Peninggalan sejarah ibarat jejak-jejak kaki yang ditinggalkan. Peninggalan sejarah merupakan salah satu petunjuk untuk mengetahui perikehidupan dan peradaban di masa lalu. Kita juga dapat mengurai suatu peristiwa dari jejak-jejak sejarah ini. Berbagai bentuk peninggalan ini terpelihara dalam suatu kawasan yang disebut situs. Benda-benda sejarah ini ada yang masih utuh terpelihara, tetapi banyak pula yang sudah terlupakan.1. Situs Prasasti Pariangan Situs ini terdapat pada batu andesit yang lebarnya 2,6 meter dan tinggi 1,6 meter. Situs ini menceritakan bahwa pada awalnya terdapat dua suku besar atau kelarasan di Minangkabau, yaitu Bodicaniago dan Kotopiliang. Dalam perkembangannya, dua kelarasan itu lalu menjadi sepuluh suku. Sayang, Situs yang menjadi cikal bakal legenda kaum Minangkabau itu tidak terawat. Tulisan yang terdapat pada batu yang diperkirakan ditulis pada zaman Adityawarman sudah tidak terbaca lagi. 2. Situs Batu Batikam

Batu Batikam terletak di Jorong, Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Menurut tuturan tambo (legenda sejarah Minangkabau, Batu Batikam adalah batu yang ditikam sebagai tanda kesepakatan Datuk Parpatih Nan Sabatang dengan Datuk Katumanggungan. Dua orang datuk tersebut dianggap sebagai penyusun dasar adat Minangkabau. Di dekat situs Batu Batikam, terdapat sejumlah batu yang disusun melingkar dengan sandaran di belakang tiap batu. Itu adalah medan nan bapaneh. Medan ini berfungsi sebagai tempat bermusyawarah pada masa lampau. Pada saat itu, setiap permasalahan kampung diselesaikan tokoh masyarakat di ruang terbuka. 3. Balai Adat Balairung Balai Adat Balairungsari terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Bangunan Balairungsari merupakan perkembangan dari medan nan bapaneh. Bangunannya berbentuk terbuka tanpa dinding, terbuat dari kayu dengan atap ijuk, enam gonjong, dan lantai panggung. 4. Situs Prasasti Kubuarjo Di situs ini terdapat tiga buah batu ukuran besar dengan gambar bunga matahari, kura-kura, dan batu bertuliskan huruf Sansekerta. Gambar bunga matahari melambangkan alam, kura-kura melambangkan menjunjung adat, dan batu bertuliskan huruf Sansekerta melambangkan ibadah. Jadi, prasasti ini menyatakan bahwa dari dulu kaum Minangkabau diajarkan untuk menghargai alam, menjunjung adat, dan menjalankan ibadahnya. 5. Batu Basurek

Batu Basurek terletak di Limo Kaum. Batu ini memuat inkripsi dalam huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Tulisan pada Batu Basurek menyatakan bahwa Adityawarman adalah Raja Diraja di Kinikamedinindra pada tahun 1347. lstana Pagaruyung dahulu dikenal dengan nama ”Istana Basa”. Istana ini terletak di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat. Istana ini merupakan objek wisata budaya. Istana Basa yang asli terletak di atas Bukit Batu Patah. Istana ini terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Kemudian, istana tersebut dibangun kembali. Akan tetapi, Istana Basa kembali terbakar pada tahun 1966. Proses pembangunannya kembali dilakukan pada tanggal 27 Desember 1976. Pembangunannya tidak lagi di tapak istana lama, tetapi di sebelah selatannya. Pada akhir tahun 1970 istana ini sudah bisa dikunjungi oleh umum. Pada tanggal 27 Februari 2007 Istana Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar puncak istana. Bangunan tiga tingkat ini rata dengan tanah. Sebagian dokumen dan kain-kain hiasan ikut terbakar. Hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat dalam musibah ini. Barang-barang yang selamat sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung disimpan di Istana Silinduang Bulan, dua kilometer dari Istana Basa. 6. Masjid Raya Tanjung Bingkung

Masjid Raya Tanjung Bingkung dibangun sekitar tahun 1915 oleh Syekh Machdum, seorang ulama besar, sepulang beliau dari Makkah. Masjid ini terletak di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Masjid ini memiliki arsitektur yang mengacu pada arsitektur Turki. Masjid Raya Tanjung Bingkung ini mempunyai tonggak utama dari kayu besar yang berasal dari Nagari Koto Baru. Kayu tersebut dihanyutkan melalui Sungai Batang Lembang hingga akhinya sampai di Tanjung Bingkung. Masjid Raya Tanjung Bingkung ini masih terawat dengan baik sampai sekarang. Masyarakat sekitar juga tetap mempergunakan masjid ini sebagai tempat ibadah. Makam Syekh Machdum terletak di sebelah masjid. 7. Makam Datuk Perpatih Nan Sabatang Datuk Perpatih Nan Sabatang adalah tokoh pencetus pranata adat Minangkabau. Pada awalnya beliau bertempat tinggal di Pagaruyung, di pusat Kerajaan Minangkabau. Akan tetapi, karena ada perselisihah pendapat dengan pemuka-pemuka adat di sana, beliau pindah ke Nagari Salingka Kubung Tigo Baleh, Kecamatan Kubung. Beliau meninggal di Nagari Selayo dan dimakamkan di Munggu Tanah Nagari Selayo, Kecamatan Kubung. Beberapa waktu yang lalu makam tokoh adat Minangkabau ini dipugar dan diperindah dengan bangunan berarsitektur rumah gadang. Makam beliau bisa ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dari pusat Kota Solok.8. Masjid Tua Atap Ijuk

Masjid Tua Atap Ijuk terletak di Kayu Jao, Kecamatan Gunung Talang. Masjid ini didirikan sekitar abad XVI oleh beberapa ulama daerah itu. Berarti masjid ini sudah berusia 300 tahun lebih. Di sebelah masjid terdapat sebuah tabuah (bedug) yang sudah berumur ratusan tahun. 9. Bangunan Ustano Rajo Balun Bangunan ini terletak di Jorong Balun, 47 kilometer dari Padang Aro. Bangunan ini merupakan kediaman keluarga raja adat Alam Serambi Sungai Pagu. Rumah gadang ini berbentuk istana serambi Aceh dengan posisi menghadap ke timur. Di rumah ini tersimpan peninggalan kuno, seperti naskah Balun, perlengkapan penobatan raja, peralatan sekapur sirih, dan peralatan makan raja. 10. Rumah Gadang 21 Ruang Rumah gadang ini terletak di Nagari Abai, 40 kilometer dari Padang Aro. Rumah ini memiliki 21 ruang memanjang dengan arsitektur bagonjong. Rumah gadang 21 ruang ini dikenal sebagai rumah gadang terpanjang di Sumatra Barat. Rumah ini berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara adat dan kesenian batombe serta pesta perkawinan. Rumah tersebut tidak digunakan untuk tempat tinggal keluarga. Akan tetapi, bagi laki-laki yang belum mampu membuat rumah sendiri dapat tinggal sementara di tempat itu. 11. Rumah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Rumah Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) terletak di Nagari Bidar Alam, 26 kilometer dari Padang Aro. Nagari Bidar Alam pernah menjadi pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1949. Rumah tersebut juga digunakan sebagai pos keamanan dan tempat sidang-sidang kabinet PDRI. 12. Masjid Aso Kurang 60 Masjid Aso Kurang 60 adalah masjid tua bersejarah yang dibangun 200 tahun yang lalu oleh 60 orang ninik-mamak (tokoh adat). Masjid ini berlokasi di Nagari Pasir Talang, 49 kilometer dari Padang Aro. Dalam proses pembangunannya seorang ninik-mamak meninggal dunia. Oleh karena pendiri masjid tersebut tingga159 orang sehingga dikenal ”Masjid Aso Kurang 60″. Masjid ini merupakan simbol masyarakat setempat karena dianggap sebagai bangunan pertama di Alam Serambi Sungai Pagu. Pada awalnya masjid ini beratap ijuk dengan empat tingkat sebagai lambang empat suku di nagari itu. Masjid ini berukuran 15,5 x 14 meter. Dinding masjid terbuat dari kayu yang penuh dengan ukiran bunga teratai berkombinasi dengan rebung. Mimbarnya bertingkat dan dilengkapi dengan beduk besar. 13. Jam Gadang

Jam Gadang merupakan landmark kota Bukittinggi. Bangunan ini berukuran 13 x 4 meter dengan diameter 80 cm dan tinggi 26 meter. Jam ini memiliki keunikan, yaitu angka Romawi yang menunjukkan jam 4 ditulis dengan IIII bukan IV. Jam ini dibangun pada tahun 1926 oleh Arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Jamnya merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Controleur (sekretaris kota). Pada masa penjajahan Belanda jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan Pada masa pendudukan Jepang berbentuk klenteng. Setelah kemerdekaan bentuknya berubah menjadi ornamen rumah adat Minangkabau. 14. Benteng Fort De Kock
Benteng Fort De Kock di bangun di puncak sebuah bukit di Bukittinggi pada tahun 1825. Benteng ini dibangun pada waktu terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan Harimau Nan Salaban.Di sekitar benteng dapat dilihat parit pertahanan Belanda da meriam kuno. 15. Lubang Jepang Lubang Jepang adalah sebuah terowongan yang memiliki panjang ratusan meter dan berbelok-belok. Terowongan ini letaknya sekitar dua meter di bawah permukaan tanah Kota Bukittinggi. Terowongan ini dibuat oleh tentara Jepang pada saat Perang Dunia ll. Lubang Jepang ini memiliki beberapa mulut, yaitu dinding Ngarai Sianok, panorama di samping gedung Bung Hatta, di kebun binatang, dan di beberapa tempat lainnya. 16. Menhir Maek

Kenagarian Maek (Mahat) terletak di Kecamatan Suliki Gunung Mas, 165 km dari Padang. Di wilayah ini terdapat situs menhir terbesar di Indonesia. Di situs Koto Tinggi dan Bawah Parik, berbanjar di padang terbuka, satu arah ke tenggara, masing-masing terdapat lebih dari 300 batu tagak (menhir). Menhir tersebut merupakan peninggalan budaya megalit Minangkabau sejak masa Neolithicum, sekitar lebih 2.500 tahun yang lalu. Di Koto Tinggi, batu tagak itu terletak di padang terbuka di puncak sebuah bukit. 17. Talempong Batu Talang Talempong Batu Talang dapat ditemukan di Kenagarian Talang Anau, Kecamatan Gunung Mas. Peninggalan ini merupakan jenis batu dolmen yang juga merupakan peninggalan tradisi megalit. lni terdiri atas sekelompok batu yang jika dipukul dapat mengeluarkan irama seperti nada talempong. 18. Tugu PDRI Koto Tinggi Tugu PDRI terletak di Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Suliki Gunung Mas. Setelah aksi militer kedua Belanda pada tanggal 22 Desember 1948, banyak pucuk pimpinan RI yang ditangkap. Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Mr. Amir Syarifuddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Syarifuddin segera melaksanakan tugas. PDRI berpindah dari Bukittinggi ke Koto Tinggi untuk menghindari serangan Belanda. Kegiatan PDRI banyak dilakukan di Koto Tinggi dengan menggunakan pemancar radio mini milik AURI untuk komunikasi dengan komando Jawa dan luar negeri. 19. Gedung Tri Arga (Istana Bung Hatta)
Pada masa dahulu gedung yang terletak di Kota Bukittinggi ini merupakan pusat Pemerintahan Darurat Repuka Indonesia pada tahun 1947. Untuk mengenang jasa Proklamator Bung Hatta, gedung Tri Arga diganti nama dengan Istana Bung Hatta.20. Museum Adityawarman
Museum Negeri Provinsi Sumatra Barat terletak di Jalan Diponegoro No.10, Kota Padang. Museum ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977. Pada tanggal 28 Mei 1979 museum tersebut diberi nama ”Adityawarman”. Nama Adityawarman diambil dari nama seorang raja besar yang pernah berkuasa di Minangkabau, sezaman dengan Kerajaan Majapahit pada masa Patih Gajah Mada. Museum Adityawarman merupakan museum budaya terpenting di Sumatra Barat. Museum tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah, seperti cagar budaya Minangkabau, cagar budaya Mentawai, dan cagar budaya Nusantara. Koleksi Museum Adityawarman terletak dalam sebuah bangunan rumah adat Minangkabau. Di depan bangunan museum tersebut , terdapat dua buah lumbung padi sebagai pelengkap bangunan rumah gadang. Bangunan tersebut juga dipadukan dengan miniatur pedati, bendi, dan pesawat perang peninggalan Perang Dunia II. Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam jenis koleksi, yaitu: Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknalogika. Museum Adityawarman juga memiliki koleksi pendukung berupa benda purbakala peninggalan Kerajaan Dharmasraya. Peninggalan itu berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa. Ada juga koleksi pending yang terbuat dari perak yang dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan dilengkapi permata berwarna putih mengkilat pada bagian tengahnya. Pending tersebut sering dipakai oleh panghulu pada setiap upacara adat di Minangkabau.









