Corak Kehidupan Manusia Purba Zaman Prasejarah

Sejarah128 Dilihat

Pengertian Prasejarah

Zaman prasejarah adalah masa atau kurun waktu ketika manusia yang hidup pada zaman itu belurn mengenal tulisan. Jadi zaman prasejarah belum ada peninggalan tertulis yang dapat memberikan keterangan kepada kita. Walaupun demikian, corak kehidupan zaman prasejarah ini dapat kita ketahui melalui peninggalan-peninggalan berupa fosil dan peralatan hidup sehari-hari dari manusia yang hidup pada zaman tersebut.

Corak Kehidupan Manusia Purba Zaman Prasejarah

Dari peninggalan peralatan itu dapat diketahui bahwa kehidupan manusia prasejarah telah memiliki kemampuan untuk bercocok tanam, membuat peralatan hidup sehari-hari, dan berkepercayaan. Antara satu bangsa dengan bangsa yang lain di dunia ini memiliki perbedaan-perbedaan dalam mengakhiri zaman prasejarahnya. Suatu bangsa dikatakan telah memasuki zaman sejarah jika masyarakat atau manusia pada zaman tersebut telah mengenal tulisan. Jadi zaman sejarah adalah suatu zaman setelah manusianya mengenal tulisan. Sebagai contoh, bangsa Mesir memasuki zaman sejarahnya pada tahun 3500 Sebelum Masehi, bangsa Cina tahun 1200 Sebelum Masehi, dan Bangsa Indonesia memasuki zaman sejarahnya sekitar abad ke-5 Masehi.

Pada zaman purba kehidupan manusia sangat tergantung pada alam. Sumber makanan seluruhnya diperoleh dari alam. Jenis makanan tersebut berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kehidupan manusia purba selalu berpindah-pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat yang lain. Tujuan utamanya adalah agar dapat memperoleh makanan yang cukup bagi kelompoknya. Corak kehidupan manusia purba tersebut antara lain, yaitu:

1. Kehidupan Berburu dan Meramu makanan (Food Gathering)

Corak kehidupan berburu dan meramu merupakan dua bentuk mata pencarian yang erat hubungannya. Manusia purba yang hidupnya sangat tergantung pada alam mendapatkan makanan dengan cara berburu hewan-hewan, mengumpulkan tumbuh-tumbuhan dan umbi-umbian, dan menangkap ikan sebagai mata pencarian yang khusus dan sederhana.

Dalam ilmu tentang kebudayaan manusia (antropologi) bentuk mata pencarian berburu, meramu makanan, dan menangkap ikan disebut dengan ekonomi pengumpulan makanan (food gethering). Hampir seluruh kehidupan manusia prasejarah hidup dari berburu dan meramu makanan. 

Ciri-ciri dari corak kehidupan berburu dan meramu makanan adalah:

  • hidup sangat tergantung pada alam,
  • tempat tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan
  • hidup berkelompok dalam jumlah 5 sampai 10 orang di dalam gua-gua yang dinamakan Abris suos rouce,
  • peralatan hidupnya berupa tombak, kapak genggam yang terbuat dari batu, tulang, dan tanduk.

2. Kehidupan Bermukim di Ladang

Setelah kehidupan berburu dan meramu makanan, sejalan dengan perkembangan pikiran manusia, manusia purba memulai kehidupan yang bermukim dengan mata pencarian bercocok tanam di ladang. Kehidupan bercocok tanam di ladang biasanya terdapat di hutan rimba dan daerah padang rumput yang diselingi pohon-pohon (stepa).

Kehidupan manusia purba bercocok tanam di ladang sudah mulai mengolah alam dengan cara menebangi pohon-pohon, membakarnya, kemudian ditanami tumbuh-tumbuhan dari jenis biji-bijian, seperti jagung dan kacang-kacangan. Dalam mengolah alam ini, peralatan yang digunakan lebih banyak menggunakan tenaga manusia. Kehidupan pada masa ini, manusia purba sudah menetap di suatu daerah dalam waktu tertentu dan mengenal cara pengaturan masyarakat. Walaupun demikian kehidupannya masih tergantung pada kesuburan tanah.

3. Kehidupan Bercocok Tanam di Persawahan

Corak kehidupan manusia purba dengan bercocok tanam di persawahan menggunakan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan kehidupan berladang dan berburu. Pada masa ini pengetahuan manusia sudah mencapai taraf yang cukup tinggi sehingga mampu mengatasi berbagai rintangan alam. Keterampilan tentang mengolah sawah, memilih bibit untuk ditanami, pengaturan air, dan pengetahuan tentang musim tanam dan musim panen sudah dikenal manusia. 

Kehidupan manusia sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat yang sudah menetap dalam suatu tempat yang disebut desa, dalam waktu yang tidak tertentu. Dari kehidupan persawahan inilah akan berkembang menuju bentuk masyarakat sekarang.

Corak Kehidupan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Nenek moyang kita yang berasal dari rumpun bangsa Austronesia kemudian menetap di Indonesia mengenal unsur-unsur kebudayaan yang menjadi budaya asli Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan yang sudah dikenal tersebut adalah:

1. Kepercayaan

Dari sisa-sisa peralatan hidup peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang ditemukan tampak bahwa peralatan tersebut mempunyai hubungan dengan unsur kepercayaan atau religi. Jenis peninggalan tersebut terutama peralatan untuk upacara pemujaan kepada roh-roh halus atau pemimpin yang sudah wafat (animisme), dan pemujaan kepada batu-batu serta pohon-pohon (dinamisme). 

Pemujaan kepada kekuatan alam ini berkaitan dengan kehidupan manusia yang sangat tergantung pada alam. Karena manusia tidak mampu menghadapi kekuatan alam yang maha dahsyat, maka manusia melakukan pemujaan terhadap kekuatan alam tersebut.

2. Hasil-hasil budaya

Nenek moyang kita pada zaman prasejarah sudah mengenal dan membuat barang-barang dari batu dan logam. Teknik membuat barang-barang dari logam ini dikenal dengan a cire perdue. Logam dipanaskan sampai cair kemudian dituang ke dalam cetakan yang membentuk alat yang diinginkan. 

Berdasarkan peralatan ini, maka zaman prasejarah di Indonesia dibagi kedalam zaman batu, logam, dan zaman batu besar. Zaman batu terbagi lagi menjadi: 

a. zaman batu tua (Paleolithikum)

Zaman ini dikenal juga dengan kebudayaan Pacitan dan Ngandong, karena peralatan dari zaman ini banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong, berupa kapak dari batu yang masih kasar dan alat dari tulang.

b. Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)

Peralatan ditemukan di daerah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Peralatan tersebut berupa kapak genggam (pebble) atau kapak Sumatra yang terbuat dari batu dan belum dihaluskan dan alat-alat batu yang kecil (flakes) untuk mata panah atau tombak yang digunakan untuk berburu.

c. Zaman Batu Muda (Neolithikum)

Peninggalan hasil budaya berupa kapak persegi, kapak lonjong, dan perhiasan berupa kalung dan gelang dari batu yang sudah dihaluskan.

d. Zaman Logam

Pada kurun waktu ini disebut zaman logam, karena alat-alat penunjang kehidupan manusia sebagian terbuat dari logam. Suatu hal yang perlu diketahui yaitu bahwa dimulainya zaman logam tidak berarti berakhirnya zaman batu, sebab pada zaman itu alat-alat yang terbuat dari batu masih tetap digunakan dan selanjutnya muncul lagi zaman batu besar Megalithikum), bahkan sampai sekarang masih terdapat perkakas rumah tangga yang terbuat dari batu. 

Pada zaman tersebut, kepandaian manusia lebih maju dan banyak mengalami perubahan. Hal ini terbukti dengan digunakanya bahan logam, seperti logam tembaga, perunggu, dan besi. Pada masyarakat Indonesia tidak berkembang kebudayaan tembaga, sebab tidak diketemukannya peninggalan alat-alat yang terbuat dari tembaga, lain halnya dengan perunggu dan besi. Peninggalan peralatan perunggu antara lain: kapak corong, cendrasa, nekara, dan moko. Sedangkan peninggalan alat-alat yang terbuat dari besi ialah mata kapak, mata pisau tombak dan gelang-gelang dari besi.

e. Zaman Batu Besar (Megalithikum)

Di zaman ini benda-benda budaya yang dihasilkan manusia terbuat dari batu-batu yang besar. Benda-benda tersebut berupa:

  • Dolmen yaitu meja batu yang berfungsi sebagai tempat sajian untuk roh nenek moyang. 
  • Menhir, batu yang berbentuk tiang disebut juga tugu batu yang melambangkan arwah nenek moyang, berfungsi sebagai tempat pemujaan. 
  • Keranda (Sarcophagus), kubur batu, punden berundak-undak, dan arca-arca (patung) nenek moyang.

3. Kemasyarakatan

Kehidupan kemasyarakatan sudah dikenal nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman prasejarah. Mereka hidup di desa-desa dengan aturan-aturan kemasyarakatan yang ketat. Ada musyawarah antar sesama anggota masyarakat dalam menentukan pemilihan pemimpin atau ketua adat yang nantinya bertugas mengatur masyarakatnya.