Perkembangan kehidupan manusia purba di Indonesia dibagi dalam tiga masa, yaitu masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan beternak, dan masa perundagian atau kemahiran teknik.
Masa Hidup Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Awal kehidupan manusia prasejarah Indonesia ditandai dengan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan. Binatang perburuan yang dicari, antara lain adalah gajah, banteng, badak, rusa, dan kerbau liar. Namun, mereka juga berburu ikan dan kerang di laut.
Kegiatan perburuan kebanyakan dilakukan kaum laki-laki. Tugas perempuan adalah mengumpulkan makanan yang didapat dari alam sekitar. Bahan makanan yang dikumpulkan, yaitu ubi, keladi, daun-daunan, dan buah-buahan.
Pada masa itu mereka belum mengenal cara bercocok tanam. Mereka sangat bergantung kepada alam yang tersedia. Segala yang terdapat di alam sekitar, mereka ambil dan manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan seperti ini dikenal sebagai masa food gathering (masa mengumpulkan makanan).

Alat kehidupan yang digunakan pada masa food gathering berupa kapak perimbas (chopper), yaitu sejenis kapak batu yang digenggam dan tidak bertangkai. Peninggalan perkakas-perkakas pada masa itn ditemukan von Koenigswald di sekitar Pacitan dan Ngandong pada tahun 1935 Selain kapak perimbas, di Ngandong juga ditemukan alat-alat dari tulang.
Alat-alat ini terbuat dari tanduk rusa yang digunakan sebagai alat serpih. Fungsi alat serpih, yaitu alat penusuk, alat melubangi (gurdi), dan sebagai pisau. Alat serpih diperkirakan digunakan untuk mengorek ubi atau keladi dari dalam tanah. Selain itu, alat serpih juga digunakan untuk menangkap ikan.
Kehidupan manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan kebanyakan secara berkelompok dan tinggal di gua-gua yang dekat dengan sungai atau sekitar daerah pantai. Gua-gua yang paling banyak dihuni adalah gua yang bagian atasnya terlindung oleh karang atau disebut juga abris sous roche.

Peninggalan artefak kehidupan di gua-gua ditemukan oleh van Stein Callenfels di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo dan Madiun) pada tahun 1928 dan 1931. Artefak yang ditemukan berupa ujung panah, batu-batu kecil yang indah (flakes), batu-batu penggilingan, kapak-kapak batu, alat dari tulang, dan tanduk rusa.
Kehidupan manusia di gua-gua dapat dilihat dari peninggalan seni lukis yang terdapat di Gua Leang-Leang di Provinsi Sulawesi Selatan. Lukisan yang tertera berupa tangan-tangan manusia dan binatang dengan cat merah. Lukisan tersebut menggambarkan perjuangan hidup manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan.
Manusia purba yang tinggal di daerah pantai meninggalkan sampah-sampah dapur atau kjokkenmoddinger. Fosil sampah dapur terbentuk dari sisa-sisa makanan kulit kerang dan tulang-tulang ikan yang menggunung di tepi-tepi pantai. Fosil tersebut tersebar hampir di sepanjang pantai Sumatera Timur.
Kehidupan pada masa ini ditandai pula dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain (nomaden). Mereka berpindah tempat karena lingkungan alam yang didiami dianggap sudah tidak produktif lagi. Mereka berusaha mencari tempat baru yang lebih subur. Tentu saja mereka harus bersaing dengan kelompok lain yang juga mengincar daerah itu. Jika sudah didapatkan, mereka kemudian tinggal di sana. Namun, apabila makanan yang dibutuhkan sudah habis, mereka segera mencari tempat yang baru lagi. Begitulah seterusnya.
Masa Bercocok Tanam dan Beternak
Pada masa bercocok tanam timbul suatu revolusi peradaban yang menyangkut kehidupan manusia purba. Pada saat itu terjadi perubahan dari tradisi food gathering (mengumpulkan makanan) kepada food producing (menghasilkan makanan).

“Masyarakat yang dinamis akan senantiasa melakukan perubahan menuju perbaikan demi kehidupan. Mereka menyadari hanya diri mereka sendirilah yang dapat mengubahnya.”
Kehidupan manusia sudah tidak bergantung lagi kepada belas kasihan alam. Selain itu, kehidupan nomaden juga mulai hilang. Manusia sudah berusaha menghasilkan makanan sendiri dengan bercocok tanam dan Beternak. Jenis tanaman yang diusahakan, antara lain padi, jagung, keladi, sukun, pisang, dan ketela. Cobalah kalian sebutkan jenis-jenis ternak yang dipelihara pada masa itu!
Pada saat itu manusia juga sudah bertempat tinggal tetap. Artinya, mereka telah mengenal cara membuat rumah. Tempat-tempat yang biasa didiami adalah tempat yang tinggi. Bukit-bukit kecil yang dikelilingi sungai atau jurang yang di pagar oleh hutan juga menjadi tempat tinggal mereka.
Perkakas batu yang digunakan saat itu umumnya sudah diasah hingga halus. Alat batu yang banyak digunakan, yaitu kapak persegi (beliung persegi), kapak lonjong, alat-alat obsidian (batu kecubung), dan mata panah. Peninggalan kapak persegi di Indonesia banyak ditemui di Sumatera, Jawa, dan Bali, sedangkan kapak lonjong menyebar di Irian (Papua) dan sekitarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia yang hidup di masa itu memberlakukan sistem barter, yaitu tukar-menukar barang dengan barang. Alat tukar yang biasa digunakan, yaitu garam, ikan laut yang telah dikeringkan, atau hasil kerajinan tangan, seperti gerabah, beliung, dan berbagai perhiasan dari batu.
Sarana lalu-lintas perdagangan dari satu tempat ke tempat lain dilakukan dengan memanfaatkan perahu bercadik atau rakit-rakit. Keadaan ini menunjukkan bahwa manusia pada saat itu telah berhubungan atau menjalin komunikasi antara satu kelompok dan kelompok lain. Oleh karena itu, penggunaan bahasa lisan diperkirakan sudah diberlakukan. Beberapa ahli sejarah menduga mereka telah memakai bahasa Melayu Austronesia.
“Kapak perimbas, yaitu sejenis kapak batu yang digenggam dan tidak bertangkai. Kapak persegi, yaitu kapak yang berbentuk persegi.
Kapak lonjong, yaitu kapak yang berbentuk lonjong.
Alat serpih, yaitu perkakas yang dapat digunakan sebagai alat penusuk, gurdi, dan pisau.”
Masa Perundagian atau Masa Kemahiran Teknik
Pada masa perundagian manusia purba telah pandai membuat perkakas-perkakas yang berasal dari logam. Mereka memanfaatkan perkakas-perkakas tersebut sebagai bagian dari kehidupannya. Peninggalan prasejarah pada masa itu kebanyakan berupa artefak logam, perunggu, dan besi. Benda-benda logam perunggu yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain sebagai berikut.
a. Nekara
Nekara ialah semacam tambur besar dari perunggu yang berpinggang di bagian tengah dan tenutup sisi atasnya. Nekara dipercaya sebagai bagian dari bulan yang jatuh dari langit. Benda ini sering digunakan sebagai salah satu alat dalam upacara mendatangkan hujan. Peninggalan benda ini banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Pulau Sangeang, Pulau Roti, Pulau Leti, Pulau Selayar, Kepulauan Kai, dan Irian (Papua).

b. Moko (mako)
Moko (mako) ialah benda semacam nekara yang bentuknya lebih kecil dan ramping. Benda ini digunakan sebagai alat pusaka atau sebagai mas kawin. Moko banyak ditemukan di Pulau Alor.
c. Arca-arca perunggu
Bentuk arca perunggu sangat beragam. Ada yang menggambarkan orang sedang menari, berdiri, naik kuda, atau memegang panah. Arca-arca perunggu ditemukan di Bangkinang, Provinsi Riau.

d. Kapak perunggu
Kapak perunggu seringkali disebut sebagai kapak sepatu atau kapak corong. Bentuk kapak perunggu di antaranya menyerupai bentuk pahat, jantung, atau , tembilang. Jenis kapak ini banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar, dan dekat Danau Sentani di lrian (Papua).

e. Bejana perunggu
Bejana perunggu mempunyai bentuk yang mirip gitar Spanyol. Bejana perunggu banyak ditemukan di Sumatera dan Madura.

f. Perhiasan
Perhiasan-perhiasan yang ditemukan, antara lain adalah gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, dan bandul kalung. Benda-benda ini ditemukan hampir di semua tempat di Indonesia.
Berbeda dengan benda logam perunggu, jumlah benda logam dari besi yang ditemukan sedikit sekali. Jenis-jenis benda ini ada yang berupa perkakas hidup sehari-hari dan sebagai senjata. Alat-alat dari besi ditemukan di Wonogiri (Jawa Tengah) dan Besuki (Jawa Timur). Benda ini berbentuk mata kapak, mata pisau, mata tombak, gelang-gelang besi, dan sebagainya.
Baca juga: Penemuan Fosil Manusia Purba di Asia, Afrika, dan Eropa











