Penyebaran Islam di Indonesia Melalui 5 Cara Ini!

Sejarah18 Dilihat

Masih sedikit yang dapat diketahui tentang penyebaran agama Islam di Indonesia karena langkanya sumber tertulis. Islam memberikan perubahan besar dalam kehidupan sosial politik penduduk di kepulauan Nusantara.

Agama Islam tidak masuk bersamaan di daerah-daerah di kepulauan Nusantara. Islam menyebar perlahan melalui perdagangan. Jumlah penganut agama Islam melonjak tajam di tengah melemahnya kerajaan Hindu-Budha di Nusantara.

Kedatangan Islam

Beberapa ahli meyakini bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Nusantara sejak abad pertama Hijrah, atau sekitar abad ke-7 Masehi. Kesimpulan ini mereka ambil dari kisah pengelana Cina, I-Tsing. Ia menuturkan bahwa pada tahun 671 lalu lintas laut antara Arab, Persia, India, dan Sriwijaya sudah sangat ramai. Dinasti Tang juga melaporkan bahwa para pedagang Ta Shih (sebutan bagi kaum Muslim Arab dan Persia) pada abad ke-9 dan 10 sudah sampai di Kanton dan Sumatera. Banyak di antara mereka yang singgah di Nusantara dalam perjalanan menuju Kanton dan pelabuhan lainnya di selatan Cina.

Bukti awal terpercaya mengenai kehadiran agama Islam di Nusantara berasal dari pengelana Venesia bernama Marco Polo. Pada tahun 1292, dalam perjalanan pulang dari Cina ke Eropa, Marco Polo singgah di sebuah kota Islam bernama Perlak di utara Sumatera. Bukti lain muncul dari pengelana Maroko, Ibnu Batuta. ia menceritakan kunjungannya ke kesultanan Islam panama di Nusantara, Samudra Pasai, pada tahun 1345. Selain itu, di Pulau Jawa juga ditemukan makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang bertahun 1082 M dan sejumlah makam Islam di Tralaya dari abad ke-13.

Terlepas dari persoalan kapan Islam masuk ke Nusantara, kedatangan Islam umumnya disambut baik oleh penduduk lokal. Penerimaan ini dapat terjadi karena ajaran Islam bersifat egalitarian (tanpa kasta) dan dibawa oleh para pedagang secara damai (tanpa paksaan). Dengan demikian, penduduk tidak merasa asing, bahkan mereka merasa harga diri mereka meningkat karena tidak ada kasta.

Penyebaran Islam Oleh Pedagang dan Pendakwah

Islam mendapatkan pijakan kuat di daerah pesisir, di sepanjang jalur pelayaran antara Nusantara dan India selatan. Awalnya, penyebaran dilakukan oleh para pedagang Muslim. Selain mencari keuntungan, para pedagang itu juga mengajak penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Motif perluasan agama ini sepenuhnya murni untuk menyebarkan ajaran Islam. Di saat yang sama, penduduk pribumi yang bersedia masuk Islam menjadi lebih mudah diajak bekerja sama.

Seperti agama Hindu dan Budha, pada awalnya Islam mendapat pengikut dari kalangan bangsawan pedagang yang berkuasa di kawasan pesisir. Mereka menganggap Islam sebagai agama pemenang, sebagai kekuatan dinamis yang terbukti dapat menguasai perdagangan. Jelas terlihat bahwa motivasi awal ketertarikan mereka pada Islam adalah untuk mendapat dukungan, terutama di bidang ekonomi.

Dimulai dari pernikahan antara para pedagang Muslim dengan putri kaum bangsawan pribumi, terbentuk ikatan kekerabatan di antara kedua belah pihak.

Agama Islam kemudian berkembang di lingkungan ini. Seperti yang umum berlaku pada zaman itu, jika para penguasa memeluk suatu agama rakyatnya akan mengikuti.

Perluasan Agama Islam di Nusantara

Sekalipun para pedagang Muslim sudah lama berada di kepulauan Nusantara, agama Islam baru memperoleh banyak penganut setelah abad ke-13. Kemungkinan besar ini terjadi akibat keruntuhan Dinasti Abbasiah di Irak. Pasukan Mongol menyerang Dinasti Abbasiah pada tahun 1258. Banyak cendikiawan dan ulama mengungsi ke negeri-negeri Islam yang baru muncul di Asia bagian tenggara.

Di antara para pengungsi ini terdapat para ahli sufi. Karena sebagian masyarakat Nusantara telah memiliki dasar ajaran kebatinan, maka kehadiran para ahli sufi yang berpandangan gaib disambut baik oleh penduduk pribumi. Ajaran ini lebih diterima penduduk daripada bentuk ajaran Islam yang diperkenalkan sebelumnya, yaitu yang bersifat lebih mengikat. Selain itu, kesaktian dan kesederhanaan hidup para ahli sufi juga menimbulkan ketertarikan tersendiri di kalangan penduduk Nusantara.

Dalam perkembangannya, agama Islam kemudian disebarkan melalui pendidikan pesantren oleh para mubaligh. Para lulusannya menjadi kader ulama atau guru agama yang menyebarkan Islam hingga ke pelosok daerah.

Proses islamisasi mengalami lonjakan pesat di tengah kemunduran Kerajaan Majapahit. Kedudukan agama Hindu di Majapahit mulai terkikis ketika kerajaan mulai mempekerjakan syahbandar Muslim. Namun, pusat perdagangan Islam pertama adalah Malaka, bukan Majapahit. Malaka didirikan oleh seorang pangeran Palembang yang disingkirkan Majapahit. Pelabuhan ini cepat berkembang dan menguasai jalur pelayaran antara kepulauan Nusantara dan India. Kerajaan Malaka kemudian juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di Nusantara.

Setelah terbentuknya kerajaan Islam di Jawa, penyebaran Islam juga dilakukan melalui cara penaklukan. Contohnya adalah serangan Demak atas Majapahit, dan penaklukan Pajajaran oleh Banten. Kemenangan kerajaan Islam ini mendorong penduduk di wilayah taklukan untuk beralih memeluk agama Islam.

Akhirnya, pada abad ke-15 dan 16, sebagian besar kerajaan di Sumatera dan Jawa telah memeluk agama Islam. Setelah memperoleh pijakan kuat di kedua pulau utama ini, proses islamisasi diarahkan ke Kalimantan dan wilayah timur kepulauan Nusantara. Proses ini berlangsung selama abad ke-16 dan ke-17, bersamaan dengan kedatangan bangsa Barat.

Cara Penyebaran Agama Islam di Indonesia

Apakah penyebaran agama Islam di Indonesia hanya melalui hubungan dagang? Tidak, Ada beberapa macam cara lain yang digunakan dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, antara lain.

a. Melalui Perdagangan

Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia, dan Arab tinggal selama berbulan-bulan di Malaka dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Mereka menunggu angin musim yang baik untuk berlayar. Maka terjadilah interaksi atau pergaulan antara para pedagang tersebut dengan raja-raja, para bangsawan, dan masyarakat setempat. Kesempatan itu digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan agama Islam. 

a. Melalui Perkawinan

Di antara para pedagang Islam dari Gujarat, Persia, dan Arab ada yang terus menetap di Indonesia. Hingga sekarang di beberapa kota di Indonesia terdapat kampung Pekojan. Kampung tersebut dahulu merupakan tempat tinggal para pedagang Gujarat. Koja artinya pedagang Gujarat. Sebagian dari para pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia. Terutama putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itulah, maka banyak keluarga raja atau bangsawan masuk Islam. Kemudian diikuti oleh rakyat. Dengan demikian Islam cepat berkembang.

c. Melalui Pendidikan

Para ulama atau mubalig mendirikan pondok-pondok pesantren di beberapa tempat di Indonesia. Di situlah para pemuda dari berbagai daerah dan berbagai kalangan masyarakat menerima pendidikan agama Islam. Setelah tamat mereka pun menjadi mubalig, dan mendirikan pondok pesantren di daerah masing-masing. 

d. Melalui Dakwah di Kalangan Masyarakat

Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri terdapat juru-juru dakwah yang menyebarkan agama Islam di lingkungannya, antara lain : 

  • Dato’ri Bandang menyebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi Selatan). 
  • Tua Tanggang Parang menyebarkan agama Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur). 
  • Seorang penghulu dari Demak menyebarkan agama Islam di kalangan para bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan). 

Para wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Ada sembilan orang wali yang terkenal: 

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat).

3. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim).

4. Sunan Giri (Raden Paku).

5. Sunan Derajat (Syarifuddin).

6. Sunan Kalijaga (Jaka Sahid).

7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq).

8. Sunan Muria (Raden Umar Said).

9. Sunan Gunung Jati (Faletehan). 

Para wali tersebut adalah orang Indonesia asli, kecuali Sunan Gresik. Mereka memegang beberapa peran di kalangan masyarakat : 

1. Sebagai penyebar agama Islam.

2. Sebagai pendukung kerajaan-kerajaan Islam.

3. Sebagai penasihat raja-raja Islam.

4. Sebagai pengembang kebudayaan daerah yang telah disesuaikan dengan kebudayaan Islam.

Karena peran mereka itulah, maka para wali sangat terkenal di kalangan rakyat.

e. Menggunakan Kesenian yang Disesuaikan dengan Keadaan

Ketika agama Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu masih berakar kuat. Para penyebar agama Islam tidak mengubah kesenian tersebut. Bahkan menggunakan seni budaya Hindu sebagai sarana menyebarkan agama Islam.

Seni apa sajakah yang dijadikan sarana penyebaran agama Islam?

Seni wayang Cerita wayang tetap diambil dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Pembahan diadakan, tetapi sedikit sekali. Misalnya, perubahan nama-nama tokoh dalam cerita wayang diganti dengan nama tokoh-tokoh pahlawan Islam. Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang sangat mahir mempertunjukkan kesenian wayang kulit.

gambar-seni-wayang-kulit

Seni tari dan musik (gamelan)

Pada upacara-upacara keagamaan, dipertunjukkan taritarian tradisional. Tarian itu diiringi musik (gamelan Jawa). Misalnya, gamelan Sekaten ditabuh pada waktu upacara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Upacara semacam ini diselenggarakan di ibukota beberapa kerajaan Islam.

gambar-kesenian-tari

Seni Bangunan

Seni bangunan Islam yang dibangun menyerupai bangunan Hindu seperti Menara masjid kuno di Kudus mirip candi. Gapura masjid kuno di Lamongan mirip Candi Bentar. Candi Bentar ialah gapura khas Hindu. Atap masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu mirip atap pura Hindu.

gambar-bangunan-masjid-mirip-candi-di-lamongan

Memang, para penyebar agama Islam berusaha menyesuaikan bangunan-bangunan Islam dengan bangunan Hindu. Apakah tujuannya ? Agar rakyat tidak mengalami perubahan secara mendadak. Bila seorang beragama Hindu masuk Islam dan bersembahyang di masjid, merasa seolah-olah masuk ke sebuah pura.

Seni hias atau seni ukir

Kecuali bentuknya mirip candi, masjid-masjid kuno pun dihias dengan ukir-ukiran yang mirip ukir-ukiran khas Hindu. Seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Seni sastra

Kitab-kitab ajaran Islam diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu. Dengan demikian, isinya mudah dipahami oleh rakyat.

Uraian di atas menunjukkan bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia berjalan secara damai. Baca juga: Sejarah dan Teori Masuknya Islam ke Indonesia