Perjuangan Menghadapi Agresi Belanda Pertama

Uncategorized7 Dilihat

Empat bulan setelah Perjanjian Linggajati ditandatangani, Belanda telah melakukan pelanggaran. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan agresinya yang pertama terhadap Indonesia. Pasukan Belanda menyerang Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra.

Pasukan TNI melancarkan serangan balasan dengan taktik gerilya. Kecuali itu, para penerbang AURI pun melancarkan serangan dengan menggunakan dua buah pesawat Curen dan sebuah pesawat Guntei. Mereka membomi markas-markas Belanda di kota Semarang, Ambarawa, dan Salatiga.

Foto Pesawat Curen
Ini adalah dua buah Pesawat Curen yang di miliki Indonesia miliki waktu itu.
Foto Pesawat Guntei
Ini adalah pesawat Guntei yang juga dimiliki Indonesia waktu itu, Pesawat-pesawat tersebut merupakan hasil rampasan dari tentara Jepang.

Perjuangan bangsa Indonesia mendapat simpati dari dunia internasional.

  • Palang Merah Malaya membantu obat-obatan, yang diangkut dengan pesawat Dakota dari Singapura. Setiba di Yogyakarta, pesawat itu ditembak jatuh oleh Belanda. Beberapa anggota AURI gugur antara lain Komodor Muda Udara Adi Sucipto dan Komodor Muda udara Abdulrahman Saleh.
  • India juga membantu obat-obatan dan tenaga dokter.

Kecuali itu, agresi Belanda pertama menimbulkan reaksi hebat di gelanggang internasional. Antara lain India dan Australia. Kedua Negara tersebut mendesak Dewan Keamanan PBB agar membahas masalah Indonesia.

Karena desakan kedua negara itu, pada tanggal 1 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB memerintahkan agar Indonesia dan Belanda menghentikan permusuhan. Pada tanggal 4 Agustus 1947 Indonesia dan Belanda mengumumkan gencatan senjata atau penghentian tembak-menembak.

Foto Pesawat Dukota VT-CLA
Pesawat Dukota VT-CLA yang membawa obat-obatan dari Singapura pada tanggal 29 Juli 1947 jatuh ditembak oleh pesawat Belanda.
Foto Penghormatan terakhir korban pesawat Dakota VT-CLA
Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman memberi penghormatan terakhir kepada jenazah para korban yang jatuh dengan Penghormatan terakhir korban pesawat Dakota VT-CLA.

Atas usul Amerika Serikat, PBB membentuk Komite Tiga Negara (KTN) untuk membantu menyelesaikan persoalan Indonesia-Belanda. Komisi tersebut terdiri dari:

  • Australia (diwakili oleh Richard Kirby), atas pilihan Indonesia.
  • Belgia (diwakili oleh Paul van Zeeland), atas pilihan Belanda.
  • Amerika Serikat (diwakili oleh Dr. Prank Graham), atas pilihan Australia dan Belgia.

Dengan perantaraan KTN, berlangsunglah perundingan di geladak kapal ”USS Renville” milik Amerika Serikat.

Foto Kapal UUS Renville
Kapal UUS Renville tempat perundingan Renville dilaksanakan

Dalam perundingan Renville, delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Mr. Amir Syarifuddin, Sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Mr. Abdulkadir Wijoyoatmojo, seorang Indonesia yang memihak Belanda.

Persetujuan Renville didasarkan atas persetujuan Linggajati, dengan tambahan yang menguntungkan Belanda. Antara lain, daerah RI yang diduduki Belanda sebagai hasil agresinya yang pertama, diakui oleh Indonesia sebagai daerah Belanda. Diakui pula adanya ”Garis van Mook” (garis Belanda). Garis van Mook ialah garis yang menghubungkan dua daerah terdepan yang diduduki Belanda. 

Daerah-daerah yang semula merupakan daerah gerilya TNI, tetapi terletak dibelakang garis van Mook, disebut ”daerah kantong” daerah-daerah semacam itu harus dikosongkan. Dengan kata lain harus ditinggalkan oleh pasukan TNI. Maka pasukan-pasukan TNI (Siliwangi) dari daerah-daerah kantong di Jawa Barat harus melakukan ”hijrah” ke Yogyakarta.

Amatilah baik-baik penjelasan dengan gambar sederhana berikut ini! Agar kalian memahami apa yang disebut daerah kantong.

Penjelasan daerah kantong
Gambar penjelasan daerah kantong

Apakah akibat persetujuan Renville? Jelas merugikan pihak RI bukan? Karena persetujuan Renville, wilayah RI semakin sempit. Peta berikut ini menunjukkan wilayah RI berdasarkan persetujuan Renville. Amatilah baik-baik, dan bandingkan dengan wilayah RI berdasarkan Perjanjian Linggajati. 

Sementara perundingan-perundingan berlangsung, Belanda membentuk negara-negara boneka. Tujuannya jelas, untuk memecah belah wilayah dan rakyat Indonesia. Hal itu dapat melemahkan kedudukan RI. Negara-negara boneka buatan Belanda itu antara lain: negara Indonesia Timur, negara Kalimantan Barat, negara Pasundan, Dewan Federasi Borneo Tenggara, negara Jawa Timur, negara Sumatra Timur, dan negara Madura. 

Baca juga: Perjuangan Menghadapi Sekutu dan Belanda dan Sejarah Agresi Belanda Kedua