan melatih anggota PETA di daerah-daerah. Calon perwira Indonesia itu dilatih ilmu kemiliteran oleh tentara Jepang. Di setiap daerah karesidenan dibentuk 1. 000 orang prajurit PETA.
Pimpinan PETA di sana adalah para perwira yang sudah dilatih oleh Jepang. Yang diangkat sebagai pimpinan PETA pusat antara lain Sudirman, Supriyadi, Ahmad Yani, Gatot Subroto, dan Suharto. PETA harus tunduk patuh kepada perintah-perintah Saiko Sikikan (Panglima tentara Pendudukan Jepang di Indonesia).
Walaupun PETA dibentuk oleh Jepang, namun oleh bangsa Indonesia dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan tanah airnya.
Bangsa Indonesia merasa beruntung telah mendapat latihan kemiliteran, pengetahuan persenjataan, dan siasat perang dari Jepang. Merasa beruntung pula bahwa para pemimpin PETA dipercayakan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setiap anggota PETA digembleng untuk membela kepentingan tanah air kita. Mereka harus berusaha untuk melemahkan pertahanan Jepang agar kemerdekaan Indonesia segera terwujud.
Selain membentuk PETA, Jepang juga membentuk Heiho. Heiho dipimpin langsung oleh tentara Jepang. Anggotanya adalah para pemuda Indonesia. Heiho bertugas sebagai tentara Jepang yang dipersiapkan untuk berperang sedangkan PETA hanya sebagai tentara sukarela.
Anggota PETA maupun HEIHO yang melanggar peraturan Jepang dikenakan hukuman yang berat, bahkan sampai dihukum mati. Apabila di Jawa dibentuk PETA maka di Sumatra dibentuk Giyugun (Tentara Sukarela). Tentara Sukarela ini mendapat latihan militer Jepang.
Bangsa Indonesia selalu memanfaatkan setiap kesempatan PETA Giyugun, dan Heiho yang dibentuk Jepang, tujuannya untuk membela kepentingan Jepang. Akan tetapi, oleh bangsa Indonesia digunakan untuk mematahkan kekuatan Jepang sendiri.
Pekerjaan ini sebenarnya sangat berbahaya. Jika ketahuan, Jepang akan menghukumnya dengan sangat kejam. Walaupun demikian, bangsa Indonesia tidak gentar. Mereka berani dan rela berkorban untuk kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Sejarah Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Jepang





