Peninggalan Sejarah Kepulauan Riau yang Masih Ada

Sejarah118 Dilihat

Peninggalan sejarah adalah jejak masa lampau. Setiap provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Kepulauan Riau memiliki berbagai peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau merupakan peninggalan zaman kerajaan hingga zaman penjajahan. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut berbentuk benda, bangunan, dan makam. Berbagai bentuk peninggalan sejarah tersebut menjadi bukti bahwa pada zaman dahulu telah terjadi peristiwa panting yang patut diketahui oleh generasi muda. Pantaslah kiranya jika peninggalan-peninggalan sejarah di provinsi ini dijaga kelestariannya.

BANGUNANMasjid Raya Sultan Kepulauan Riau Masjid ini dibangun pada 1 Syawal 1245 H atau tahun 1832 pada masa pemerintahan YDM Riau VII Raja Abdulrahman. Pembangunan masjid ini dilakukan secara bergotong royong oleh semua masyarakat Penyengat pada masa itu.

Foto Masjid Raya Sultan Kepulauan Riau
Masjid Raya Sultan Kepulauan Riau

Aspek yang paling menarik dalam pembangunan masjid ini adalah digunakannya putih telur sebagai campuran semen untuk dinding masjid. Masjid berarsitektur Turki den Eropa ini berukuran panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter. Ruangan tempat sembahyang disangga oleh empat buah tiang besar. Atapnya berbentuk kubah sebanyak 13 buah dan menara sebanyak empat buah. Semuanya berjumlah 17, sesuai dengan jumlah rakaat sholat sehari semalam. Di dalam masjid ini juga terdapat kitab suci Alquran yang ditulis tangan. Selain itu, juga terdapat lemari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga yang pintunya berukir kaligrafi.
Istana Raja Ali
Istana Raja Ali juga dikenal dengan Istana Kantor karena bangunan ini memiliki dua fungsi. Fungsinya adalah sebagai rumah dan sebagai kantor Raja Ali (Yang Dipertuan Muda Riau VIII). Kompleks istana yang sangat besar ini dibangun pada tahun 1844.

fOTO Istana Raja Ali Kepulauan Riau
Istana Raja Ali Kepulauan Riau

Istana yang memiliki luas 110 m2 ini dikelilingi tembok tebal lengkap dengan pintu gerbang di bagian belakangnya. Keagungan istana ini masih dapat kita lihat sampai saat ini. Setelah Raja Ali wafat, bangunan ini dikenal dengan Marhum Kantor.Benteng pertahanan Bukit Kursi Benteng pertahanan Bukit Kursi dibangun pada masa pemerintahan yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah. Pada masa itu benteng ini mampu menjadikan Pulau Penyengat sebagai benteng pertahanan yang ampuh pada Perang Riau. Di benteng ini masih dapat kita jumpai parit pertahanan dan meriamnya.

fOTO Benteng pertahanan Bukit Kursi
Benteng pertahanan Bukit Kursi

Perigi Puteri/Perigi Kunci Bangunan mungil yang berbentuk unik beratap kubah setengah silinder ini merupakan tempat pemandian bagi kaum wanita. Terutama sebagai tempat pemandian bagi para puteri bangsawan Kerajaan Riau-Lingga.

Foto Perigi Puteri Kep. Riau
Perigi Puteri Kep. Riau

Rumah Datuk Laksemana Daik Bangunan tua ini terletak di Kampung Bugis Bentuknya limas penuh. Rumah ini selain pernah ditempati oleh Datuk Laksemana Daik pernah pula ditempati oleh Datuk Kaya pulau Mepar. karena dia adalah menantu Datuk Laksemana.

Foto Rumah Datuk Laksemana Daik
Rumah Datuk Laksemana Daik

Rumah ini masih agak baik dan ditempati oleh keluarga Datuk Laksemana dan Datuk Kaya Daik. Di rumah ini masih tersimpan sisa-sisa benda milik Datuk Laksemana dan Datuk Kaya. Benda-benda itu seperti beberapa jenis pakaian kebesaran Datuk Kaya dan Datuk Laksemana, benda-benda upacara adat motif-motif tenunan, batik ukiran-ukiran dan sebagainya.Bekas Istana Damnah Bangunan Perigi Puteri/Perigi Kunci dahulunya sangat megah. Namun, kini hanya tinggal tangga muka dan tiang-tiang dari sebagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak di hutan belantara yang disebut kampung Damnah.

Foto Bekas Istana Damnah Kep. Riau
Bekas Istana Damnah Kep. Riau

Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf-Ahmadi, yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899). Pada tahun 1860 beliau mendirikan istana Damnah untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II. Sebelumnya, Sultan ini berada di Istana Kota Baru, tidak jauh dari pabrik sagu yang didirikannya. Selain beberapa bentuk bangunan peninggalan sejarah di atas, terdapat pula bentuk bangunan peninggalan sejarah yang lain. Bangunan peninggalan sejarah itu adalah Bilik 44, Masjid Jamik Daik, Bekas Istana Sultan Abdurakhman Muazzam Syah, Taman Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah, dan Kubu Pertahanan.

MAKAM

Kompleks Makam Engku Puteri Raja Hamidah Di dalam kompleks makam yang memiliki struktur atap bersusun ini terdapat beberapa makam pembesar Kerajaan Riau. Salah satunya adalah makam Engku Puteri. Engku Puteri yang memiliki nama lain Raja Hamidah merupakan anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau IV.

Foto Kompleks Makam Engku Puteri Raja Hamidah
Kompleks Makam Engku Puteri Raja Hamidah

Perkawinan dengan Sultan Mahmud mengantar Engku Puteri Raja Hamidah menjadi tokoh yang sangat penting dalam Kerajaan Riau-Johor pada awal abad ke-19. Karena di dalam tangannya diamanahkan alat-alat kebesaran kerajaan (insignia atau regelia). Tanpa alat-alat kebesaran itu penobatan seorang sultan menjadi tidak sah menurut adat setempat. Pulau Penyengat juga merupakan mas kawin dari Sultan Mahmud kepada Engku Puteri. Engku Puteri wafat pada tahun 1844. Selain makam Engku Puteri juga terdapat makam Raja Haji Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan makam Raja Ali Haji sastrawan dari Kerajaan Riau Lingga (karyanya yang terkenal adalah Gurindam Duabelas).Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah Raja Haji (Yang Dipertuan Muda Riau IV) adalah pahlawan Melayu yang amat masyhur. Beliau berperang meIawan penjajah Belanda sejak masih muda sampai akhir hayatnya. Beliau wafat dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang tahun 1784. Raja Haji yang hidup antara tahun 1727-1784 itu telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin, hulubalang, dan ulama.

Foto Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah
Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah

Para penulis sejarah mencatat, bahwa kepemimpinan Raja Haji terutama pada tahun 1782-1784 cukup berpengaruh terhadap stabilitas sosial, politik, dan ekonomi di wilayah Nusantara dan negeri-negeri Belanda yang sangat tergantung terhadap sumber perekonomiannya di Timur. Pihak BeIanda menganggap bahwa perang yang dipimpin Raja Haji adalah peperangan yang cukup besar. Bahkan, Raja Haji dan tentaranya berhasiI menenggelamkan kapal Maraca van Warden. Peristiwa itu sempat mengguncangkan kedudukan Belanda di Nusantara. Karena kepahlawanannya itulah, Raja Haji diagungkan oleh masyarakat Melayu. Kemudian, mendapat geIar Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Ketika beliau mangkat dalam peperangan hebat di Teluk Ketapang, jenazahnya dibawa ke Malaka dan dikebumikan di sana. Beberapa tahun kemudian jenazah beliau dibawa ke Pulau Penyengat dan disemayamkan dalam makam yang terletak di Bukit Selatan, Pulau Penyengat. Makamnya bersebelahan dengan makam Habib Syekh, seorang ulama terkemuka di Kerajaan Riau-Lingga. Kompleks Makam Raja Ja’far Raja Ja’far (Yang Dipertuan Muda Riau VI) adalah putra Raja Haji Sahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang. Raja Ja’afar menjadi YDM Riau VI pada tahun 1806-1831. Pada masa pemerintahannya, beliau memindahkan pusat kerajaan dari Hulu Riau ke Pulau Penyengat. Beliau memulai karirnya sebagai pengusaha pertambangan timah yang sukses di Kelang, Selangor.

Foto Kompleks Makam Raja Ja'far
Kompleks Makam Raja Ja'far

Karena sering mengunjungi Kota Malaka, beliau menjadi peka akan penataan kota dengan arsitektur yang sejalan dengan zaman. Oleh karena itulah, Pulau Penyengat ditata dan dikelolanya dengan selera yang tinggi. Ketika mangkat, beliau diberi gelar Marhum Kampung Ladi. Kompleks makam almarhum Raja Ja’afar seluruhnya dibuat dari beton, sehingga tampak indah dan kukuh. Pilar-pilar dan kubah-kubahnya yang terbuat dari beton dihiasi dengan ornamen yang menarik. Di luar cungkup makamnya, masih dalam kompleks makam, terdapat kolam air yang dilengkapi tangga batu untuk barwudu. Di kompleks makam terdapat pula makam-makam keluarga bangsawan lainnya. Pada masa pemerintahannya beliau membuat kebijakan yang mewajibkan kaum laki-laki melaksanakan salat Jumat. Selain itu, juga mewajibkan kaum wanita untuk menggunakan busana muslimah. Selain peninggalan sejarah berbentuk makam di atas, terdapat pula peninggalan sejarah berbentuk makam yang lain. Peninggalan sejarah berbentuk makam yang lain tersebut adalah Makam Raja Abdurrakhman, Makam Raja Ali Haji. Kompleks Makam Daeng Marewah, Komplek Makam Daeng Celak, Makam Bukit Cengkeh, dan Makam Merah. Baca juga: Peninggalan Sejarah Jambi